
Happy weekend teman-teman pembaca semua mumpung hari minggu author double update. Semoga readers semua suka ya ❤️
jangan lupa like, comment, dan votenya semua 🤗🤗
...🌱Ji🌱...
Keenan menepati janjinya. Dia pagi itu langsung menjemput Kirana dan mengajaknya ke suatu tempat untuk membicarakan perkara kemarin. Lumayan sambil ngobrol mereka cari bubur. Pagi-pagi betul Bunda sudah sibuk dengan pekerjaannya dan Ayah masih di luar kota membuat perut Keenan keroncongan. Untung Kirana mau diajak duduk di salah satu penjual bubur kacang hijau pinggir jalan dan memesan 2 mangkuk untuk mereka berdua.
“Dah, mau ngomong apa?” tanya Keenan.
“Soal kemarin,” kata Kirana.
“Soal apa?”
“Kemarin. Aku tahu kamu lihat Bang Raihan ngusak rambutku,” kata Kirana.
“Terus?”
“Aku nggak mau bela diri. Aku cuma mau ngomong maaf, aku kasih macaron itu ke Bang Raihan karena memang aku Lucy sama Ningrum udah sepakat kasih Bang Raihan sesuatu. Dia pelanggan setia di cafe. Selalu sama jam datang dan pesanannya. Lucy juga yang siapin macaronnya, tapi kan pas Bang Raihan datang dia lagi sibuk di dapur ngurus kue makanya aku yang kasih,” kata Kirana panjang lebar.
Keenan tersenyum lalu dia mengusap kepala Kirana, “Dimaafin kok.”
“Tapi aku cemburu,” kata Keenan lagi.
“Nggak papa. Biar sekali-kali kamu yang ngerasain cemburu nggak aku terus. Gimana rasanya? Nggak enak kan? Sukurin,” kata Kirana yang langsung meledek Keenan.
“Ya Tuhan baru dimaafin bukannya dibaik-baikin malah disukurin,” kata Keenan sambil menyentil dahi Kirana.
“Aww…! Sakit!” ganti Kirana yang memukul lengan Keenan.
Setelah sarapan bubur, Keenan mengantar Kirana ke kampus. Katanya dia harus bimbingan jadi selama Kirana menyelesaikan urusannya, Keenan pergi ke base campnya menyapa junior-juniornya di BEM. Sudah lumayan lama juga dia tidak pergi ke base camp. Ketika dia berjalan masuk ke dalam markasnya, dia melihat junior-juniornya sedang membuat spanduk di halaman dan langsung menyapanya.
“Loh demonya besok?” tanya Keenan.
__ADS_1
“Iya Bang,” kata salah satu yang sedang menuliskan sesuatu di atas kain putih besar.
“Demo di mana rencananya?”
“Di halaman depan rektorat. Kasus kekerasan terhadap perempuan di wilayah kampus kita semakin marak terdengar Bang, aku nggak bisa diam saja,” katanya lagi.
“Semangat ya. Inget etika demo kaya apa. Dibilangin juga sama personil yang ikut besok buat jangan rusuh. Jangan bikin nama BEM jadi jelek,” kata Keenan.
“Siap Bang.”
Jadwal Keenan mendadak padat hari ini. Karena pagi tadi dia sudah menjemput Kirana jadi dia harus bertanggung jawab mengantar gadis itu kemanapun dia pergi. Keenan bahkan harus menemani Kirana belanja banyak hal di warung grosiran. Agenda kerja Kirana hari ini adalah membeli bahan-bahan seperti sirup, soda, bubuk coklat, coklat compound, keju, whipped cream dan bahan-bahan lainnya yang Keenan tidak akan hafal satu per satunya. Mereka melangkah keluar dengan satu kardus besar berisi belanjaan masih ditambah satu kresek yang tidak kecil ukurannya berisi gelas plastik, cup, dan sedotan.
“Wahh, Ki. Kalo begini caranya aku nggak akan betah,” kata Keenan.
“Apaan?” tanya Kirana.
“Aku nggak betah jadi pacarmu.”
Baru pagi tadi mereka baikan kenapa tiba-tiba Keenan bilang tidak betah menjadi pacar. Mendengar apa yang diucapkan oleh Keenan membuat Kirana berhenti dari kegiatannya dan bersiap melempari Keenan dengan spatula yang ada di tangannya.
Lucy dan Ningrum yang mendengarnya saja geleng-geleng apalagi Kirana yang tidak habis pikir dengan ucapan Keenan barusan. Bukannya marah dia malah melongo tidak percaya. Baru sekali dia merasakan cemburu sudah bilang begitu, lalu apa kabar Kirana yang sudah sering kali merasakannya?
“Keenan sehat?” tanya Kirana.
“Sehat.”
“Masih sanggup nafas kan?”
“Masih,” jawab Keenan bingung bukannya menjawab iya atau tidak kekasihnya itu malah balik bertanya padanya mana pertanyaannya tidak sambung lagi.
“Berani lanjut ngomong kamu nggak nafas beneran lho yakin,” kata Kirana membuat Keenan langsung tahu apa maksudnya.
Keenan yang takut langsung kabur. Dia keluar dari area dapur dan memilih untuk menyirami tanaman di luar. Hari sudah mulai sore jadi tidak ada salahnya kan pohon dan bunga-bunga yang sengaja ditanam di halaman depan ini dia sirami. Dia juga sedang tidak ada pekerjaan kok.
__ADS_1
Keenan sedang asik bersenandung sambil menyirami bunga-bunga yang dia tanam bersama Kirana, Lucy, dan Ningrum. Bunga-bunga itu sudah mulai besar dan mulai menampakkan keindahannya. Terutama bunga anggrek bulan berwarna putih yang dia hadiahkan pada Kirana setahun lalu. Mereka berdua merawatnya bersama di sini sebagai salah satu simbol dari seberapa besar komitmen mereka. Keenan tersenyum memandanginya. Dulu dia beli anggrek itu masih sangat kecil tapi sekarang berangsur-angsur besar dan mulai berbunga cantik.
“Selamat datang,” sapa Keenan pada sekelompok muda-mudi yang datang dengan sebuah mobil.
“Silahkan masuk,” kata Keenan membukakan pintu.
Kirana langsung menerima rombongan itu sambil tersenyum dan menanyakan akan pesan apa saja agar bisa dia catat.
“Ice vanilla latte 2, arktik ocean 1, random baby macaron 2, beef mushroom pizza 1, boba ice matcha latte 1,” katanya.
“Random baby macaronnya 2 mau dijadikan satu atau dipisah?”
“Jadikan satu saja.”
“Maaf atas nama siapa?” tanya Kirana.
“Galih.”
“Silahkan struknya dan ini nomor mejanya,” kata Kirana menyerahkan struk dan nomor meja kepada pelanggan yang baru saja datang.
Kirana segera menyebutkan kembali pesanannya agar Ningrum dan Lucy bisa segera membuatnya. Setelah jadi, Keenan yang bertugas mengantar pesanan pada pelanggan yang datang.
Baru saja Kirana bisa duduk dengan tenang dan bersiap minum, sudah terjadi keributan di luar. Ada yang berteriak copet dan Kirana dengan apesnya melihat kejadian itu. Dia langsung berlari mengejar pencuri itu. Kenapa dia bisa begitu peduli, karena yang kecopetan adalah orang yang baru saja dari cafenya.
Dengan secepat kilat Kirana mengejarnya dan langsung membekuknya bahkan belum sampai si pencuri berhasil lari lebih jauh. Kirana langsung menjatuhkannya dan mengunci tangan si pencuri ke belakang sedangkan di belakangnya si pelanggan bersama Keenan, Dimas, dan Seno menyusul. Beberapa pelanggan juga melongok keluar melalui jendela kaca karena penasaran dengan apa yang terjadi.
Semuanya bertepuk tangan memberikan applause pada Kirana yang berhasil mengejar dan membawa pencuri itu kepada polisi. Ada untungnya juga dia menyimpan nomor telepon Bang Raihan setidaknya dia bisa segera menghubunginya agar membawa pencuri itu ke kantor polisi agar bisa ditahan.
“Wow, keren banget,” puji seorang pelanggan Kirana.
“Se-level elo tuh Gi,” jawab temannya.
“Nggak sih kalah gue kalo diadu sama modelan begitu. Galih nih yang mungkin bisa ngalahin tuh cewek,” kata yang bernama Gigi.
__ADS_1
“Gue nggak mau ngelawan cewek,” jawabnya.
Setelah menyerahkan pencuri itu pada Bang Raihan, Kirana berjalan masuk kembali ke cafe dan meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Kirana segera melanjutkan tugasnya di balik meja kasir begitu melihat ada dua orang yang beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah kasir.