
Beberapa menit terlewat. Amira hanya duduk di kursi di sebelah Papanya hanya untuk melihat Papanya itu kembali tertidur. Amira menyedot sekotak susu coklat pemberian bu guru siang tadi sembari menunggu Papa Adnan terbangun dari tidurnya yang terlihat lelap. Amira menanti sembari menggoyang-goyangkan kakinya yang tidak menapak tanah sambil belajar berhitung persis seperti yang tadi dipelajarinya sembari terus menyedot susunya.
Aksara baru saja datang, dengan wajah mengantuk seperti biasanya dia melangkah masuk untuk absen kehadiran. Hampir saja dia melompat kaget karena melihat ada sosok kecil duduk di kursi dengan senyum lebar di wajahnya.
“Astagfirullah tak kiro tuyul…,” gumam Aksara.
“Om Aksara sama aja,” kata Amira.
“Ha?”
“Om Aksara sama Papa Adnan sama aja, masa Amira cantik begini dibilang tuyul sih,” protes Amira dengan wajah ngambek, pipi yang digembungkan dan bibir yang manyun.
“Maaf ya yang udah jadi kakak, om kan kaget. Reflek om bilang gitu,” kata Aksara sambil menunduk agar tingginya bisa setara dengan Amira.
“Om, bangunin Papa dong,” kata Amira.
Aksara yang merasa diminta untuk membangunkan sontak tersenyum nakal. Dia meraih toa yang terletak di atas meja kerja Adnan kemudian menekan satu tombolnya yang berwarna merah. Saat itu juga suara sirine memenuhi ruangan, menggema di seluruh lorong. Adnan yang mendengar sirine itu di sebelah telinganya langsung terbangun dan heboh memakai kembali sepatunya.
Aksara dan Amira tertawa penuh kemenangan karena melihat tingkah Adnan yang kaget bukan kepalang. Aksara mengajak Amira tos dan si kecil itu dengan senyum yang nemampakkan deretan gigi susunya membalas tos itu.
Adnan yang mendengar tawa Amira tidak jadi marah. Sebagai gantinya dia tertawa kemudian meraih tubuh bongsor Amira dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Amira kemudian tertawa karenanya. Tubuh gadis itu melayang diatas Papanya saat Adnan kembali menjatuhkan diri di sofa dan meletakkan Amira di kakinya yang tertekuk ke atas.
“Yee~ Ami terbang….,” katanya.
__ADS_1
Dulu ketika Amira masih kecil sering kali Adnan mengajak Amira bermain dengan cara ini. Entah menerbangkan Amira dengan kedua tangannya sendiri atau dengan kakinya. yang jelas Amira sangat menyukai kegiatan bermain ini.
“Papa ayo makan dong,” ajak Amira.
“Sekalian ke rumah sakit aja yuk. Kita makan bareng Papa Galih sama Mama Kirana,” ajak Adnan langsung diangguki oleh Amira.
Adnan tanpa ragu meraih tas Amira kemudian menentengnya sedangkan tangan kirinya mulai menggandeng Amira. Keduanya tidak lupa berpamitan dengan om Aksa yang masih geleng-geleng karena baru pertama kalinya melihat seniornya yang satu itu bermain dengan anak kecil. Sungguh kontras dengan bagaimana Adnan Dzaki kelihatan biasanya.
“Bang, bilangin Kirana aku sama Kaori mau jenguk ntar sore,” kata Aksara yang baru ingat alasan dia datang kemari. Dia diminta oleh istrinya untuk menanyakan kondisi Kirana saat ini namun karena keberadaan Amira dan kejadian barusan membuatnya lupa.
“Punya anak cewek kayaknya asik,” gumamnya sembari meraih handphonenya untuk menghubungi sang istri.
...***...
Sampai ketika Amira dan Adnan sampai di rumah sakit, Kirana belum bangun dari tidurnya. Sepertinya istri galih Arsa ini kelelahan setelah puluhan jam menahan sakit. Galih selalu berusaha bergerak sepelan yang dia bisa agar istrinya tidak terbangun. Galih berusaha mengelap tubuh Kirana dengan handuk hangat agar dia merasa lebih segar kemudian kembali ke kamar mandi untuk membilas handuknya.
Hikss….
“Hnggg…, huaaaa….!!!!”
Tangisan Amira pecah begitu saja. Galih yang saat ini tengah berada di kamar mandi langsung berlari keluar dan menggendong Amira begitu saja. Dia membawanya keluar dan menjauh dari Kirana karena takut anak manisnya akan membangunkan sang ibu.
“Shtt…, udah jangan nangis Amira,” kata Galih yang terus menggendong Amira. Tangan kanannya menepuk-nepuk punggung Amira yang masih terus menangis karena syok.
__ADS_1
“Papa, hiks…, Mama… kenapa? Mama kok, hiks…, nggak… ba… ngun?” tanyanya masih terus terisak.
“Nggak papa, Mama baik-baik saja kok. Mama cuma tidur. Udah ya jangan nangis, Amira udah jadi kakak kan, janjinya sama Papa Amira akan jadi kakak yang pinter, kakak yang baik bantu Papa jagain adek sama Mama,” kata Galih kali ini menghadapkan Amira kepadanya.
“Udah nangisnya, muka cantiknya hilang tuh. Kita ketemu dek Tiar ya, yuk sama Papa kita ketemu Dek Tiar habis itu kita cari makan buat kita semua,” ajak Galih yang begitu perhatian pada putrinya.
Galih tersenyum ketika Amira mengangguk namun kembali menenggelamkan kepalanya dalam pelukan sang ayah. Galih tidak berniat menurunkan Amira. Dia masih terus menggendongnya dan membawa dia ke sebuah ruangan yang berdinding kaca. Di dalam sana berjajar box-box bayi yang tertata rapi. Ada yang terisi dan sebagian lagi dibiarkan begitu saja tertutup plastik. Ada juga di satu sisi lainnya beberapa buah inkubator dimana dalam salah satunya terbaring bayi Tiar yang masih lemah dan begitu kecil.
“Tuh adekmu Mi,” kata Galih sambil menunjuk seorang bayi laki-laki dengan namanya dan sang istri tertulis di bawah inkubator.
“Dek Tiar…, kok di dalem toples Pa? Adek kok nggak kayak yang lainnya?” tanya Amira.
“Soalnya Dek Tiar masih kecil, makanya Dek Tiar dimasukkan dalam tabung. Nanti kalau Dek Tiar sudah lebih kuat juga akan dikeluarkan,” kata Galih.
“Sama kayak kamu dulu juga ditaruh di dalam tabung Mi,” kata sebuah suara yang terdengar dari arah belakang.
“Eh tante,” sapa Galih begitu melihat kedua orang tua Raihan datang.
“Jangan manggil tante ah nggak enak banget dengernya. Panggil Papa Mama aja,” kata Papa.
“Ngomong-ngomong selamat ya,” kata Papa dan Mama pada Galih dan Amira.
Mereka bersama-sama kembali ke ruang inap Kirana. Yang tadinya Galih akan pergi membeli makan siang, rupanya kedua orang tua Galih datang tidak dengan tangan kosong. Keduanya membawa satu kotak makan besar berisi macam-macam sayuran dan lauk untuk mereka makan bersama-sama.
__ADS_1
Sepanjang jalannya ke ruang inap Kirana, Galih terus berusaha mencairkan suasana. Entah ini karena hatinya saja atau memang begitu, Galih juga tidak paham. Yang jelas dia merasa tidak nyaman ketika kedua orang tua mantan suami Kirana ini tiba-tiba selalu datang dan menemui Kirana dan Amira. Namun Galih hanya mampu memendam perasaannya karena dia sendiri juga memahami bagaimana perasaan seorang ibu terutama, ditinggal pergi oleh anak kebanggaannya dan sekarang ini menantu kesayangannya menikah dengan laki-laki lain.
Galih mencoba menekan perasaannya sendiri dengan menganggap jika kedua orang tua Bang Raihan ini hanya sedang berusaha menghibur diri dengan bercengkrama dengan Amira dan Kirana yang merupakan sisa kenangannya tentang sang putra Raihan Dhananjaya.