Baret Biru

Baret Biru
87. Kan Kujaga Dia Untukmu


__ADS_3

Sebelum melepaskan keluarga Galih untuk pulang, Kirana lebih dulu menyerahkan sesuatu pada Galih, “ini apa?” tanya Galih.


“Buku harian Bang Raihan,” jawab Kirana.


“Bukan apa-apa kok a, aku hanya ingin aa membacanya karena memang Bang Raihan memintaku menyerahkan ini pada suamiku kelak. Tapi aku juga tidak memaksa, andai aa tidak mau membacanya tidak apa-apa. Lagi pula buku ini sudah mau aku bakar,” kata Kirana.


“Hus, jangan dong. Buku ini kan kenanganmu sama Bang Raihan. Aa berterima kasih kamu mau berbagi, tapi buku ini adalah privasimu dan mendiang suamimu, aa rasa aa tidak perlu tahu,” kata Galih.


“Tidak ada a, isi buku ini hanya akan menjawab pertanyaan yang pernah aa lontarkan soal bagaimana aku bersama dengan Bang Raihan. Sebelum aa baca buku ini akan lebih dulu aku beritahu jika aku akan terus belajar dan belajar untuk mencintai dan membalas semua yang aa berikan. Lagi pula aku memang sudah mencintai aa, aku mengingat Bang Raihan sebatas terima kasihku pada apa yang pernah dia berikan juga demi Amira tidak melupakan siapa ayahnya,” kata Kirana.


Galih tersenyum kemudian sebelah tangannya terangkat untuk mengelus kepala Kirana, “kuhargai keinginan dan tekadmu. Terima kasih sudah berbagi tentang masa lalumu. Aa memang berharap bisa mengenalmu yang dulu agar aa tidak memperlakukan kamu dengan cara yang salah. Jika buku ini memang akan menjawab pertanyaanku akan kubaca tapi besok kamu harus jelaskan andai ada pertanyaan lain muncul dikepalaku, paham?” tanya Galih.


“Sangat paham. Besok aa boleh datang ke cafe, aku akan sehari penuh ada di sana dan dengan senang hati menjawab semua pertanyaan aa,” kata Kirana sembari tersenyum.


“Kalau begitu aa pulang dulu ya, assalamualaikum,” pamit Galih.


“Waalaikumsalam a, hati-hati di jalan. Kalau sudah sampai kabari aku ya,” kata Kirana.

__ADS_1


***


Malam itu setelah Galih mengantarkan Pak Aji dan Bu Ratna pulang, Galih kembali ke asrama. Ketika dia membuka pintu kamarnya, ada Keenan yang tengah berkutat dengan laptopnya. Laki-laki itu entah sengaja mematikan lampu atau lupa waktu sampai tidak menyalakannya Galih sendiri tidak begitu peduli tapi penerangan dalam kamar saat ini hanya ada dari lampu meja yang ada di hadapannya.


“Mot, ya Allah kupikir lembur taunya pacaran,” sindir Galih yang melihat jika di layar laptop Keenan menampilkan wajah Ningrum, kekasih barunya.


“Weish ada yang baru balik lamaran nih, gimana bos lancar?” tanya Keenan.


“Kelewat lancar. 2 bulan lagi ya Mot, lo harus dateng pokoknya. Wajib bawa gandengan karena Aksara juga udah ada gandengan,” kata Galih.


“Mas Galih sudah lamaran sama Kirana ya? Selamat ya,” kata Ningrum.


“Maunya sih begitu, tapi bingung. Habis aku konyol banget perginya. Nanti deh kalau aku ada libur aku pulang. Kalau Mas Galih sama Kirana nikahan aku dikabari ya, aku pengen banget dateng,” kata Ningrum.


“Sudah pasti.”


Keenan tersenyum memandang wajah Ningrum yang terasa lebih cerah dibanding sebelumnya. Terasa seperti ada satu beban dari pundaknya lepas ketika Galih memberinya saran tadi. Ningrum diam-diam mengambil S2 di Jakarta, itulah kenapa dia tidak bisa kembali pulang. Sayangnya baik Kirana maupun Lucy belum sempat dia kabari, apalagi setelah dia dengan konyolnya marah dan tiba-tiba menghilang bagai Kirana dan Lucy telah melakukan kesalahan besar padanya.

__ADS_1


“Ning, kalau mau balik ke sini kabar-kabar ya. Biar kujemput ke sana,” kata Keenan.


“Jauh Kee, kamu kan kerja di sana. Apa lagi partnermu lagi sibuk ngurus nikahan, jangan deh. Kalau mau jemput boleh, di stasiun aja tapi ya,” kata Ningrum.


“Demi kamu mah aku rela ambil cuti. Besok aja gimana? Aku ke Jakarta susulin kamu ya, ada yang mau aku omo…,” ucapan Keenan terhenti karena kepalanya ditoyor oleh Galih dari belakang.


“Lagi kasmaran ya kasmaran aja. Gundulmu besok mau cuti, besok itu kita mau apel gelar pasukan, mau ke batalyon juga kau ini bagaimana. Hoy sadar anda komandan ya komandan,” kata Galih memunculkan tawa pada Ningrum yang melihat Keenan dimarahi oleh rekan kerjanya.


Galih yang tidak ingin berdebat dengan Keenan yang tengah PDKT dengan Ningrum memilih melangkahkan kaki keluar dari kamarnya sembari menenteng handuk. Dia ingin cepat-cepat mandi dan berbaring sembari membaca buku yang tadi Kirana berikan padanya. Dia sudah termakan rasa penasaran sejak tadi dan ingin segera menuntaskannya agar besok dia juga punya alasan untuk menemui Kirana sepulang kerja.


Sayangnya Keenan dan Ningrum terlalu asik mengobrol jadi Galih memilih mengalah. Dia berjalan menuju ke tempat Ririn dan Jono, si mobil taktis kebanggaan brimob terparkir. Galih menaiki salah satunya kemudian duduk di dalam, “Rin ikut tidur sini ya,” kata Galih.


Galih mulai membaca satu per satu halaman buku yang diberikan oleh Kirana. Setiap kali dia membaca kalimat-kalimat yang tertulis Galih mampu merasakan pula perasaan Raihan. Apa lagi dia menemukan noda yang seperti bekas air mata di salah satu halamannya yang terdengar tampak menyedihkan.


"Aku titip pesan saja pada laki-laki yang akan menikahimu suatu saat nanti. Tolong jaga wanita hebat ini dengan baik. Siapapun kamu kumohon terimalah Amira dan sayangi dia bagai kamu menyayangi putrimu sendiri. Aku tidak akan menuntut banyak hal, selama aku tahu kamu mencintai dan menyayangi kedua permataku ini aku akan baik-baik saja. Salam kenal ya, aku Raihan Dhananjaya. Laki-laki brengsek yang melanggar janjinya pada sang istri. Jangan jadi sepertiku atau aku akan mengutukmu di neraka." ucap Raihan di dalam bukunya.


Seketika Galih merasakan betapa besarnya cinta Raihan pada sang istri, bahkan dengan lapangnya dia sempat mendoakan kebahagiaan Kirana dengan suami barunya. Galih akui dia beberapa kali bertemu dengan sosok bernama Raihan Dhananjaya itu. Walaupun hanya dari beberapa pertemuan saja, Galih sudah cukup mengerti betapa baiknya laki-laki itu.

__ADS_1


Siapa sangka, di masa depan Galih-lah orang yang didoakan oleh Raihan agar bisa bahagia bersama dengan istrinya. Galih bahkan tidak pernah membayangkan akan jadi seperti ini hidupnya. Terjebak pada mantan kekasih sahabatnya yang merupakan istri dari orang yang dia segani.


“Permatamu itu baik-baik saja Bang, Kirana Dwi Dhanastri istrimu dan Amira Dhananjaya Yumna putrimu mulai sekarang akan kujaga dengan sebaik-baiknya. Akan kusayangi mereka layaknya kau menyayangi mereka dulu. Terima kasih Bang sudah memberikan kesempatan untuk mengenal mereka berdua, semoga abang tenang di sana, jangan pikirkan lagi yang ada di sini. Kami semua baik-baik saja. Bahkan masalah Keenan dan Kirana juga sudah usai, sudah tidak ada lagi beban di hati kekasihmu itu,” kata Galih.


__ADS_2