Baret Biru

Baret Biru
79. Orang Tua Gina


__ADS_3

Tidak ada yang tahu siapa yang memulainya. Kirana dan Galih semalaman berbagi satu bed yang sama dan tidur dalam posisi berpelukan. Kirana menggunakan lengan Galih sebagai sandaran kepalanya sedangkan tangan Galih memeluk pinggang Kirana penuh dengan kasih sayang.


Beruntung Gina datang selepas subuh. Dia takut jika kedua orang tuanya datang dan memergoki Kirana ada bersama Galih apalagi dalam jarak yang sedekat ini Kirana akan dimaki habis-habisan.


Seperti yang Kirana katakan, setiap keluarga memiliki kisahnya masing-masing. Mulai dari hal-hal yang seru, kisah manis, hingga drama berkepanjangan karena harta. Nenek hanya memiliki dua orang anak. Anak pertamanya adalah Ibunya Galih dan yang kedua adalah Papanya Gina. Keduanya telah berkeluarga dan bahagia dengan keluarganya masing-masing.


Sebenarnya ketika masih muda dulu, keluarga mereka cukup akrab, kompak, dan tidak segan untuk saling bantu membantu. Sayangnya semua berubah sejak Papanya Galih keluar dari TNI dan menjadi pengangguran. Ketika itu Ibunya Galih dipaksa menjadi tulang punggung dan yang paling parah adalah harus menerima diri sebagai pelampiasan emosi sang suami.


Kedua orang tua Gina termasuk nenek sering kali menyarankan keduanya untuk bercerai tapi belum sampai Ibunya Galih luluh dengan saran yang diberikan keluarga besarnya, Papa sudah tutup usia meninggalkan keluarganya dalam penyesalan. Semuanya tampak baik-baik saja. Galih kecil juga diurus dengan baik oleh kedua orang tua Gina, itulah mengapa keduanya bisa akrab sampai sekarang.


Yang membuat keluarga Gina berubah banyak adalah setelah kematian Ibunya Galih. Seluruh aset milik kedua orang tua Galih seluruhnya diatasnamakan Galih Arsa Shiddiq dan hal itu membuat keluarga Gina tidak terima. Mereka ikut meminta warisan dengan alasan mereka juga sudah ikut mengurus Galih selama ini. Sejak itulah akhirnya Galih menjadi bulan-bulanan dan selalu saja dengan alasan balas budi mereka meminta bagian.


Keluarga itu jadi semakin berubah ketika Galih yang beranjak dewasa mulai memahami jika apa yang mereka perbuat tidak lebih dari serigala berbulu domba. Beruntungnya Galih bisa lepas dari kota Bandung dan atas permintaan nenek yang mulai renta Galih diangkat sebagai putra angkat pasangan Pratama Aji dan Adiratna.


Beruntungnya Gina sepupu Galih ada di pihaknya. Dia selalu memperingatkan Galih secara diam-diam sehingga Galih bisa bersiap setiap kali kedua orang tua Gina akan melakukan sesuatu. Seperti saat ini misalnya, Gina datang pagi buta untuk memperingatkan Galih dan Kirana jika kedua orang tua Gina akan datang ke rumah sakit pagi ini.


“Sudah jangan dibangunkan dulu. Kayaknya semalam mereka tidur cukup larut,” kata nenek.


“Ya tapi nek, habis ini kan Papa sama Mama mau datang,” kata Gina.


“Ndak papa. Nenek masih ada di sini. Cepat atau lambat Kirana harus berkenalan dengan Papa Mamamu juga Gi, biarkan semuanya berjalan apa adanya. Kamu nggak usah khawatir, toh aa-mu nggak akan diam saja kalau istrinya diapa-apakan. Nenek tahu persis kalau sifat tegas dan protektif itu dia dapatkan dari mendiang Papanya,” kata nenek.


“Bener nggak papa nek?”


“Iya.”


“Yasudah kalau begitu. Nenek butuh bantuan apa gitu nggak? Mumpung aku masih di sini nih nek,” kata Gina.

__ADS_1


“Gi, dari kemarin Galih nenek tanya nggak jawab. Dia mau balik ke jogja kapan? Gimana kerjaannya?”


“Teuing nek, nanti deh aku bujuk biar balik Jogja sama Kirana. Yang jagain nenek di sini aku aja nggak papa kan nek?”


“Nggak papa, biar dia pulang ke Jogja terus ngelamar Kirana. Nenek sudah nggak sabar,” kata nenek.


“Ah…, kok jadi nenek yang ngegas sekarang,” kata Gina sambil tertawa.


...***...


Nenek baru diperiksa oleh dokter dan Galih pergi bersama dokter untuk menerima hasil pemeriksaan terbarunya. Saat itulah kedua orang tua Gina datang dengan membawa sekotak makan besar yang penuh terisi berbagai macam makanan kesukaan Galih. Keduanya tidak datang seorang diri melainkan dengan seorang gadis yang cantik bernama Tia.


“Bu…,” panggil Mamanya Gina pada nenek yang baru disuapi makan oleh Gina.


“Pagi banget sampenya?” tanya nenek.


“Ma, Tia, Papa berangkat dulu ya. Ibu cepet sembuh ya,” pamitnya.


“Hati-hati, Pa,” balas semua yang ada di ruangan.


“Galih mana?” tanya Mama pada Gina.


“Di kamar mandi kali Ma, itu ada suara air,” jawab Tia.


“Galih ada di ruangan dokter. Yang di dalam kamar mandi Kirana, calon istrinya Galih,” kata Gina dengan menekankan kata “calon istri”.


“Apa? Si janda gatel itu?” tanya Mama.

__ADS_1


“Siapa Mama bisa larang-larang aa?” kata Gina.


Saat itulah Kirana keluar dari kamar mandi sambil menenteng handuk. Dia memaksakan senyumnya dan masih berusaha terlihat baik di hadapan keluarga besar Galih. Walaupun sebenarnya dia mendengar semuanya dari dalam kamar mandi tadi. Dia memang sudah mengira hal ini akan terjadi. Lagi pula keluarga mana yang tidak akan mempermasalahkan statusnya.


Galih mungkin tidak mempermasalahkan itu, dia juga sudah mengatakan akan menerima Kirana, tapi kalau sudah menyangkut keluarga besar bisa saja kata-katanya berbeda. Dia sudah pernah merasa disalahkan atas sesuatu yang bukan kesalahannya. Bahkan hingga detik ini Mama Bang Raihan belum juga memaafkannya.


“Oh ini to janda itu? Kupikir cantik,” kata Mama.


“Mama!”


Kirana hanya tersenyum kemudian menyapa balik kedua orang tua Gina. Dia mencoba ramah walaupun hatinya terasa seperti disayat. Kirana juga tidak pernah meminta untuk jadi janda. Kalau dia bisa memutar waktu pun dia akan memilih untuk tetap bersama Bang Raihan mendiang suaminya. Dia lelah jika harus berkali-kali merasakan pasang surut hati mengenal cinta yang baru begini.


“Ki, ayo kita keluar aja,” ajak Gina.


“Anter sekalian saja dia ke stasiun sana atau ke terminal terserah. Nih aku kasih uang, tapi kamu jangan pernah berharap bisa ketemu lagi sama Galih,” kata Mama Gina yang mulai membuka tas untuk mengambil sejumlah uang.


“Suci!” kali ini nenek yang menegur kelakuan Mamanya Gina.


“Ma, kenapa Mama jadi belain cewek kegatelan ini sih? Lagian dibandingkan cewek ini lebih mending Tia kemana-mana. Keluarganya jelas, terpelajar, cantik, sederajat sama keluarga kita. Dia juga masih perawan,” jawab Mama.


“Kamu sengaja mau bikin Mama lebih sakit atau gimana sebenernya?” nenek kembali mendebat.


“Mama kebangetan banget, nenek lagi sakit lho Ma,” bisik Gina.


“In apa-apaan sih kalian. Heh kamu cewek ganjen, kamu pake pelet apa sampai Mama sama anak saya nurut banget sama kamu?”


Untuk yang satu ini Kirana tidak tahan. Kirana hanya tersenyum kemudian pamit untuk keluar. Tidak baik juga kalau dia tetap ada di sana. Dia tidak mau nenek berdebat dengan anaknya sendiri. Lagi pula Kirana juga merasa salah tingkah. Dia bukan siapa-siapa tapi berani ada di sana.

__ADS_1


__ADS_2