
Kirana tersenyum sepanjang perjalanan pulang. Entahlah dia sebenarnya juga tidak tahu alasan moodnya bisa jadi begitu bagus saat ini. Rasanya hujan yang sedang dia terjang ini membuat sejuk hatinya juga.
“Mama, tadi Mama kemana sama Papa?” tanya Amira.
“Amira…, Mama mau ngomong sama kamu. Denger ya sayang, kamu boleh manggil om Galih pakai sebutan ‘papa’ tapi jangan terlalu sering ya. Lagi pula Papanya Amira itu kan Papa Raihan, mau sampai kapanpun nggak akan berubah nak. Amira harus ingat, kalau Amira manggil papa ke om Galih papa Raihan akan sedih juga. Amira cuma boleh manggil papa kalau Amira lagi kangen banget sama papa ya, janji sama Mama?” kata Kirana.
“Yeee Amira punya papa. Iya Amira janji,” kata Amira.
Kirana mengelus kepala putrinya dengan sebelah tangan yang bebas dari kemudi. Dia mungkin tersenyum, tapi di hatinya ada satu perasaan bersalah yang begitu besar sekarang. Dia tidak tahu apakah yang dia katakan barusan ini benar atau salah. Dia bahkan baru mengenal Galih tadi. Baru mengenal nama dan pekerjaan, belum kepribadian dan lain sebagainya. Andaipun tadi Galih tidak berkata demikian, Kirana juga masih tetap menegur sebutan Amira pada laki-laki itu. Kirana merasa tidak enak dan merasa bersalah bukan pada Galih tapi pada mendiang suaminya, Raihan.
***
Sebelum sholat subuh, Kirana membangunkan Amira dengan perlahan. Gadis kecil itu mungkin belum selalu ikut sholat bersama ibunya tapi Kirana tetap membiasakan putrinya ini bangun setiap jam subuh. Selepas sholat, Kirana mengajari beberapa surat-surat pendek pada Amira baru keduanya keluar dari kamar ketika hari mulai terang.
“Pagi uti,” sapa Amira.
“Pagi tuan putri,” sapa balik Mama pada cucunya.
“Mama susu,” kata Amira.
“Sebentar ya sayang. Tunggu dulu Mama rebus air dulu,” kata Kirana membuat anak itu mengangguk kemudian duduk manis menunggu di sofa depan tv.
“Ma, Mama hari ini ada kegiatan nggak? Aku titip Amira boleh?” tanya Kirana.
“Mama ada acara sama ibu-ibu bhayangkari, apa Amira Mama ajak aja ya?”
“Boleh deh Ma, soalnya hari ini aku sibuk banget. Kasihan kalau Amira ikut aku, rumah juga kosong. Lucy lagi di rumah orang tuanya, nggak enak kalau aku titipin Amira,” kata Kirana.
“Ok, Amira sama Mama,” kata Mama.
Setelah susu hangat itu jadi, Kirana membawanya kepada Amira. Dia juga membantu Amira menghabiskan roti tawar dengan selai kacang coklatnya baru mengajak putrinya itu untuk mandi dan menggosok giginya.
“Amira, hari ini ikut sama uti ya. Mama harus kerja, maaf ya Amira nggak bisa ikut sama Mama dulu, soalnya Mama banyak kerjaan. Nanti Amira bosen kalau ikut Mama. Nggak papa kan sayang?” tanya Kirana sambil memakaikan pakain pada Amira.
__ADS_1
“Nggak papa Ma, Amila sama uti. Mama semangat keljanya ya,” kata Amira.
“Ok, Nih Amira pakai baju yang ini mau nggak?” tanya Kirana.
“Mau yang pink aja Ma, yang ada kupu-kupunya,” kata Amira.
“Ini Mama taruh sini ya, dipakai nanti aja kalau sudah mau berangkat. Nanti Amira minta tolong Uti pakaikan ya,” kata Kirana diangguki oleh Amira.
Kirana sengaja menitipkan Amira pada utinya bukan karena dia sibuk sebenarnya. Tapi karena dia ingin menemui Raihan pagi ini. Semalam lagi-lagi dia memimpikan Raihan. Dia melihat suaminya itu tersenyum namun tidak mampu dia gapai. Selalu saja begitu setiap kali mendekati hari kematian Raihan dia pasti memimpikan hal yang sama.
“Papa…, apa kabarmu Pa?” gumam Kirana pada nisan bertuliskan nama suaminya ini.
“Pa, putrimu mulai pinter tuh. Dia ngerti protes, ngerti marah, beberapa kali juga merajuk dan kalau sudah begitu dia jadi nggak mau makan. Amira kita yang cerewet kalau lagi marah serem ternyata. Soalnya dia bakal diem aja di sofa, nggak mau diajak ngomong,” kata Kirana lagi.
“Papa…, kemarin aku berkenalan dengan seorang laki-laki. Namanya Galih. Dia polisi juga, seorang brimob. Asli Bandung dan kelihatannya dia begitu menyayangi Amira. Amira selalu saja memanggil laki-laki itu dengan sebutan Papa seakan-akan dia adalah ayahnya. Maafin aku Bang, aku nggak bisa ngajarin yang bener ke putri kita. Tapi pada akhirnya aku malah mengizinkan dia memanggil laki-laki itu dengan sebutan Papa. Abang, aku salah. Kesalahanku besar banget ke kamu Bang. Marahin aku dong Bang,” kata Kirana yang terus saja mencurahkan perasaannya pada nisan itu. Padahal Kirana tahu dia tidak akan mendapatkan respon.
***
“Kirana, syukur deh kamu datang tepat waktu,” kata Lucy yang gelisah duduk di balik meja kasir.
“Nggak tahu, tiba-tiba perutku rasanya nggak nyaman. Semalam sempat demam dikit. Kayaknya aku ketularan Abang,” kata Lucy.
“Duh, kamu pulang aja istirahat gimana? Cafe biar aku yang jagain. Jangan sampai sakit lho kamu jaga kesehatan Cy,” kata Kirana.
“Aku mau ke rumah sakit dulu deh Ki kayaknya. Dari pagi gerakan bayiku beda kayak biasanya, Papanya juga lagi sakit makanya aku mau ketemu dokter. Biar tenang aja pikiranku,” kata Lucy.
“Kamu mau ke rumah sakit sama siapa?”
“Ningrum lagi otw ke sini kok, kamu anterin aku ke rumah sakit dong tolong ya,” kata Lucy.
“Yaudah ayo, kutemenin,” kata Kirana.
Dia membatalkan rencana kerjanya hari ini dan memilih menemani Lucy ke rumah sakit. Setelah mendaftar dan mendapatkan nomor antrian, keduanya duduk menunggu di ruang tunggu poli yang letaknya ada di ujung lorong pertama.
__ADS_1
“Cy, aku beliin susu nih diminum biar nggak lemes banget. Terus itu aku beli beberapa snack sama buah ambil aja mana yang kamu mau,” kata Kirana.
“Makasih,” kata Lucy.
“Masih kerasa nggak nyaman perutnya?” tanya Kirana.
“Masih. Entah ini karena hatiku yang nggak tenang atau karena sakit aku nggak paham, tapi aku beneran takut ada apa-apa,” kata Lucy.
“Nggak akan ada apa-apa kok. Bang Adnan sudah baik banget jagain kamu, di sini kamu juga nggak sendirian. Kali ini pasti bisa. Yang yakin dong,” kata Kirana memberi semangat pada iparnya.
“Kirana, kalau kamu nggak keberatan malam ini kamu nginep rumahku dong. Ajak Amira juga boleh,” kata Lucy.
“Boleh saja. Kebetulan aku juga lagi nggak pengen sendirian, lagi inget Bang Raihan terus,” kata Kirana.
“Bentar lagi ya. Yaudah kamu nginep di tempatku aja ya, soalnya lagi nggak mungkin kalau aku sama Bang Adnan yang ke rumah Papa,” kata Lucy.
“Iya Lucy. Aku nginep di tempatmu. Ini kabarin Mama dulu,” kata Kirana.
Kirana membuka lock handphonenya. Di langsung membuka sebuah aplikasi pesan singkat di handphonenya dan membuka room chatnya dan Mama. Baru dia kirim pesannya pada Mama, muncul sebuah notifikasi dari nomor yang asing. Dahi Kirana berkerut, dia menduga-duga siapa yang mengirimkan pesan “hai” padanya. Baru dia akan membuka pesan itu, muncul satu pesan berikutnya, “ini Galih,” katanya. “Kalau neng mau boleh lho neng save nomor aa,” katanya pada pesan ketiga.
“Ki? Mama bales apa?” tanya Lucy membuyarkan lamunan Kirana.
“Ha? Oh belum. Belum bales,” kata Kirana.
“Terus kamu chatting sama siapa?” tanya Lucy yang entah kenapa merasa penasaran.
“Oh ini, aku kenalan sama seseorang kemarin. Dia sepupu guru musiknya Amira, kebetulan brimob kerja bareng Bang Adnan,” kata Kirana.
“Jangan-jangan yang namanya Galih itu?” tanya Lucy.
“Kok kamu tahu?”
“Abangmu cerita. Katanya ada yang minta nomor kamu ke Abang,” kata Lucy sambil tersenyum.
__ADS_1
“Ah, sudah kuduga. Pantes dia bisa punya nomorku,” kata Kirana sedikit tertawa memandangi nomor asing itu.
Tanpa pikir panjang Kirana langsung menyimpan nomor itu dengan nama “Aa Galih”. Lucy sempat melirik dan tersenyum ketika melihat seperti apa Kirana menamai nomor laki-laki itu. Di dalam hatinya dia mulai mendoakan keduanya. Siapa tahu kan laki-laki ini akan membawakan kebahagiaan abadi untuk iparnya yang terlalu hebat berpura-pura kuat seorang diri.