
Pagi selepas sholat subuh, Lucy langsung mengikat rambutnya kemudian masuk ke dalam kamar Kirana. Sementara dia tidurkan Amira disamping Adnan yang masih tertidur pulas setelah begadang mengerjakan pekerjaannya semalam.
Lucy dibantu oleh Mama memindahkan boks bayi Amira ke kamar Kirana yang ada di lantai 1. Lucy dan Mama juga menata semua keperluan Amira sedemikian rupa agar kamar Kirana terlihat rapi walau banyak barang di dalamnya. Lucy ini pintar sekali menata barang. Dia tata semuanya berdasarkan fungsinya. Dia masukkan semua alat mandi Amira dalam satu keranjang kecil, sedangkan bedak minyak telon dan lain sebagainya dia tata dalam rak yang diletakkan di sebelah lemari pakaian Amira.
“Sudah beres. ehh… Mama, menurut Mama lebih baik meja ini dikeluarkan saja atau dipindah ya? Kirana kan belum lancar jalannya. Dia nggak akan bisa menjangkau area sini pakai kursi rodanya,” kata Lucy pada mertuanya.
“Iya juga, hmm sementara kita keluarkan dulu saja. Taruh di sebelah tv aja kali ya. Toh mejanya nggak terlalu besar. Yang ada di atasnya juga sudah kamu pindahkan ke meja rias semua kan,” jawab Mama.
“Ok, aku pindah ya,” kata Lucy bersiap mengangkat mejanya.
“Stop. Biar aku yang angkat. Jangan kamu yang ngangkat. Kalau kamu luka, terus kamu sakit aku juga yang repot,” kata Adnan yang baru datang masih dengan wajah khas bangun tidur.
“Abang. Amira sama siapa?!”
“Sama Papa. Sini lepas itu hus hus tanganmu jauhin,” jawab Adnan yang mulai mengangkat meja yang biasa Kirana pakai untuk menyelesaikan pekerjaannya.
“Di dekat tv, di bawah tangga. Muat kan di taruh sana?”
“Kayaknya,” kata Adnan langsung mengangkat mejanya dengan sekali hentakan sedangkan Lucy meletakkan kursinya di pojok kamar dan meletakkan keranjang baju Amira di atasnya.
...***...
Kirana tengah menunggu Adnan dan Lucy yang akan datang menjemputnya. Walaupun kepalanya masih terasa berat dan kakinya lemas, tapi Kirana tidak kehilangan semangat karena dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan putri dan suaminya di rumah. Dia sudah tidak sabar untuk menggendong Amira dan memeluk suaminya, melepaskan rindu yang sesak terasa.
“Abang lama,” kata Kirana begitu melihat Adnan membuka pintu ruang inapnya.
“Maaf, ibu negara nih pake bongkar kamar segala makanya lama,” kata Adnan.
__ADS_1
“Dih, kan aku sudah bilang sekalian nunggu aku bongkar kamar Abang ke sini duluan beresin administrasi. Ngeyel sih, kesiangan kan jadinya,” kata Lucy tidak terima disalahkan.
“Kalian lucu deh,” kata Kirana sambil tersenyum.
“Kirana, sebelum pulang Abang mau bicara dulu sama kamu.”
Ketika Abangnya ini bicara, tiba-tiba atmosfernya menjadi serius. Adnan bahkan sudah duduk di hadapannya dan terus menggenggam tangannya sedangkan Lucy di sebelahnya mulai mengelus bahunya.
“Ada apa Bang?”
“Kamu selama ini bertanya kan kenapa suamimu tidak pernah datang kemari?” tanya Adnan.
“Ada apa sama Bang Raihan?” tanya Kirana balik.
“Suamimu tidak akan pernah datang kemari Ki, karena dia sudah tidak ada di dunia ini.”
“Abangmu nggak bohong Kirana. Sekarang kita pulang ya, kutemani kamu ketemu sama Bang Raihan,” kata Lucy.
Selama perjalanan Kirana hanya melamun. Dia berusaha menepis kenyataan. Dia masih percaya kalau Adnan dan Lucy hanya mengerjainya. Karena tidak mungkin kan suaminya itu tiba-tiba pergi begitu saja. Dia selama ini sehat-sehat saja tidak ada sesuatu yang bisa membuat dia tutup usia secepat ini.
Adnan mendorong kursi roda Kirana memasuki area pemakaman sedangkan Lucy berdiri di sebelahnya. Setelah beberapa waktu masuk, mereka sampai pada sebuah gundukan yang bahkan belum mengering. Di atasnya terdapat nisan bertuliskan nama Raihan Dhananjaya. Kirana sekarang sudah melihatnya sendiri, tapi alih-alih menangis dia malah tertawa. Dia masih tidak percaya dan masih menganggap jika mereka niat mengerjai Kirana.
“Bang, kita pulang saja. Bang Raihan pasti sudah nunggu kan di rumah?” kata Kirana.
“Kirana…,”
“Ayo Bang, Lucy ayo pulang. Kalau kalian nggak mau bawa Kirana pulang Kirana akan pulang sendiri,” kata Kirana sembari mencoba bangkit dari kursi rodanya tapi dia malah terjatuh dan tersungkur ke tanah.
__ADS_1
“Kirana, suamimu sudah nggak ada. Kami nggak mungkin ngerjain kamu bawa-bawa kematian orang Kirana. Ini sungguhan. Suamimu meninggal akibat pecah pembuluh darah di otaknya. Setelah merawatmu selama beberapa minggu dia akhirnya tutup usia sehari sebelum kamu dinyatakan lepas dari kondisi koma,” kata Adnan.
Kirana menangis tapi langsung kehilangan kesadarannya. Tentu saja dia syok. Siapa sih yang tidak kaget mendapatkan kabar semacam ini? Kirana bahkan belum lama bahagia dengan suaminya. Kirana belum lama merasakan indahnya pernikahan bersama dengan Raihan tapi kenapa laki-laki yang menjanjikan akan selalu ada disampingnya ini malah pergi dengan cara yang begitu menyakitkan seperti ini.
Ketika sampai di rumah pun tidak ada satupun yang berani mendekatkan Amira pada Kirana yang terus melamun. Buku harian Raihan sudah ada di tangan Kirana saat ini. Kirana baru membaca lembar pertamanya tapi sudah membuang buku itu jauh-jauh. Dia bahkan melempar dan memecahkan semua foto Raihan yang bisa dia lihat. Semua foto Raihan dia robek dan dia hancurkan. Lucy hanya diam sambil berusaha menenangkan Amira yang menangis di lantai 2 sedangkan Adnan turun dan berusaha menenangkan Kirana yang mengamuk.
“Kirana…,” Adnan mencoba memanggil Kirana.
“Kamu bohong Bang. Kamu bilang Bang Raihan akan setia padaku. Kamu bilang Bang Raihan akan selalu ada untukku. Tapi nyatanya apa?! Dia pergi juga Adnan, dia meninggalkanku juga. Mau sampai kapan kalian semua berusaha menghancurkan hidupku? Mau sampai kapan?! Aku sudah nggak kuat, aku nggak setangguh itu bisa tetap berdiri setelah dirobohkan berkali-kali!” amuk Kirana.
“Setelah Keenan sekarang Raihan. Semua laki-laki sama saja. Semua laki-laki sama brengseknya. Kalian semua, kalian semua sudah menghancurkan hidupku. Kamu terutama, kamu polisi Adnan kamu yang katanya adalah suri tauladan untuk masyarakat banyak tapi nyatanya apa?! Kamu bahkan tega menghancurkan hidup adikmu sendiri. Kamu yang membuat aku jadi seperti ini. Sudah kamu pisahkan aku dengan Keenan, kamu paksa aku untuk menerima Raihan pula. Sekarang setelah aku bisa menerimanya dengan sepenuh hatiku dia pergi meninggalkan aku. Apa masih kurang penderitaan yang aku terima? Lebih mending kamu bunuh aku aja. Lebih baik aku mati aja dari pada harus hidup menyedihkan begini,” kata Kirana.
Kirana meracau. Adnan mendengar semuanya, tapi tidak ada satu katapun dia sangkal. Entah itu benar atau tidak tapi dia paham jika akal sehat Kirana saat ini tidak akan mampu menerima apapun yang terlontar dari mulut Adnan. Adnan berusaha mendekatinya, tapi dia tidak mampu. Dia takut adiknya akan lebih nekat lagi jika Adnan berani melangkah.
Akhirnya malah Lucy yang mendekat. Dia langsung masuk ke dalam kamar tempat Kirana berada dan tanpa basa basi langsung menampar pipi Kirana dengan begitu kerasnya.
“Lucy?!”
Lucy tidak menggubris suaminya. Dia menarik kedua bahu Kirana agar dia mau menatapnya, “denger Kirana! Kamu bilang semua laki-laki sama saja? Apa itu artinya suamimu sama brengseknya dengan laki-laki yang sudah memperkosa dirimu? Apa itu artinya suamimu sama pengecutnya dengan Keenan yang pergi meninggalkanmu begitu saja? Lihat ini Kirana, lihat! Kamu harusnya baca dulu sampai akhir. Kamu harus tahu jika Raihan juga merasa putus asa dengan penyakitnya. Kamu tahu alasan dia berusaha bertahan bahkan hingga waktu terakhirnya dia masih memikirkan kamu. Tapi apa yang kamu katakan tadi? Kamu bilang Bang Raihan brengsek? Kalau dia brengsek dia pasti meninggalkanmu begitu saja tanpa memberikan apapun padamu dan Amira.”
“Kirana, usia tidak ada yang tahu. Suamimu itu juga tidak pernah mengharapkan kepergiannya secepat ini. Dia mencintaimu, dia juga sudah lama menantikan cinta darimu. Bang Raihan juga pasti menginginkan hidup bahagia bersama denganmu dan Amira. Tapi takdir tidak berkata begitu. Allah lebih menyayangi suamimu Kirana. Dia mungkin pergi, tapi lihat apa yang dia lakukan? Dia memastikan dulu kehidupanmu dan Amira tidak akan kekurangan. Dia bahkan memohon pada Bang Adnan untuk membujuk Keenan datang menemuimu, agar kamu memiliki imam yang bisa membimbing dirimu. Agar kamu bisa memiliki pendamping yang akan membantumu menuntaskan hidup,” kata Lucy lagi.
Mendengar ucapan Lucy membuat Kirana kehilangan tenaganya. Dia hanya bisa menangis sejadinya. Padahal dia sudah membayangkan akan masuk dalam pelukan suaminya hanya untuk sekedar melepas rindu dan beban di hatinya. Sekarang kalau dia sedang melemah dia tidak memiliki siapa-siapa lagi untuk bersandar. Dia dipaksa kuat seorang diri padahal semuanya tahu dia tidak akan sanggup.
“Kenapa Bang Raihan melakukan itu Cy? Seharusnya kalau dia mau pergi ya pergi aja. Tapi kenapa dia masih mikirin aku?” tanya Kirana yang sudah menangis begitu keras.
“Bang Raihan mencintaimu Kirana. Dia menyayangimu. Itulah kenapa dia akan selalu memikirkan kamu,” kata Lucy.
__ADS_1