Baret Biru

Baret Biru
49. Kepergian dan Kehadiran


__ADS_3

Raihan sudah bersama dengan kedua orang tuanya. Adnan mengambil jaket yang dimaksud oleh Raihan, sekaligus membawa Amira ke rumah Papa dan Mama. Di sana sudah ada Lucy yang belum mengetahui detail tentang apa yang terjadi.


“Cy, kamu jangan mikir macem-macem. Kamu tenangkan hatimu, biar Amira nggak ketakutan, ok?” kata Adnan yang sekuat tenaga menahan tangisannya.


Adnan masuk ke dalam kamar yang biasa ditempati oleh Kirana dan Raihan. Dia menyalakan lampu duduk yang ada di atas meja untuk membaca buku kecil yang dia temukan di dalam saku jaket Raihan tadi. Buku yang dia pikir berisi curahan hati Raihan, nyatanya tidak. Di dalamnya tertulis secara rinci apa saja yang sudah dia persiapkan untuk Amira dan Kirana.


Raihan bahkan menuliskan di sana secara berulang-ulang dia mengatakan jika dia ikhlaskan Kirana untuk menikah lagi suatu saat nanti. Raihan bahkan menulis, andai Kirana tidak menerima kehadiran Amira Raihan meminta Adnan dan Lucy menganggap Amira seperti putri mereka sendiri. Persis seperti yang beberapa waktu lalu Raihan katakan pada Adnan secara langsung.


Malam itu Raihan yang dipaksa setengah mati oleh kedua orang tuanya akhirnya menjalani operasi. Belasan jam dia ada di dalam ruang operasi dan keluar dengan kondisi yang tidak begitu baik. Dokter menjelaskan jika dalam kurun waktu tertentu Raihan tidak juga memberikan respon membaik, kasusnya akan dicatat sebagai kasus kematian otak.


“Adnan?” panggil Mama.


Mama memaksa masuk ke dalam kamar milik putrinya ini. Beliau menemukan Adnan menangis masih menggenggam buku harian yang ditulis oleh Raihan. Di dalam buku itu Mama juga ikut membaca beberapa lembar yang sukses mengalirkan air matanya.


“Ma, kenapa dek Kirana harus mengalami semua ini? Dia baru saja bahagia Ma, tapi kenapa Tuhan sudah merenggut kebahagiaannya lagi? Andai setelah ini Kirana sembuh apa aku masih sanggup menatap matanya? Dia pasti akan hancur Ma, adik kecilku itu pasti remuk,” kata Adnan yang terus menangis.


“Kamu ini bagaimana sih, kamu minta istrimu menenangkan hatinya biar Amira nggak ketakutan tapi kalau hatimu sendiri sedih apa mungkin putrimu bisa tenang?” kata Mama.


“Maksud Mama apa sih? Kenapa Mama bilang kaya gitu? Nggak. Kirana dan Raihan akan baik-baik saja. Mereka berdua akan bangun. Amira itu anaknya mereka Mama bukan anakku,” kata Adnan.


“Adnan, kita semua sudah mengikhlaskan kepergian Kirana dan Raihan. Kamu juga harus ikhlaskan kepergian mereka. Biarkan mereka tenang, sudah jangan dipaksa lagi,” kata Mama yang tidak kalah keras menangis.

__ADS_1


...***...


Tidak sampai hari berikutnya, rumah Pak Nandar ramai dengan para pelayat. Ada sebuah peti berwarna putih bersih di dalam rumah kini mulai diangkat keluar untuk diberangkatkan. Di depan peti tersebut ada foto seorang perwira yang dikenal dekat dengan kawan-kawannya, baik pada bawahannya, dan hormat pada atasannya. Raihan Dhananjaya namanya, yang akhirnya memilih untuk menyerahkan hidupnya dan tidur dalam damai meninggalkan semua yang dia punya di dunia ini.


Setelah seluruh prosesi pemakaman usai, Adnan ditemani istrinya datang ke rumah sakit. Kirana baru saja dipindahkan dari ruang rawatnya di ICU ke kamar biasa. Walaupun dia belum sadar tapi dokter menyatakan Kirana lepas dari masa komanya. Begitu melihat kondisi Kirana, Adnan menangis sejadinya. Dia bahkan tidak mampu lagi menopang tubuhnya sendiri hingga terjatuh dan berlutut sambil meminta maaf pada adiknya yang tidak akan bisa mendengar semua ucapan maafnya saat ini.


Lucy yang masih mampu tegar meletakkan satu foto Raihan yang terlihat begitu gagah dengan seragamnya di nakas yang ada di sebelah tempat tidur Kirana. Dia genggam tangan sahabatnya, dan terus mengelus rambut Kirana.


“Kirana, kamu harus kuat ya. Aku nggak akan ninggalin kamu sendirian Ki, aku akan ada di sini sama kamu. Apapun yang terjadi aku akan temani kamu. Walau suamiku melarangku datang, aku akan tetap ada sama kamu, apapun resikonya aku nggak peduli,” kata Lucy.


...***...


Dengan mengerahkan seluruh tenaganya, Kirana menggoyangkan tangannya membuat Adnan terbangun. Adnan jelas saja kaget, begitupun dengan Lucy yang langsung berlari memanggil dokter saking tidak percayanya akhirnya Kirana mampu membuka matanya kembali.


“Pasien memang sudah siuman, tapi kondisinya masih belum stabil. Tolong dijaga agar tidak terlalu banyak bergerak dulu. Apabila pasien mengeluhkan pusing yang tidak tertahankan, atau pasien mengalami muntah-muntah tolong diinformasikan pada perawat yang berjaga ya. Pagi besok kita lakukan CT scan dulu agar kita tahu pasti bagaimana kondisinya saat ini,” kata dokter menjelaskan.


Adnan tahu Kirana berusaha menanyakan perihal putri dan suaminya, tapi Adnan selalu berusaha mengalihkan pembicaraan. Dia bahkan berani berbohong mengatakan pada Kirana jika Raihan nanti akan datang hanya agar Kirana berhenti bertanya dan dia bisa tenang kembali. Tidak lama kemudian, Kirana kembali tertidur. Lagi pula hari masih terlalu dini dan dia belum memiliki energi untuk melakukan banyak hal.


“Han, Kirana nyariin kamu. Aku harus jawab apa?” batin Adnan.


Semenjak Kirana siuman, dia selalu saja mencari dimanakah suaminya. Adnan, Lucy, Papa, dan Mama hanya mengatakan jika putrinya bisa lahir dengan selamat dan saat ini dirawat oleh Lucy sementara waktu. Tidak ada satupun yang mengatakan dimana dan bagaimana kabar Raihan suaminya.

__ADS_1


Adnan untuk sementara waktu ikut tinggal bersama Papa dan Mama karena Lucy harus menjaga Amira sekaligus juga menyelesaikan pekerjaannya. Kedua orang tua Raihan sejak kepergian putra tunggalnya itu langsung menyerahkan hak asuh Amira kepada keluarga Kirana. Bukan masalah tidak menerima, tapi Mama Raihan menggila semenjak ditinggalkan oleh putranya. Setiap kali Mama menatap sorot mata Amira, beliau pasti teringat akan putranya dan langsung menangis histeris setelahnya. Kondisi kesehatannya juga menurun membuat Papa Bagus dan Adnan mengambil tanggung jawab Amira tanpa protes.


“Abang…,” panggil Lucy pada suaminya yang tengah menidurkan Amira dalam pelukannya.


“Hmm?”


“Bang, tadi aku menemui Kirana,” kata Lucy membuat Adnan terdiam.


“Dia menanyakan soal Bang Raihan lagi. Aku sudah nggak sanggup bohong Bang aku nggak sanggup lihat air matanya lagi,” kata Lucy.


“Begitupun aku,” jawab Adnan.


“Abang, dokter bilang Kirana sudah baik-baik saja. Dia sudah diperbolehkan pulang. Kita tidak bisa selamanya membohongi Kirana. Aku tahu ini berat tapi cuma Abang yang bisa kasih tahu Kirana. Selama ini hanya Abang yang masih didengar oleh Kirana,” kata Lucy.


“Aku yang nggak siap.”


“Siap nggak siap Abang harus siap. Aku janji aku akan temani Abang dan Kirana, kita beri tahu dia besok, ya?” bujuk Lucy.


“Janji kamu akan selalu ada sama Abang?”


“Aku bersumpah Bang. Aku istrimu, kalau bukan aku yang disampingmu siapa lagi?” kata Lucy membuat Adnan tersenyum. Dia bergantian mencium kening Amira yang sudah mulai tertidur lalu mengecup bibir istrinya sebagai rasa bangganya pada Lucy yang begitu setia mendampingi dirinya yang penuh dengan kekurangan.

__ADS_1


__ADS_2