
Kirana sempat tersenyum memandang Amira yang tengah duduk bersama “papa”-nya sambil memakan sepotong nugget ayam dengan riang. Kirana melihat di bawah meja kaki Amira terus berayun menandakan jika gadis kecil itu sedang bahagia. Apalagi senyum di wajahnya, setiap orang yang melihat bisa dengan mudah mengetahui isi hati anak polos itu. Dia senang bisa makan bersama Papa Galih.
Lucy yang baru keluar dari dapur melihat adik iparnya tengah tersenyum memandangi Amira dan calon ayahnya duduk untuk makan bersama. Lucy ikut melihat bagaimana dengan telatennya Galih membantu Amira meminum jus jeruknya. Ningrum yang kebetulan ada di sana juga bisa melihat jika apa yang Galih lakukan bukan hanya sekedar sebuah pencitraan. Dia benar-benar tulus dengan niat yang baik dan dari sorot matanya terbaca jelas betapa dia menyayangi gadis kecil berkucir dua yang duduk di hadapannya itu.
“Ki…, jangan ragu. Aku pasti akan mendukung kalian berdua,” kata Ningrum berbisik pada Kirana.
“Di luar sana tidak akan kamu temui lagi laki-laki setulus dia, yakinkan hatimu dan melangkahlah,” kata Lucy ikut-ikutan.
Kirana tidak menjawab. Dia tidak mau lebih terpojok lagi makanya Kirana saat ini menjauh dari Lucy dan Ningrum, malah dihadang oleh Adnan yang baru pulang, “assalamualaikum,” katanya.
“Waalaikumsalam,” jawab Kirana dengan cueknya melangkah melewati Abangnya begitu saja.
“Apaan sih monyet,” kata Adnan entah pada siapa.
“Abang lihat tuh siapa yang lagi sama Amira,” kata Lucy.
“Heh si gembrot ngapain dia di sini?” kata Adnan membuat Galih menoleh dan langsung memberi hormat walau tidak berdiri.
“Ya kan Galih sama Kirana mau pergi habis ini Bang,” jawab Ningrum.
“Oh.”
“Pa, keberatan nggak kalau malam ini kita tidurnya berempat lagi?” tanya Lucy.
“Nggak sih, tapi kita ke rumah Mama aja ya. Mas kejatah ngawasi personil yang tugas jaga di kawasan keraton malam ini,” kata Adnan.
“Ok, kalau gitu aku beresin kerjaanku dulu habis itu kita pulang ya,” kata Lucy diangguki Adnan sebelum dia berjalan mendekati Galih dan Amira.
“Asik banget kak, sampai Papa dateng nggak kamu peluk,” kata Adnan.
“Amila lagi makan sama Papa Galih,” kata Amira.
“Oh Papa Galih?” tanya Adnan dengan death glare ke arah Galih yang hanya terpaku diam di tempatnya. Baru ini dia merasakan takut pada kabid propam yang saat ini tengah menatapnya. Ternyata seorang Adnan Dzaki mode propam belum ada apa-apanya kalau dibandingkan mode calon kakak ipar begini.
“Emangnya Kirana udah kasih izin?” tanya Adnan bertanya pada Galih tapi tangannya mencomot kentang goreng dari piring Amira membuat gadis itu merengek minta cemilannya dikembalikan.
“Kasih izin apa Bang?” tanya Galih yang tiba-tiba merasa bodoh.
“Amira manggil elo pake sebutan ‘papa’ emangnya adek gue udah kasih izin?”
“Udah Bang,” kata Galih.
“Kapan lo jadian sama adek gue?”
“Ha? Jadian? Ma…, maksudnya?” Galih balik bertanya.
“Kok elo jadi bego sih mbrot? Padahal di kantor sok iye lu,” kata Adnan.
__ADS_1
“Papa jangan galak-galak!” protes Amira. Tidak terima dia kalau papanya diinterogasi.
“Tuh. Jangan nanya macem-macem monyet. Awas ya,” ancam Kirana pada Adnan. Kirana baru mendekat sudah menenteng tasnya dan semua bawaan Amira putrinya.
“Kakak Amira…, kakak ikut pulang sama Mama Lucy yuk. Kita beli ice cream oreo lagi,” bujuk Lucy.
“Tapi Amila mau ikut sama Mama Kilana sama Papa Galih,” katanya dengan raut wajah sedih.
“Nggak papa Bang Amira ikut aku, emang sudah niat kok ngajak Amira jalan-jalan,” kata Galih.
“Hmm yaudah deh,” kata Lucy yang menyerah begitu saja. Tidak tahu saja mereka di dalam kepala Lucyana sudah tersusun rencana nakal. Untung keponakannya ini cerewet dan selalu menceritakan semua yang dialaminya pada Lucy jadi Lucy bisa tahu kemana Galih akan membawa Kirana dan Amira malam ini.
***
Amira begitu bahagia dibawa berjalan-jalan ke alun-alun utara malam ini. Dalam rangka sekatenan, biasanya pihak keraton akan menggelar pesta rakyat berupa pasar malam di halaman keraton dan malam ini Galih mengajak Kirana dan Amira untuk menikmati suasana ramainya perayaan.
“Mama boleh naik itu?” tanya Amira sambil menunjuk sebuah komidi putar.
“Apa? Amira main naik kuda-kudaan?” tanya Kirana.
“Mau naik yang kuda poni,” jawab Amira.
“Naik aja yuk papa belikan tiketnya ya,” ajak Galih membuat Amira langsung tersenyum menggandeng tangan Galih menuju ke loket.
Amira duduk di atas sebuah kuda berwarna putih sedang di sebelahnya Kirana menjaga sembari duduk di satu yang berbentuk zebra sedangkan Galih hanya tersenyum dan melambaikan tangan setiap kali Amira masuk dalam jarak pandangnya. Galih tersenyum melihat Kirana begitu bahagia memandang putrinya yang terus tertawa sambil menunjuk-nunjuk apapun yang menurutnya menarik.
Beberapa putaran kemudian, penjaga komidi putar mengentikan permainan membuat Amira cemberut begitu diminta turun. Galih mencoba menghiburnya dengan membelikan permen kapas berbentuk bebek. Pokoknya semua yang Amira mau akan dia belikan. Amira sih senang-senang saja, tapi di belakangnya Kirana mulai pusing.
Galih sudah keluar uang cukup banyak hari ini hanya untuk menyenangkan Amira. Mulai dari komidi putar, mewarnai, bermain di istana balon, membelikan permen kapas, bahkan juga boneka berbentuk beruang berwarna coklat. Kirana makin merasa tidak enak terpaksa membujuk Amira untuk ikut pulang.
“Ahh, masih mau main Ma,” rengeknya.
“Sayang, sudah malam ini. Kamu nggak ngantuk?” tanya Kirana mencoba membujuk.
“Belom.”
“Ra…,”
“Eh Amira…, di sini kalian rupanya,” kata Lucy yang tiba-tiba muncul dari balik badan Galih.
“Basa-basi lo,” bisik Kirana karena dia tahu akal licik sahabatnya ini. Dia sering kali melakukan ini bahkan sejak Kirana masih bersama Raihan makanya Kirana hafal.
“Mama Lucy…, ada nenek sama kakek juga. Papa ini Uti sama Akungnya Amila lho,” kata Amira begitu heboh mengenalkan papanya pada kakek dan neneknya.
“Ini yang namanya Galih?” tanya Mama.
“Maaf, tante kenal saya?”
__ADS_1
“Nggak secara langsung sih, cuma dari ceritanya anak-anak. Katanya kamu brimob juga ya?” tanya Mama lagi.
“Iya tante, saya juniornya Bang Adnan di brimobda,” kata Galih.
“Panggil Mama saja, jangan tante,” jawab Mama.
“Mama…,” kata Kirana yang sebenarnya ingin protes.
“I…, iya tan…, e…, maksud saya Ma,” kata Galih gagap.
“Eh Amira, jalan-jalan sama Mama Lucy yuk. Sama Akung sama Uti juga, sekalian kita beliin papa Adnan cumi bakar. mau kan?” tanya Lucy sekali lagi membujuk Amira.
“Mau,” jawab Amira dengan girang.
“Astaga Amira…,” gumam Kirana.
“Ehem…, e…, Mas Galih, tolong nanti adik ipar saya ini diantar pulang ya. Tapi santai saja nggak perlu buru-buru kok. Toh di rumah kosong, soalnya kita juga masih mau jalan-jalan,” kata Lucy pada Galih.
“Cy, kamu tuh. Ada-ada aja, ngapain sih?” Kirana kembali protes, kali ini pada Lucy.
“Udah nggak papa sekali-kali,” bisik Lucy.
“Yuk Amira, Ma, Lucy. Papa tinggal dulu ya,” ajak Papa pada Lucy, Mama, dan Amira membuat Kirana hanya berduaan dengan Galih saat ini. Apesnya, mereka sudah berpisah Kirana baru sadar kalau boneka beruang berukuran cukup besar ini masih ada di tangannya.
“Ahh…, sudah bukan umurnya bawa beginian,” gerutu Kirana.
“Nggak papa kali. Lucu tuh,” kata Galih.
“Tapi tunggu, boneka ini mukanya familiar deh…,” kata Kirana sambil mengarahkan wajah bonekanya ke arah Galih, menjejerkan wajah keduanya kemudian tertawa, “mirip Aa,” kata Kirana.
“Kamu orang kesekian juta yang bilang aku mirip sama grizzly bear, apalagi dengan maraknya kartun we bare bears,” kata Galih.
“Tapi kuakui memang mirip sih,” jawab Kirana.
“Nggak papa, aku cukup bangga disebut mirip grizzly. Karena beruang coklat itu termasuk hewan yang cerdas, cepat, kuat, dan berani. Dia mampu bertahan hidup dalam setiap kondisi, artinya dia adaptif. Grizzly cenderung menyimpan cadangan lemak untuk mempersiapkan hibernasi, dan ketika lepas dari masa hibernasi, dia bisa bertahan hidup hanya dengan rumput dan buah-buahan sampai menemukan salmon dan hewan-hewan lainnya,” kata Galih.
“Kalau aku memandangnya dari sisi yang berbeda. Grizzly bear itu lucu. Seperti Aa, gendut, berwarna coklat, dan yahh wajah Aa yang bulat membuat Aa makin mirip bsnget sama grizzly. Aa juga makannya banyak, seperti beruang ini,” kata Kirana.
“Aa makan banyak, tapi setelahnya bisa tahan nggak makan selama 3 hari.”
“Soalnya Aa menyimpan cadangan lemak Aa di sini,” kata Kirana menunjuk pipi bulat Galih.
“Udah ah. Cari makan yuk, laper nih Aa,” kata Galih berusaha menghentikan Kirana.
“Mana, katanya bisa tahan nggak makan 3 hari,” kata Kirana.
“Timbunan lemaknya belum cukup,” jawab Galih sambil menggandeng tangan Kirana agar dia mau mengikuti langkah Galih mendekati seorang penjual bakso tusuk di pinggir lapangan.
__ADS_1