Baret Biru

Baret Biru
12. Kondisi Yang Mulai Membaik


__ADS_3

Kirana saat ini sudah dipulangkan. Dia sudah dianggap sembuh oleh dokter, namun dia tetap harus melakukan terapi bersama seorang psikiater. Untuk sementara waktu, area kamar Kirana dan lantai 2 terlarang untuk didatangi oleh siapa saja kecuali Mama. Pagi tadi Lucy dan Ningrum sempat menemui Kirana tapi Kirana tidak merespon apapun yang dikatakan oleh kedua orang itu. Hanya Mama yang dia respon, itu pun dia selalu mengatakan jika tubuhnya kotor dan ingin mandi.


Sedikit saja Mama lengah, Mama akan melihat Kirana mengguyur tubuhnya dengan air dengan begitu derasnya. Di kedua tangan dan kaki Kirana juga banyak luka goresan yang dia buat sendiri. Kirana selalu saja mengatakan tubuhnya kotor dan dia selalu menggaruk seluruh badannya seakan berusaha menghilangkan noda yang ada di tubuhnya.


Jika Kirana sedang kambuh dan Adnan mendengarnya, dia pasti akan kembali menangis. Bagi dirinya pelaku pelecehan itu dihukum mati sekalipun tidak akan berdampak apa-apa. Hidup adik satu-satunya sudah terlanjur hancur berkeping-keping dan masa depannya lebur menjadi debu. Bahkan Adnan melihat sendiri bukan hanya Kirana yang berusaha survive, tapi Keenan juga sama.


Kemarin sore selepas shift, Adnan mencoba mendatangi Keenan yang selalu mengurung dirinya di kamar tanpa melakukan apapun persis seperti orang kehilangan akal pikirannya.


“Keenan dengerin gue. Kalau lo bilang Kirana jadi kaya gini karena elo? Lo bilang lo nggak pantes jaga Kirana, maka jadilah laki-laki yang pantas buat dia. Jadilah kuat, jadilah lebih baik. Lo itu tunangan Kirana, sebentar lagi lo nikah sama Kirana. Lo harus bisa jadi kuat buat Kirana. Buat diri lo sendiri juga,” kata Adnan yang berhasil mendapatkan atensi Keenan.


Keenan menangis, Adnan mampu melihat jelas uraian air mata Keenan terjun bebas membasahi pipinya, “Aku nggak akan pantes jadi suaminya Bang,” katanya.


“Lo kenapa sih?! Heh. Lo udah janji sama Abang buat jagain Kirana apapun yang terjadi. Terus mana janji lo itu Keenan?” kata Adnan masih berusaha menahan emosinya.


“Aku terlalu brengsek buat Kirana Bang, aku nggak akan pantes jadi suaminya. Aku brengsek, aku nggak becus, aku nggak bisa, aku pengecut,” kata Keenan kembali menangis.


Adnan juga sama sedihnya. Jika ditanya dia pasti akan menjawab kalau dia tidak sanggup. Dia dipaksa untuk melihat kondisi adiknya yang seharusnya sedang bahagia menantikan tanggal pernikahannya tiba-tiba berubah 180 derajat berbeda kondisi.


“Astaghfirullah Kirana. Ya Allah sayang jangan!” teriak Mama entah apa yang terjadi.


Adnan sudah tidak mengindahkan larangan Mama, dia langsung naik ke lantai dua dan berlari masuk ke dalam kamar Kirana. Dia melihat Mama berusaha menahan tangan Kirana yang mulai memotong acak rambut panjangnya dengan gunting. Adnan langsung melompat memeluk Kirana, dia berusaha merebut gunting itu dari tangan adiknya. Tidak peduli tangannya sudah terluka dan mengeluarkan banyak darah karena tergores gunting, dia tetap berusaha menghentikan adiknya.


“Kirana sadar Dek, ini Abang bukan orang lain!” bentak Adnan membuat Kirana berhenti.


“Abang…,” panggilnya. Kali ini sorot matanya sedikit terisi. Dia mampu melihat Kirana mulai mengenalinya kembali.


“Iya dek ini Abang,” kata Adnan.


“Abang…!” Kirana langsung memeluk erat Abangnya dan menangis sekencang yang dia bisa. Adnan yang dipeluk adiknya begitu posesif ikut menangis. “Sebesar inikah ketakutanmu Kirana? Hingga tubuhmu bergetar begitu hebat. Maafin Abang dek, maaf Abang nggak bisa jaga kamu dengan baik,” kata Adnan mampu di dengar oleh Mama dan Papa yang sejak tadi berdiri di ambang pintu.


Adnan kembali menangis melihat potongan rambut Kirana berserakan di lantai. Rambut Kirana sudah koyak tidak beraturan. Kirana masih menangis di dalam pelukannya, bahkan ketika Adnan berhasil menidurkannya di atas tempat tidur, Kirana tidak mau melepaskan tangan Adnan. Dia terus meminta Abangnya tetap bersamanya.


“Abang, beberapa hari ini nggak usah kerja dulu. Abang jaga adek di rumah, surat cutimu biar Papa yang ngurus,” kata Papa yang hanya bisa berdiri di ambang pintu karena tidak berani mendekat.

__ADS_1


Adnan mengangguk, “makasih Pa,” katanya. Satu air matanya kembali lolos melihat Kirana kembali mengeratkan genggaman tangannya.


Mulai sejak itulah Adnan sendiri yang membantu terapinya Kirana. Sesekali dia akan mengajak adiknya keluar dari rumah, menginjakkan kaki di atas bebatuan taman di halaman rumah mereka, kemudian berjalan-jalan di sekitar kompleks berdua. Kadang Adnan akan membawa Kirana menyapa si comel, anjing samoyed besar yang dipelihara oleh salah satu tetangga mereka.


Tanpa terasa sebulan telah berlalu, Kirana bisa sedikit beraktifitas. Dia sudah tidak takut untuk pergi sendirian. Walaupun dia belum sanggup keluar dari rumah seorang diri, tapi dia sudah tidak hanya duduk diam di dalam kamar.


Kebetulan hari ini, Papa sedang kedatangan tamu. Beliau yang bertamu adalah keluarga Raihan. Papa Raihan dan Papa Adnan satu angkatan di akpol dulu. Mereka bersahabat, walaupun semoat terpisah begitu lama, tapi pada akhirnya mereka bisa bekerja di bawah komando yang sama di mapolda. Setelah hampir 30 tahun lamanya beliau berdua berpisah, hari ini beliau berdua kembali bertemu itulah kenapa keduanya menyempatkan mampir ke rumah.


Kirana tidak menyadari keberadaan Papa dan tamunya. Dia tadinya masih enjoy berjalan dari depan kulkas membawa snack dan sekotak susu. Niatnya dia akan duduk di depan tv tapi begitu melihat siapa yang duduk di sofa ruang tamu, Kirana langsung memundurkan diri. Apalagi begitu mereka menatap Kirana, dia langsung berlari naik ke kamarnya.


“Itu tadi putrimu?” tanya Papanya Raihan.


“Iya putriku. Maaf ya, dia punya sedikit trauma dan masih terapi,” jawab Papa.


“Raihan sudah cerita soal itu. Aku ikut sedih mendengarnya.”


“Terus Pak, sekarang bagaimana kondisinya? Apa dia sudah baik-baik saja?” tanya Mama Raihan kali ini.


“Dengan kamu juga begitu?” tanya Papa Raihan.


“Ya sama. Nggak peduli sekangen apa aku sama putriku, dia nggak akan bisa aku dekati. Cuma abangnya yang bisa,” kata Papa.


“Setidaknya ada Abangnya Pak, dia tidak sendirian banget. Semoga putri Bapak bisa segera sembuh.”


“Aamiin, terima kasih doanya mbak,” kata Papa.


...***...


Adnan bukan hanya membantu terapi untuk Kirana, tapi dia juga meminta pada kedua orang tua Keenan untuk bisa membantu Keenan juga. Ayah dan Bunda menerima baik niatnya. Setiap beberapa hari sekali, Adnan akan menyempatkan datang ke rumah Keenan entah untuk menemaninya bercerita atau mendengarkan setiap keluh kesahnya. Keenan langsung mundur dari pekerjaannya karena kondisinya tidak memungkinkan untuknya bisa bekerja lagi. Jadi sehari-harinya dia hanya melakukan apapun di dalam kamarnya.


“Nak Adnan, Bunda mau minta pertimbanganmu,” kata Bunda.


“Ada apa Bunda?”

__ADS_1


“Ayah dan Bunda berniat membatalkan pernikahan Keenan dan Kirana,” kata Bunda.


Adnan sudah menduganya. Kondisi psikis Keenan dan Kirana tidak akan memungkinkan untuk mereka bisa bersama lagi. Selain Kirana yang ketakutan dekat dengan laki-laki, Keenan juga takut untuk mendekati Kirana. Tidak baik juga memaksakan apa yang sudah tidak mungkin terjadi.


“Lakukan saja Bunda, kalau itu memang yang terbaik untuk mereka berdua. Tapi, kalau boleh saya ingin menawarkan sesuatu pada Keenan,” kata Adnan.


“Apa?” tanya Bunda.


“Ada penerimaan anggota kepolisian Bunda, kalau Bunda berkenan Adnan bisa bantu Keenan menjadi lebih baik. Entah Bunda akan menganggap apa niatku ini, tapi menurutku dengan pengalaman yang dia punya jika dia bisa kembali bangkit berdiri dia akan mampu menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aku ingin membantunya bisa menjadi lebih baik,” kata Adnan.


“Bunda nggak yakin nak, pendidikan polisi setahu Bunda terlalu keras untuk diterima oleh Keenan. Bunda tidak akan tega melihatnya,” kata Bunda.


“Bunda, Keenan adalah seorang anak laki-laki. Suatu saat dia akan menjadi suami, menjadi ayah untuk anak-anaknya. Cepat atau lambat dia harus mampu berdiri dengan kedua kakinya sendiri. Maaf Bunda, tapi tidak ada salahnya Bunda mempertimbangkannya,” kata Adnan.


“Bunda…,” kata Keenan yang berjalan keluar dari kamar.


“Ada apa nak?”


“Tawaran Bang Adnan….”


“Kenapa?”


“Keenan mau,” katanya.


“Jangan gegabah Keenan, kamu tidak tahu apa yang kamu ucapkan,” kata Bunda.


“Bang Adnan benar. Aku juga sadar jika aku terus seperti ini aku tidak akan menjadi orang yang lebih baik. Situasi yang dialami olehku dan Kirana memang diluar kendaliku tapi aku yakin jika aku menjadi polisi aku bisa menyelamatkan lebih banyak perempuan di luar sana. Aku ingin bisa menghukum semua laki-laki bejat diluar sana,” kata Keenan.


“Kamu ingat soal Kirana?” gumam Adnan.


“Jelas aku ingat Bang. Dia jadi seperti ini karena kegagalanku menjaganya. Maaf Bang, aku setuju sama keputusan Ayah dan Bunda untuk membatalkan pernikahanku dengan adikmu. Abang boleh sampaikan pada Kirana kalau aku yang membuangnya. Biarkan dia sakit hati dan membenciku, dengan begitu dia akan mampu menatap masa depannya dengan laki-laki lain yang jauh lebih pantas untuknya,” kata Keenan.


Adnan dibuat diam beribu bahasa. Tidak menyangka jika Keenan bisa begini perhatian pada adiknya. Dia bahkan masih memikirkan masa depan adiknya padahal dia sendiri nyaris tidak bisa bangkit. Adnan sadar seberapa besar cinta Keenan pada adiknya, tapi dia juga tidak sanggup mengatakan apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2