Baret Biru

Baret Biru
92. Galau


__ADS_3

Kirana yang sebelumnya mendapatkan firasat tiba-tiba pergi ke pemakaman mendiang suaminya dan menemukan Galih duduk tanpa tenaga di hadapan nisan Raihan. Kirana meraih payung dari bagasi mobil kemudian membawanya untuk memayungi Galih.


“Benar kan dugaanku, aa pasti di sini menyiksa diri,” kata Kirana.


Galih menoleh ke atas dan menemukan Kirana berdiri di hadapannya dengan wajah yang penuh dengan emosi. Karena Galih sama sekali tidak memberikan respon, Kirana melepaskan payungnya membuat tubuhnya juga basah karena hujan. Galih panik, dia langsung meraih payungnya lagi kemudian memayungi Kirana.


“Jangan Ki, nanti kamu sakit,” kata Galih.


“Lepas aja a, selama aa masih manggil aku kaya gitu aku nggak akan pakai payungnya,” kata Kirana berusaha melepaskan payung itu dari genggaman Galih.


“Kirana…,”


“Aa masih nggak percaya sama aku?”


“Ki…,”


“Menurutmu buat apa aku mau jadi istrimu, memberikan segala yang aku punya buat kamu bahkan untuk hamil dan merasakan penyiksaan demi memberikan buah hati buat kamu kalau bukan karena aku sayang sama kamu? Kenapa sih kamu jadi ragu? Kamu merasa bersalah sama dia? Sama laki-laki yang udah bikin istrimu patah hati sampai kamu marahin semua orang hanya karena perasaan nggak jelasmu itu. Mikir apa sih kamu?!”


Galih tidak pernah membayangkan jika Kirana akan marah padanya. Galih masih terus berusaha memayungi Kirana, dia memeluk Kirana dengan tangannya yang bebas dan berusaha mempertahankan Kirana agar tidak lepas dari pelukannya.


“Ma, jangan marah kamu bikin aku semakin terpuruk tahu nggak,” kata Galih.


“Kamu kenapa sih Pa?” akhirnya Kirana meredakan emosinya.


...***...


Saat ini Kirana dan Galih berada di rumah. Kirana meletakkan segelas teh hangat di hadapan Galih yang hanya duduk sembari melamun di sofa ruang tengah, “aku mau jemput Amira dulu. Setelah aku pulang nanti, papa harus ceritakan semuanya,” kata Kirana.


Galih menahan tangan Kirana, kemudian ikut berdiri, “aku ikut,” katanya.


Saat Amira tidur siang, Kirana dan Galih kembali mendapatkan momen untuk ngobrol berdua. Kirana duduk di sebelah Galih kemudian membawa tangan Galih untuk dia letakkan di atas perutnya.


“Aa cerita dong, jangan diem-dieman terus,” kata Kirana.


“Pikiranku lagi kusut banget. Tempo hari aku mimpi Bang Raihan bawa kamu sama anak-anak pergi. Aku takut Ma,” kata Galih.

__ADS_1


“Aku sadari kalau hamil dan melahirkan itu taruhannya nyawa. Aku mungkin pernah meminta, tapi aku pikir-pikir lagi sepertinya aku tidak sanggup melihatmu berjuang. Aku takut kehilangan kamu. Setelah lika-liku hati demi bersamamu, aku akhirnya bisa menjadi suamimu. Belum sempat aku puas memanjakanmu anak ini sudah hadir dan memberatkan langkahmu,” kata Galih segera dipotong oleh Kirana.


“Pa, jangan pernah bicara yang nggak-nggak dong. Kasihan anak kamu, dia bisa dengar. Ayolah Pa, jangan mikir aneh-aneh. Aku tahu kamu takut tapi jangan sampai menyiksa dirimu sendiri. Sama seperti aku yakin padamu, aku juga mau Papa yakin sama aku. Aku pasti bisa, aku janji aku akan bertahan. Aku nggak akan ninggalin kamu dan anak-anak,” kata Kirana.


...***...


Galih berakhir sakit malam harinya. Dia demam tinggi dan tubuhnya menggigil kedinginan. Kirana terpaksa memisahkan Amira yang sebenarnya sangat ingin bermain dengan Papanya. Mau bagaimana lagi, kalau Amira sampai ikut-ikutan sakit bisa jadi panjang urusannya.


Kirana tengah memasak makan malam dan gadis kecilnya membantu mencuci dan menata apel di atas piring. Setelah apelnya selesai ditata di atas piring, dia mengantarkannya dengan perlahan pada Galih yang terus meringkuk di atas tempat tidur. Kirana mengikuti dengan membawa segelas air putih hangat untuk suaminya.


“Kan jadi sakit,” kata Kirana.


“Yang tahu aku bakal sakit juga siapa,” kata Galih.


“Papa bandel sih,” Amira dengan polosnya malah menyalahkan Papa.


“Ya maaf, Papa salah nggak ngulangin lagi deh,” kata Galih.


“Papa makan malam dulu biar bisa minum obat.”


“Galih Arsa jangan tidur dulu. Aku ambilin, makannya di sini tapi harus makan,” kata Kirana sembari menarik selimut suaminya.


“Suapin ya,” kata Galih dengan manjanya.


“Papa aneh. Papa kan sudah besar tapi kenapa suka sekali minta suapin sama Mama?” tanya Amira.


“Soalnya di suapin Mama enak Mi. Kamu juga sama sukanya disuapin Mama padahal sudah gede. Sudah mau punya adek juga,” kata Galih.


“Tapi kan Ami sama Papa masih besaran Papa,” protes Amira.


Kirana hanya bisa geleng-geleng, belakangan ini Galih dan putrinya suka sekali berebut apapun soal Kirana. Entah berebut untuk bisa manja-manjaan, tidur sambil dipeluk, disuapi, bahkan pernah keduanya berebut untuk bisa mandi bersama Kirana.


Telinganya mungkin lelah mendengar pertengkaran itu, namun entah kenapa hatinya begitu bahagia. Sesekali dia berpikir “beginikah rasanya mendengar interaksi antara ayah dan anak?” karena jujur saja Kirana begitu penasaran andai kata Raihan saat ini masih hidup apakah dia akan sama seperti Galih dan Amira? Apakah Raihan akan menjadi ayah yang protektif? Tidak ada yang pernah tahu karena memang laki-laki itu tidak memiliki banyak kesempatan untuk bisa menjaga buah hatinya secara langsung.


...***...

__ADS_1


“Aa, besok ada acara bhayangkari lho,” kata Kirana.


“Mama mau berangkat, ya berangkat aja. Sama teh Lucy tuh berangkat bareng,” kata Galih.


“Masalahnya ada di materi acaranya a.”


“Emangnya soal apa?”


“Bina Keluarga Sejahtera. Wajib diikuti semua pasangan yang menikah dalam tiga bulan terakhir sisanya nggak wajib ikut. Lucy besok jaga cafe makanya dia nggak datang,” kata Kirana.


“Maksudmu kita wajib ikut gitu? Bukannya bina keluarga sejahtera tuh kamu udah katam sama materinya?” tanya Galih.


“Makanya itu,” keluh Kirana.


“Pembicaranya Ibu kan?”


“Iya sih.”


“Yaudah nggak papa dateng aja. Tapi aa nyusul ya, aa ada kegiatan dulu paginya. Nggak papa kan kamu berangkat sendiri?” tanya Galih.


Kirana mengangguk. Sebenarnya untuk ikut dalam pertemuan besok hatinya menolak. Dia seperti enggan untuk datang. Dia juga selama 3 bulan ini menikah dengan Galih belum sekalipun dia mengikuti acara bhayangkari. Jika bukan karena kemarin Lucy memberikan sebuah undangan dengan namanya tertulis sebagai penerima, dia tidak akan datang besok.


Kirana insekyur, orang satu polda tahu jika dia adalah janda anak satu apalagi mereka juga tahu jika mantan suami Kirana adalah Alm. Raihan yang merupakan seorang anggota juga. Walaupun statusnya saat ini adalah istri sah Galih Arsa, tapi hal itu tidak membuat cibiran terhadap dirinya meredam. Dia bahkan sempat mendengar secara tidak sengaja ada yang bicara buruk tentang dirinya.


Di hari pertama dia memperkenalkan diri pada ibu-ibu bhayangkari yang hadir dalam pertemuan rutin di markas brimob, dia mendengar ada dua orang ibu-ibu bicara tidak mengenakkan tentang dirinya.


“Bu Kirana istrinya Pak Galih?” tanya seseorang pada yang duduk di sampingnya.


“Iya, kudengar dia adalah janda. Mantan suaminya polisi juga dulu. Kalau tidak salah dengar mantan suaminya adalah sahabat Pak Adnan, kakaknya sendiri. Terus sekarang dia nikah sama Pak Galih, sudah begitu aku juga dengar kabar kalau Bu Kirana dulu pernah menjalin hubungan dengan Pak Keenan,” jawab yang lainnya. Kirana bisa mendengar dengan jelas dari balik bilik toilet. Ketika kedua orang itu begitu asik mencibir Kirana dan mengatakan yang tidak-tidak tentangnya.


Galih melihat istrinya mulai melamun. Dia menggeser posisi tidurnya, kemudian meminta Kirana untuk meletakkan kepalanya di dada Galih. Kedua tangannya Galih pakai untuk memeluk Kirana dan menepuk-nepuk pundaknya, “nggak usah mikir yang nggak-nggak. Kata Ibu ibu hamil nggak boleh mikir jelek, kasihan bayi yang di perut,” kata Galih.


“Maunya sih nggak mikir, tapi akhirnya kepikiran juga.”


“Diceritain sama aa makanya, jangan dipendam sendiri. Kan kalau kamu sudah cerita jadi sedikit lebih ringan perasaannya. Kamu udah ngerasain nggak enaknya hamil sendirian, makanya kalau ada apa-apa ceritalah sama aa. Biar aa bisa ikut ngerasain juga,” kata Galih diangguki oleh Kirana.

__ADS_1


__ADS_2