
Pada hari Jumat, tepat pukul 15.30 Kirana dan Amira sampai di bandara. Keduanya berjalan masuk mendekati gate tempat Galih akan melangkah keluar. Kirana terus menggendong Amira tidak peduli gadis kecilnya ini sudah tumbuh besar dan mulai berat, Kirana terus menggendongnya. Untung tidak lama kemudian Galih melangkah keluar bersama dengan Aksara. Galih yang melihat Kirana menggendong putrinya bergegas mendekat dan langsung mengambil alih Amira darinya.
“Kok badannya panas? Amira sakit?” tanya Galih yang kaget merasakan tubuh si kecil agak panas.
“Dia lagi demam, tapi udah terlanjur tahu kalau aa hari ini pulang jadi dia maksa untuk ikut,” jawab Kirana.
“Sudah kamu bawa ke rumah sakit? Sudah dikasih obat belum?”
“Sudah, pagi sama siang tadi sudah minum obat kok,” kata Kirana lagi.
"Kalian pulang duluan aja, kasihan Amira tuh," kata Aksara.
"Lo dijemput siapa Le?"
"Ibu negara," jawab Aksa.
"Mana?" Tanya Kirana.
"Itu baru nongol," kata Aksa menunjuk Kaori yang kerepotan sama repotnya dengan Kirana barusan. Dengan perut besarnya dia melangkah mendekati suaminya kemudian langsung masuk dalam pelukannya. Tidak lupa Kaori menyapa Kirana dan Galih.
“Lama nggak ketemu makin cantik aja Ri,” kata Kirana.
“Kamu juga, jadi feminim ya sekarang,” jawab Kaori.
“Bun, balik yuk capek nih,” kata Aksara.
“Heleh gitu aja capek,” kata seseorang yang berjalan mendekat dari arah belakang Aksara.
“Ngapain Ayah di sini?” sewot Aksa.
“Jemput Bundamu baru balik dari Samarinda,” jawabnya.
“Om Aji, apa kabar,” sapa Kirana.
“Ehe ada Kirana. Kabar baik, kamu baik?” sapanya balik.
“Baik alhamdulillah,” jawab Kirana.
__ADS_1
“Kamu di sini bukan buat jemput Aksara kan?” tanya om Aji.
“Jemput saya Pak,” kata Galih.
“Ealah si gembul. Eh bentar kok Kirana bisa kenal sama orang ini?” tanya om Aji.
“Nggak usah nanya gimana, nanti Ayah nostalgia. Ini bukan Tama dan Ratna by the way,” jawab Aksara membuat om Aji langsung menjepit leher putranya dengan satu lengan, “Sewot amat ini bocah sama bapaknya, dasar anak durhaka…,” kata om Aji tanpa melepaskan kunciannya.
“Aku nggak mau jadi saksi pembunuhan ah, mari Pak…,” pamit Galih diikuti Kirana dan Amira.
Karena melihat Amira nyaman dalam pangkuan Galih, Kirana yang menyetir. Galih melihat Amira berkeringat dan terkadang grasak grusuk mencari posisi yang nyaman untuk kembali tidur.
“Neng, besok kamu ada acara nggak?” tanya Galih dengan perlahan.
“Ada a, besok jadwal Amira check up,” jawab Kirana.
“Check up?”
“Maaf aku belum cerita, sebenarnya Amira itu punya sakit bawaan…,”
“Pinggirin dulu mobilnya. Bahaya kamu tetep nyetir,” kata Galih sebelum Kirana kembali bicara.
“Itukah alasan kenapa kamu selalu protektif padanya?” tanya Galih.
“Karena hanya dia yang tersisa dari suamiku. Tidak ada yang lain lagi a. Maaf, aku rasa nggak benar kita terus-terusan kaya gini. Aku memang mengakui aku menaruh rasa ke aa, tapi hatiku nggak akan pernah bisa melupakan suamiku. Dia bukan hanya sekedar berjasa buatku,” kata Kirana.
“Memangnya pernah aku minta kamu melupakan suamimu? Aku kan hanya meminta izinmu untuk bisa menerima kehadiranku,” kata Galih.
“Tapi a, aku tahu Aa suatu saat akan meminta lebih dari itu. Memangnya aa nggak sakit hati mengetahui ada laki-laki lain di dalam hatiku? Aa itu masih bujang, dari segi usia belum tua-tua banget kan, aa juga pekerjaannya mapan dengan gaji tetap bahkan punya pensiunan. Banyak banget di luar sana cewek yang lebih dari aku bisa menerima aa dan bisa memberikan lebih banyak dari sekedar izin untuk menerima kehadiran aa,” kata Kirana.
“Kirana, aku cuma bertanya sakit apa yang diderita oleh Amira. Bukan soal hubungan kita. Tinggal belok kiri terus kita sampai di markas. Jalankan mobilnya, kita omongin soal ini besok setelah hatimu tenang dan keraguanku hilang,” kata Galih.
Sesampainya mereka di markas, Galih bukannya menyerahkan Amira pada Kirana malah membawa gadis kecil itu masuk ke dalam kantor, “jagain nih cewek jangan sampai kemana-mana. Kalau aku kembali dia nggak ada kalian kena hukum,” kata Galih pada petugas yang berjaga di pos.
“Siap, ndan.”
Galih berjalan menuju ruang kerja Adnan berharap dia masih ada di tempat. Biasanya Adnan jam segini masih bertahan di ruangannya untuk menyelesaikan laporan dan pulang tepat sebelum maghrib. Galih hafal, karena ruang kerjanya kebetulan tidak jauh dari ruangannya.
__ADS_1
“Bang…,” kata Galih langsung mendekati Adnan.
“Buset. Amira kok bisa ada di elo kenapa nih?” tanya Adnan yang kaget langsung mengambil alih Amira dari gendongan Galih.
“Jaminan biar mamanya nggak kabur,” kata Galih.
“Lo apain adek gue?” tanya Adnan.
“Aku bikin nangis Bang, sorry aku salah. Habis ini aku lari 100x buat hukuman. Tapi aku minta tolong dulu, kalau kerjaan Abang sudah selesai Abang pulang sama Kirana sama Amira,” kata Galih.
“Motorku gimana terusan?”
“Aku yang tanggung jawab deh Bang. Nanti kupindahin di depan mess. Ya bang please jangan Kirana nyetir sendiri. Soalnya dia lagi inget sama suaminya,” kata Galih membuat Adnan langsung mengiyakan permintaan juniornya itu.
“Tuh kuncinya di atas meja. Habis ini lo lari lapangan 150x, sekaligus jemput gue besok jam 5.30 di rumah. Lo tahu kan rumah Kirana?”
“Siap Bang, tahu kok,” kata Galih.
Galih kembali ke pos jaga bersama dengan Adnan yang sudah menggendong Amira. Galih mengambil ranselnya kemudian menyerahkan Kirana pada Bang Adnan. Galih terus berdiri di gerbang bahkan setelah melihat mobil itu berbelok di lampu merah. Tak lama kemudian Keenan yang memang sedang berolahraga sore mendekatinya.
“Mbul, ngapain lo di situ?” tanyanya.
“Lagi patah hati,” jawab Galih.
“Ah elo. Baru berapa minggu lo jatuh cinta masa udah patah hati aja, cemen lo,” kata Keenan.
“Ya gimana, gue yang salah. Wajar kalo dia marah. Lo kayak nggak pernah ngadepin cewek aja, lo juga sering cerita kan kalo mantan pacar lo moodnya sering berubah-ubah. Ini cewek juga moodnya suka berubah. Sehari dia bilang kangen sehari bisa bilang minta pisah,” curhat Galih.
“Terus lo maunya gimana?”
“Gue mau tetep sama dia lah. Udah nggak akan nemu gue cewek modelan dia. Bukan cuma sekedar langka. Ibarat game dia itu udah kaya rare item yang kalo lo dapet lo bakal punya kemampuan buat menangin game dengan mudah,” kata Galih.
“Jangan ngegas-ngegas kalo sama cewek. Pahami dulu maunya dia apa, ikuti alurnya baru deh lo usaha buat menangkan hatinya,” kata Keenan.
“Kayaknya target gue kali ini nggak bakal semudah itu ditangkap. Butuh penanganan khusus pake peralatan yang khusus juga. Mana bodyguardnya juga galak pula, salah langkah dikit bisa ada sangkur nancep di badan ini,” kata Galih lagi.
“Semangat mbul, lo juga kan baru pertama ini main cinta-cintaan. Yang perlu lo ingat, nggak semua cinta berakhir memiliki. Lebih baik dari awal lo jangan berekspektasi tinggi jadi lo nggak bakal sekaget gue ketika udah sampe ending,” kata Keenan memberikan saran sebelum dia kembali berlari.
__ADS_1
“Eh Kee, tunggu gue mau ikut lari,” kata Galih kemudian menyusul Keenan untuk bersama-sama lari keliling lapangan.