Baret Biru

Baret Biru
33. Rumah Lucy


__ADS_3

Sudah hampir satu bulan lamanya Raihan dan Kirana terus berada di rumah kedua orang tua Raihan. Bahkan kemarin Raihan sempat berkata jika dia ingin mengajak Kirana keluar dari rumah orang tuanya. Raihan ingin mengajak Kirana mencari kontrakan atau jika cukup uangnya dia ingin membeli rumah.


Kirana memahami perubahan yang terjadi pada Raihan tapi dia juga takut untuk menanyakan ada apa. Walaupun Raihan selalu mencoba menutupi perasaannya tapi Kirana tahu jika ada sesuatu yang tidak beres dengan suaminya. Kirana mulai curiga karena beberapa kali Kirana mengajak Raihan berkunjung ke rumah Papa Bagus, Raihan selalu menolak.


Adnan juga demikian. Abangnya itu tidak pernah sama sekali berkunjung padahal sejak jaman Kirana dan Raihan belum menikah Adnan terbilang sering berkunjung walau hanya sekedar bermalas-malasan atau numpang makan malam di rumah sahabat karibnya ini.


“Kirana, Papa sama Mama berangkat ya. Kamu hati-hati di rumah. Atau kalau kamu takut sendirian kamu boleh ke rumah Papa Mamamu,” kata Mama yang berpamitan dengan menantunya melalui sambungan telepon.


“Iya Ma, nanti Kirana tanya dulu Bang Raihan ada shift atau nggak. Kalau ada Abang di rumah aku pulang aja,” kata Kirana.


“Yasudah yang penting kamu jangan sendirian di rumah ya,” kata Mama.


“Iya Ma. Mama hati-hati ya, nanti kalau Papa sama Mama sudah sampai di Jakarta Kirana dikabarin ya Ma,” kata Kirana.


“Pasti sayang. Sudah dulu ya, sana dilanjut lagi kerjanya,” kata Mama sebelum mematikan telepon.


Kirana melanjutkan pekerjaannya yang barusan tertunda. Hanya tinggal beberapa menit sampai suaminya datang dan menjemputnya. Jadi dia berniat segera menyelesaikannya agar suaminya yang pasti lelah setelah bekerja itu tidak perlu menunggunya terlalu lama. Selang 30 menit, Raihan betulan datang. Karena mobilnya sedang di bengkel, terpaksa Kirana dan Raihan kemana-mana pakai motor.


“Dek, kalau sudah selesai ayo langsung pulang. Udah mendung tuh keburu hujan lho kasihan kamunya nanti pilek lagi,” kata Raihan.


“Ya bentar Bang. 5 nota lagi terus kelar. Maaf ya, Abang duduk aja dulu,” kata Kirana.


“Abang tunggu di luar aja ya. Cafe lagi rame gini,” kata Raihan diangguki oleh Kirana.


...***...

__ADS_1


Begitu sampai di rumah, seperti biasa Kirana akan menyiapkan makan malam sedangkan Raihan mandi dan membersihkan tubuhnya. Keduanya hanya saling diam ketika makan. Raihan memang jadi sedikit pendiam sejak beberapa minggu lalu. Bahkan Kirana semakin merasakan ada tembok tinggi di antara dirinya dan suaminya ini. Bukan hanya karena diamnya sang suami, tapi Raihan juga sudah tidak pernah berusaha mendekati Kirana.


“Papa sama Mama pergi?” tanya Raihan di sela-sela makannya.


“Iya. Tadi ngabarin aku Papa sama Mama memenuhi undangan ke Jakarta,” kata Kirana.


Raihan hanya mengangguk. Dia sudah lebih dulu menyelesaikan makan malamnya. Raihan melangkah ke wastafel lalu mencuci sendiri piringnya. Kirana langsung berdiri mencegah suaminya untuk mencuci piring begitu mendengar suara air yang mengalir dari arah belakang tempat dia duduk.


“Abang, jangan cuci piring. Sini biar Kirana saja,” katanya.


“Nggak papa. Kamu selesaikan saja makan malammu. Abang bisa cuci sendiri,” kata Raihan.


“Eh jangan Abang, sini Kirana saja,” Kirana tetap ngotot menahan Raihan yang terus membersihkan piringnya.


Raihan menyerah. Dia menyerahkan piringnya pada Kirana dan mengamati gerak gerik istrinya itu dari meja makan sambil menghabiskan minumnya.


“Abang…, sebenarnya Kirana mau minta izin Abang. Kalau boleh,” kata Kirana ragu.


“Izin apa? Bilang saja.”


“Abang kan mau patroli, pulang besok pagi. Kalau Abang izinkan Kirana mau ke rumah Lucy. Kirana mau temani Lucy karena sejak kemarin dia seperti sedang sedih karena sesuatu,” kata Kirana.


“Terus kamu mau menginap di sana? Memangnya tidak apa-apa? Kamu sudah jadi istri Abang Dek, apakah orang tua Lucy tidak akan berpikiran macam-macam?” tanya Raihan.


“Lucy sudah tidak tinggal dengan orang tuanya sejak satu tahun lalu Bang. Kedua orang tua Lucy sekarang tinggal di Jerman dan Lucy enggan ikut serta ke sana. Hanya akan ada aku Lucy dan Ningrum Bang,” kata Kirana lagi.

__ADS_1


“Ya sudah kalau begitu. Besok pagi Abang jemput kamu selesai shift ya. Sana kamu siap-siap. Tapi ingat, jangan tidur terlalu malam,” kata Raihan yang memberikan izin pada istrinya. Dari pada dia harus ke rumah mertuanya dan bertemu dengan Adnan di sana, dia lebih baik mengantar Kirana ke rumah Lucy. Toh gadis itu akan segera menikah dengan Adnan tidak lama lagi. Dia sendiri juga sudah menganggap Lucy seperti saudara perempuannya.


...***...


“Abang hati-hati ya. Jangan sampai luka,” kata Kirana pada Raihan setelah keduanya sampai di pelataran rumah mewah Lucy.


“Kalian ada pengen makan sesuatu nggak? Pesan sekarang mumpung belum malam. Nanti kalau sudah jam 9 tutup gerbang kunci pintu dan jangan keluar-keluar lagi ya,” kata Raihan pada ketiga perempuan itu.


“Ningrum nih pengen ke minimarket depan,” kata Lucy.


“Mau sekalian Abang temenin nggak?”


“Nggak usah Bang, itu minimarketnya kelihatan. Toh dekat dengan pos satpam Bang nggak papa Kirana nggak takut kok,” jawab Kirana menghapuskan kekhawatiran suaminya.


“Ok kalau begitu Abang berangkat dulu ya. Assalamualaikum,” pamit Raihan.


“Waalaikumsalam, hati-hati Abang,” jawab Kirana diikuti dua yang lainnya.


Kirana dan kedua sahabatnya itu kemudian melangkah ke minimarket. Lucy yang meraih keranjang sedangkan Kirana dan Ningrum sudah berpencar untuk mencari apa saja yang ingin mereka beli. Kirana meraih dua kaleng soda, dua bungkus makanan ringan, sebatang coklat, semangka potong, dan susu kental manis. Ningrum menambahkan potongan pepaya, melon, nata de coco dan 5 bungkus mie instan goreng serta bon cabe. Lucy membawa semuanya ke kasir dan memesan 3 sosis panggang dengan sauce barbeque.


Ketiganya langsung kembali ke rumah, mengunci gerbang dan pintu depan, memastikan semua jendela terkunci dan memulai party yang sudah lama tidak mereka lakukan itu. Entah kapan terakhir kali mereka kumpul-kumpul begini. Karena diakui atau tidak, semenjak Kirana menikah dan Lucy jadian dengan Adnan hubungan mereka merenggang.


Sudah Ningrum sibuk, Lucy lebih prioritas pada pendidikan dan kekasihnya, Kirana survive dengan dirinya sendiri. Makanya begitu mendapatkan kesempatan mereka memanfaatkannya dengan sebaik mungkin.


Lucy meraih satu mangkuk besar kemudian Kirana dan Ningrum mengecilkan potongan buahnya dan memasukkan semuanya ke dalam mangkuk beserta nata de coco, susu, dan soda. Setelah jadi, Lucy menambahkan banyak es batu kemudian meraih 3 sendok dan membawanya ke depan tv.

__ADS_1


Setelah sup buah mereka jadi, Ningrum membawa 3 sosis panggang yang tadi mereka beli juga 3 bungkus mie instan rebus berbagai rasa yang mereka oplos jadi satu. Kirana juga meraih botol air mineral dari dalam kulkas dan membawa semua cemilan ke satu meja yang sama. Ketiganya asik makan dan nonton film. Kadang mereka tertawa karena tingkah si tokoh, kadang mereka juga akan menangis terbawa suasana.


__ADS_2