
Mendengar hal itu jelas membuat Galih marah. Andai saja dia tidak terlatih menahan emosinya, dia pasti sudah berteriak dan memaki di hadapan kedua orang tua Bang Raihan ini.
"Berikan Amira padaku, dia adalah anak dari putraku. Dia adalah cucuku. Kalau kamu tidak mau menyerahkan Amira, akan kubawa masalah ini ke meja hijau," kata Mamanya Bang Raihan lagi.
"Maaf Bu, saya tidak bisa melakukannya. Tidak peduli perkara ini akan Ibu bawa ke pengadilan, tapi saya bisa pastikan jika hak asuh atas Amira akan ada di tangan saya dan istri saya. Kirana adalah ibunya, dan saat ini Kirana masih sehat wal afiat. Dia juga memperlakukan Amira dengan baik, ditambah lagi suami Kirana, saya, juga memperlakukan Amira dengan penuh kasih sayang. Andaipun anda bertanya pada putriku itu dia akan tetap memilih bersama dengan saya dan ibunya," kata Galih dengan sengaja menyebut Amira sebagai putrinya.
Mendengar pernyataan Galih jelas Mamanya Bang Raihan mengamuk. Beliau langsung mengusir Galih keluar dari rumahnya, "Pak, Bu, saya adalah putra dari Bapak Aji dan beliau tidak pernah mengajari anak-anaknya cara memutus tali silaturahmi tapi dengan anda berdua dengan berat hati saya harus melakukannya. Jangan datang lagi Bu, jika anda berani membawa perkara ini ke pengadilan maka saya pastikan anda tidak akan pernah bertemu lagi dengan Kirana dan Amira, permisi," kata Galih sebelum meninggalkan rumah.
"Kamu cuma anak pungut ngaku-ngaku anak Pak Aji. Nggak tahu diri kamu memang," kata Mama Hasna masih terus mengumpat.
Galih tidak lagi sakit hati mendengar kalimat itu. Sudah puluhan bahkan ratusan kali dia mendengarnya baik dari pihak keluarganya sendiri maupun dari orang luar yang tidak suka padanya. Hanya satu yang masih menjadi pegangannya adalah sikap Pak Aji yang selalu menegaskan padanya jika keluarga terbentuk bukan hanya karena ikatan darah tapi karena ada kasih sayang di dalamnya.
Konsep itu pula yang dia terapkan pada Kirana dan Amira. Galih yang tadinya belum mengenal siapa Kirana bisa menjadi begitu mencintainya hingga menerima apapun kekurangannya termasuk juga menerima Amira dengan tangan terbuka dan Galih Arsa bukan laki-laki yang akan melepaskan miliknya dengan semudah itu. Bahkan jika dia harus bertaruh nyawa demi keluarga tersayangnya pun dengan senang hati akan dia lakukan.
...***...
Orang tua Bang Raihan benar-benar membawa perkara itu ke pengadilan dan langsung berhadapan dengan Galih dan Kirana. Setelah menjalani proses hukum, akhirnya hakim mengetuk palu menyatakan jika hak asuh Amira tetap pada kedua orang tuanya, Galih dan Kirana.
Hal itu jelas saja membuat kedua orang tua Bang Raihan, terutama Mama Hasna sedih. Sudah tidak ada lagi harapan untuknya kembali memeluk serpihan ingatannya tentang sang putra yang sudah tenang di alam sana. Kirana baru saja kembali dari kantin membelikan sebotol air mineral untuk Amira ketika dia melihat Mama Hasna duduk sembari menangis dalam pelukan Papa Nandar di pelataran pengadilan.
Kirana berjalan mendekat, "Bu, berhenti menangis," kata Kirana yang bahkan tidak lagi memanggilnya "Mama".
"Sudah puas kamu sekarang? Kamu sudah menghancurkan hidupku dan ketika aku meminta Amira sebagai satu-satunya kenangan tentang anakku Raihan kamu menghalangiku," kata Mama masih sambil menangis.
"Bu, aku tidak akan menghalangi. Ibu adalah neneknya, Ibu punya hak untuk menemuinya. Tapi cara Ibu selama ini keliru Bu. Saya adalah istri Galih Arsa, bukan Raihan Dhananjaya. Saya paham, bahwa kepergian Bang Raihan bukanlah hal yang mudah diterima. Tapi cobalah untuk mengiklaskannya. Jangan ratapi kepergiannya terus menerus. Kasihan Abang di atas sana. Berat pasti Abang rasa jika di dunia ini masih ada yang menangisinya. Bukan hanya Ibu yang merasa kehilangan Bu, tapi saya juga demikian. Abang adalah titik balik hidup saya dan Abang pula yang memberikan kehidupan baru pada saya. Tapi hanya sampai situlah tugas Abang di dunia. Percayalah Bu, Abang akan lebih senang jika Ibu mendoakan Abang dibanding Ibu berusaha menghidupkan kembali kenangan tentang Abang dan berakhir menyakiti diri Ibu sendiri bahkan orang-orang di sekitar Ibu," kata Kirana.
__ADS_1
"Ma, apa yang Kirana katakan benar. Sudah ya, biarkan putra kebanggaan kita itu tenang di Surga. Jangan ditangisi lagi," kata Papa pada Mama.
Seketika Mama Hasna bangkit berdiri dan memeluk Kirana dengan erat. Dalam pelukannya itu Mama terus megucapkan kata maaf dan penyesalan atas apa yang pernah dia lakukan pada Kirana dan keluarga barunya.
"Ibu boleh menemui Amira sesekali. Aku yakin aa Galih akan mengizinkan," kata Kirana.
"Kirana, bahagialah bersama keluarga barumu. Mama ikhlas," kata Mama diangguki oleh Kirana.
"Pasti Ma," jawab Kirana.
"Kirana kalau boleh, Mama mau ketemu dengan suamimu juga Amira dan Tiar. Mama mau minta maaf sekaligus pamit," kata Mama.
...***...
"Nan, aku kenal kamu dan Bagus nggak sebentar. Aku hafal betul bagaimana karaktermu juga bagaimana keluargamu. Kalian berdua adalah anak buah kesayanganku dan aku katakan sekali lagi aku bangga sama kamu dan istrimu," kata Pak Aji pada juniornya itu.
"Bang Aji, maaf sudah membuat Abang dan keluarga kesusahan," kata Papa Nandar.
"Ei sudahlah, kayak sama siapa saja. Wajar dalam hidup ada gesekan begini. Yang penting sekarang kan kita semua sudah berbaikan. Sesekali mampirlah kemari, jangan putuskan kontak. Beri aku alamat rumahmu biar kapan-kapan aku bisa berkunjung ke sana," jawab Pak Aji lagi.
"Mbak Hasna, ku harap Mbak bisa segera bangkit kembali. Jangan terlalu banyak mengingat yang sudah pergi. Terus, kalau mau curhat aku akan dengarkan 24 jam khusus untuk Mbak. Karena aku adalah satu-satunya di sini yang merasakan sendiri sakitnya seorang ibu ditinggal pergi oleh anak kesayangannya," kali ini Bu Ratna yang bicara membuat Mama Hasna yang ada di hadapannya mengangguk dan memeluk rekannya itu begitu pula dengan Mama Cecil yang ada di sana ikut memeluk besannya itu.
"Sebelum berbesan kita sudah berteman. Jadi jangan putus kontak ya Mbak, karena sekali berteman maka akan begitu seterusnya. Di dunia ini nggak ada yang namanya mantan teman," kata Mama Hasna.
Selepas makan malam itu, kedua orang tua Bang Raihan pamit. Terakhir Amira, memberikan selembar gambar yang dia buat kemudian dia berikan pada kedua kakek neneknya, "ini dari Amira, kakek sama nenek jangan sedih lagi ya," kata Amira.
__ADS_1
"Makasih sayang, kamu baik-baik ya sama Mama sama Papa. Jangan lupain kakek sama nenek," kata Mama Hasna.
"Amira nggak akan lupa kok nek, soalnya Amira sudah bikin gambar yang ada kakek sama neneknya. Akan Amira pajang di kamar," kata Amira membuat semuanya tersenyum.
"Pak, Bu, saya jamin saya akan menjaga Amira dan Kirana juga Tiar dengan baik. Agar Bapak dan Ibu tidak perlu khawatir lagi. Menantumu aman di sini," kata Galih.
"Terima kasih ya nak, maaf Mama sudah membuatmu sakit hati," kata Papa pada Galih.
"Nggak lah Pak, saya paham kok," jawab Galih.
Mobil yang membawa kedua orang tua Bang Raihan kini sudah mulai berbelok di ujung gang dan tidak terlihat lagi. Kirana yang masih menggendong Tiar langsung mendekati suaminya yang mulai menggendong Amira. Saat itulah Tiar membuka matanya dan Amira mencium pipi adiknya diikuti Galih yang mencium pipi Kirana, Amira dan terakhir Tiar.
"Aku bersumpah aku akan usahakan semua yang terbaik untuk kamu dan anak-anak," kata Galih sebelum dia mengecup kening Kirana.
...~*END*~...
Readersku tersayang tercinta terima kasih ya sudah mendukung Baret Biru hingga sekarang.
Dengan sangat-sangat terpaksa aku harus endingkan novel ini, karena aku saat ini masih dalam tahap adaptasi dengan kehidupan yang baru. Sekalian juga aku mau minta maaf untuk readers semua yang kadang emosi nunggu aku yang lama up.
Tapi jangan khawatir ya, dalam waktu dekat aku akan mempersiapkan karya lainnya. Kali ini bukan soal polisi, tapi kita kulik kehidupan dan problematika keluarga dari profesi yang lain hehe.
Semoga readers semua nggak bosen dengan aku dan karya-karyaku. Terima kasih banyak atas dukungannya selama ini karena kritik, saran, serta like dari readers semualah yang membangun author Jia hingga detik ini dan akan terus begitu sampai nanti.
See you on the next story semuanya, bye~
__ADS_1