Baret Biru

Baret Biru
70. Hampir Ingkar


__ADS_3

Kirana terus berada di sebelah Amira bahkan tanpa menjauh sedikitpun. Dia terus mencoba mengiyakan semua permintaan Amira karena takut anak itu akan berubah pikiran. Hanya satu yang tidak bisa dia iyakan adalah permintaan Amira yang minta minum.


Gadis sekecil itu dipaksa untuk puasa padahal belum pernah sama sekali sebelumnya. Amira cukup tersiksa dengan perasaan haus yang terus melanda. Sampai akhirnya dia rewel dan menangis.


“Sayang ditahan sebentar ya, kan dokter bilang Amira tidak boleh makan dan minum sebelum operasi,” kata Kirana.


“Amila benci opelasi Ma,” katanya.


“Sama. Mama juga nggak suka operasi, tapi kalau Amira tidak dioperasi nanti Amira nggak sembuh-sembuh. Amira sudah janji kan kalau Amira mau jadi putrinya Papa Galih Amira harus sembuh dulu,” kata Kirana.


“Papa mana Ma?” tanya Amira yang mulai menyadari jika Papa barunya sedang tidak berada di dekatnya.


“Papa lagi nganter dokter Ratna kan tadi, ditunggu saja. Paling sebentar lagi juga sampai. Hmm…, gimana kalau sambil nunggu Amira bobok siang dulu? Nanti kalau Amira bangun Papa pasti sudah sampai di sini,” kata Kirana.


Amira mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Sejenak Kirana bisa bernapas lega. Sebenarnya dia juga heran, kenapa Galih belum juga kembali padahal sudah 3 jam berlalu sejak kepergiannya. Kalau dia hanya mengantar tante Ratna pulang, untuk bolak balik termasuk jika dia mengobrol tidak akan sampai 1 jam lamanya. Ketika Kirana mengirim beberapa pesan juga tidak satupun terbalas.


...***...


Galih buru-buru menuju ke markas ketika mendengar bawahannya membuat masalah. Orang itulah yang beberapa waktu lalu membuatnya dihukum oleh Adnan dan saat ini dia kembali berulah. Katanya orang itu membuat salah satu juniornya masuk ke rumah sakit dan mengalami patah tulang setelah jatuh ketika sedang berlatih di wall climb.


Begitu Galih melihat orang itu tengah berdiri di depan tiang bendera dia langsung naik pitam. Tangan kanannya meraih sapu yang kebetulan dia lihat bersandar di dinding samping pos jaga. Jika saja bukan karena Keenan yang menahannya dia pasti sudah memukuli laki-laki yang bernama Leo ini.


“Kamu kerja sama saya sudah berapa tahun?” tanya Galih tanpa basa basi.


“Jawab sudah berapa tahun!” teriak Galih karena tidak segera mendapatkan jawaban.


“Siap. 3 tahun, Ndan.”


“3 tahun saya ngajarin kamu masa nggak ada satupun yang nyantel. Pernah saya ngajari kamu begitu? Karena kamu saya berkali-kali ditegur sama atasan. Kamu bukan junior lagi. Pangkatmu ini sudah garis tiga. Jangan karena kamu merasa jago terus ngajarin asal-asalan. Mereka masih anak bawang semua, belum tahu apa-apa,” kata Galih dengan nada yang tidak santai sama sekali.


“Maaf Ndan, saya salah.”


“Nggak semua perkara selesai dengan permintaan maaf. Anak yang kamu patahkan kakinya itu bahkan belum genap sebulan tugas di sini. Mereka masih adaptasi, masih harus banyak dilatih. Diperhatikan betul-betul. Ini orang tuanya nuntut saya tanggung jawab. Mau apa kamu sekarang? Mau minta maaf? Sana kalau maafmu bisa selesaikan masalah,” kata Galih.

__ADS_1


“Galih,” panggil salah satu seniornya.


“Siap, Ndan," kata Galih begitu mendengar teguran dari seniornya.


“Itu orang tuanya yang bersangkutan ada di dalam nunggu kamu. Sana ditemui dulu, bilang sama mereka kalau kita nggak akan lepas tanggung jawab. Semua biaya pemulihan akan ditanggung kantor,” kata komandan.


“Siap, Ndan.”


Galih melemparkan sapu yang sejak tadi dia pegang ke samping Leo yang masih berdiri sambil menunduk penuh penyesalan. Setelah menarik nafas untuk menenangkan hatinya, Galih melangkah masuk dan dengan tulus dia meminta maaf.


“Maaf sekali lagi saya meminta maaf kepada Bapak dan Ibu, karena kelalaian saya sebagai komandan hal ini terjadi,” kata Galih.


“Nggak bisa. Nyawa dibayar nyawa. Yang membuat anak saya kesakitan begitu juga harus merasakan kesakitan juga, mana orangnya biar kupatahkan kakinya,” kata si ibu dengan begitu emosinya.


“Tunggu dulu Bu, jangan melakukan hal itu. Bu, kami akan bertanggung jawab penuh atas semua biaya pengobatannya. Kami juga tidak akan memecat putra Ibu dari kesatuan. Saya sudah dengar dari dokter jika putra Ibu bisa kembali seperti semula. Patah tulangnya tidak parah jadi kantor juga siap menerima putra Ibu lagi begitu dia sembuh dari sakit,” kata Galih lagi.


Ibu itu bisa sedikit lebih tenang, namun setelahnya kembali memaki-maki Galih. Dia bahkan mengatakan Galih tidak becus bekerja dan karena usianya masih muda dia tidak pantas menjadi komandan. Jujur Galih sakit hati mendengarnya. Untung setelah itu kedua orang itu pergi dari hadapannya.


Galih yang tidak kuasa menahan emosinya segera menuju ke belakang. Dia mendekati sebuah samsak yang tergantung di gym dan memukulinya dengan tangan kosong penuh dengan emosi. Keenan yang sedari tadi merasa khawatir terus mengikuti Galih bersama dengan Aksara. Keduanya berusaha menghentikan Galih yang emosinya semakin tidak tertahan.


“Istighfar Mbul.”


“Astagfirullah hal adzim…,” kata Galih akhirnya tenang juga.


“Lo mending balik. Lo hari ini cuti karena ada acara kan,” kata Keenan.


“Hmm, anak gue operasi jantung hari ini makanya gue ambil cuti buat nemenin dia sama Mamanya,” kata Galih.


“Amira jadi di operasi?” tanya Aksara.


“Jadi. Untungnya setelah dibujuk lagi dia mau.”


“Yaudah kalau gitu lo pergi aja. Di sini ada gue sama Keenan kok,” kata Aksara.

__ADS_1


“Lo pergi aja Mbul, semoga operasinya lancar,” kata Keenan.


“Thanks ya, besok-besok kalo kalian berdua minta tukeran shift jangan ragu buat bilang sama gue,” kata Galih.


“Santai.”


Setelah kepergian Galih Keenan mulai bertanya-tanya. Dia menyebut nama Amira tadi. Bahkan dengan mudahnya dia berkata seolah-olah dia memang ayah kandungnya. Aksara menyadari perubahan ekspresi Keenan sebenarnya, tapi dia tidak ingin berkomentar. Dia juga sudah diwanti-wanti oleh Bang Adnan untuk tidak ikut campur. Biar Kirana menyelesaikan sendiri persoalan hatinya agar Keenan juga bisa segera ikhlas melepaskan Kirana.


...***...


Galih sampai di rumah sakit kembali beberapa saat sebelum Amira dibawa ke ruang operasi. Galih tersenyum kemudian mencium kening Amira sebagai dukungan untuk gadis kecilnya, “sesuai janji Papa, Papa temenin Mama ya. Amira baik-baik di dalam sama dokter Hengki. Nanti setelah Amira sadar Papa beliin makanan kesukaan Amira, termasuk boneka beruang yang pernah kamu mau,” kata Galih kembali membujuk di kecil.


“Iya Pa,” kata Amira.


Amira sudah berada di dalam ruang operasi sekarang sedangkan Kirana dan Galih menunggu di ruang tunggu dengan wajah cemas. Galih baru kembali dari kamar mandi dan Kirana melihat jika kerah bajunya agak basah begitu pula dengan rambut bagian depannya.


“Aa, maaf ya merepotkan,” kata Kirana.


“Jangan bicara begitu, aa nggak suka,” kata Galih.


“A Galih, sebelum aa ke sini aa kemana? Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Kirana.


“Ahh itu, ada masalah di kantor tadi jadi aku terpaksa datang dulu menyelesaikan masalah di sana,” jawab Galih.


“Tapi masalahnya sudah selesai kan a?”


“Sudah. Masalahnya sudah selesai, kamu nggak perlu khawatir. Ada Aksara dan Keenan juga yang bantu aa,” kata Galih.


Kirana terdiam. Mendengar nama yang disebut oleh kekasihnya ini membuat Kirana terdiam beribu bahasa. Kedua tangannya mulai menggenggam erat celananya untuk menahan sesuatu yang terasa mengganjal di hatinya.


Galih melihat Kirana segera menggenggam tangan calon istrinya itu kemudian dengan ibu jarinya dia mengelus punggung tangan Kirana agar dia bisa sedikit lebih tenang. Galih juga merasa Kirana kini menggenggam tangannya walaupun wajahnya terus tertunduk.


“Hari ini aa hampir ingkar janji, aa juga tidak bisa katakan hal semacam ini tidak akan terjadi di masa depan. Kuharap kamu nggak keberatan. Apalagi kamu tahu sendiri pekerjaan aa seperti apa,” kata Galih.

__ADS_1


“Aku tahu a, aku sudah paham resikonya. Makanya aku berani bilang iya, bukan hanya soal jadi pendampingmu a, tapi juga soal konsekuensinya.


Kirana sebenarnya tidak mengerti, setiap kali dia mulai menjatuhkan hati pada laki-laki lain masa lalunya itu selalu hadir kembali. Kirana hanya bisa berharap jika Keenan yang tadi disebutkan oleh Galih bukanlah Keenan yang dia tahu dan Keenan yang selama ini dia hindari.


__ADS_2