Baret Biru

Baret Biru
77. Menyusul


__ADS_3

Seminggu sudah terlewat sejak kepergian Galih dan Kirana belum mendengar kabar apapun dari laki-laki itu Terakhir kali dia tahu jika Galih sedang sakit dan dirawat oleh tante Ratna di kediaman Aditama, tapi itupun sudah lewat beberapa hari yang lalu.


Amira mulai bertanya-tanya kemana perginya papa Galih, dia juga semakin curiga karena Mamanya tidak lagi terlihat asik berkirim pesan dengan papa di handphone juga tidak ada telepon ucapan selamat malam seperti biasanya.


Untuk mengalihkan perhatian si kecil. Kirana juga selalu mengajaknya ke cafe juga membelikan satu kotak besar krayon dan buku gambar agar dia bisa menuangkan penantian dan harapannya ke dalam buku gambar itu. Sementara les musik Amira baru dimulai masuk sekali Teh Gina pamit karena mendadak kembali ke Bandung tanpa mengatakan hal yang jelas. Kirana memutuskan untuk menghentikan les musik Amira karena guru yang menggantikan Teh Gina saat ini tidak begitu ramah pada anak-anak.


Siang ini selepas menyuapi Amira makan, Kirana iseng membuka emailnya. Sudah beberapa hari Kirana tidak membuka emailnya dan dia cukup menyesal saat ini. Ada satu email datang dari Galih. Letaknya sudah tidak lagi ada di urutan atas dan setelah Kirana buka isinya cukup panjang.


Hai Neng Geulis…


Maaf aa belum bisa menemuimu saat ini. Aa saat ini berada di Bandung, mendadak pulang karena diberi kabar nenek sakit keras. Pagi ini nenek baru dioperasi dan dokter memperkirakan operasinya akan berjalan selama 13 jam lamanya. Ketika aa menuliskan email ini saja nenek belum keluar dari ruang operasi.


Kirana, aa sedang bingung sekarang. Aa sedang merasa ragu padahal kamu sudah mengatakan yang sejujur-jujurnya. Aa bingung sekali antara harus melepaskanmu untuk bahagia bersama cinta pertamamu atau aa harus egois memperjuangkanmu walaupun aa tidak menjamin hidupmu akan selalu bahagia bersama aa.


Aa ingin meminta bantuanmu. Aa sudah pasrah, aa serahkan keputusannya padamu. Jika memang kamu lebih memilih Keenan, aa akan ikhlas. Tapi jika kamu memilih aa, tolong bantu aa percaya jika kalimatmu bukan hanya untuk menenangkan aa tapi memang terbukti benar adanya.


Kuharap kamu sudi menunggu. Nanti yang entah kapan aa akan menemuimu lagi. Tapi jika kamu memang tidak ingin menunggu balas saja email ini segera. Katakan pada aa jika kamu tidak mau menunggu. Biar aa doakan kebahagiaanmu dengan siapapun itu.


Oh iya, sampaikan maafku juga pada si kecil Amira. Maaf jika Papa Galih ternyata brengsek juga berani meninggalkan Mama dan membuat Mama menangis. Sampaikan pada Amira, kalau dia harus bisa tumbuh kuat demi menemani Mama dan membuat Mama tersenyum karena sejatinya senyum Mama berasal dari Amira, bukan dari Papa.


Sekian Kirana, kuharap kamu mengerti.


Maaf sudah membuatmu kecewa,


Galih.


Begitu selesai membaca email Galih, Kirana langsung kalang kabut. Entah bagaimana tapi perasaannya mengatakan dia harus sampai di Bandung secepat yang dia bisa. Kirana langsung menelepon Bang Adnan untuk menitipkan Amira, dan meminta alamat rumah Galih di Bandung pada Aksara.

__ADS_1


Dengan modal nekat Kirana berkemas dan membawa satu ransel berukuran sedang berisi baju ganti dan keperluan seadanya. Kirana lebih dulu menitipkan Amira pada Papa Adnan dan Mama Lucy kemudian dengan diantar oleh Papa Adnan, Kirana dibantu memesan tiket pesawat.


“Dek, ditenangkan dulu pikiranmu baru kamu berangkat,” kata Adnan.


“Mama baik-baik saja kan?” tanya Amira yang ikut mengantar.


“Iya sayang, Mama baik-baik kok. Amira jangan nakal ya, Amira sama Papa Adnan sama Mama Lucy dan dek Daffa dulu. Nanti setelah Mama ketemu sama Papa, Mama akan pulang,” kata Kirana.


“Kirana, kamu sampai sana kan sudah cukup malam. Abang sudah menghubungi sahabat Abang yang bertugas di polda jabar. Nomor teleponnya sudah Abang kirim ke kamu, andai kamu kesulitan dia bisa membantu kamu cari hotel dan mengantar kamu buat kemanapun yang kamu mau. Cewek kok, kamu nggak perlu khawatir. Ini buat jaga-jaga saja kalau kamu nggak berhasil menghubungi Teh Gina,” kata Adnan.


“Makasih Bang,” jawab Kirana.


“Kirana, kamu di sana hati-hati ya. Jangan gegabah,” kata Lucy.


“Iya, makasih banyak ya. Doakan semuanya akan baik-baik saja,” kata Kirana.


“Ok. Kalau begitu Mama berangkat dulu ya. Assalamualaikum,” pamit Kirana.


...***...


Kirana belum menelepon kawan Bang Adnan tapi sudah lebih dulu mendapatkan telepon dari Gina. Gina jelas kaget mengetahui Kirana sudah mendarat di Bandara seorang diri, mana posisinya sudah cukup malam.


Gina baru saja kembali dari rumah sakit langsung berangkat menuju ke bandara untuk menjemput Kirana. Dia tidak mengatakan apapun pada orang tuanya, apalagi pada saudara-saudaranya yang lain. Galih sudah pernah berkata padanya jika status Kirana pasti akan sulit diterima oleh keluarga besar mereka makanya Gina memilih untuk tutup mulut. Gina langsung mengantarkan Kirana ke rumah sakit karena kebetulan malam ini hanya Galih yang sanggup menemani nenek yang baru saja sadar.


“Aku pikir kamu dan a Galih lagi berantem soalnya aa datang ke sini tempo hari dalam kondisi sakit. Mukanya udah kayak mayat hidup gitu, pikirku nggak mungkin juga kalau cuma sakit biasa,” kata Gina.


“Itulah kenapa aku ada di sini sekarang. Aku pengen minta maaf sama aa,” kata Kirana.

__ADS_1


“Kuharap kalian berdua bisa segera menyelesaikan masalah di antara kalian,” kata Gina diangguki oleh Kirana.


Kirana dengan langkah ragu masuk ke dalam rumah sakit, menyusuri lorong kamar VIP hingga sampailah dia pada satu pintu yang lampu di dalamnya menyala. Gina melangkah masuk lebih dulu sedangkan Kirana bertahan di ambang pintu menatap Galih yang tengah membersihkan tubuh renta neneknya dengan menggunakan handuk hangat.


“Gina, siapa itu yang berdiri di pintu? Cantik sekali, diajak masuk atuh,” kata nenek walau sedikit terbata-bata.


Galih ikut menoleh mengikuti arah tatapan nenek yang menatap ke arah pintu. Galih jelas kaget melihat Kirana berdiri di sana dengan senyum yang sangat dipaksakan. Galih tidak hanya terdiam tapi juga tidak bergerak. Bahkan dia merasakan air matanya mulai menggenang dan satu tetes berhasil lolos begitu saja.


Kirana melangkah masuk dan dengan malu-malu dia memperkenalkan diri, “maaf nek, nama saya Kirana. Saya…,”


“Pacarnya Galih?” tanya nenek.


“Nek, ini…,” Galih mencoba mengoreksi tapi kalah cepat dengan Kirana yang kembali menjawab, “kalau nenek merestui, insyaallah saya akan menjadi istrinya a Galih, nek.”


Nenek mengangguk dengan matanya. Kemudian kembali berucap, “Sini nak mendekat,” minta nenek.


Kirana kemudian duduk di kursi yang ada di sebelah nenek kemudian tangannya menggenggam tangan nenek yang terlihat kurus dengan kulit yang sudah tidak lagi kencang. Di punggung tangannya, ada satu jarum infus yang menembus dan Kirana tahu pasti rasanya sangat tidak nyaman.


“Gina sudah banyak cerita soal kamu. Nenek tidak akan mempermasalahkan soal statusmu, yang penting kamu bisa menjaga dan menyayangi Galih sepenuh hatimu,” kata nenek.


“Pasti nek,” jawab Kirana dengan tersenyum.


“Oh iya, katanya kamu sudah punya seorang putri? Mana dia? Tidak ikut?” tanya nenek lagi.


“Iya nek, namanya Amira. Dia tidak ikut karena saya ke sini cukup mendadak. Dia juga belum sembuh total dari sakitnya. Nanti kalau nenek sudah sembuh Kirana akan bawa Amira kemari,” kata Kirana.


“Harus. Nenek nggak sabar mau ketemu sama cucu nenek,” kata nenek membuat Kirana tertawa kecil kemudian menatap Galih yang terdiam masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.

__ADS_1


__ADS_2