Baret Biru

Baret Biru
55. Panggil Saja Papa


__ADS_3

Memperhatikan tumbuh kembang seorang anak adalah sebuah kewajiban untuk orang tua. Minat dan bakat seorang anak juga harus segera dikenali agar seorang anak bisa secepatnya mengembangkan hobinya. Mungkin banyak orang tua yang menentang cara Kirana yang sudah mengikutkan Amira kelas musik bahkan sebelum usianya genap 5 tahun. Tapi kembali lagi hanya Kirana yang mengenal dengan baik seperti apa Amira.


Pada pertemuan pertama dia masih malu-malu. Dia terus bergelayut di lengan Mamanya dan selalu saja ragu menyentuh alat musik di hadapannya walaupun Amira sudah sangat-sangat ingin tahu tentang alat musik itu. Dia malu karena menjadi pusat perhatian oleh beberapa ibu-ibu yang mengantar anak mereka. Bahkan Kirana tahu ada beberapa yang mulai membicarakan soal Kirana.


Ting…


Ting…


Guru musik Amira bernama Gina, seorang gadis lulusan S1 seni musik asal Bandung yang memilih untuk tetap tinggal di kota istimewa ini dengan membuka sebuah studio dan kelas musik. Dia yang kerap disapa teh Gina oleh ibu-ibu yang anaknya mengikuti kelas musik di sini memancing Amira dengan bunyi piano di hadapannya. Beberapa denting membuat Amira yang semakin penasaran mulai berjalan mendekat. Perlahan dia melepaskan genggaman tangan Mamanya dan berjalan mendekati bu guru yang mengajaknya untuk bermain bersama.


Pada pertemuan kedua Kirana memilih untuk meminta kelas privat untuk Amira. Kirana bukan tidak ingin putrinya bersosialisasi dengan teman-temannya, hanya saja Amira dirasa masih terlalu kecil dan masih terlalu dini untuk bergabung dengan yang sudah lebih lama belajar di sini. Lagi pula Kirana kan hanya berniat agar putrinya bersenang-senang sambil menyalurkan bakatnya bukan untuk fokus mempelajari musik seperti yang lainnya.


“Baru berapa minggu di sini tapi Amira sudah mulai mengerti bagaimana cara memainkannya. Cuma ya belum lancar karena jari-jarinya masih terlalu pendek. Ada beberapa bagian dimana dia kesulitan memainkannya, tapi kuakui putrimu sangat berbakat mbak. Untung ketahuan dari awal, jadi kita bisa membimbing dia sedini mungkin,” kata teh Gina pada Kirana di sela-sela permainan Amira.


“Yah karena dari kecil dia selalu tertarik pada bunyi-bunyian. Aku pikir awalnya hanya karena dia sedang belajar mengenali lingkungan sekitarnya saja, tapi semakin kesini kok dia semakin suka membunyikan sesuatu. Dia juga selalu merespon lagu-lagu yang kuputar. Ini juga hanya uji coba, kalau dia bosan atau tidak mau mungkin aku akan berhenti,” kata Kirana.


“Jangan mbak. Jangan keluar dong. Bakat seperti Amira ini langka lho. Kalau mbak izinkan, aku pengen mengantar Amira jadi seorang pemusik yang handal. Siapa tahu kan masa depannya cerah di musik,” kata Gina.


“Kalau untuk itu aku kembalikan ke Amira. Dia yang akan menjalani, aku cuma bisa mengarahkan tapi kalau anaknya nggak mau aku juga tidak akan memaksa,” kata Kirana.


“Bu gulu, ini kok kotak-kotak?” tanya Amira sambil memperlihatkan selembar partitur pada gurunya.


“Ini namanya partitur Ra, nanti kalau Amira sudah sekolah bu guru ajari membacanya ya,” kata Gina.


“Mama, kenapa Amila belum sekolah?” tanya Amira kini pada Mamanya.


“Kan Amira masih kecil. Nanti kalau Amira sudah ulang tahun yang kelima kita sekolah ya. Biar Amira pintar membaca, bisa menulis, sama bisa baca partitur juga,” kata Kirana.


“Kalau Amila baca patitul ini Amila bisa pintel main musik bu gulu?” tanya Amira.


“Tentu. Kalau sekarang Amira belajar mengenal nada dulu sama bu guru yuk. Kita mainkan lagu kesukaan Amira ya,” ajak gurunya membuat Amira langsung menggandeng tangan bu gurunya untuk duduk di depan keyboard lagi.


Kirana tidak ingin mengganggu putrinya jadi dia berjalan keluar dan memilih untuk duduk menunggu Amira di kursi yang ada di depan. Untuk menghilangkan bosan, Kirana meraih sebuah majalah yang ada di meja kemudian membolak-balikkannya karena sebenarnya dia tidak begitu tertarik pada majalah fashion. Sedangkan Amira di dalam ruangan asik bermain musik bersama gurunya.

__ADS_1


Ketika hari semakin sore, Kirana mengembalikan majalah itu ke tempatnya semula kemudian melangkah masuk untuk memperingatkan Amira kalau sekarang sudah waktunya untuk mereka pulang.


“Besok lagi ya sayang,” kata Kirana.


“Iya Ma,” jawab Amira tanpa tenaga. Dia kelihatan murung ketika Mamanya mulai membantu dia memakai jaketnya.


“Gi…,” panggil seorang laki-laki dari ambang pintu membuat seluruh isi ruangan menoleh padanya.


“Om Gilang…,” panggil Amira dengan riangnya. Dia mengingat laki-laki itu. Dia adalah orang yang sudah membantu Amira dan Mamanya di supermarket kemarin.


“Gilang? Galih Amira…,” koreksi Galih yang ternyata juga masih mengenali Amira.


“Kok lo bisa kenal sama muridku?” tanya Gina dengan kalimat santai pada laki-laki ini.


“Kemarin baru aja kenalan. Nggak nyangka juga kalau ternyata putrinya Neng Kirana ini muridmu,” kata Galih.


“Saya juga nggak nyangka ternyata anda kenal dengan Teh Gina,” kata Kirana.


“Galih Amira…,” koreksi Galih sekali lagi.


“Uhh susah. Bial gampang boleh nggak Amila panggil papa aja?” celetuk Amira membuat Kirana segera menghentikan putrinya yang ngelantur.


“Hus. Amira, kamu nih. Jangan asal dong, ayo minta maaf sama om Gilang e…, maksud Mama om Galih,” kata Kirana pada putrinya.


“Si eneng juga salah memanggil nama saya. Biar gampang panggil sayang aja gimana,” kata Galih.


“Hus! Jangan kumat gembul!" kali ini Gina yang memukul belakang kepala Galih dengan santainya.


“Aww! Sakit Gigi!” kata Galih.


“Aduh maaf, maaf banget anak saya nakal. Maaf, ya jangan dipikirkan yang tadi anak saya bilang,” kata Kirana yang merasa tidak enak.


“Nggak papa, namanya juga anak-anak. Maaf juga yang barusan saya bilang. Jangan diambil hati, saya hanya bercanda. Maaf bercandaan saya suka kelewatan,” katanya ikut meminta maaf.

__ADS_1


“Kalau begitu kami pamit dulu. Sudah sore juga, ayo Amira salim dulu sama bu guru,” kata Kirana meminta Amira untuk berpamitan pada gurunya.


“Bu gulu Amila pulang dulu,” kata Amira sambil cium tangan.


“Ya, hati-hati ya, minggu depan kita ketemu lagi.”


“Papa, Amila pulang dulu,” pamitnya pada Galih juga.


“Hati-hati manis,” kata Galih menerima salam dari Amira.


“Dadah bu gulu, dadah papa,” kata Amira sambil melambaikan tangan.


“Amira…,” tegur Kirana sekali lagi.


Begitu keduanya meninggalkan tempat, Kirana kembali menegur putrinya dan membuat Amira sedih dan diam saja bahkan menangis begitu sampai di rumah. Amira langsung berlari masuk ke dalam gendongan Akung yang tengah duduk di teras bersama Uti sambil menikmati segelas kopi hangat dan gorengan.


“Kenapa cucu Akung pulang main musik kok nangis?” tanya Akung.


“Mama malah Kung,” adu Amira.


“Kamu marahi kenapa Ki?” tanya Mama pada Kirana.


“Mama masih ingat kan om baik yang Amira kemarin ceritakan? Kita ketemu lagi tadi di tempat les dan Amira manggil dia Papa gitu aja, aku malu Ma kan aku nggak kenal juga. Waktu aku tanya ke Bang Adnan juga kan Abang nggak kenal orangnya yang mana,” kata Kirana.


Mendengar itu membuat Papa dan Mama mengerti kemudian membantu memberikan pengertian pada Amira yang masih bersedih, “Amira, Amira pengen punya Papa, hmm?” tanya Akung pada cucunya.


“Iya, Amila mau punya papa bial bisa main sama amila kaya temen-temen Amila,” katanya.


“Tapi Amira nggak boleh sembarangan manggil orang dengan sebutan Papa ya, kan Amira nggak tahu om baik itu punya anak juga atau nggak. Kalau ternyata om baik itu punya keluarga masa Amira mau rebut om baik dari keluarganya? Amira juga kalau mainannya diminta nangis kan? Kalau Amira mau punya papa ya Amira bilang sama Mama, biar nanti Mama yang cari papa untuk Amira, Amira fokus belajar dan jangan lupa berdoa ya. Besok lagi jangan diulangi ya pinter,” kata Akung dengan begitu sabarnya memberikan  pengertian pada cucu pertamanya.


“Iya Kung,” kata Amira.


Kirana sudah lebih dulu masuk. Dia segera menutup pintu kamarnya dan mumpung Amira sedang bersama dengan kakek dan neneknya, Kirana kembali menumpahkan air matanya. Kirana memang bilang dia tidak mau mencari-cari lagi tapi andai mereka tahu Kirana hanya ingin mencoba setia. Seumur hidup Kirana tidak akan bisa membalas cinta Raihan dengan layak, Kirana hanya berusaha menjadikan Raihan yang terakhir untuknya sebagai rasa terima kasih yang terdalam untuk laki-laki yang sudah berjasa besar dalam hidupnya itu. Pada suaminya tercinta.

__ADS_1


__ADS_2