
Malam itu Kirana memutuskan untuk ikut Galih menginap di rumah sakit. Selain dia ingin menemani Galih, dia juga ingin sekali membicarakan sesuatu dengan laki-laki itu walaupun dia juga tidak yakin untuk membicarakannya sekarang karena menurutnya timingnya tidak pas.
Galih sedang keluar membeli sesuatu sedangkan Kirana diam di kamar inap nenek. Nenek belum tidur, beliau masih terus memandangi Kirana dengan penuh kasih sayang seperti beliau menatap cucunya sendiri.
“Kirana, nenek titip Galih ya,” kata nenek.
“Iya nek, walaupun Kirana sempat ragu pada Galih tapi sekarang Kirana sudah yakin untuk bersama Galih, nek,” jawab Kirana.
“Ada satu hal yang perlu kamu tahu, Galih itu adalah cucu pertama nenek. Ayah dan ibunya sudah meninggal dan sekarang ini Galih menumpu hidupnya sendiri. Dia tidak punya apa-apa dan dia juga tidak memiliki keluarga yang harmonis. Nenek harus katakan itu sebelum nenek tidak sanggup bicara. Kalau kamu bertemu dengan saudara-saudara Galih nanti nenek minta kamu kuat ya. Kalau kamu dengar kata-kata pedas dari mereka jangan diambil hati,” kata nenek.
“Tidak apa Nek. Aku sudah paham, di setiap keluarga pasti ada dramanya. Sama seperti keluarga a Galih, keluargaku juga ada dramanya Nek dan a Galih berusaha bertahan dan menerima kondisi keluargaku. Biar adil aku juga akan melakukan hal yang sama, toh Kirana sudah paham Nek, Kirana ini janda otomatis akan banyak kata-kata buruk atau bahkan mungkin ada yang tidak merestui Kirana bersama a Galih,” curhat Kirana.
“Selama kamu mendapatkan restu nenek, serta restu nak Aji dan Ratna kamu boleh menikah dengan Galih,” kata nenek membuat Kirana sempat bingung kenapa om Aji dan tante Ratna alih-alih orang tua Gina.
“Kamu bingung ya? Kamu memang belum diberitahu atau bagaimana? Galih itu diangkat anak oleh nak Aji dan Ratna. Keduanya juga yang membentuk Galih dan menjadikannya seorang polisi seperti sekarang. Kalau ada waktu kamu boleh minta Galih mengantarmu menemui mereka dan berterima kasihlah pada mereka,” kata nenek.
“Kebetulan Kirana kenal dengan om Aji dan tante Ratna. Keduanya memang baik sekali, tapi Kirana tidak pernah tahu kalau ternyata Galih ada dalam asuhan om Aji,” kata Kirana.
“Sejak kematian kedua orang tuanya, Galih berubah sekali. Dia sebenarnya tidak nakal tapi hanya sedikit membangkang. Ada satu waktu dimana Galih bertemu dengan nak Aji dan semesta membawa nak Aji pada nenek. Dia bilang ingin membantu Galih menjadi anak yang lebih baik. Toh Galih tidak menolak jadi ketika itu nenek iyakan saja, lagi pula nenek kenal dengan ibunya nak Aji. Kami pernah menjadi tetangga,” jelas nenek.
“Jadi begitu ya ceritanya, belum banyak yang aku tahu tentang a Galih nek, maaf ya,” kata Kirana.
__ADS_1
“Kenapa minta maaf? Tidak masalah. Mulai sekarang kalian harus lebih banyak cerita tentang satu sama lain ya. Memang sudah masa lalu tapi apa salahnya diceritakan kalau memang bisa membantu saling mengenal satu sama lain,” kata nenek diangguki oleh Kirana.
Tidak lama kemudian Galih kembali, dengan membawa beberapa bungkusan yang entah apa isinya. Tapi ada satu yang agak mencolok adalah paper bag Mc* yang dia tenteng bersama satu kresek putih dengan tulisan berwarna biru di tangan. Galih meletakkannya di atas meja dan membukanya kemudian meminta Kirana mendekat.
“Ki, kamu pasti belum makan. Maaf ya, udah malem jadi nyari warung yang masih buka susah. Aa juga tidak tahu apakah lidahmu bisa menerima masakan Sunda atau tidak jadi biar aman aa belikan burger dan ayam,” kata Galih pada Kirana.
“Ini sudah lebih dari cukup aa. Kirana belum makan tapi kalau sebanyak ini juga tidak akan habis. Aa ngawur belinya,” kata Kirana melihat ada 3 buah burger, 4 potong ayam, 2 gelas cola, dan di kresek Galih membelikan Kirana sekotak susu dan berbagai snack.
“Ya sudah sehabisnya saja. Sisanya buat aa,” kata Galih.
“A Galih sudah makan?” tanya Kirana.
“Sudah, tadi sore. Kamu makan dulu saja, aa mau sholat dulu,” kata Galih kemudian melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Malam sudah semakin larut, tapi baik Kirana maupun Galih masih sama-sama terjaga. Keduanya duduk bersebelahan di bed yang ada di sebelah nenek. Nenek sudah lelap sejak tadi tapi Kirana dan Galih masih betah mengobrol.
“A, tadi nenek bilang katanya selama aku dapat restu dari nenek dan om Aji kita bisa menikah, kenapa a? Kirana ingin dengar ceritanya dari aa langsung,” kata Kirana.
“Aa sudah lupa kapan pertama kali ketemu Pak Aji. Yang jelas sejak datangnya keluarga itu aa jadi sedikit merasa kuat. Ketika Umur aa masih belasan tahun ketika aa menjadi yatim piatu. Aa pernah nakal dan Bapak yang menyadarkan aa. Bapak dan Ibu juga yang membawakan harapan baru dalam hidup aa.”
“Itukah kenapa aa memanggil om Aji dengan sebutan Bapak? Sedekat itukah?”
__ADS_1
“Hmm…, aa pikir awalnya mereka bercanda. Tapi ternyata apa yang keduanya berikan malah lebih dari apa yang aa butuhkan. Aa bersyukur sekali bisa kenal dengan keluarga yang satu ini. Kalau tidak, tidak mungkin aa bisa jadi seperti sekarang ini,” kata Galih.
“Berarti kalau dipikir-pikir aku seharusnya sudah kenal aa ketika itu ya,” kata Kirana sambil tersenyum.
“Maksudmu?”
“Tante Ratna kan dekat sama Mama, kalau ada apa-apa Mama selalu minta bantuan dari tante Ratna sama tante Lilis istrinya Pak Chandra. Tante Ratna itu pernah cerita soal aa lho, tapi nggak menyebut nama. Ketika itu aku mendengar cerita tentang aa aku jadi memahami jika setiap orang pasti mendapatkan tantangannya sendiri-sendiri dan Allah sudah menyiapkan jawabannya tergantung dari bagaimana kita menyikapi masalah yang datang. Aa ternyata pernah membantuku menjadi lebih dewasa a. Makasih ya,” kata Kirana.
“Kamu mau tahu yang lebih keren lagi nggak? Kamu cinta pertama aa,” kata Galih.
“Itu sih nggak keren a, kan aa sudah sering bilang.”
Galih menggeleng kemudian tersenyum. Tangannya mulai mengelus kepala Kirana, “kamu ingat nggak dulu cafemu pernah kedatangan maling di siang bolong dan yang menangkapnya kamu sendiri. Ketika itu kamu masih jadi pacarnya Keenan,” kata Galih.
“Seingatku iya, waktu belum lama aku buka cafe sama Ningrum dan Lucy.”
“Nah, aa ada di sana. Melihatmu ketika membekuk pelaku membuat aa jatuh cinta sama kamu. Senyummu manis, wajahmu cantik, tapi ada satu kekuatan besar dalam dirimu yang membuatmu terlihat kuat, walaupun ketika itu kamu menatap Keenan tapi kuakui tatapan matamu begitu sejuk dan bisa memberikan kebahagiaan pada orang yang sedang kau tatap. Andai saja tatapan dan senyum indah itu ditujukan untukku aku pasti akan menjadi laki-laki paling beruntung di muka bumi ini…,” kata Galih.
“Sekarang kan sudah jadi milik aa. Tapi aku nggak lagi sempurna a, apakah aa masih merasa beruntung?”
“Sujud syukur sayang. Rasanya persis seperti yang aa bayangkan dulu. Lagi pula kamu nggak sempurna di bagian mananya? Mata ada dua, hidung satu, mulut, tangan, kaki, semuanya masih utuh. Kamu itu sempurna. Masa lalumu ya biarkan dia jadi masa lalu. Jangan kamu ingat-ingat lagi. Sekarang kamu ada sama aa di masa sekarang dan masa depan nanti,” kata Galih mencoba menguatkan Kirana yang memang masih terjebak di masa lalunya.
__ADS_1
“Aa tanya ke Abangmu, Bang Adnan bilang pelakunya tertangkap oleh Raihan dan sudah dipenjarakan. Tidak ada Bang Raihan di sini tapi ada aa yang menjagamu. Abangmu, Papa, semuanya masih tetap ada di sini untuk menemani dan menjagamu. Jangan takut lagi, tidak akan ada hal buruk terjadi pada anak dan istri dari Galih Arsa. Aa sendiri yang akan menjaga kalian berdua,” kata Galih lagi.
Kirana yang tadinya diam mulai tersenyum. Semakin dia mendengar suara Galih semakin dia merasakan aman. Ketakutan yang sudah lama bersemayam di dalam hatinya lambat laun hilang tersapu kehangatan yang selalu diberikan oleh Galih. Saat ini keduanya sudah sama-sama mengambil keputusan. Tinggal beberapa langkah lagi hingga Galih menjabat tangan Papa dan mengucapkan janji seumur hidup untuk menjaga dan menyayangi Kirana.