Baret Biru

Baret Biru
69. Kesedihan Mama


__ADS_3

Malam itu juga si kecil Amira dirawat di rumah sakit. Dokter Hengki sebagai penanggung jawab yang sudah mengawasi tumbuh kembang Amira sejak kecil berkata jika gadis kecil itu harus segera mendapatkan penanganan dan menjalani sebuah operasi agar kejadian serupa tidak terjadi lagi.


Sayangnya, tim dokter harus menunda operasinya karena Amira terus merengek dan menolak siapapun mendekatinya kecuali orang tuanya. Itupun jika Kirana membahas soal operasi Amira akan menangis lagi.


“Detak jantungnya semakin tidak stabil, Ibu saya sarankan untuk segera menenangkan Amira. Kalau dia terus begini kondisinya akan semakin parah dan kemungkinan terburuk dia bisa…,”


“Jangan diteruskan dok. Saya sudah paham,” kata Kirana dengan tatapan setengah kosong.


Kondisi keluarga Kirana semakin buruk ketika beberapa hari kemudian Lucy menyusul masuk ke rumah sakit setelah pendarahan. Beruntung dia dan bayinya selamat, tapi berkat itu juga Adnan jadi tidak mampu menjangkau semuanya. Kirana hanya bisa meminta Abangnya untuk fokus pada anak dan istrinya.


Hanya Kirana seorang diri yang menemani Amira. Sudah beberapa hari ini dia tidak melangkah keluar dari rumah sakit sama sekali. Bahkan untuk makan saja dia jarang. Setiap malam dia akan terus mengelus tangan dan menepuk-nepuk paha Amira hanya agar dia bisa tidur dengan nyenyak.


Sesekali Galih akan datang, selain untuk menghibur Amira yang sering menangis dia juga berusaha menghibur Kirana yang terus meratap. Seperti malam ini, Galih kembali menginap di rumah sakit menemani Kirana dan Amira. Galih bahkan tidak ragu untuk tidur dalam posisi tidak nyaman hanya agar dia bisa ada di dekat kedua orang tersayangnya.


“Papa…,” panggil Amira ketika Galih tengah mencoba menyelimuti Kirana yang tertidur dalam posisi duduk sambil bersandar pada bed Amira.


“Ya? Kenapa? Amira mau apa?”


“Amila haus,” katanya.


Galih meraih gelas yang ada di meja persis di sebelah Amira. Dengan perlahan dia menyendok air putih itu kemudian menyuapkannya pada Amira sedikit demi sedikit.


“Sudah atau lagi?” tanya Galih setelah beberapa sendok.


“Udah….”


“Sekarang Amira tidur lagi ya, Mama juga sudah tidur tuh.”


“Papa…,” panggil Amira lagi.


“Kenapa cantik?”


“Papa bantuin Amila dong,” katanya.


“Bantuin apa?”


“Papa bisa buat Mama teltawa lagi kan? Amila nggak mau lihat Mama nangis telus,” katanya malah ikut menangis.

__ADS_1


“Iya, Papa akan buat Mama ketawa lagi tapi Amira juga harus janji sama Papa Amira harus sehat ya, Amira nurut sama dokter Hengki biar bisa sehat lagi terus nanti kita bertiga bisa jalan-jalan sebanyak yang Amira mau,” kata Galih sambil mengelus kepala Amira agar gadis itu melupakan rasa tidak nyaman di hidungnya yang terpasang kanula nasal.


“Amila nggak mau, Amila takut. Amila nggak mau pelgi. Amila maunya di sini sama Papa Galih bukan sama Papa Laihan di sulga. Soalnya Papa Laihan jahat sama Amila sama Mama,” kata gadis kecil itu.


“Nak, kepergian Papa Raihan bukan karena Papa yang mau. Allah yang lebih sayang sama Papa Raihan. Andai Papa bisa milih pasti Papa Raihan akan lebih memilih di sini sama Amira dan Mama. Papa Raihan itu sayaaaang banget sama Mama sama Amira,” kata Galih mencoba menjelaskan.


“Papa bohong ya?”


“Nggak bohong kok. Beneran deh.”


“Tapi kenapa Papa Laihan memilih untuk pelgi?”


“Amira sayang, kita hidup itu kan ada batasannya. Kalau memang sudah waktunya pergi kita tidak bisa memilih untuk tetap tinggal. Nanti suatu saat juga Amira, Mama, Papa Galih semua akan kembali sama Allah. Tapi kita di sana akan bareng-bareng lagi, makanya Amira berdoa sama Allah biar Amira bisa sama-sama Papa sama Mama lagi di surga nanti,” kata Galih.


Rasa-rasanya malah Galih yang hampir menangis. Dia tidak pernah menyangka jika ternyata kedua wanita hebat ini begitu rapuh tanpa kehadiran tiang penyangga mereka. Galih baru ingat, dia mengenal siapa Raihan setelah tidak sengaja melihat foto pernikahan Kirana dan Raihan terpajang di dekat televisi rumah Papa Bagus tempo hari.


Walaupun hanya sedikit yang dia tahu dari sosok Raihan Dhananjaya, tapi dia sudah bisa menarik kesimpulan bahwa Raihan adalah laki-laki yang penuh dengan tanggung jawab. Dia tidak sama seperti yang selama ini Amira katakan.


“Amira, kalau nanti di dalam mimpi Amira ketemu sama Papa Raihan coba Amira tanya apakah Papa sayang sama Mama atau nggak, pasti jawabannya sayang. Kalau Papa nggak sayang buat apa Papa nemenin Amira di dalam mimpi. Itu tandanya Papa sayang sama Amira,” kata Galih lagi.


“Benelan ya Pa? Bukan kalena mau bawa Amila pelgi kan?"


“Papa…,” Amira kembali memanggil Galih setelah beberapa menit terdiam sambil memejamkan mata.


“Hmm?”


“Kalau Amila mau opelasi Papa janji mau nemenin Mama kan? Soalnya Mama takut banget kalau Amila kenapa-napa. Jadi Papa halus temenin Mama bial Mama nggak nangis,” kata Amira.


“Papa janji. Papa akan temenin Mama,” kata Galih.


“Kalau gitu aku mau diopelasi Pa,” jawab Amira sambil tersenyum. Galih ikut tersenyum kemudian mencium kening putri kecilnya.


“Tidur ya, sambil Papa bacain dongeng,” kata Galih sambil mendongeng untuk membantu Amira tidur kembali.


...***...


Begitu Kirana mendengar Amira mau di operasi, dia menghujani Amira dengan ciuman. Dia sungguh berterima kasih pada Galih yang berhasil membujuk Amira. Tanpa ragu Kirana melangkah untuk memeluk Galih. Dia terus berterima kasih sambil memeluk Galih dengan begitu erat.

__ADS_1


Amira melihatnya, Galih juga mampu melihat gadis kecil itu tertawa sekarang, “kan sudah kubilang Mama kalau sama Papa pasti bahagia. Mama jangan nolak-nolak Papa lagi ya Ma,” kata Amira pada Kirana yang masih bertahan dalam pelukan Galih.


Kirana mendengar penuturan putrinya kemudian melepaskan pelukan Galih lalu beralih pada Amira. Kirana kembali menciumi pipi Amira sambil mengiyakan dan meminta Amira berhenti mengadukan semua kegalauan Mamanya pada Galih.


“Tok…, tok…,” kata seseorang dari ambang pintu. Ternyata tante Ratna datang bersama dokter Hengki.


“Halo doktel Hengki, doktel Latna,” kata Amira sambil dadah pada kedua dokter senior itu.


“Selamat pagi Amira ceria ya pagi ini,” kata tante Ratna.


“Semalem Amila ketemu sama Papa Laihan. Kata Papa, Amila boleh tinggal di sini sama Papa Galih. Papa Laihan nggak malah,” kata Amira.


“Wahh, seneng ya Amira sudah mau punya Papa baru,” goda tante Ratna merujuk pada Kirana dan Galih yang berdiri dengan malu-malu.


“Apa sih tante,” kata Kirana.


Dokter Hengki segera mengatur jadwal operasi Amira. Sekalian juga mengatakan pada Amira dan Mamanya bahwa mulai hari ini Amira harus puasa. Agar operasinya malam nanti bisa berjalan dengan lancar. Setelah itu kedua dokter itu berjalan keluar dari ruang inap Amira diikuti oleh Galih yang mengantarnya sampai depan pintu.


“Ngomong-ngomong dokter Ratna, tadi sejak di parkiran saya sudah mendapatkan izin Amira jadi sepertinya saya tidak jadi minta tolong,” kata dokter Hengki pada seniornya.


“Telat kamu bilangnya, saya sudah di sini,” kata dokter Ratna.


“Ya kan saya pikir dokter sekalian berangkat kerja sekalian saya beri tahu,” jawab dokter Hengki.


“Nggak ada jadwal saya hari ini. Kan sejak minggu lalu saya sudah bilang tanggal 10 mau pergi sama Bapak. Gara-gara kamu nih Bapak jadi nunggu di rumah, padahal harusnya sudah bisa berangkat,” kata Ratna.


“Mau ke mana sih Bu? Bukannya cuma mau jalan-jalan ya ke tempat besan?” kata Galih yang tidak sengaja mendengar percakapan itu.


“Nganter menantu katanya kangen Papa Mamanya, ya sudah mumpung Bapak juga lagi nggak ngantor mau sekalian main ke sana mengunjungi saudara-saudara sekalian, sama ke rumah nenekmu niatnya. Tapi sudah siap mau berangkat dokter Hengki ini datang ke rumah katanya minta bantuan bujuk Amira,” jawab dokter Ratna.


“Maaf dok udah dibilangin juga,” kata dokter Hengki.


“Terus sekarang gimana? Apa Bapak sudah di sini atau Ibu pulang dulu?”


“Ya Bapak masih nunggu di rumah, ini ibu mau pulang.”


“Aku antar saja gimana, boleh kan?” tawar Galih.

__ADS_1


“Boleh sekali. Kamu juga hutang cerita sama Ibu,” kata Ratna membuat Galih mengangguk.


“Siap, ndan. Akan saya ceritakan di jalan. Sebentar Bu, saya ambil kunci dulu sekalian pamit,” kata Galih.


__ADS_2