Baret Biru

Baret Biru
82. Kutunggu Kamu Datang


__ADS_3

Kirana mulai merasa jika jalanan yang dilaluinya semakin terasa asing. Walaupun dia masih tetap berada di tengah kota tapi jalanannya sudah tidak seramai tadi. Lebih lagi kini Kirana mulai ragu kemana dia mengarah. Dia juga tidak melihat matahari karena mendung. Kirana semakin ketakutan setelah menyadari kalau dia sudah keluar dari perkotaan.


Takut jika mereka tersesat, akhirnya Kirana membangunkan Galih yang sepertinya tertidur, “e…, aa…, kita ada di mana ini?” tanya Kirana.


Galih yang baru terbangun segera mengumpulkan kesadarannya. Tepat begitu matanya menatap ke arah jalan, dia langsung terkaget, “Neng kamu nyasar ke mana ini?!”


“Ya mana kutahu, kan tadi aku suruh aa ngarahin.”


“Astaga geulis…, ini teh jalan ke arah puncak. Aduh mana udah setengah jalan lagi kamu,” kata Galih sebenarnya ingin marah tapi tidak tega.


“Ya terus gimana aa, jangan dimarahin dong akunya. Mana macet ini jalanan,” kata Kirana hampir menangis membuat Galih makin tidak tega.


“Nggak, aa nggak marah neng. Ya maaf aa tadi ketiduran.”


“Terus gimana ini a?” tanya Kirana yang mulai bingung dan panik.


“Kamu menepi dulu aja, kita tukeran tempat duduk. Emang ditakdirkan balik jogja besok kita nggak sekarang. Mumpung sudah sampai sini kita bablas dulu aja lah,” kata Galih.


...***...


"Maaf Pak, kami hanya sisa satu kamar," kata pegawai hotel yang duduk di meja resepsionis.


"Nggak papa mbak," jawab Kirana bahkan sembari tersenyum.


Jelas saja Galih kaget. Kenapa Kirana mau sekamar dengannya padahal selama ini Kirana yang lebih menjaga jarak di antara mereka. Galih baru akan menolak ketika petugas resepsionis bertanya untuk berapa malam tapi Kirana kembali menjawab dan kembali membuat Galih kaget.


Galih membantu Kirana membawakan tasnya sedangkan Kirana membuka pintu kamar mereka. Kamarnya cukup luas, fasilitasnya juga cukup baik, sayangnya hanya ada satu tempat tidur di kamar ini.


"Ki kamu yakin?"


"Yakin. Udah malem a, dari tadi kita udah keliling-keliling dan nanyain ke 5 hotel yang berbeda. Belum tentu kalau kita nolak di sini kita akan dapat tempat di hotel lain. Lagi pula hanya semalam," kata Kirana.


"Kamu nggak takut aa kelepasan?" tanya Galih lagi.

__ADS_1


Kirana menggeleng kemudian tersenyum, "aku percaya aa bukan laki-laki yang seperti itu. Aku percaya aa orangnya baik. Kita cuma mau tidur a, kan bisa aku di balik selimut aa di luar selimut. Nanti kita matikan saja acnya biar aa nggak kedinginan," kata Kirana.


Galih berjalan mendekat kemudian mengelus kepala Kirana dengan rasa bangga, "Acnya nggak perlu dimatiin. Nggak papa aa tidur tanpa selimut, aa sudah biasa. Aa tidur di lantaipun jadi," kata Galih.


"Kalau aa tidur di lantai aku juga tidur di lantai," jawab Kirana.


Malam itu Kirana dan Galih memutuskan untuk langsung tidur setelah mandi. Kirana tidak lupa mengirim pesan pada Gina dan meminta dia mengabari nenek agar tidak khawatir. Gina bahkan sempat mentertawakan kekonyolannya yang nyasar sampai ke kota lain.


"Tadi sebenarnya aku tenang-tenang saja melepas aa pergi dalam keadaan emosi. Karena aku tahu ada kamu sama aa," kata Gina dalam pesannya.


Membaca pesan itu membuat Kirana ingat jika kejadian ini bermula ketika Kirana dihina oleh keluarga Galih dan dia mengajak Kirana pulang ke Jogja begitu saja. 


"Aku minta maaf soal sikap kedua orang tuaku. Kirana, aku mau kamu tahu bahwa restuku ada sama kamu. Jangan jadikan orang tuaku sebagai penghalang buat kalian bahagia. Aa Galih itu orangnya selektif sekali dan melihat bagaimana aa membelamu tadi aku tahu aa begitu menyayangimu. Andai ketika kalian menikah aku tidak bisa hadir aku minta maaf, aku akan mendoakan kalian semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah," tulis Gina lagi dalam pesannya.


Galih menatap Kirana tersenyum walaupun matanya mulai berkaca-kaca. Galih tahu Kirana sedang berkirim pesan dengan sepupunya tapi Galih tidak tahu apa yang mereka bicarakan sampai Kirana harus menangis.


“Kenapa?” tanya Galih.


“Gigi baik banget,” kata Kirana sembari memperlihatkan isi obrolannya dengan Gina baru ini.


“Belum jadi istri a,” koreksi Kirana.


“Aa udah nggak mau lama-lama tapi. Aa nggak akan ngajak kamu pacaran tapi aa ajak nikah, kamu mau?” tanya Galih tiba-tiba.


“Seperti biasa, a Galih suka ngegas dan tiba-tiba. Tapi aku suka, aku mau a. Insyaallah aku mau tapi maaf ya aku banyak kekurangannya. Aku akan usahakan selalu memperbaiki diriku,” kata Kirana sambil tersenyum.


Galih merebahkan dirinya di samping Kirana, lebih dulu dia menempatkan satu bantal di tengah-tengah sebagai pembatas berharap tangan Galih tidak akan mengganggu tidur Kirana malam ini. Kirana ikut menyusul, dia merebahkan diri setelah mematikan lampu kemudian lebih dulu memejamkan mata setelah mengucapkan selamat malam.


...***...


Pagi harinya Kirana yang lebih dulu terbangun. Dia terbangun karena mendengar adzan subuh. Merasa penasaran dengan pemandangan yang tidak sempat dia nikmati semalam, Kirana membuka jendela lebar-lebar dan berdiri di balkon kamar hotelnya. Dihirupnya udara dingin nan sejuk beraroma petrikor bekas hujan semalam. 


Tidak lama kemudian terdengar langkah kaki yang menyusul untuk menikmati indahnya surga dunia bersama Kirana. Ketika Galih tengah meregangkan badannya, Kirana menatap Galih tanpa berkedip. Dia lagi-lagi teringat pada mendiang suaminya. Ketika Bang Raihan selalu melakukan hal yang sama dengan yang Galih lakukan saat ini di setiap paginya.

__ADS_1


“Kalau aku masih terus mengingat Bang Raihan pasti tidak akan adil untuk aa. Walaupun dia mengijinkan tapi aku tidak mau. Maaf ya Abang…., maafkan istrimu yang durhaka ini,” batin Kirana.


“Aa…,” panggil Kirana mencoba untuk membuat obrolan agar pikirannya teralihkan.


“Hmm?” jawab Galih sembari menoleh pada Kirana.


“Nanti kita balik ke sini lagi yuk. Sama Amira,” kata Kirana.


“Insyaallah. Kita bisa ajak Amira ke sini atau ke tempat lain yang tidak kalah indahnya dari tempat ini,” kata Galih.


“Aa makasih ya, sudah datang menjadi penyelamat buat aku dan Amira,” kata Kirana.


“Sama-sama. Terima kasih juga sudah mengisi kekosongan di hati aa, terima kasih juga sudah mengobati luka lama aa. Untuk yang satu ini aa tidak akan meminta kesempatan, tapi aa akan berjanji. Aa janji akan jaga kamu dan Amira, aa akan jaga keluarga kecil kita,” kata Galih.


“A…,” panggil Kirana dengan ragu-ragu.


“Apa?”


“Boleh…,”


“Boleh apa?”


“Boleh itu…, anu…,”


“Apa sih?”


“Boleh nggak Kirana peluk aa?” tanya Kirana.


Galih tertawa, dia merasa gemas sekali melihat tingkah lucu Kirana yang begitu takut mengutarakan keinginannya padahal sejak tadi Galih juga sudah menahan diri untuk tidak memeluk Kirana, “cuma gitu aja, sini.”


Galih merentangkan tangannya. Kirana segera masuk dalam pelukan Galih dan untuk pertama kalinya dia merasakan dekapan hangat Galih. Sejujurnya dia agak iri pada putrinya sendiri. Dia sudah pernah mencium pipi Galih, dipeluk setiap malam dan dibacakan dongeng, tapi Kirana bisa apa. Walaupun ingin dia belum berstatus apa-apa. Tapi untuk kali ini Kirana tidak bisa menahan keinginannya. Dia meminta dan dengan senang hati Galih mengabulkan.


Pagi yang dingin bahkan tidak mereka rasakan karena keduanya tenggelam dalam kebahagiaan. Galih masih terus memeluk Kirana sedangkan Kirana bergerak mencari posisi yang ternyaman dalam pelukannya.

__ADS_1


“Pulang yuk, aa udah nggak sabar mau menjadikan kamu istriku biar aa bisa menyayangi dan menjagamu secara penuh, Ma,” kata Galih.


“Ayo, kutunggu kamu datang, Papa…,” jawab Kirana.


__ADS_2