Baret Biru

Baret Biru
44. Pertemuan Setelah Sekian Lama


__ADS_3

“Abang, ini gimana kita baliknya?” tanya Kirana yang baru menyadari jika sejak tadi keduanya berjalan sudah sampai di titik 0 km.


“Waduh. Iya nih, kalau balik kejauhan. Kasihan kamunya,” kata Raihan.


“Yaudah deh, aku tunggu sini aja Abang ambil mobil,” kata Kirana.


“Hah? Yang bener nih? Kamu Abang tinggal?” tanya Raihan.


“Iya nggak papa, Abang tinggal aja. Nih Kirana mau main hp aja biar lupa kalau lagi sendiri,” kata Kirana.


“Ok, kamu hati-hati ya. Pakai aja headsetnya, terus sambungin telepon ke abang. Kita sambil teleponan ya,” kata Raihan mulai memakai earpods bluetoothnya.


Sekitar 5 menit berselang sejak kepergian Raihan. Kirana masih mendengar deru nafas Raihan yang berjalan secepat yang dia bisa untuk menuju ke tempat parkir. Kirana tersenyum sambil memandangi foto yang beberapa waktu lalu mereka ambil di depan gerbang benteng Vredeburg. Kirana memasangnya sebagai wallpaper baru di handphonenya sedangkan Raihan memasangnya sebagai foto profil akun media sosialnya.


“Abang sudah sampai di parkiran nih, bentar ya. Tunggu sebentar lagi,” kata Raihan.


“Iya Bang, santai aja. Aku nggak papa kok,” kata Kirana.


“Oh, kupikir tadi senyum-senyum sendiri karena kehabisan obat, tahunya lagi telponan,” kata Aksara yang berdiri di belakang Kirana mengenakan seragam lengkap dengan senapan laras panjang di tangan.


“Eh Dek Aksara…, tugas Dek?”


“Asal banget manggil Dek. Kita seumuran ya,” kata Aksara tidak terima.


“Ah masa sih, mukamu imut gini masih kaya anak SMA lho. Hayo Dek Aksara nyolong baju Ayah ya, nanti Mbak Kirana bilangin om Aji lho biar dihukum,” kata Kirana menggoda sahabatnya ini.


“Apaan sih. Kirana please deh. Gue sekarang polisi beneran. Brimob nih,” katanya dengan begitu bangga.


“Iyain iya,” kata Kirana.

__ADS_1


“Lo di sini sendirian ngapain Ki?”


“Nunggu suamiku. Orangnya lagi ambil mobil di Abu Bakar,” kata Kirana.


“Buset. Kurang jauh neng parkirnya,” kata Aksara.


“Ya soalnya tadi jalannya dari sana, tapi pas mau balik udah nggak kuat. Abis berat,” kata Kirana sambil menunjuk perutnya.


“Ki, menurut lo gue bisa nikahin Kaori nggak ya?” tanya Aksara.


“Pasti bisa. Kan gue yang comblangin lo berdua. Percaya aja, gue ini nggak pernah gagal dalam hal beginian,” kata Kirana.


“Dek? Mama? Eh aku sudah deket nih, kamu ngobrol sama siapa? Ayo eh cepetan, mumpung lagi lampu merah. Soalnya kalau aku berhenti bisa dimarahi banyak orang ini,” kata Raihan melalui telepon.


“Eh iya Bang maaf.”


“Sa, gue pulang dulu ya. Salamin buat Kaori, bye Sa. Semangat kerjanya,” kata Kirana pada temannya ini.


...***...


Setelah masuk ke dalam mobil, Kirana lebih dulu menjelaskan siapa yang mengobrol dengannya tadi. Dia adalah Aksara Langit, putra sulung om Aji sahabat Papa jaman masih di brimob. Kirana juga menjelaskan jika alasan dia dan Aksara akrab hanya karena Kirana membantu Aksara untuk mendapatkan pujaan hatinya yang tidak lain adalah putri ketiga Ndan Novan yang sekarang menjabat sebagai salah satu pejabat tinggi di mabes polri.


Raihan hanya mengiyakan. Dia bukan tipe pencemburu sebenarnya, tapi istrinya ini selalu menjelaskan siapa saja laki-laki yang dekat dengannya. Katanya agar Raihan tidak salah paham. Sama seperti Raihan yang begitu hati-hati menjaga Kirana, Kirana pun melakukan hal yang sama. Dia selalu memastikan jika Raihan yang sudah sangat baik padanya ini tidak akan tersakiti karena tingkah lakunya. Makanya Kirana jadi memiliki kebiasaan baru untuk menceritakan semua yang dialaminya pada sang suami.


Kondisi 0 km agak macet berhubung ini adalah hari Jumat dan hari mulai sore. Raihan padahal hanya akan berbelok ke kiri, tapi karena lalu lintas di depan sedang padat dia jadi terhenti. Ketika Raihan sedang menunggu di dekat gerbang masuk taman pintar, dia dan Kirana sama-sama melihat seseorang sedang membantu polantas mengatur kendaraan. Dia memakai pakaian hitam, baret biru, lengkap pula dengan senjata yang lekat dengan image seorang brimob.


Raihan langsung menoleh ke arah Kirana yang terdiam kaget melihat laki-laki itu. Dia adalah Keenan mantan kekasihnya yang menghilang 5 tahun lalu. Dia yang dulu berjanji akan menikahinya tapi pergi begitu saja meninggalkannya. Mantan yang tidak pernah bisa Kirana lupakan karena luka yang sudah dia gores di hati Kirana.


“Ma…,” panggil Raihan.

__ADS_1


“Itu kan…,” kata Kirana dengan tatapan mata yang setengah kosong ke arah Keenan yang tersenyum ketika orang yang dibantunya mengucap terima kasih.


Keenan awalnya tidak menyadari jika dalam mobil yang tepat berada di belakangnya ini adalah Kirana dan suaminya. Keenan terlalu sibuk untuk melihat siapa saja yang lewat di sana. Setelah berhasil menyeberangkan sebuah bus, Keenan berbalik dan memberi aba-aba untuk kendaraan di belakangnya bisa melintas dengan hati-hati. Barulah ketika itu dia menyadari jika wanita yang tengah duduk di dalam mobil itu adalah Kirana. Keenan mengenalinya walau hanya dari bayangannya saja yang tampak. Dia juga menyadari jika Kirana terus menatap ke arahnya. Dia juga masih mampu untuk mengetahui jika Kirana saat ini hampir menangis.


Begitu diberi aba-aba untuk lewat, Raihan langsung menjalankan mobilnya dan sesegera mungkin pergi menjauh dari sana. Raihan tadinya akan membawa Kirana ke rumah Papa, tapi tiba-tiba Kirana memintanya untuk membawa dia ke rumah Adnan. Raihan tidak bisa menolak karena dia merasakan emosi yang begitu besar dari Kirana.


Begitu sampai di halaman rumah Adnan, Kirana langsung turun dan tanpa peduli apapun dia langsung memukuli kakaknya sendiri. Adnan tentu saja bingung dengan apa yang terjadi. Dia hanya bisa menenangkan, dia juga sama khawatirnya dengan Raihan saat ini melihat Kirana menangis sambil mengamuk seperti tidak ingat jika dia sedang berbadan dua.


“Bang, Kirana kenapa?” tanya Lucy yang juga berada di dekat Adnan.


“Abang tahu kan selama ini?! Abang tahu Keenan ada di sini, tapi kenapa Abang nggak pernah kasih tahu Kirana?!” amuk Kirana pada kakaknya.


Begitu nama itu disebut, wajah Adnan memucat. Dia ikut terjatuh ketika tubuh Kirana merosot ke bawah. Kirana masih terus berusaha memukuli Adnan walaupun dia mulai merasakan denyut di perutnya.


“Adek…,” panggil Adnan.


“Abang pembohong! Abang tega! Kirana benci sama Abang!!!” teriak Kirana.


“Kirana istighfar…,” kata Raihan mulai menahan tangan Kirana dan mencoba menenangkan istrinya dengan memeluknya.


“Maafin Abang Dek,” kata Adnan bahkan tanpa tenaga.


“Kirana benci sama Abang. Kirana nggak mau lagi ketemu sama Abang!” Kirana langsung berusaha untuk berdiri dan pergi dari sana tanpa mau mendengar penjelasan Adnan.


“Lucy, kamu tenangin Adnan. Kirana biar Abang yang urus,” kata Raihan pada Lucy.


Adnan dan Lucy melihat mobil yang dikendarai Raihan dan Kirana mulai menjauh. Ketika itulah Adnan kembali kehilangan tenaganya dan terjatuh begitu saja di kursi yang ada di teras rumahnya.


Lucy nyaris menangis melihat suaminya seperti menyesali hidupnya. Dengan telaten dia bawa suaminya masuk ke dalam kamar, kemudian dia berjalan ke dapur mengambilkan segelas air. Lucy masih berusaha memenangkan atensi Adnan tapi nihil. Adnan tidak menggubris kata-katanya.

__ADS_1


“Abang…,” kata Lucy sambil memeluk suaminya. Memasukkan kepala Adnan dalam dekap hangatnya.


“Abang minta maaf Dek, maafin Abang, Abang salah. Jangan benci sama Abang Kirana maaf,” gumam Adnan akhirnya membuat Lucy menangis juga.


__ADS_2