Baret Biru

Baret Biru
105. Cemas


__ADS_3

Hingga malam menjelang kedua orang tua Raihan masih ada di sana. Galih saat ini tengah bersama dengan dokter untuk menanyakan kondisi Tiar putranya yang sore tadi sudah keluar dari inkubator. Galih dengan perlahan menggendong bayi mungil itu kemudian membawanya ke ruang inap Kirana. Begitu sampai di sana, kedatangan Tiar disambut dengan senyum yang penuh kebahagiaan.


Tiar langsung Galih letakkan di atas pangkuan Kirana yang masih lemah. Dia dengan perlahan membantu Kirana menopang tubuh Tiar yang masih sangat rentan. Dia juga meletakkan sebuah bantal di belakang punggung Kirana untuk mengganjal tubuhnya dan satu lagi di pangkuan untuk meletakkan Tiar.


Tak lama kemudian, seorang perawat melangkah masuk dan meminta semuanya keluar karena perawat tersebut akan membantu Kirana memberikan ASI untuk pertama kalinya pada putranya itu. Semuanya keluar, kecuali Mama Raihan yang memaksa tetap berada di dalam dan mengajak Amira tetap ada bersamanya.


Gadis itu sih senang-senang saja bisa berada dekat dengan ibu dan adiknya. Namun entah kenapa hati Galih yang menjadi begitu gelisah. Ada satu perasaan yang tidak dia inginkan hadir di hatinya namun tiba-tiba saja meluap tanpa dapat dikendalikan.


...***...


Di dalam ruangan Kirana merasakan kebahagiaan yang berlipat-lipat rasanya. Di sini ada Amira, ada juga Tiar, suaminya pun berada di sana, ditambah dengan kedua orang tua Raihan menyempurnakan harinya. Sungguh Kirana merasa menjadi wanita paling beruntung saat ini.


“Ami, nenek punya sebuah video buat kamu tonton. Mau lihat nggak? Kirana juga,” kata mama Hasna.


“Apa itu Ma?” tanya Kirana.


Amira dan Kirana ikut menyimak video apa yang kira-kira sedang ditampilkan oleh Mama Hasna. Baru detik pertama video itu diputar, Kirana langsung menyadari siapa yang ada di sana. Dia adalah Bang Raihan yang tampaknya baru saja pulang ketika itu. Dalam video tersebut Kirana melihat Raihan tengah menimang seorang bayi di dalam gendongannya. Bayi itu begitu mungil, berbalut selimut berwarna pink bergambar beruang coklat di seluruh permukaannya.


Raihan terdengar bersenandung kecil dan terus mengayunkan bayi mungil itu ke kanan dan ke kiri dengan begitu lembut ketika Amira yang saat itu berumur 1 minggu mulai menangis. Tak lama kemudian, Raihan membawa gadis kecilnya mendekat ke bed tempat Kirana masih terbaring lemah ketika itu.


“Shtt, ini sudah dekat sama Mama. Jangan nangis lagi ya,” kata Bang Raihan.


“Dek, bangun yuk. Amira nyariin kamu nih. Aku nggak akan sanggup ngurus dia sendirian. Aku butuh kamu di sampingku,” kata Bang Raihan kali ini pada Kirana. Sebelah tangannya dia pakai untuk menggenggam dan mengelus punggung tangan Kirana sambil terus menimang Amira yang sesekali masih menangis.

__ADS_1


Kirana semakin keras menangis hingga Tiar yang baru selesai menyusu kembali terbangun dan ikut menangis juga.


“Ini Papa Raihan ya nek?” tanya Amira meminta handphone neneknya dan meminta videonya diputar kembali. Anak itu tenggelam melihat video itu terus berulang. Sedangkan Kirana menatap Amira dengan sendu.


“Lihat kan, Papa Raihan betul sayang sama Amira,” kata Kirana sembari mengelus kepala putrinya.


“Iya Ma, Papa Galih nggak bohong. Papa Raihan betulan sayang sama Amira,” kata Amira.


“Amira…, main yuk ke rumah Papa Raihan mau?” ajak Mama Hasna tiba-tiba.


Tiba-tiba senyum di wajah Kirana menghilang, cerianya tiba-tiba berubah cemas. Belum sampai Amira menjawabnya Kirana sudah menjawab lebih dulu, “Besok aja mainnya Ma, biar Amira sama aku dulu. Masih kangen nih,” kata Kirana.


“Iya nek, Amira juga masih mau sama dek Tiar. Amira juga masih kangen sama Papa Galih,” kata Amira. Untung saja anak ini menjawab demikian.


"Galih, antar ibu ke bawah dong,” minta bu Ratna.


Galih mengiyakan saja. Begitu sampai di lift Galih langsung menghela nafasnya. Terasa berat rasa di hatinya. Dia semakin merasa tidak enak dan semakin merasa takut jika bukan hanya Amira yang diminta tetapi juga Kirana. Bu Ratna tersenyum kemudian menepuk bahu putranya.


“Nggak usah takut. Kirana dan Amira adalah milikmu dan selamanya akan begitu. Ibu cuma minta kamu kasih waktu untuk orang tuanya Raihan. Mereka berdua adalah orang tua yang kehilangan putranya. Raihan itu bukan hanya sekedar anak tunggal, dia adalah kebanggaan ayah ibunya. Terlebih lagi jika mengingat situasi ketika Raihan pergi,” kata Bu Ratna.


“Paham Bu, cuma takut aja. Kayaknya Kirana juga merasakan hal yang sama makanya Tiar rewel, aku kasihan. Udah mulai malem juga. Kirana juga tenaganya belum pulih,” kata Galih.


“Kamu sekarang kembali saja gimana? Gantikan Kirana untuk ngurus Tiar biar kamu juga tenang,” kata Bu Ratna.

__ADS_1


“Ibu gimana?”


Bu Ratna kemudian memencet kembali tombol lantai tempat mereka tadi mulai menaiki lift padahal mereka sudah sampai di lobi, “anggap saja minimarketnya tutup,” kata Bu Ratna.


“Hadeuh ibu,” kata Galih kemudian terkekeh. Tidak lupa dia juga berterima kasih pada ibunya sendiri.


Ketika sampai di ruang inap, Galih langsung mengambil alih Tiar dari gendongan Kirana yang terlihat sudah begitu lelah. Dia menggendong putranya dan menimangnya sekaligus meminta Kirana dan Amira untuk tidur lebih dulu.


“Kak, tidurnya sama Mama di atas aja kalau di bawah nanti kamu masuk angin,” kata Galih yang sudah mulai menggendong Tiar yang mulai tenang akibat timangannya.


“Sini kak, bobok sama Mama,” ajak Kirana.


“Tapi itu jarumnya Mama gimana?” tanya Amira dengan takut.


Bu Ratna membantu. Beliau mengeluarkan sapu tangannya dari dalam tas kemudian menekuknya. Setelah ditekuk memanjang Bu Ratna mengikatkannya di pergelangan tangan Kirana yang terdapat jarum infusnya. Beliau melilitkan sapu tangan itu agar menutupi jarumnya.


“Nah sudah tertutup. Ami nggak perlu takut lihat jarum lagi,” kata Bu Ratna pada cucunya.


“Oiya. Makasih nenek, nenek baik sekali,” kata Amira.


Kirana dan Amira tertidur juga pada akhirnya. Tak lama kemudian Tiar juga berhasil tidur. Galih meletakkan putranya dengan sangat pelan-pelan ke dalam box bayi yang ada disebelah bed ibunya. Setelah itu dia memastikan Amira dan istrinya tertidur dengan nyaman pula baru dia menggelar sebuah tikar untuknya tidur di bawah.


Beberapa menit sebelum Kirana tidur tadi, kedua orang tua Bang Raihan memutuskan untuk pamit dan hati kecil Galih berharap bahwa keduanya tidak akan kembali lagi besok. Karena jujur saja pikiran Galih benar-benar tidak bisa dikendalikan.

__ADS_1


__ADS_2