Baret Biru

Baret Biru
84. Salam Kenal Kembali


__ADS_3

Kirana sudah meminta izin pada Galih untuk pergi menemui Keenan. Rasanya Kirana tidak akan mampu melangkah jika dia tidak menyelesaikan sesuatu dengan Keenan. Di samping hubungannya dengan Ningrum jadi merenggang, dia sendiri juga harus segera menyelesaikan masa lalunya. Dia tidak mau menyakiti Bang Raihan lebih lama lagi, ditambah sekarang ada Galih yang sudah begitu baik menerima semua kekurangannya. Dia juga ingin melangkah, menata masa depannya bersama Amira putrinya dan galih calon suaminya.


Hari ini Kirana meminta Galih mengantarkannya menemui Keenan. Setelah mengantarkan Amira yang setia menemani Mamanya di cafe untuk pulang, Galih menjalankan mobilnya menuju sebuah taman kecil di jantung kota untuk mengantar Kirana bertemu dengan mantan kekasihnya.


“Aku tunggu kamu di sini, nggak papa kan? Kamu mungkin tidak mau menyembunyikan apapun dariku lagi tapi untuk yang satu ini biarlah menjadi privasi kalian, aa nggak akan banyak ikut campur,” tanya Galih.


“Maaf ya a merepotkan,” jawab Kirana.


“No. Tidak masalah. Dari pada kamu terus kepikiran dan akhirnya menghalangi langkahmu lebih baik kamu temui dia sekarang dan selesaikan kisah kalian yang belum usai,” kata Galih.


“Galih…,”


“Hmm?”


“Makasih.”


“Anything for you,” jawab Galih sambil tersenyum.


Galih memberikan kesempatan untuk Kirana dan Keenan bicara berdua. Di depan sana Keenan sudah duduk menunggu dengan raut yang sedikit gelisah. Galih masih sanggup melihat ketika Kirana duduk di samping Keenan dengan tetap menjaga jarak.


“Semoga kisah yang belum usai itu bisa menemui titiknya. Sehingga kamu bisa mulai melangkah dalam genggamanku,” kata Galih.


...***...


Kirana berjalan mendekati Keenan kemudian duduk di ujung bangku memberi jarak duduk antara dirinya dan Keenan. Setelah saling menyapa, keduanya diam. Tidak satupun yang bicara baik Keenan maupun Kirana. Keenan mulai mengedarkan pandangannya untuk menghilangkan canggung sekaligus mencari topik pembicaraan dan tidak sengaja netranya menangkap mobil Galih yang terparkir tidak jauh dari sana.


“Tadi Galih yang mengantarku,” kata Kirana yang pada akhirnya memecah keheningan.

__ADS_1


“Syukurlah kamu tidak sendirian,” kata Keenan.


“Keenan…, aku sudah menjawab pertanyaan Galih. Aku akan tetap bersamanya, tapi aku mau kamu menjawab pertanyaanku,” kata Kirana.


“Aku akan menjawabnya dengan permintaan maaf Kirana. Maaf aku sudah membohongimu dan memberikan penderitaan yang begitu panjang untukmu,” kata Keenan yang mulai serius.


“Andai ketika itu aku tidak lemah dan memilih bertahan, kita pasti tidak perlu mengakhiri hubungan dengan begini canggung,” lanjut Keenan.


“Tapi tidak ada jaminan juga kita tetap bahagia. Keenan, melalui dirimu aku belajar cara mengikhlaskan dan karena semua pelajaran hidup yang kau berikan itulah aku bisa bertahan hingga detik ini. Aku sudah ikhlas menerima takdir yang tidak lagi menggariskan kita untuk berdampingan. Kau harus bisa menerima posisimu. Kau hanya akan berdiri di belakangku, sebagai masa laluku. Bukan masa sekarang apalagi masa depanku…,” kata Kirana.


“... dan soal kata-katamu ku akui kau benar. Bukan kamu laki-laki yang tepat untukku. Bukan kamu jodohku. Aku juga tahu kamu sama tersiksanya denganku,” lanjutnya.


“Soal perasaanku itu urusanku Ki, jangan kau jadikan beban.”


“Nggak Keenan. Dengan berat hati aku harus memaksamu untuk melupakanku. Sejak awal aku tidak pernah menjadi milikmu. Aku adalah milik Bang Raihan dan Galih, dia yang akan memilikiku sekarang. Di dalam kisahku, namamu hanya akan terkenang sebagai mantan kekasih, tidak lebih. Cepat atau lambat kamu juga harus menemukan bahagiamu,” kata Kirana.


“Bukan itu maksudku. Kamu punya masa depan. Di sana tidak akan ada aku Keenan. Kamu harus mencari bahagiamu sendiri dan menuliskan kisahmu sendiri. Aku akan menuliskan kisah bersama dengan Galih bukan denganmu. Aku tidak mau kamu menyiksa dirimu sendiri dengan berharap pada harapan kosong,” kata Kirana.


“Untukmu bicara mungkin mudah Kirana. Kamu punya Galih yang akan selalu menerimamu dan setia menemanimu. Tapi aku tidak punya siapa-siapa lagi. Biarlah aku menjalani pilihanku,” kata Keenan.


“Kau hanya akan menjadi beban untukku dan Galih. Galih sudah memutuskan tidak peduli sebesar apa keinginannya dia tidak akan datang melamarku jika kamu belum melepaskan ikatan denganku. Aku sudah ingin melepaskanmu. Aku tidak mau duduk di dua kursi dan aku memilih Galih sebagai singgasanaku,” kata Kirana yang mulai terusik.


“Lalu aku harus apa? Melupakanmu? Fine, aku akan melupakanmu kalau itu yang jadi maumu. Tapi soal bahagiaku agaknya itu bukan urusanmu,” kata Keenan.


“Tentu saja akan menjadi urusanku Keenan. Kalau kau tidak datang dan membujuk Ningrum dia tidak akan kembali pada aku dan Lucy. Dia salah paham. Dia pikir kau tersiksa karena aku yang sengaja melakukannya. Dia berhenti datang ke cafe dan selalu menghindari kami. Ningrum sudah menyimpan rasa padamu sejak pertama kali pertemuan kalian dan dia berhak diapresiasi atas kesetiaannya. Aku tidak akan bilang kamu harus menerimanya, tapi setidaknya temui dia dan jelaskan padanya. Aku mohon padamu sebagai sahabat Ningrum. Aku dan Lucy membutuhkan Ningrum untuk kembali,” kata Kirana yang akhirnya menangis begitu menyebut nama sahabatnya.


“Ini akan jadi yang terakhir kalinya aku memohon padamu. Kumohon Keenan, bantu kami mengembalikan Ningrum. Kami memulai mimpi kami bertiga tidak akan adil rasanya jika hanya aku dan Lucy yang bahagia. Kami tidak ingin meninggalkan Ningrum seorang diri.”

__ADS_1


“Secara tidak langsung kamu sudah memintaku menerima Ningrum,” gumam Keenan.


“Anggap saja itu hukumanmu dariku. Toh belajar mencintai seseorang yang mencintai kita tidaklah sulit. Aku sudah melakukannya. Aku belajar mencintai Bang Raihan hingga lahirlah putriku. Aku memulai kisah dengannya tanpa perasaan tapi tetap berakhir bahagia. Kamu tahu kenapa? Karena orang yang mencintaimu tidak akan pernah membuatmu kecewa apalagi hingga menyakitimu. Kau bisa percaya padanya dan bisa meletakkan semua bebanmu dihadapannya,” kata Kirana.


“Jadi karena ketika itu aku memaksamu menerima orang lain padahal hatimu masih untukku sekarang kau memintaku merasakan hal yang sama begitu?”


“Ya. Tapi hanya jika kamu bisa berkomitmen untuk tidak melukai sahabatku. Jika kamu memang tidak ingin jangan lakukan. Karena kamu belum tentu setegar dan sekuat diriku. Kamu tahu kenapa Keenan? Kamu itu lemah. Kamu sendiri kan yang bilang? Hatimu lemah hingga semudah itu melepaskanku. Jadi sebelum kamu melangkah mendekatinya teguhkan dulu hatimu. Ingatlah jika aku selalu mengawasi kalian,” kata Kirana.


“Akan aku pertimbangkan,” jawab Keenan.


“Satu lagi Kee, tolong jangan tinggalkan Galih. Dia tidak memiliki banyak teman apalagi yang sedekat kamu dan Aksara. Kuharap kalian bertiga akan selalu saling mendukung dan saling melengkapi layaknya kalian sebelum datangnya diriku ditengah-tengah kamu dan Galih,” kata Kirana.


Keenan tersenyum, “kalau aku sampai menjauhi Galih, itu artinya aku bodoh. Galih Arsa itu yang sudah membantuku bangkit ketika aku terpuruk berpisah denganmu beberapa tahun lalu Ki. Saat ini juga begitu, laki-laki itu dengan lapangnya memberikan kesempatan untuk kita berdua melepaskan kesalahpahaman. Aku akan tetap menjadi temannya dan akan terus seperti itu kecuali dia yang membuangku,” kata Keenan.


“Dan aku yakin Galih Arsa Shiddiq calon suamiku itu tidak akan meninggalkan sahabatnya dengan alasan apapun,” kata Kirana.


“Bangga banget,” kata Keenan yang sekarang lebih santai.


“Tentu saja,” balas Kirana dengan penuh rasa bangga.


Keenan bangkit berdiri kemudian mengulurkan tangannya pada Kirana, “Kirana Dwi Dhanastri, terima kasih atas masa-masa indah yang pernah kamu berikan buat aku. Sekaligus salam kenal, aku Keenan Raditya Ghifari, sahabat dekat suamimu. Kuharap kita bisa saling mengenal dengan kesan yang baik,” kata Keenan.


“Salam kenal Keenan,” Kirana membalas uluran tangan Keenan kemudian tersenyum.


Keduanya kembali mendekati Galih membuat laki-laki itu keluar dari mobilnya. Keenan mengembalikan Kirana pada Galih dan ketika dia melihat Kirana berdiri di sebelah Galih kemudian menggandeng tangannya, Keenan tersenyum. Untuk pertama kalinya hatinya tidak merasakan sakit karena melihat wanita yang dicintainya menggenggam dan tersenyum untuk laki-laki lain.


“Semoga kalian selalu bahagia, langgeng sampai tua. Jangan lupa undang aku ketika kalian akan menikah nanti,” kata Keenan.

__ADS_1


“Pasti,” kata Galih kemudian melakukan tos dengan Keenan.


__ADS_2