
Pada hari setelah mereka menyatakan kesanggupan untuk menikah, kedua keluarga besar langsung sibuk mengurus segala sesuatunya yang diperlukan. Ini akan menjadi acara pernikahan pertama di antara kedua keluarga besar. Baik dari pihak Raihan maupun pihak Kirana semua menyambut baik acara pertunangan ini hingga diambil kesepakatan jika mereka akan menikahkan keduanya dengan acara yang megah dan mewah.
Sebenarnya Kirana dan Raihan sudah menduga ini sejak awal. Kedua ayah mereka ada dalam jajaran petinggi polda jadi wajar saja keduanya ingin membuat acara yang sesuai dengan pangkat beliau. Sebenarnya inginnya Kirana dan Raihan ya sederhana saja, mengundang sanak saudara dan sahabat dari kedua belah pihak kemudian menggunakan uangnya untuk keperluan pasca pernikahan. Tapi berhubung katanya Papa sudah menyiapkan tabungan untuk menikahkan putra putrinya sejak jauh hari jadi mereka pasrah mengiyakan semuanya.
Raihan dan Kirana bahkan tidak perlu pusing memikirkan semuanya karena Mama mereka sudah begitu heboh menyiapkan semuanya. Mulai dari gedung pernikahan, catering, MUA, undangan, bahkan sampai susunan acara dari awal hingga akhir mendetail mereka pikirkan.
Raihan jadi lebih sering lagi pergi ke rumah Kirana karena prosesi akad nikah akan diadakan di sana. Sudah tinggal 2 minggu sebelum pelaksanaan pernikahan mereka. Kirana dan Raihan bertugas membantu Papa dan Mama untuk mengecek undangan yang sebagian besar adalah sahabat-sahabat Papa dan Mama.
“Ini yang bener aja undangan nikahanku sebanyak ini?” kata Kirana yang kaget ketika ada 2 kardus besar berisi undangan pernikahannya diletakkan di hadapannya.
“Total ada berapa undangan sih Ma?” tanya Raihan pada Mama mertuanya.
“Sekitar 1000an. Ini nggak banyak kok, kan itu semua sudah termasuk tetangga, saudara, sama cadangan undangannya 10 biji,” kata Mama.
“1000 undangan Ma? 1000 itu angka yang fantastis Mama,” kata Kirana.
“Nggak papa lah sayang, toh acara akad sama resepsinya berbeda hari. Ini sebagian undangan akad nikah sebagian lagi undangan resepsi. Papa nggak mungkin kan nggak mengundang komandan, rekan kerja Papa di Brimob juga kan banyak apalagi Abangmu sekarang kan tugas di sana juga,” kata Papa.
“Ehh kok Abang dibawa-bawa. Abang cuma ngundang 20 orang teman Abang. Itupun rata-rata yang kenal sama Raihan dan Kirana kalau nggak ya nggak kuundang lho,” kata Adnan yang tidak terima diseret-seret.
“20 itu temanmu sendiri. Yang temanku juga banyak kali Nan,” kata Raihan pada sahabat yang tidak lama lagi akan menjadi iparnya.
“Abang…, ini kapan selesainya kita kalau undangan sebanyak ini,” kata Kirana mengeluh pada calon suaminya.
“Nggak papa pelan-pelan yuk Abang bantuin. Kamu dikte biar Abang yang tempel namanya,” kata Raihan sambil mengelus ujung kepala Kirana.
Kirana dan Raihan sibuk menempel semua nama penerima undangan sedangkan Mama dan Adnan membantu mengelompokkannya agar mudah. Besok pagi mereka akan mulai menyebarkan undangan dan yang paling pertama adalah ke Mapolda tempat Papa berdua bekerja.
“Ma, besok rotinya datang jam berapa?” tanya Papa.
“Jam 7 katanya,” kata Mama.
“Kalau gitu Raihan sama Kirana yang bawa rotinya ya sekalian kalian juga ketemu sama kawan-kawan Papa di markas,” kata Papa.
“Ya Pa,” jawab Raihan.
“Pa terus ini yang ke Brimob mau Abang yang kasihkan apa Papa sendiri yang datang?” tanya Adnan.
“Habis makan siang nanti Papa sendiri yang datang, tapi Abang temani Papa ya.”
__ADS_1
“Ya asal aku nggak ditanya-tanya kapan nyusul sih oke oke aja Abang nemenin Papa,” kata Adnan.
“Makanya cepetan nyusul, ni kan adekmu sudah nikah. Kamu janjinya ke Mama kalau Kirana sudah menikah kamu akan nyusul kan,” kata Mama pada anak sulungnya.
“Ya nanti, belum ada calonnya.”
“Bilangnya nggak ada, nanti yang di YellowSun ilang Abang nangis,” kata Kirana.
“Woho peace, bukan gue yang ember,” kata Raihan yang sebenarnya sudah tahu siapa yang Kirana maksud. Bagaimana dia tidak tahu, Adnan kan sering menanyakan perihal gadis itu pada Raihan yang jelas akan selalu datang ke cafe untuk mengantar jemput Kirana. Adnan juga sempat tidak terima ketika tugas menjemput Kirana diambil alih oleh Raihan karena dia jadi tidak memiliki modus datang ke cafe.
“Ohh sama temannya Kirana po? Yang mana Bang?” tanya Mama.
“Apaan sih. Nggak ada.”
“Dibilang ilang lho nanti,” kata Kirana kompor.
“Ampun deh, iya iya sama temennya Kirana. Puas? Tapi aku nggak mau ngomong yang mana,” kata Adnan dengan wajah malu-malu.
“Ngaku dia akhirnya. Nggak papa Ma, besok Papa sama Mama bakal tahu sendiri kok. Anaknya kan jadi bridesmaid,” kata Raihan.
“Mantap mantu Mama. Besok kasih tahu Mama ya,” kata Mama.
Hari sudah semakin malam, Papa dan Mama sudah masuk ke dalam kamar setelah selesai mengecek semua undangan. Raihan juga bersiap untuk pulang sebelum hari semakin larut. Dia harus segera pulang agar Kirana bisa istirahat karena dia tidak mau calon istrinya ini kelelahan.
“Hati-hati ya Bang, nanti kalau sudah sampai rumah kabarin Kirana,” kata Kirana yang mengantar Raihan sampai di gerbang rumahnya.
“Iya nanti Abang kabari, udah sana kamu masuk,” jawab Raihan kemudian pergi meninggalkan rumah itu.
Dari dalam kamarnya Adnan mendengar suara pintu kamar Kirana tertutup. Di genggamannya saat ini ada satu buah foto kecil yang dia ambil bersama Kirana dan sahabat-sahabatnya setahun lalu ketika mereka camping. Di sana Kirana masih tertawa riang bersama Keenan. Adnan tahu jika saat itu Raihan sudah menyimpan rasa pada adiknya dan dia menyiksa dirinya setiap saat hanya demi bisa melihat Kirana yang bekerja di cafe bersama dengan kekasihnya. Raihan bahkan bisa tersenyum ketika menghadiri acara pertunangan Kirana dan Keenan.
Di dalam hatinya terbersit satu perasaan bersalah yang terus menekannya. Dia tahu Keenan tidak sebrengsek itu meninggalkan adiknya. Dia hanya berkorban demi Kirana, demi dirinya sendiri yang merasa tidak mampu melindungi Kirana. Dia juga tahu seberapa besar perasaan bersalah Keenan hingga Kirana bisa mengalami semua itu.
“Apa benar keputusan ini yang terbaik untuk kalian?” gumam Adnan terus memandangi wajah Keenan dan Kirana yang tersenyum lebar di foto itu.
...***...
Kegiatan paginya diawali dengan mengikuti apel pagi. Hari ini Adnan akan ikut bersama Danki untuk menyambut kedatangan para perwira baru yang akan ditugaskan di brimobda mulai hari ini. Ada 3 orang yang datang hari ini dan akan melapor untuk bertugas ketika apel pagi.
Adnan belum menyadari siapa yang datang karena dia sedang mengecek kondisi di pos penjagaan. Dia hanya dengar-dengar dari bintara yang berjaga. Katanya salah satu perwiranya adalah Aksara Langit, putranya Wakil komandan detasemen Gegana. Jelas saja heboh seluruh batalyon karena kedatangan putra dari komandan mereka.
__ADS_1
Seluruh penyambutan sudah dilaksanakan sesuai tradisi dan Adnan baru melihat ketika ketiganya berlari mengelilingi lapangan. Dia mengenali mana yang bernama Aksara yang tidak lain adalah putra dari Ndan Aji. Adnan juga mengenali ada wajah yang tidak asing di sana. Dia adalah Keenan, mantan calon adik iparnya. Dia datang bersama dengan dua rekannya dan resmi bekerja di sini mulai hari ini.
“Eh Bang Adnan…,” panggil Keenan yang mengenali siapa yang tengah berdiri menatapnya dari arah samping lapangan.
“Siapa Nan lo kenal?” tanya Aksara.
“Jelas kenal lah, dia Abangku,” kata Keenan.
“Lah lo bilang Abang lo guru.”
“Itu kan Abang ipar gue. Kalau ini Abang gue. Abang yang udah bikin gue bisa bangkit lagi dan jadi kaya sekarang. Dia Bang Adnan,” kata Keenan begitu membanggakan Adnan.
Ketiga perwira muda itu kemudian berjalan mendekati Adnan dan menyapa senior mereka. Walaupun hanya Keenan yang mengenal siapa dia tapi dua yang lainnya ikut hormat memberi salam.
“Siapa namamu?” tanya Adnan.
“Siap. Saya Aksara Bang,” kata Aksara.
“Kalau kamu?” tanya Adnan lagi.
“Siap. Saya Galih.”
“Aku nggak ditanyain Bang?” tanya Keenan pada Adnan.
“Nggak usah. Sudah bosen juga Abang ketemu kamu,” kata Adnan sambil menyentil jidat Keenan.
“Sudah sana lanjutkan kegiatan kalian,” kata Adnan.
Aksara dan Galih sudah pergi, tapi tidak dengan Keenan yang masih bertahan di hadapan Adnan seperti menuntut untuk bicara berdua.
“Bang, aku nggak akan menanyakan soal adikmu lagi. Tapi Abang harus janji, Abang akan bantu aku untuk sembunyi. Jangan biarkan Kirana tahu aku di sini Bang,” kata Keenan.
“Kamu yakin Kee?”
“Insyaallah Bang. Aku sadar aku bukan yang terbaik untuk Kirana. Toh aku tahu dia akan segera menikah dengan Bang Raihan,” kata Keenan membuat Adnan terbelalak kaget.
“Dari mana kamu tahu?”
“Ada lah Bang. Abang nggak perlu merasa bersalah atau apa. Aku ikhlas Bang. Aku sudah ikhlas melepaskan Kirana, dan dengan berita pernikahan itu aku yakin Kirana juga sudah ikhlas. Hubunganku dengan adikmu sudah usai, tapi kuharap Abang masih mau membimbing aku di sini Bang,” kata Keenan.
__ADS_1
Tidak banyak yang bisa Adnan lakukan. Dia hanya bisa mengangguk sebagai tanda dia menyetujui apa yang menjadi keputusan Keenan. Laki-laki itu tersenyum, kemudian dia pamit untuk kembali pada kedua sahabatnya dan melanjutkan lari keliling lapangan sesuai dengan instruksi komandan.