Baret Biru

Baret Biru
108. Datang Lagi


__ADS_3

Pagi-pagi betul Kirana dan Tiar dibawa ke rumah orang tua Galih. Dia pergi bersama Pak Aji dan Bu Ratna sedangkan Galih lebih dulu mengurus Amira yang akan pergi ke sekolah dan membereskan rumah sebelum ditinggal selama beberapa saat. Galih sengaja tidak mengabari siapapun. Dia hanya berencana memberi tahu Aksara dan Adnan ketika di kantor nanti.


Apa lagi setelah Bu Ratna mewanti-wanti pada Galih soal Kirana yang mengalami baby blues. Agak berbeda dengan biasanya, Kirana lebih ke arah memproteksi anak-anaknya, Ami dan Tiar agar tidak ada yang menyentuhnya selain Kirana dan Galih. Selain itu Kirana juga selalu memaksa melakukan segalanya sendiri walaupun dia kewalahan.


Beberapa hari berlalu hingga berganti minggu, kantung mata Kirana semakin tebal saja akibat kurang tidur di malam hari dan tidak istirahat di siang hari. Sayangnya Galih tidak bisa selalu ada di sebelah Kirana karena dia memiliki tanggung jawab yang tidak kalah besarnya. Kirana sehari-hari hanya bersama dengan Bapak dan sesekali Kaori yang datang. Itupun Kaori hanya akan datang untuk membantu Bapak menyelesaikan pekerjaan rumah. Dia tidak berani membantu Kirana mengurus Tiar karena Kirana masih teramat sangat sensitif.


Pagi ini ketika Kirana sedang mencuci pakaian Tiar Kaori datang. Dia langsung menuju ke meja makan dan menata makanan yang dibawanya.


“Ki, aku bawain sayur bening sesuai request-mu kemarin nih. Sini makan dulu, nyucinya nanti lagi,” kata Kaori.


“Makasih Ri. Bentar ya, Tiar kehabisan baju karena aku belum sempat nyuci kemarin makanya ini aku kelarin dulu,” kata Kirana.


“Mau dibantu?” tawar Kaori.


“Nggak makasih, keperluan anakku ini. Selama aku masih mampu akan aku kerjakan semuanya sendiri,” kata Kirana.


Ketika itu Bapak mendengar percakapan kedua menantunya. Namanya juga Pak Aji, beliau selalu memiliki caranya sendiri untuk membujuk anak istrinya. Pak Aji sengaja berjalan mendekati Kirana yang masih di dekat mesin cuci. Dengan dalih mencari sesuatu Pak Aji sengaja menyenggol botol sabun dan membuatnya tumpah ke dalam tabung mesin cuci tempat pakaian Tiar yang sudah bersih akan dikeringkan.


“Yah Ki, maafin Ayah ya. Ayah nggak sengaja,” kata Pak Aji.


“Yah Ayah, ini sudah dibilas padahal,” kata Kirana.


“Yaudah biar ayah yang tanggung jawab sini. Kamu masuk aja sana, kayaknya Ayah dengar Tiar nangis. Cuciannya biar Ayah yang selesaikan. Nanti kalau tinggal jemur kamu Ayah panggil,” kata Pak Aji.


“Ayah…,”


“Kan ayah yang salah,” kali ini dengan kalimat yang agak memaksa.


“Ya sudah deh. Tapi bener ya Kirana yang jemur nanti jangan ayah,” kata Kirana.


“Iya iya,” jawab Ayah dengan tersenyum.


Pak Aji berhasil membantu Kirana dengan cuciannya yang tidak hanya lumayan. Tapi banyak betulan karena selain mencuci pakaian Tiar, Kirana juga mencuci pakaian Amira, pakaiannya dan sang suami.

__ADS_1


Kaori juga ikut tersenyum, ternyata mertuanya ini cerdas juga. Kalau dipikir-pikir persis sama seperti yang Aksara lakukan setiap kali laki-laki itu mencoba untuk membantu Kaori dengan pekerjaannya.


“Buset, okeh tenan,” keluh Ayah.


“Yang semangat ya Ayah. Kaori sebenarnya mau bantu, tapi berhubung yang diberi izin hanya Ayah ya maaf Kaori jadi nggak bisa bantu,” kata Kaori menggoda ayah mertuanya.


“Asem, kok kamu lama-lama jadi kayak bundamu toh,” kata Ayah pada Kaori yang berdiri di ambang pintu dapur.


“Ya kan Kaori menantunya Bunda,” jawabnya dengan nada nakal.


“Menantu Bunda njuk bukan menantu Ayah?”


“Ya menantu ayah juga, sedikit,” jawab Kaori kali ini sembari berlalu pergi meninggalkan Ayah yang masih komat-kamit akibat ulahnya sendiri.


...***...


Kirana masuk ke dalam kamar, langsung menggendong Tiar yang menangis karena popoknya basah. Seperti biasanya Kirana selalu mengusahakan senyum di hadapan anak-anaknya. Jam menunjukkan pukul 10 pagi tanpa terasa. Kirana baru saja akan menghubungi suaminya, mengingatkan untuk menjemput Amira namun Kirana sudah lebih dulu mendengar suara putrinya.


“Iya Ma, bu guru hari ini ada rapat makanya pulang cepet,” jawabnya.


“Kamu pulang sama siapa sayang?”


“Sama nenek,” jawabnya lagi.


“Nenek?”


“Neneknya Papa Raihan.”


Mendengar nama itu membuat Kirana terdiam. Tak lama kemudian Kirana melihat Mamanya Bang Raihan masuk ke ruang tengah bersama dengan Kaori. Seperti sebelum-sebelumnya, begitu Mama Hasna melihat Kirana beliau langsung memeluk dan menciumi pipi Kirana begitupun Tiar yang hanya bisa diam memandangi siapa gerangan yang ada di hadapannya saat ini.


Tidak berhenti di situ, Mama juga masuk mencari Pak Aji yang sedang menyelesaikan pekerjaannya. Begitu Mama melihat Pak Aji tengah mencuci pakaian Tiar, Kirana langsung ditegur.


“Ki, kok yang nyuci malah ayah mertuamu sih,” kata Mama.

__ADS_1


Kirana yang pada dasarnya tengah sensitif sontak menyerahkan Tiar ke gendongan Kaori dan langsung menuju ke belakang menggantikan Ayah yang masih berdiri di depan mesin cuci.


“Ki…,” panggil Ayah.


“Biar aku aja Yah, ini baju anakku bukan anak ayah,” kata Kirana yang sudah begitu sarkas bicara.


Pak Aji menatap Kirana yang mulai mengeluarkan pakaian Tiar dari tabung cuci dan memindahkannya ke tabung pengering. Matanya sudah mulai memerah dan tidak lama kemudian mulai berair. Baru Pak Aji akan menepuk pundak menantunya, Kirana sudah meneteskan air mata.


Saat itu juga Pak Aji menghentikan kegiatan Kirana. Pak Aji menuntun Kirana masuk ke dalam kamar dan memintanya untuk duduk diam di sana. Pak Aji juga mendudukkan Kirana yang masih menahan tangisannya di atas kasur dan dengan kedua tangan menahan pundak Kirana yang berniat untuk kembali berdiri.


“Dengerin Ayah, kamu diem di sini. Nangislah sesukamu. Urusan mantan mertuamu Ayah yang selesaikan,” kata Ayah.


Ayah menutup pintu kamar tempat Kirana duduk kemudian keluar meraih handphonenya dan mengabarkan pada istrinya soal kondisi Kirana. Tidak lama kemudian Ayah berjalan kembali ke ruang tengah membantu Amira yang baru saja selesai mengganti pakaiannya.


“Kakek, Mama mana? Ami laper,” katanya.


“Makan sama kakek dulu yuk. Mama lagi istirahat,” ajak Pak Aji.


“Kek, Mama sakit ya,” tanya Amira.


“Nggak kok.”


“Apa Mama sedih? Setiap kali neneknya Papa Raihan datang Mama selalu sedih,” katanya.


“Amira, nggak mungkin Mama sedih lihat neneknya Amira datang. Nenek itu kan sayang banget sama Mama, nenek juga sayang kan sama Amira dan sama dek Tiar, jadi Amira nggak usah mikir macam-macam ya. Sekarang Amira makan, habis ini tidur siang terus sore nanti kakek janji akan bantu Amira belajar sambil nyanyi lagi seperti kemarin,” bujuk Pak Aji.


“Beneran ya kek?”


“Iya beneran.”


“Asikk~” soraknya.


Anak berusia 6 tahunan itu masih begitu polos. Walaupun sebenarnya Pak Aji tidak pernah mengajarkan tentang kebohongan, namun mau apa dikata. Amira masih terlalu kecil untuk mengetahui permasalahan kedua orang tuanya. Dia belum saatnya tahu soal luka batin yang pernah dialami ibunya serta perjuangan ayahnya untuk bisa bersama dengannya dan Mama Kirana.

__ADS_1


__ADS_2