Baret Biru

Baret Biru
97. Long Time No See, Kirana


__ADS_3

Adnan kembali ke markas dan bergegas mencari kabar dimana Kirana berada. Beruntung ketika dia sampai ke cafe dia menemukan Kirana tengah tersenyum pada pelanggan di belakang meja kasir. Wajah paniknya terbaca oleh Kirana, namun dia tidak mau jika adiknya itu tahu sumber kekhawatirannya. Oleh karena itu Adnan memilih masuk ke dalam ruang staf dan mengunci pintu berdua di dalam bersama Lucy.


“Kenapa sih?”


“Cy, kamu harus bantu aku,” kata Adnan.


“Abang kenapa? Ada masalah Bang?”


“Ada dek, masalah yang besar banget.”


“Apa Bang? Cerita dong biar aku bisa bantu,” kata Lucy sembari mengalungkan tangannya ke leher Adnan.


“Orang itu kembali,” kata Adnan membuat Lucy mulai menerka siapa yang dimaksud oleh suaminya.


“Orang itu…,”


“Dia yang telah menghancurkan hidup sahabatmu,” kata Adnan kali ini dengan suara yang lebih pelan lagi.


Seketika sekujur tubuh Lucy melemah. Kedua tangannya terjatuh begitu saja dan Lucy meletakkan kepalanya dalam dekap suaminya yang saat ini sama-sama merasakan kekhawatiran yang besar.


“Dek, bantu Abang jaga Kirana ya,” minta Adnan.


“Pasti Bang,” jawab Lucy.


...***...


Kirana masih bersenandung ketika mencatat pesanan yang baru saja masuk. Dia juga masih tersenyum ketika menggantungkan bil ke atas gantungan agar staf dapur bisa segera membuatnya. Dia menyempatkan diri untuk menyampaikan pesanan khusus yang datang barusan sebelum berbalik untuk menerima pesanan yang baru.


Pintu kaca di cafe memang sengaja dipasangi lonceng kecil yang akan berbunyi setiap pintu dibuka atau ditutup. Kirana langsung memasang senyum terbaiknya menyambut seorang laki-laki yang datang dengan menggunakan topi dan tudung jaket yang menutupi separuh wajahnya.


“Long time no see, Kirana Dwi Dhanastri,” katanya.


Kedua tangan Kirana langsung bergetar begitu mendengar suara laki-laki itu. Bahkan Kirana semakin ketakutan setelah melihat laki-laki itu melepaskan tudung kepalanya dan memperlihatkan seluruh wajahnya. Kirana sudah lupa jika dia sedang berada di tempat yang sempit.

__ADS_1


Ketika Kirana berusaha menghindar dengan berjalan mundur, kakinya menyandung kursi dan membuat kursi itu terguling dan menciptakan suara gaduh. Adnan dan Lucy yang mendengarnya langsung berjalan keluar dan menemukan Kirana sudah berdiri di pojok ruangan dengan ketakutan.


Adnan melihat Kirana mulai menggosok kedua lengannya. Adnan juga melihat ekspresi wajah yang paling dia takuti. Ekspresi wajah adiknya di saat-saat terpuruknya dulu.


“Ya Allah Kirana…,” Lucy langsung memeluk Kirana yang mulai jatuh terduduk.


“Abang kenapa diam saja sih. Bang Adnan…!” Adnan tidak menanggapi panggilan Lucy karena saat ini kesadarannya juga entah melayang kemana.


“Adnan Dzaki adikmu!” teriak Lucy membuat Adnan kembali tersadar.


Dia melihat Kirana sudah terduduk sambil menangis. Dia terus ada di dalam pelukan Lucy namun kedua tangannya tidak mampu ditahan. Kirana terus menggaruk lengan dan tubuhnya dan terus menangis ketakutan.


...***...


Adnan berhasil membawa Kirana kembali ke rumah. Dia membawa Kirana ke rumah kedua orang tua mereka karena Adnan pasti butuh bantuan Papa dan Mama untuk menenangkan Kirana. Lucy tengah berusaha menghubungi Galih sembari menenangkan Daffa dan Amira yang menangis karena kaget melihat Kirana begitu saja masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyur tubuhnya begitu saja dengan banyak air.


“Dek istighfar dek, Adek…!” Adnan terus berusaha menahan Kirana agar tidak nekat. Niat hati Adnan ingin menarik Kirana keluar dari kamar mandi namun dia ingat jika saat ini adiknya itu tengah hamil. Dia takut karena dia memaksa akhirnya menyakiti Kirana dan bayinya. Seluruh tubuh Adnan ikut basah karena Kirana namun bukan itu yang dia pedulikan melainkan bagaimana caranya dia mengembalikan kesadaran Kirana dan menenangkannya.


“Sadar Mama istighfar, kumohon,” kata Galih.


Berbeda dengan Adnan tadi, Galih cukup berani untuk menahan pergerakan Kirana bahkan dia masih memiliki cukup tenaga untuk menekan semua berontakan Kirana. Amira melihat seberapa kacau Mamanya saat ini kembali menangis. Galih sempat meliriknya sebelum kembali fokus pada Kirana yang masih tenggelam dalam ketakutannya.


“Bang bawa Amira menjauh, tolong,” kata Galih.


Adnan langsung menggendong paksa Amira menjauh dari kamar mandi dan membawanya mendekat kembali pada Mama Lucy dan Daffa adiknya yang kini ikut-ikutan menangis karena bingung dengan apa yang tengah terjadi.


“Bawa anak-anak keluar saja Cy. Kemanapun. Kirana nggak akan mudah ditenangkan soalnya,” kata Adnan.


“Bang aku nggak sanggup sendirian,” kata Lucy mulai terisak.


“Abang akan temani, kamu tunggu di dalam mobil sama anak-anak, ok?”


...***...

__ADS_1


Beberapa waktu ditenangkan, Kirana akhirnya kehabisan tenaga. Dia jatuh terduduk dan Galih yang sudah siap langsung menopang tubuhnya. Kedua tangan Galih dia letakkan di pipi Kirana yang mulai membiru karena kedinginan sedangkan matanya terus mengejar pandangan Kirana.


“Shtt…, sayang lihat aku. Lihat aa,” kata Galih berusaha memenangkan atensi Kirana.


“Badanku kotor, aku harus mandi,” kata Kirana lagi.


“Astaghfirullah Kirana, badanmu sudah sebersih ini. Sudah jangan diulangi. Tenang Ki,” kata Galih.


Kirana mulai merangkak kembali meraih gayung mandi kemudian bersiap mengguyur tubuhnya. Namun karena kedua tangan Galih cukup kuat untuk menahannya, Kirana mengurungkan niatnya dan lebih memilih untuk menggaruk kembali lengannya yang sudah luka-luka dan mengeluarkan darah.


“Berhenti Kirana ya Allah sadar sayangku, kumohon berhentilah,” Galih masih berusaha menenangkan walau tidak digubris.


“Lepasin aa aku harus mandi. Badanku kotor!” berontak Kirana.


“Nggak Ki, badanmu nggak kotor. Berhentilah jangan kayak gini terus,” jawab Galih.


Kirana terus berontak. Tangan kanannya berhasil meraih gayung dan mulai memukulkannya ke tubuh Galih berharap laki-laki itu akan melepaskannya. Galih tidak bergeming, tidak peduli tubuhnya kesakitan karena pukulan dari istrinya dia masih tetap berusaha menahan tubuh Kirana.


“Kubilang Lepas!” Teriak Kirana.


“Nggak akan. Selama kamu belum sadar, bahkan sampai matipun nggak akan pernah kulepaskan,” kata Galih.


Kirana kembali berontak dan kali ini kecerobohannya melukai dirinya sendiri. Perutnya tidak sengaja terpukul dan membuatnya mulai merintih kesakitan. Tak lama kemudian Kirana yang tidak sanggup menahan sakitnya jatuh pingsan dan Galih langsung mengangkat tubuhnya keluar dari dalam kamar mandi.


Mama dan Papa yang sejak tadi hanya mampu diam tanpa berani mendekat kini ikut membantu mengeringkan tubuh Kirana. Mama juga membantu mengganti pakaian Kirana yang basah kuyup sedangkan Papa menghubungi besannya untuk meminta tolong.


...***...


Bu Ratna diantar oleh Pak Aji datang menjelang maghrib. Bu Ratna langsung meminta bertemu dengan Kirana yang terus mengigau dalam kondisi demam tinggi. Galih ada di sebelahnya, Bu Ratna melihat dia terus menggenggam tangan Kirana sembari merapalkan kalimat-kalimat bermaksud menenangkan istrinya.


“Bu…,” kata Galih begitu melihat Bu Ratna mendekat.


“Semua akan baik-baik saja. Ibu di sini,” kata Bu Ratna.

__ADS_1


__ADS_2