
Malam semakin larut, tapi ketiga gadis itu masih bertahan dengan aktivitasnya. Sesekali Lucy terlihat membalas pesan yang datang dari kekasihnya sedangkan Kirana tidak jauh berbeda. Dia selalu menengok ke arah handphonenya yang dia charge di sampingnya. Sedangkan Ningrum yang masih jomblo mau menunggu kabar dari siapa? Dia hanya bisa tersenyum sendu karena pujaan hatinya saja entah berada di mana sekarang.
"Galau amat Ning kenapa?” tanya Lucy yang pertama kali menyadari Ningrum sedikit murung.
"Nggak galau. Cuma agak miris aja, kalian berdua udah pada punya pasangan lah aku masih jomblo aja,” kata Ningrum.
"Ya carilah,” jawab Lucy.
"Ningrum bukannya nggak mau nyari Ci, tapi udah ada yang ditunggu. Iya kan, ngaku deh” kata Kirana yang tahu jika selama ini Ningrum sedang menyukai seseorang.
“Kok kamu bisa tahu sih Ki?”
“Apa sih yang Kirana nggak tahu,” kata Kirana membanggakan diri.
“Iyain.”
"Siapa sih Ning? Cerita dong. Anak mana? Anak kampus kita?” tanya Lucy mulai kepo.
"Ada lah, anak kampus. Tapi aku nggak begitu tahu dia sekarang kerja di mana,” kata Ningrum.
"Terus masih kontakan?”
“Nggak juga. Pernah sih intens kontakan tapi kayaknya dia sekarang udah sibuk sama kerjaan dia makanya jadi jarang. Tau kabar juga sekali dua kali,” jawab Ningrum.
"Kamu nggak takut menyesal nunggu yang nggak pasti?” tanya Lucy.
“Maunya sih move on, tapi kok hatiku nggak sanggup. Semakin aku mencoba melupakan, semakin aku ingat dan sakit banget rasanya Cy. Aku nggak mau, biar lah. Biar waktu yang menjawab akan jadi apa takdirku dan dia,” kata Ningrum.
“Suatu saat pasti akan terjawab kok. Lihat deh aku, bertahun-tahun akhirnya aku bisa bersama Bang Adnan,” kata Lucy.
"Cy, kenapa kamu nggak pernah marah sama aku? Bang Adnan lama deketin kamu kan karena aku,” tanya Kirana yang cukup tiba-tiba.
"Kok tiba-tiba nanya gitu sih Ki?”
__ADS_1
"Jawab saja, Lucy. Aku ingin tahu pendapatmu,” desak Kirana.
"Nggak. Buat apa sih aku marah sama kamu? Kan kamu nggak pernah salah.”
"Kalau soal pilihan Bang Adnan itu sudah jadi prinsip dia. Aku hanya bisa mendukung dan menunggu. Toh Abangmu itu tidak pernah memberikan harapan kosong padaku. Dia hanya memintaku untuk menunggu. Lagipula aku setuju. Karena aku tidak mau bahagia seorang diri. Kita bertiga kan memulai mimpi kita bareng-bareng. Jadi aku mau ketika mimpi kita terwujud kita masih bareng-bareng juga,” kata Kirana yang kemudian menarik Ningrum dan Kirana masuk dalam pelukannya.
Ketiga gadis itu melanjutkan obrolan hingga cukup larut malam. Selesai film satu ganti film yang lainnya. Dari yang komedi sampai yang romance mereka tonton semuanya. Intinya malam itu benar-benar mereka nikmati untuk bertiga mengenang masa lalu di mana mereka sering kali kumpul di tempat ini untuk menemani Lucy karena ditinggalkan kedua orang tuanya yang sibuk dengan urusan masing-masing.
Ningrum yang sudah kenyang segera naik ke atas sofa kemudian menarik selimut. Dia memang tidak pernah sekuat Kirana dan Lucy dalam hal begadang. Gadis itu selalu saja tidur lebih dulu dibanding yang lainnya.
"Cy, aku mau curhat sama kamu…,” kata Kirana.
“Kenapa nggak dari tadi tadi sih?”
"Ini soal Bang Adnan sama Bang Raihan. Aku sebenarnya ragu mau tanya tapi lama-lama kepikiran juga,” kata Kirana.
“Yaudah mau tanya apa?”
“Akhir-akhir ini Bang Raihan nggak pernah ngomongin soal Bang Adnan. Beberapa kali aku ajak ke rumah Mama pun Abang pasti menghindar. Apa Bang Adnan sama Bang Raihan lagi berantem ya?” tanya Kirana.
"Aneh gimana?”
"Bentar. Jangan dilanjut dulu. Aku nggak mau denger urusan keluarga kalian, aku tidur di kamar aja ya,” kata Ningrum yang menginterupsi. Belum sampai Lucy dan Kirana menjawab, Ningrum yang masih setengah tidur melangkah ke kamar Lucy sambil membawa selimut yang tadi dia pakai. Dia tidak menutup pintunya dan tidak mematikan lampu tapi Kirana dan Lucy tahu jika gadis itu sudah kembali lelap dalam mimpi.
"Bang Adnan akhir-akhir ini selalu membicarakan soal kamu dan Bang Raihan,” kata Lucy.
"Memang sebelumnya nggak pernah?” tanya Kirana.
Lucy menggeleng, “Bang Adnan bukan tipe laki–laki yang suka membicarakan soal kondisi keluarganya di rumah pada pasangan. Yah hanya sesekali jika ada berita baik atau apa dia akan cerita tapi tidak pernah sesering ini,” kata Lucy.
“Gelagat Bang Adnan setiap kali ketemu aku juga aneh Cy. Menurutmu ada apa ya?”
“Aku nggak paham sih,” kata Lucy.
__ADS_1
"Eh tapi Bang Raihan baik kan sama kamu?” tanya Lucy.
“Baik. Tapi ya gitu,”
“Ya gitu gimana?”
"Sebenarnya ini rahasia tapi ganjel banget kalau aku nggak cerita," kata Kirana.
"Cerita saja Ki, insyaallah aku bisa jaga rahasia," jawab Lucy.
"Bang Raihan belum pernah nyentuh aku sama sekali. Pikiranku jadi kemana-mana. Nggak peduli Abang selalu meyakinkan tapi selalu terbesit pikiran kalau Abang nggak mau nyentuh aku karena aku udah nggak bersih," kata Kirana.
"Astaga, kenapa kamu jadi mikir gitu sih Ki. Nggak lah. Bang Raihan katamu selalu jujur. Kalau dia bilang bukan ya bukan. Jangan mikir aneh aneh ah kamu," kata Lucy.
“Habis gimana aku nggak mikir kaya gitu? Aku sendiri aja kesiksa sama kondisiku. Aku bingung aku harus apa untuk membayar kesalahanku. Abang itu manusia normal, dan keinginan laki-laki semua sama. Mana ada yang mau menerima gadis yang sudah nggak bersih kaya aku," kata Kirana lagi. Tangisannya sudah tidak terbendung lagi sekarang.
"Kirana, stop. Banyak kok laki-laki di luar sana yang rela menikahi janda. Nggak semua laki-laki berkeinginan untuk membuka segel istrinya. Toh kita menikah buat ibadah bukan buat napsu semata," kata Lucy yang mencoba menaikkan kepercayaan diri sahabatnya.
Lucy mungkin benar, tidak semua laki-laki mengharapkan keperawanan istrinya pada malam pertama. Beberapa sudah mengubur keinginan itu dalam-dalam karena keihklasannya menerima kondisi. Tapi ada yang Lucy tidak tahu. Raihan, suami Kirana mendambakan itu. Kirana tahu secara tidak sengaja ketika mendengar Raihan tengah mengobrol dengan papanya. Dari sana Kirana tahu banyak kebohongan yang sengaja Raihan buat demi melindungi perasaan istrinya. Hanya agar Kirana tidak terluka.
Beberapa kali Kirana mencoba memberanikan diri mendekati suaminya lebih dulu, tapi setiap kali kedua belah bibir keduanya mendekat dan mata terpejam, ingatan itu akan langsung berkobar kembali membuatnya ketakutan dan menangis. Tubuhnya bahkan merespon dengan luar biasa. Sering kali Kirana berakhir jatuh pingsan atau sakit jika dia terlalu memberanikan diri.
“Aku kasihan sama Bang Raihan, Cy…,” kata Kirana yang kembali meneteskan air matanya.
“Bagaimana kalau kamu konsultasi ke psikiatermu dulu? Barangkali beliau bisa membantu,” kata Lucy.
“Rencananya sih begitu. Lusa aku akan check up ke rumah sakit sekaligus konsultasi pada psikiaterku. Tapi aku tidak mengatakannya pada Bang Raihan. Entah kenapa Abang selalu melarangku. Dia bilang dia tidak ingin aku bersedih atau terluka. Kejadian itu terlalu menyakitkan dan Abang sendiri sebenarnya tidak ingin mengingatnya lagi,” kata Kirana.
“Akan aku rahasiakan. Oh iya, kamu ke rumah sakit sendiri? Mau aku temani?”
“Nggak usah nggak papa. Aku sudah minta ditemani tante Ratna kok,” kata Kirana.
“Tante Ratna?”
__ADS_1
“Hmm, istrinya om Aji rekan kerja Papa. Sejak aku kecil, kalau aku ada apa-apa pasti tante Ratna yang mengobatiku. Padahal beliau adalah dokter spesialis kanker tapi masih bersedia jadi dokter keluarga untukku,” kata Kirana.
“Kirana, kamu itu sebenarnya beruntung. Jangan pernah berkecil hati lagi ya. Di sini banyak sekali orang yang sayang sama kamu. Jadi kamu harus bisa menegakkan bahumu. Angkat dagumu dan katakan pada dunia jika kamu adalah wanita yang kuat,” kata Lucy.