Baret Biru

Baret Biru
54. Orang Baru


__ADS_3

Ketika Kirana tengah meraih satu apel besar berwarna merah di dalam keranjang buah, ada satu tangan yang menggenggam satu apel yang sama dengannya membuat kedua tangan mereka bertemu.


“Eh maaf,” kata Kirana segera menarik tangannya.


“Tidak apa-apa. Silahkan apelnya,” kata laki-laki itu dengan ramah.


Kirana memberanikan diri menatap siapa laki-laki yang tidak sengaja menggenggam tangannya barusan. Laki-laki ini memakai jaket berwarna hitam tapi Kirana bisa melihat seragam yang begitu familiar dari balik jaket yang terbuka itu. Kirana juga melihat sepatu tinggi laki-laki ini dan langsung menarik kesimpulan jika dia adalah salah seorang polisi yang entah bertugas di unit apa.


“Neng, ambil saja. Lagi pula anda yang pertama kali pegang, saya bisa ambil apel yang lainnya,” katanya lagi karena tidak segera mendapatkan respon dari Kirana.


“Terima kasih,” kata Kirana.


“Sama-sama,” katanya yang kemudian kembali sibuk memilih apel.


“Mama…, cepetan Amila udah capek,” keluh putrinya.


“Ya sayang ini sudah selesai. Kita ke kasir ya,” kata Kirana.


“Maaf saya pergi dulu, permisi,” kata Kirana berpamitan.


“Ya silahkan,” katanya lagi.


Ketika tengah mengantri di kasir, laki-laki itu ternyata mengantri persis di belakang Kirana dan melihat banyaknya belanjaan Kirana dia juga berniat menawarkan bantuan.


“Maaf, anda hanya berdua saja dengan putri anda? Boleh saya bantu anda membawakan belanjaan? Saya tidak tega melihat anda harus membawa belanjaan sebanyak itu sambil menggendong putri anda,” tanyanya dengan begitu sopan.


“Terima kasih, tapi saya tidak ingin merepotkan,” kata Kirana yang ingin segera pergi. Naasnya baru beberapa langkah Kirana ditabrak oleh seseorang yang berjalan sambil asik bercanda dengan kawannya tanpa melihat ke sekeliling.


Laki-laki itu segera membantu Kirana merapikan kembali beberapa belanjaan Kirana yang tercecer, “tidak baik menolak bantuan orang. Kalau anda takut suami anda marah, saya akan jelaskan pada suami anda setelah ini. Saya akan meminta maaf,” katanya.


Kirana pasrah. Dia akhirnya menerima bantuan laki-laki itu, “saya sudah tidak punya suami,” kata Kirana dengan pelan.


“Oh maaf, maaf kalau saya membuat anda jadi tidak nyaman,” katanya meminta maaf.


“Tidak apa-apa. Terima kasih sudah membantu,” kata Kirana.


“Om baik telima kasih udah bantuin Mama,” kata Amira yang berada di gendongan Kirana.


“Sama-sama, siapa namamu?”

__ADS_1


“Namaku Amila om. Om polisi ya? Baju om sama kaya Papanya Amila,” kata Amira.


“Papamu polisi juga?” tanya laki-laki itu.


“Iya, tapi selagam papa Amila walnanya hitam. Tapi papa Amila polisi, keljanya bawa pistol panjang,” cerita Amira.


“Maaf, suami anda brimob?” tanya laki-laki itu pada Kirana.


“Bukan. Yang putriku maksud adalah kakakku. Beliau bekerja di divisi propam penempatan di brimob,” kata Kirana.


“Ini mobil saya, terima kasih banyak atas bantuan anda Pak. Saya terbantu sekali, maaf juga sudah merepotkan,” kata Kirana.


“Kebetulan sekali, itu mobil saya di sebelah,” katanya sambil tersenyum.


“Nama saya Galih. Galih Arsa Shiddiq, barangkali kita suatu saat akan bertemu kembali,” katanya sambil mengulurkan tangan.


“Om Galih, makasih ya udah bantuin Mama sama Amila,” kata Amira.


“Sama-sama anak manis,” kata Galih pada si kecil Amira yang terus tersenyum padanya sejak tadi.


“Nama saya Kirana. Kirana Dwi Dhanastri, senang berkenalan dengan anda Pak Galih,” kata Kirana berusaha dengan sopan membalas perkenalan laki-laki ini.


Kirana yang merasa tidak enak segera memotong pembicaraan dengan menjadikan Amira sebagai alasannya. Untung laki-laki bernama Galih itu mengerti dan membiarkan Kirana dan Amira lebih dulu pergi.


“Mama mama, om Galih baik ya,” cerita Amira.


“Om Galih kan tadi bilang kalau polisi kan? Polisi itu harus bisa membantu sesama Amira, sama seperti Papa Raihan juga baik, selalu membantu sesama, papa Adnan juga baik kan?” kata Kirana.


“Mama, nanti kalau sudah besal Amila mau jadi polisi bial Amila bisa bantu olang banyak kaya om Galih sama Papa Adnan,” kata Amira diangguki oleh Kirana.


“Boleh, apapun mimpi Amira akan Mama dukung,” kata Kirana.


...***...


Amira selalu bercerita pada Papa Adnan dan Mama Lucy tentang semua yang dia alami seharian ini. Saking bahagianya dia juga menceritakannya pada Akung dan Utinya. Sayangnya Amira lupa siapa nama om baik yang membantu dia dan Mamanya siang tadi.


“Siapa sih?” tanya Adnan pada Kirana.


“Gilang? Atau siapa sih tadi siapa namanya ya?” Kirana ikut-ikutan lupa sekarang malah bertanya pada putrinya.

__ADS_1


“Nda tau, Amila lupa,” jawabnya.


“Pangkatnya? Dia dari kesatuan mana?”


“Eh mana kutahu Abang seragamnya tertutup jaket. Aku cuma tahu dari seragamnya yang kelihatan dikit sama sepatunya. Sepatu yang dipakai polisi kan sepatu khusus, di tempat lain nggak ada yang pakai sepatu tinggi kayak gitu. Lagi pula kalau bukan karena dia memperkenalkan diri aku nggak tahu dia anggota,” kata Kirana.


“Gilang kayaknya di mako nggak ada yang namanya Gilang. Atau mungkin dari polres,” Adnan kembali bertanya.


“Kepo banget sih,” kara Kirana.


“Jiwa-jiwa provostnya nggak usah dibawa pulang dong Pa,” kata Lucy.


“Ya maaf sayang, kebiasaan. Takutnya dia orang yang suka tipu-tipu. Jaman sekarang itu lagi marak penipuan semacam itu. Ngaku-ngaku jadi polisi, sampai punya atribut dan malsukan ID cuma buat nipu perempuan dan memeras hartanya. Dek, kamu hati-hati lho kalau ketemu orang asing,” kata Adnan.


“Astaga..., Ma Adnan Dzaki kumat nih protektifnya,” adu Kirana yang sudah kelewat malas dengar kalimat-kalimat posesif sang kakak.


“Kamu protektif ke Amira wajar Pa dia masih kecil, kalau kamu protektif ke Kirana buat apa wong dia sudah besar, sudah bisa jaga dirinya sendiri,” kata Lucy memperingatkan suaminya.


“Iya iya maaf. Tapi nggak ada salahnya hati-hati. Abang cuma nggak mau kamu kenapa-napa,” kata Adnan.


“Iya Bang, aku akan hati-hati kok. Lagian aku nggak akan ketipu sama modus-modus begituan. Karena aku juga sudah nggak doyan cowok Bang. Aku kan sudah pernah bilang, hidupku cuma untuk Amira, aku sudah nggak berminat cari cowok apalagi buat cinta-cintaan nggak jelas,” kata Kirana.


“Ya jangan begitu juga Ki, nggak baik. Kita kan nggak pernah tahu barang kali ada laki-laki hebat di luar sana yang mau menerima kamu apa adanya dan bersedia jadi bapak sambung untuk Amira,” kata Mama.


“Amira…, kamu pengen punya Papa baru nggak?” kompor Adnan.


“Papa balu? Mau…, Amila pengen punya Papa yang bisa selalu main sama Amila, kalau Papa Adnan nanti pas adek udah lahil pasti sibuk sama adek Amila jadi ndak punya teman main. Mama, Amila mau punya Papa balu. Papanya halus baik kaya om tadi,” kata Amira membuat Kirana speechless.


“Abang…,” kata Kirana pada Abangnya yang hanya cengar cengir di tempatnya duduk. Mana dia menggoda Kirana dengan merangkul dan menciumi istrinya yang terlihat ikut-ikutan ngompor Kirana.


“Ya Ma?” pinta Amira lagi.


“Insyaallah,” jawab Kirana tidak membuat Amira puas.


“Amira, kalau Amira mau Papa baru Amira harus rajin berdoa sama Allah. Amira harus jadi anak yang baik, yang pinter, rajin ibadahnya ya,” kata Utinya.


“Iya. Amila bakal beldoa setiap hali bial Amila bisa punya Papa balu,” katanya dengan semangat.


“Sudah waktunya kamu menatap masa depanmu Ki, Bang Raihan sudah nggak ada sedangkan kamu nggak mungkin membesarkan putrimu seorang diri. Semakin dia besar akan semakin banyak peran seorang Ayah yang tidak akan bisa kamu handle sendirian. Nggak sepenuhnya demi kamu Ki, tapi demi putrimu juga,” nasihat Mama hanya bisa diangguki oleh Kirana.

__ADS_1


__ADS_2