
Begitu Raihan dan Kirana sampai di rumah, Raihan langsung menuntut jawaban dari istrinya. Kirana terpaksa sedikit berbohong. Dia hanya bilang dia ingin ke poli kandungan untuk memeriksakan dirinya. Katanya dia mulai terganggu dengan rasa sakit yang selalu dia rasakan setiap bulan. Dia ingin bisa sembuh atau setidaknya sakitnya bisa berkurang. Memang sih sakit yang dialami Kirana tidak biasa. Dia bahkan bisa pingsan dan tidak sanggup melakukan apapun seharian.
“Mau Abang antar?” tanya Raihan.
“Abang kan besok berangkat jam 7,” kata Kirana.
“Poli buka jam berapa?”
“Jam 8.”
“Waduh, kamu kelamaan nunggunya dong nanti,” kata Raihan.
“Ya makanya, Kirana berangkat sendiri aja nggak papa. Lagian motor nganggur kok,” kata Kirana.
“Beneran nggak papa?”
“Iya nggak papa. Lagian habis dari rumah sakit aku mau pergi sama Lucy. Mau belanjain keperluan cafe.” kata Kirana.
“Ok, besok hati-hati ya. Jangan pulang kemaleman. Abang besok double shift jadi kamu boleh pulang ke rumah Mama daripada kamu sendirian di sini,” kata Raihan membuat binar di mata Kirana.
***
Kirana berjalan menuju ke ruangan tante Ratna. Kirana yang terlalu takut pada akhirnya meminta Lucy menemaninya agar dia tidak sendirian. Pertama-tama mereka datang ke poli kandungan lebih dulu. Selain minta obat Kirana juga berkonsultasi tentang sesuatu baru mereka menuju ke psikiatri.
Ketika Kirana dan Lucy sudah duduk menunggu antrian untuk masuk, tante Ratna pamit karena ada panggilan yang harus segera dia jawab. Kirana dan Lucy berterima kasih lalu melanjutkan semuanya hanya berdua.
Menjelang sore, semua keperluan Kirana selesai. Dia sedang berada di kamar mandi untuk mencuci mukanya dan menghapus jejak air matanya. Kirana dan Lucy juga sudah menebus obat yang diresepkan lalu keduanya langsung melanjutkan kegiatan yang tersisa hari ini.
“Seno, ini semua keperluan sudah aku pesankan. Tolong nanti kalau barangnya dateng dicek semua ya,” kata Kirana.
“Ok mbak nanti aku cek,” jawabnya.
Urusan di cafe juga sudah selesai. Berhubung hari sudah semakin malam, Kirana dan lucy memutuskan untuk pulang. Tadinya Kirana ingin langsung mengantar Lucy pulang, tapi dia bilang dia ingin bertemu Adnan dulu yang katanya sedang sakit di rumah.
“Mama~,” panggil Kirana yang langsung memeluk Mamanya begitu sampai di rumah.
“Halo sayangnya Mama,” kata Mama sambil memeluk Lucy dan Kirana.
__ADS_1
“Ma, katanya Bang Adnan sakit?” tanya Lucy.
“Iya tuh dari kemarin cuma tiduran aja. Tadi juga nggak berangkat. Ini aja makan malamnya belum dimakan,” kata Mama.
“Ma, Lucy boleh nengok Bang Adnan kan? Sini Ma sekalian makan malamnya Abang Lucy yang bawain ke kamar,” kata Lucy.
“Makasih ya sayang,” kata Mama sambil menyerahkan makan malam putranya pada si calon mantu.
Lucy dan Kirana melangkah ke lantai 2 tempat kamar Bang Adnan berada. Ketika Lucy dan Kirana masuk, Bang Adnan sedang berusaha untuk duduk. Wajahnya pucat dan kelihatan sekali sedang menahan pusing di kepalanya.
“Ya ampun Abang. Abang nggak papa?” tanya Lucy.
“Cy, kamu kok bisa di sini? Katanya kamu lagi di cafe?”
“Lucy ikut Kirana tadi. Abang kok nggak bilang sih kalau sakitnya sampai begini, Abang bohong. Katanya cuma flu biasa,” protes Lucy.
“Mending dikasih tau, adeknya nggak dikasih tau sama sekali kalo lagi sakit,” Kirana ikut-ikutan protes.
“Hai Dek,” sapanya pada Kirana.
“Hai juga.”
“Ya marahlah. Abang tuh kalau sakit bilang dong kan Kirana bisa ijin ke Bang Raihan buat jengukin Abang. Abang bikin Kirana khawatir deh sukanya,” kata Kirana.
“Maaf Abang memang nggak bilang-bilang orang cuma sakit biasa kok. Habis minum obat juga sembuh,” kata Adnan meminta maaf pada Kirana dan Lucy.
“Kalau gitu ini dimakan dulu, habis itu minum obat ya. Apa mau Lucy suapin?” tawar Lucy.
“Boleh, suapin dong. A…,” kata Adnan sambil tersenyum.
Melihat Adnan sudah mulai manja pada kekasihnya membuat Kirana tersenyum, “Bener-bener ya si monyet. Dasar bucin,” kata Kirana.
“Ya bodo amat. Kaya kamu nggak bucin aja nyet. Apa-apa sekarang bang Raihan, udah lupa kayaknya sama Abangnya sendiri mentang-mentang udah punya suami,” ledek Bang Adnan.
“Kaya Abang inget aja punya adek. Mentang-mentang udah punya calon istri,” kata Kirana.
Sepertinya keduanya melupakan keberadaan Lucy yang hanya bisa diam sambil tersipu malu karena terus menjadi bahan adu debat oleh kedua kakak beradik ini. Lucy terus menyuapi Adnan yang makan sambil meledek adiknya. Kirana juga begitu, dia terus saja menjawab omongan kakaknya jadilah keduanya ribut sendiri bahkan sampai tidak sadar jika makanannya sudah habis.
__ADS_1
“Abang tuh kayaknya bukan sakit deh. Bilang aja kangen sama adeknya,” kata Lucy.
“Kangen? Dih nggak lah ngapain. Kurang kerjaan amat. Abang tuh sakit beneran sayang kok kamu nggak percaya sih,” kata Adnan.
“Nggak ada orang sakit makannya minta nambah,” kata Lucy membuat Adnan terdiam. Mau beralasan apa lagi dia tidak bisa. Sudah tertangkap basah dia sekarang.
“Buahahahaha kangen katanya, ahahahaha…, ahhh ciee kangen sama Kirana ciee~. Ututu kasihan banget si monyet saking kangennya sampe sakit,” kata Kirana yang langsung terbahak-bahak menggoda Abangnya.
“Bangke. Kalah kan aku. Gara-gara kamu nih Cy,” Adnan malah menyalahkan Lucy.
“Lho kok aku?”
“Awas ya kamu kuhukum nanti,” kata Adnan lagi.
“Hukum aja kalau berani,” kata Lucy menantang.
Seketika itu juga Adnan mencium bibir Lucy. Bahkan dihadapan Kirana yang tadi dari tadi masih saja tertawa. Kirana yang kaget tiba-tiba jadi cegukan. Begitupun dengan Lucy yang syok dengan perlakuan yang tiba-tiba itu hanya bisa diam sambil membulatkan matanya. Tanpa rasa bersalah Adnan sekarang malah melangkah keluar dari kamar dan turun ke lantai satu untuk meletakkan piring bekasnya makan tadi ke wastafel.
“Adnan Dzaki awas ya…. a…!!!” teriak Kirana yang masih terus cegukan.
***
Raihan yang sudah lelah dan mengantuk langsung saja masuk ke dalam rumah mertuanya tanpa mempedulikan Adnan yang tengah push up di teras. Raihan hanya menyapa Adnan ala kadarnya kemudian melangkah masuk ke dalam kamar. Ketika dia masuk ke dalam kamar, dia melihat Kirana tidur dengan posisi tengkurap sedang Lucy di sebelahnya tidur meringkuk dibalik selimut.
Raihan langsung mundur, dan menutup kembali pintu kamarnya. Tapi berhubung dia memang sudah sangat mengantuk, dia memilih merebahkan diri di sofa ruang tengah. Adnan yang baru selesai olahraga masuk ke dalam rumah menemukan Raihan yang tidur dengan tidak nyaman meringkuk di sofa.
“Han…,” panggil Adnan.
“Hmm?” jawab Raihan tanpa membuka matanya.
“Tidur di kamar napa jangan di sini,” kata Adnan.
“Ada cewek lo,” kata Raihan.
“Tidur kamar gue sana,” Adnan kembali membujuk.
“Ogah jalan,” jawabnya lagi.
__ADS_1
Adnan menyerah. Dari tadi Raihan juga menjawabnya setengah sadar jadi dia biarkan saja sahabatnya itu tidur di sofa begitu saja. Adnan memang sudah sehat, tapi berhubung dia diberi cuti selama 2 hari setelah menyerahkan surat dokter ke kantor jadi dia hari ini bisa bermalas-malasan di rumah. Sudah lama juga dia tidak bersantai. Sejak bertugas di mako brimob kan dia belum pernah absen sama sekali.
Adnan duduk meluruskan kakinya di dekat Raihan tidur. Dia tiba-tiba teringat beberapa waktu lalu mereka berseteru. Tidak sih, bukan berseteru. Hanya saja Raihan marah padanya. Yang harusnya Adnan meminta maaf pada iparnya malah dia lari. Dia akui beberapa minggu ini dia menghindari pertemuan dengan Raihan. Itulah kenapa dia sampai tidak menghubungi adiknya juga.