
Belum seminggu berlalu, tapi entah kenapa hati Kirana sudah gundah gulana. Hari-harinya penuh dengan penantian dan hatinya sesak dengan kerinduan. Sebelum pergi Galih sempat mendekatinya dan mengatakan padanya untuk jangan berkirim pesan. Galih meminta Kirana untuk mengiriminya email setiap kali dia ingin bercerita. Itu karena Galih dan Kirana tahu jika pesan singkat tidak akan pernah memberikan ruang yang cukup untuk bercerita.
Perkenalan mereka mungkin tidak seromantis pasangan lainnya. Perkenalannya terlalu biasa untuk dibilang takdir yang manis, tapi melalui perkenalan singkat di warung nasi rames depan tempat les musik Amira itu cukup untuk menumbuhkan benih kasih dalam hati keduanya.
Keputusan Galih untuk memilih Kirana juga tidak dia lewati dengan mudah. Dia sadar betul Kirana bukan seorang gadis. Dia janda, punya anak satu dengan status masih sangat mencintai mendiang suaminya. Walaupun Galih tidak tahu pasti sesakit apa rasanya ditinggalkan, tapi dengan melihat sahabatnya, Keenan yang gagal move on itu Galih sedikit paham jika rasa sakit akibat kehilangan sama seperti kita kehilangan seluruh harapan dalam hidup.
Cukup banyak pertanyaan terlontar dalam hatinya sejak pertemuannya dengan Kirana. Semenit dia bahagia, semenit kemudian dia bisa begitu ragu apakah dia harus menyatakan perasaannya atau hanya berakhir menjadi kenalan saja. Sampai pada satu waktu dia diberi kesempatan untuk dipanggil dengan panggilan yang menurutnya begitu khusus. “Papa Galih” setiap mendengar gadis kecil itu memanggilnya dengan senyum lebar dan wajah sumringah Galih mendapatkan kebahagiaan yang begitu besar.
Ada satu titik di hatinya yang mengingatkan dirinya pada masa lalu. Dimana dia sangat ingin memanggil mendiang papanya dengan cara yang sama seperti Amira lakukan. Dia merindukan Papanya sama seperti Amira yang selalu merindukan Papanya. Berawal dari keinginannya untuk mengenal Kirana lebih jauh dia malah mendapatkan hal yang lebih besar lagi.
Galih selalu takut menaruh komitmen, dia takut berumah tangga dan memiliki anak hanya karena dia tidak ingin berakhir seperti ayahnya. Dia sendiri sadar dia bukan orang yang mudah menahan emosi. Tapi baru ini hanya dengan dia menatap wajah seorang wanita dia berkeinginan untuk memberikan semua yang dia miliki padanya. Tanggung jawab, kasih sayang, perlindungan bukan hanya pada Kirana tapi juga pada gadis kecilnya. Hingga dia akhirnya mengambil keputusan untuk menyatakan perasaannya pada Kirana dan meminta dia untuk menerimanya.
Malam itu Kirana kembali mengiriminya email. Wanita itu menceritakan semua kegundahan hatinya dalam kalimat-kalimat panjang penuh dengan kerinduan. Dia bilang belum ada satu minggu berlalu tapi hatinya sudah sesak ingin bertemu. Dia juga menanyakan kapan Galih kembali dan kapan mereka bisa berjumpa kembali. Galih hanya tersenyum ketika membaca email dari kekasih hatinya itu, perasaan dinantikan oleh seseorang semasa hidup belum pernah dia rasakan. Belum pernah dia merasa ditunggu bahkan oleh keluarganya sendiri.
__ADS_1
“Aku sudah membaca emailmu. Besok, hari Jumat pukul 15.45 di bandara. Jemput aku ya, ajak Amira bersamamu,” balas Galih melalui pesan singkat. Dia sengaja mengirim pesan singkat karena dia tahu di jam begini Kirana pasti sibuk duduk di balik meja kasir atau di dapur membuatkan pesanan para pelanggan. Dia ingin pesannya segera dibaca makanya dia memutuskan membalasnya lewat pesan singkat.
“Kutunggu a, jam 15.45 di bandara,” balas Kirana membuat senyum Galih kembali mengembang.
“Yaelah si gembul senyam senyom teroz,” ledek Aksara yang tengah mengenakan kembali seragamnya setelah mengguyur tubuhnya dengan air di kamar mandi.
“Kaya belum pernah jatuh cinta aja lo,” jawab Galih.
“Kaya percaya cinta aja lo,” kata Aksara.
“Cinta itu bukan dipelajari, tapi dipahami. 18 tahun gue kenal sama Kaori, selama itu juga gue belajar apa itu cinta. Untuk yang satu ini gue nggak setuju sama elo mbul. Bukan cinta yang menyebabkan orang bertingkah konyol karena dari yang gue pahami cinta itu bukan untuk menjatuhkan tapi untuk membangun kita jadi pribadi yang lebih baik. Itu yang perlu lo pahami apakah perasaan lo itu beneran cinta atau cuma tertarik aja,” kata Aksara.
“Maksud lo?”
__ADS_1
“Gini sob, gue bukannya mau bikin lo bingung tapi gue cuma mau ngomong gue kenal Kirana sama lamanya kaya gue kenal istri gue. Walaupun nggak dekat tapi gue tahu sedikit Kirana seperti apa. Dia memang begitu, dari jaman sekolah juga banyak kok orang yang tertarik sama dia. Walaupun dia punya pacar, tetap nggak terhitung sebanyak apa teman-temannya menyatakan perasaan sama dia. Bahkan setelah menikahpun Kirana tetap sama, dia tetap menarik. Sifatnya yang open minded, dan berbeda dengan cewek kebanyakan selalu bikin cowok-cowok penasaran sama dia. Gue cuma nggak mau aja elo ternyata cuma tertarik untuk mengetahui isi bukunya, bukan karena elo mau membacanya sampai akhir,” kata Aksara.
“Nggak tahu Le, gue juga sebenernya masih bingung. Tapi setiap kali kehilangan arah, dia selalu datang dan kembali membuat gue yakin kalau perasaan ini nggak cuma sekedar tertarik,” kata Galih.
“Keputusannya tetap ada sama elo karena elo yang akan menjalani. Tapi Inget ya, belajarnya pelan-pelan aja. Jangan ngegas. Masalahnya kita nggak pernah tahu endingnya akan bagaimana, iya kalau lo beneran sama dia. Kalau ternyata seiring berjalannya waktu lo nggak menemukan kecocokan dan memilih untuk berpisah bukan hanya elo sama Kirana yang patah, tapi putri kecil kesayangan lo itu juga akan patah. Hatinya masih polos lho mbul masih rapuh banget, jadi lo harus hati-hati. Lo trauma sama yang namanya cinta kan, jadi jangan buat Amira mengalami hal yang sama,” kata Aksara menasehati.
“Insyaallah. Gue akan inget kata-kata lo. Tapi gue minta tolong ya Sa, sebagai yang lebih berpengalaman dalam hal cinta lo harus ingetin gue barangkali gue salah langkah,” kata Galih.
“Pasti.”
Aksara memaksakan senyumnya. Sepanjang jalan mereka kembali ke tempat seminar Aksara terus memandangi punggung sahabatnya itu. Dia tidak berbohong soal mengenal Kirana. Dia hanya berbohong tentang satu hal. Dia tahu jika Kirana dan Keenan adalah sebuah kisah yang tidak selesai dan dia takut sahabatnya yang satu ini akan ikut terjebak dalam pusaran tak berujung itu.
Aksara tidaklah bodoh. Dia mungkin tidak sepeka ayahnya atau seperhatian bundanya, tapi Aksara pintar mengamati sekitar. Dia selalu tahu apa yang terjadi di sekelilingnya, dengan mudah dia menyusun potongan-potongan puzzle yang tercecer menjadi sebuah kisah yang utuh. Selama ini dia hanya diam karena dia tahu sudah ada Bang Adnan yang membantu Kirana dan Keenan tapi kalau sudah mulai menyangkut sahabatnya yang satu ini agaknya Aksara harus sedikit ikut campur.
__ADS_1
Aksara tahu latar belakang Galih termasuk siksaan yang diterimanya dari keluarga besarnya. Harapan dan mimpi Galih soal rumah tangga yang harmonis dan keluarga yang hangat memang besar. Tapi kenapa harus Kirana yang memberikan harapan. Kenapa pula harus gadis itu yang menjadi jawaban. Aksara hanya tidak mau, jika Kirana tahu kebenaran soal perasaan Keenan, dia akan meninggalkan Galih dan lebih memilih Keenan. Dia tidak mau Galih akan patah lagi.