Baret Biru

Baret Biru
47. Demi yang Terkasih


__ADS_3

Sudah semalaman Kirana berada di dalam kamar operasi, dan hari ini masih harus dia habiskan di dalam kamar ICU dengan berbagai alat yang Raihan sendiri tidak tahu itu apa. Tak jauh berbeda nasibnya dengan putri kecilnya, Amira. Bayi mungil seberat 2,3 kg itu harus berjuang bertahan hidup dalam inkubator. Di hidung kecilnya Raihan bisa melihat selang yang menembus masuk ke dalam tubuhnya akibat nafas si bayi yang belum spontan. Sudah begitu, di dadanya juga terpasang alat rekam jantung yang terus mengeluarkan suara yang mendengarnya saja bisa membuat nyawa Raihan terasa lepas dari raganya. 


Pusing di kepalanya sudah tidak lagi dia rasakan. Dia hanya terus menenggak obat yang dibelinya dari apotek setiap kali rasa berdenyut di kepalanya tidak tertahankan. Raihan sudah memakai pakaian yang steril, masker dan sarung tangan lateks bersiap untuk masuk ke dalam ICU dan menemani Kirana ketika denyutan di kepalanya membuat dia tidak sadarkan diri begitu saja. 


"Ada penyumbatan pembuluh darah di kepala anda. Saran saya, anda juga dirawat dengan intensif di sini. Akan saya jadwalkan rontgen dengan lebih menyeluruh agar kita tahu apakah ada luka yang lainnya di kepala anda,” kata dokter yang menangani Raihan.


“Tidak dok. Tidak perlu,” kata Raihan.


“Pak, jangan seperti ini. Penyumbatan pembuluh darah di otak bisa berakibat fatal. Bukan hanya mengalami kebutaan atau mungkin kelumpuhan. Anda juga bisa kehilangan nyawa jika ini tidak segera ditangani,” bujuk dokter.


“Tidak dokter, saya yakin saya akan baik-baik saja. Anak istri saya masih dalam kondisi kritis. Tidak ada yang menjaga mereka berdua. Kalau saya sakit bagaimana saya akan menjaga keluarga saya?”


“Justru itu Pak Raihan, anda harus segera ditangani agar gejalanya tidak membahayakan nyawa anda sendiri,” kata dokter.


“Lalu jika saya mau di operasi, berapa persen kemungkinannya saya bisa siuman kembali? Apakah ada jaminan anak dan istri saya masih ada di sini dalam kurun waktu itu? Lebih baik saya tidak melakukan operasi itu, walau nyawa saya singkat tapi setidaknya masih bisa saya habiskan bersama anak istri saya. Saya mohon dokter mengerti, bagi saya saat ini setiap detik yang bergulir sangatlah berharga dok,” kata Raihan tak mampu menahan air matanya lagi.


“Baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusan anda. Akan saya resepkan obat dengan harapan penyumbatan itu akan sembuh dengan sendirinya dengan syarat anda tidak pernah skip untuk mengkonsumsi obatnya. Karena sejatinya tubuh anda saat ini tidak ada bedanya dengan bom waktu,” kata dokter lagi.


“Baik dok, terima kasih,” jawab Raihan.

__ADS_1


...***...


Sebulan terlewat, kondisi baby Amira membaik dan sudah dibawa pulang oleh Raihan. Dia titipkan putri kesayangannya pada kedua orang tuanya sedang dirinya masih harus mengurus Kirana yang belum juga mau membuka matanya. Di samping pekerjaannya yang mulai menggunung, sakit di kepalanya juga mulai mengganggu dirinya.


Sore ini sepulang bekerja, Raihan mampu mendengar tangisan sang putri bahkan sebelum dia sempat masuk ke dalam rumah. Raihan segera masuk, mencuci tangannya kemudian mengambil alih Amira dari pelukan neneknya yang bingung karena cucunya sejak siang tadi menolak minum susu. 


“Amira, kangen sama Mama ya. hmm? Kita ketemu Mama yuk, mau ya. Tapi Amira harus minum susu dulu, jangan buat Mama sedih,” kata Raihan dengan perlahan menjejalkan dot berisi susu formula ke mulut kecil Amira.


Dengan perlahan putri kecilnya itu mulai menghabiskan susunya. Perlahan namun pasti, Amira tertidur masih dalam peluk hangat ayahnya. Raihan meletakkan Amira dalam boks bayinya lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Setidaknya hanya dengan guyuran air dari shower dia bisa kembali mendapatkan kekuatan untuk menahan air matanya.


"Han, kamu mau bawa Amira ke rumah sakit?" Tanya Mama.


"Sebentar aja Ma, kasihan dia kangen Mamanya," kata Raihan.


"Tapi kalau nggak aku bawa ke rumah sakit, Amira nggak akan bisa tidur Ma. Dengar tangisan Amira nyari ibunya rasanya kayak nyawaku dicabut dari ujung kepala," kata Raihan.


"Han, kamu selalu memastikan kondisi anak dan istrimu baik-baik saja tapi bagaimana dengan kondisimu sendiri? Papa tahu kamu sakit tapi kamu sembunyikan dari mertua dan iparmu," kata Papa.


"Papa tahu dari mana?"

__ADS_1


"Nggak penting Papa tahu dari mana. Tapi coba kamu pikir Han, kalau kamu sampai kenapa-napa lalu bagaimana dengan Kirana dan Amira? Mereka berdua butuh kamu sebagai pilar penyangga. Kamu adalah pemimpin keluargamu. Kalau kamu tidak baik-baik saja lalu bagaimana keluargamu akan baik-baik saja? Kamu sendiri kan yang bilang ke Papa kamu ingin jadi sosok yang bisa mengayomi dan bisa disegani oleh anak dan istrimu. Buktikan itu Raihan, jadilah laki-laki yang pantas untuk Kirana dan Amira," kata Papa.


"Terus aku harus apa Pa? Lihat istriku terbaring tak berdaya dan putriku yang terus mencari ibunya, haruskah aku memikirkan diriku sendiri ketika dua permataku sedang berjuang antara hidup dan mati? Mereka memang butuh aku Pa, itulah kenapa aku menolak pengobatan itu demi mendampingi mereka berdua. Aku nggak mau kehilangan waktuku bersama mereka. Hidupku sekarang bagai di ujung tombak Pa. Aku bisa kapan saja kehilangan istriku, lalu jika ketika aku menjalani pengobatan itu Kirana pergi aku akan hidup dalam penyesalan yang begitu dalam. Aku bernyawa tapi tidak hidup Pa," kata Raihan yang sudah tidak lagi mampu menopang tubuhnya. Ketika itulah dia kembali mendengar Amira menangis. Mama dengan sigap membantu Raihan mengambil Amira dari boks bayinya, mengganti popoknya yang basah baru membawanya keluar agar bisa digendong oleh Papanya.


“Aku bahkan belum lama bisa memeluknya. Aku bahkan tidak keberatan jika saja aku harus menukar nyawaku dengan kesembuhan mereka berdua. Maafkan anakmu ini Pa, aku bukanlah anak yang selama ini kau banggakan. Aku tidak lebih dari seorang pengecut yang hanya bisa diam dan berharap saja pada keajaiban. Pa, Ma, andai suatu hari nanti datang waktu dimana Raihan pergi, tolong ikhlaskan. Terima Kirana dan Amira seperti Papa dan Mama menerima Raihan,” kata Raihan.


“Han, kamu tuh ngomong apa sih? Nggak. Kamu anak Mama, kamu jagoan Mama. Kamu akan baik-baik saja. Nggak peduli apapun itu kamu akan tetap baik-baik saja. Jangan bilang begitu Raihan kamu bikin Mama takut,” kata Mama.


“Mama, Mama ingat kan ketika Raihan cerita ke Mama tentang Kirana untuk yang pertama kalinya? Aku masih ingat kata-kata Mama ketika itu. Level tertinggi mencintai seseorang adalah ketika kita bisa ikhlas dia menemukan bahagianya walau tidak bersama kita. Mama minta Raihan untuk mengikhlaskan Kirana. Raihan ikhlas Ma, Raihan sudah ikhlaskan Kirana apapun yang terbaik untuknya. Jika dia yang harus pergi setidaknya dia tidak melewati siksaan yang terlalu berat, tapi andai Raihan yang harus pergi Raihan akan menerimanya. Asalkan Kirana dan Amira tetap bahagia,” kata Raihan.


“Amira Dhananjaya Yumna, dia putriku Ma. Dia adalah permata hatiku dan Kirana. Apapun yang terjadi dia tetap cucu Papa dan Mama. Tolong sayangi dia dan berikan kasih sayang selayaknya seorang kakek dan nenek pada cucunya. Andaipun Kirana suatu saat nanti akan menikah lagi, Papa dan Mama perlu ingat jika dalam pribadi ini mengalir darah Raihan anak Papa dan Mama,” kata Raihan.


“Keputusanmu terlalu ekstrim Raihan. Bagaimana jika Allah mengambil kalian berdua? Dengan siapa Amira akan hidup? Tega kamu membiarkan putrimu hidup tanpa kehadiran kedua orang tuanya?”


“Jika aku dan Kirana sama-sama pergi, berikan Amira pada Adnan dan Lucy. Aku yakin mereka berdua akan mengurus Amira dengan sebaik-baiknya. Mereka pasangan yang sudah menikah, tapi keduanya tidak kunjung diberikan momongan walau sudah sangat ingin. Jika aku dan Kirana pergi, mereka pasti akan menyayangi Amira seperti putri mereka sendiri. Aku yakin,” kata Raihan.


“Nak, menurutlah sama Mama. Ayo kita berangkat untuk menjalani pengobatan untukmu. Jangan seperti ini Raihan. Ini namanya kamu membunuh Mama pelan-pelan,” kata Mama.


“Raihan tidak akan tega membunuh Mama. Ayolah Ma, waktu Raihan sudah tidak panjang. Raihan tahu tubuh Raihan seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Ma, Pa, pura-puralah tidak tahu seperti sebelumnya. Raihan tidak mau meninggalkan jejak kesedihan di hati Papa dan Mama. Raihan ingin jadi pangeran kecil Papa dan Mama lagi. Anggaplah ini sebagai permintaan terakhir Raihan,” kata Raihan.

__ADS_1


“Sudah. Hentikan tangisanmu, lihat itu putrimu ketakutan lihat Papanya nangis. Kamu sampai kapanpun akan selalu jadi pangeran kecil Mama. Kamu selamanya akan jadi kebanggaan Papa, ada atau tidak adanya kamu di sini kamu akan selalu punya tempat di hati Papa dan Mama,” kata Papa berusaha menguatkan putranya.


Papa dan Mama memang tidak mengetahui pasti apa penyakit yang tengah menggerogoti tubuh putranya, tapi ketika Mama menemukan sampah tisu dengan noda darah dari tempat sampah yang ada di dalam kamar Raihan membuat Papa dan Mama tahu jika penyakit itu bukanlah penyakit yang main-main. Apalagi Papa pagi tadi sempat melihat Raihan mimisan dan dengan wajah yang teramat pucat terlihat menahan sakit di kepalanya sambil menenggak beberapa butir obat.


__ADS_2