
Galih dan Kirana baru saja sampai di rumah mereka. Ketika sampai di sana Amira sudah menyambut dengan balon di tangan dia menyambut kedatangan adik barunya.
"Adek Tiar selamat datang," teriaknya membuat Tiar yang nyaman dalam gendongan Kirana menangis karena kaget.
Kirana langsung panik karena Tiar tiba-tiba meraung. Dia tidak menatap kanan kiri langsung menjauh dari keramaian membuat Amira langsung murung. Mama Hasna melihat Amira murung langsung mendekatinya dan membujuknya dengan sebungkus coklat sedangkan yang lainnya saat ini fokus ke Bachtiar yang masih menangis.
Kirana membawanya masuk ke dalam kamar bersama Mama Cecil dan Bunda Ratna. Kedua nenek Tiar itu membantu Kirana dan menemaninya di dalam kamar sementara yang lainnya mengobrol di luar.
"Adek kaget ya? Maaf ya, kakak ngagetin adek. Kakak kan belum tahu kalau adek gampang kaget," kata Kirana sembari mengelus kepala Tiar yang ubun-ubunnya masih terasa empuk ketika disentuh.
Menjelang malam Kirana berniat mengganti pakaian Tiar dengan baju yang lebih hangat sekalian menyelimutinya dengan selembar selimut bayi bergambar pesawat ruang angkasa pemberian Papa Galih.
Kirana terus bernyanyi dan mengajak Tiar mengobrol ketika mengganti pakaiannya dan saat itulah Mama Hasna masuk ke dalam kamar dan ikut membantu Kirana memakaikan baju yang bersih untuk Tiar.
Kirana sedang meletakkan baju kotor putranya ke dalam ember ketika dia mendapati Tiar dibalut dengan selimut begitu erat. Kirana mencoba melepaskannya dan meminta Mama untuk tidak memaksa kaki Tiar untuk lurus.
"Ma jangan," kata Kirana.
"Eh ya nggak gitu. Nanti kaki anakmu nggak bisa lurus kalau tidak dibeginikan," kata Mama Hasna.
"Ma please jangan dong nggak tega aku lihatnya Mama kasihan Tiar kalau kakinya dipaksa lurus," kata Kirana kembali mencoba ikatannya.
"Ki, bayimu juga harus dilatih jangan dimanja terus, nanti sampe besarnya dia manja lho. Lagian dari jaman nenek moyang selalu begini semua bayinya sehat-sehat. Amira dulu juga Mama giniin dan nggak ada masalah," kata Mama lagi.
Galih baru saja akan masuk ke dalam kamar ketika mendengar perdebatan antara Kirana dan mantan mertuanya itu. Galih melangkah masuk kemudian dengan sangat terpaksa dia bicara, "Tante, maaf bukan bermaksud mengusir, saya harus membicarakan sesuatu dengan Kirana. Kalau tidak keberatan Tante boleh keluar dulu, sebentar saja," kata Galih.
__ADS_1
"Kalian mau bicara berdua kan? Sini biar Tiar sama nenek, biar kalian leluasa mau ngobrol," kata Mama Bang Raihan.
"Tidak Ma, Tiar mau Kirana tidurkan. Sudah hampir jam 8 malam," kata Kirana.
"Ya sini Mama yang bantu tidurkan," kata Mama lagi.
"Nggak Ma, nggak papa nggak usah. Sekalian mau aku keloni aku juga sudah ngantuk," tegas Kirana.
Akhirnya Mama terdiam. Beliau kemudian melangkah keluar dari kamar dan tidak lama kemudian Galih menutup pintunya. Dia lebih dulu meraih sarung dan sajadah untuk menunaikan ibadah sholat.
Selama sholat, Galih samar mendengar ada yang terisak tidak jauh darinya. Dia juga mendengar suara parau sang istri yang mencoba menimang Tiar yang kembali menangis. Begitu selesai, belum sampai dia melepaskan sarung dia langsung mendekati istrinya dan memeluknya. Tiar masih dalam pelukan Kirana namun anak itu sudah mulai tertidur. Galih meminta Tiar dari pelukan ibunya dan meletakkannya ke dalam box bayi.
“Mama…,” panggil Galih yang kini duduk di hadapan Kirana yang masih menangis.
“Aku kenapa jadi cengeng ya,” kata Kirana sambil tersenyum padahal air matanya terus saja mengalir.
“Pa, jujur baru kali ini aku merasa terganggu sama kehadiran seseorang. Padahal seharusnya aku berterima kasih. Beliau masih mau menyayangiku dan masih mau menerima kehadiranku setelah kematian Bang Raihan tapi kenapa aku malah seperti menolak kehadiran Mama,” kata Kirana.
“Ki, aku memahami itu karena sebenarnya aku juga merasakan satu hal yang sama denganmu. Saat ini nalurimu sebagai ibu tengah meluap dan melihat bagaimana sikap Mama pada Amira dan Tiar membuat aa juga merasakan satu hal yang sama denganmu. Aa takut jika Mama suatu saat akan meminta Amira atau bahkan kamu dari pelukanku,” kata Galih.
“Nggak akan a, aku akan selalu ada sama kamu. Aku nggak akan meninggalkanmu. Aku istrimu, kemanapun kamu pergi disitulah aku harus tinggal. Bang Raihan itu hanya masa lalu dan seperti Ayah pernah bilang, masa lalu itu hanya untuk dikenang bukan untuk diulang. Aku sendiri bahkan sudah tidak nyaman jika harus terus mengingat soal Bang Raihan,” keluh Kirana.
“Aa tidak akan mengelak, Bang Raihan pernah menjadi kesayanganmu dan Bang Raihan pernah menjadi tumpuan hidupmu. Kamu melepaskan kepergian Bang Raihan juga tidak dengan cara yang baik-baik saja. Itulah kenapa aa tidak pernah memintamu melupakannya. Dia jugalah ayah dari Amira,” kata Galih.
“Bang Raihan adalah satu-satunya orang yang sesungguhnya tidak ingin kukenang a. Jujur hatiku sakit setiap kali melihat fotonya atau bahkan jika ada yang menyebut namanya.”
__ADS_1
“Kalau kamu memang tidak nyaman dengan keberadaan Mamanya Bang Raihan aa bisa minta Mama untuk tidak datang,” kata Galih.
“Mama itu orangnya keras kepala a, tidak peduli sebanyak apapun aa menolak kehadirannya, Mama akan tetap datang,” kata Kirana.
“Apa lebih baik aku tidak di sini sementara waktu ya a,” minta Kirana.
“Terus kamu mau dimana? Di rumah Papa? Atau di rumah teh Lucy?” tanya Galih.
“Di rumah Ayah Bunda,” kata Kirana.
Galih terlihat menimbang-nimbang. Tak lama kemudian dia mengangguk dan keluar dari kamarnya. Dia pergi mencari Pak Aji yang terlihat sedang mengganggu Bu Ratna di dapur. Galih juga lebih dulu memastikan keberadaan orang tua Bang Raihan sebelum dia bicara pada kedua orang tuanya.
“Pak, Bu, boleh Galih ngomong sesuatu. Kok kayaknya saya mau ngerepotin lagi,” kata Galih.
“Nah, kamu kalau sudah bilang begitu pasti ada sesuatu yang serius,” kata Pak Aji yang belum peka pada situasi malah bicara keras-keras saat ini.
Bu Ratna yang disebelahnya menyempatkan diri untuk mencubit pinggang suaminya sebelum dia menjawab sang putra, “bawa saja ke tempat Ibu. Kebetulan kan, Ibu jadi gampang jagain Kirana sama anak-anak,” kata Ibu.
Galih tersenyum, “Makasih bu, aku akan cari timingnya dulu. Maaf ya Bu, bukannya aku bermaksud jahat lho ini,” kata Galih.
“Iyo wis rapopo. Soalnya Kirana sedih terus begitu yang kasihan Tiar. Sudah asinya tidak lancar, hatinya jadi ikutan gelisah pula,” kata Ibu.
Galih mengangguk mengiyakan kemudian meminta izin untuk kembali ke kamarnya, “Bapak sama Ibu jadi nginep kan?”
“Iya, wis biar ibu yang beres-beres. Sana kamu tidur temenin Kirana. Sudah lama to kamu nggak kelon. Nanti Bapak juga mau kelon,” kata Bapak dengan ekspresi agak nakal.
__ADS_1
“Mas Tama…!” kata Bu Ratna yang merasa greget akhirnya memukul mulut suaminya sendiri.