Baret Biru

Baret Biru
81. Kembali Ke Jogja


__ADS_3

Galih membawa Kirana ke rumah nenek. Rumah itu cukup besar, terdiri dari 2 tingkat dengan halaman belakang dan sebuah kolam renang. Melihat seberapa besar rumah ini membuat Kirana menyadari jika Galih tidak berbohong soal keluarganya yang kaya raya. Galih pernah bilang jika dia meninggalkan semuanya di Bandung karena memilih mengabdi pada negaranya.


“Rumah ini adalah rumah orang tuaku. Sertifikatnya sudah atas namaku dan rencananya rumah ini akan kujual untuk membeli rumah baru untuk tinggal bersamamu di Jogja. Tentu saja nanti setelah kita menikah,” kata Galih.


“Memangnya aa akan menikah denganku? Bagaimana kalau aa dipaksa menikahi gadis yang tadi di rumah sakit itu?”


“Aa akan tetap memilih kamu. Aa sudah nggak peduli sama omongan om dan tante. Walaupun aa dekat sama Gigi, tapi aa nggak suka sama orang tuanya. Mereka itu hanya mengincar harta aa saja. Mereka nggak benar-benar tulus sama aa,” kata Galih.


“Kenapa aa bisa bilang begitu? Kalau mereka nggak peduli sama aa mereka nggak akan nyariin jodoh buat aa dong,” tanya Kirana.


“Aa belum cerita ya sama kamu, aa itu pernah sekarat karena 3 peluru tembus punggung. Nggak ada effort mereka untuk jenguk aa sama sekali padahal berapa minggu aa di rumah sakit. Cuma nenek yang bela-belain datang ke jogja seorang diri,” kata Galih terdengar sedikit emosi.


“Astagfirullah…,”


“Aa nggak cerita sama kamu karena aa nggak mau kamu mikir macem-macem, toh aa sekarang sudah sehat,” kata Galih.


“Tapi kedepannya aa nggak akan nyimpen masalah kayak gini sendirian lagi kan a?”


“Nggak, karena sekarang aa sudah punya kamu ya aa akan cerita. Aa nggak mau bikin kamu khawatir apalagi sampai dengar kabar aa dari orang lain,” kata Galih mencoba menenangkan Kirana yang terlihat gelisah.


“Udah ya, dilanjut aja masaknya yuk. Aa bantuin,” kata Galih diangguki oleh Kirana.


Tepat ketika jam makan siang tiba, Galih dan Kirana melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Sudah jelas kedua orang tua Gina semakin tidak suka melihat Kirana setelah dia kembali bersama Galih. Apalagi laki-laki itu kini tengah merangkul bahunya.


“Tante ini aku bikin sesuatu buat tante, semoga tante suka,” kata Kirana sembari menyodorkan kotak makan siang bertingkat pada tante.


Kotak makan siang itu tidak juga diterima dan akhirnya Gina yang menerimanya. Dia dengan wajah sumringah membuka kotak makan siangnya. Matanya semakin berbinar begitu melihat isi di dalamnya, “wuih, makan enak nih,” kata Gina memuji Kirana.


“Dek, Kirana masak apa? Nenek mau ngerasain juga,” kata nenek.


“Oseng-oseng tempe, bakmie, sama ayam goreng kremesan nek. Nenek mau? Gigi suapin dikit-dikit ya,” kata Gina diangguki oleh nenek.

__ADS_1


Galih mengajak semuanya untuk makan bersama. Walaupun kedua orang tua Gina hampir tidak menyentuh masakan Kirana tapi setidaknya Tia mencobanya. Gadis itu bahkan memuji masakan Kirana enak walaupun sederhana. Mama yang melihat ada bakmie di hadapannya akhirnya luluh juga. Dia mencicipinya walaupun dengan mulut tetap mengumpat. Sayangnya rasa masakan Kirana tidak main-main. Mama dibuat terdiam karena lidahnya kembali merasakan cita rasa yang begitu dia rindukan.


“Orang jogja asli yang masak. Rasa seenak ini mau nyari dimana juga nggak akan dapet. Cuma Galih Arsa yang punya,” kata Galih kembali memuji Kirana yang hanya tersenyum karena merasa sukses membuat mamanya Gina suka pada masakannya.


“Syukurlah kalau tante suka,” kata Kirana dengan sengaja.


Mamanya Gina yang mendengar ucapan Kirana langsung meletakkan sendoknya dengan kasar dan mulai mengomel lagi, “kata siapa suka. Ini pasti kamu kasih banyak micin. Iyalah enak, bukan kamu juga yang bumbui,” kata Mama dengan sarkas.


“Katanya jago masak, bedain rasa micin sama rasa bumbu aja nggak bisa,” gumam Gina tapi mampu didengar oleh ibunya.


“Ini enak beneran lho. Dosa kamu sudah dikasih masih ngedumel gitu. Ci, kamu itu sudah tua dewasa dikit dong. Jangan kaya anak kecil terus, malu sama ponakanmu sama anakmu juga,” tegur nenek.


“Bener-bener ya. Ini kalau kamu nggak pake pelet terus apa? Ibuku sampai segitunya ngebela kamu. Denger ya, aku nggak kan pernah kasih restu buat kamu nikah sama Galih. Aku akan berusaha misahin kalian berdua apapun caranya,” kata Mamanya Gina.


“Tante! Tante sudah kelewatan!” bentak Galih. Suaranya tidak begitu keras tapi cukup membuat nenek kaget.


“A udah, kasihan nenek,” kata Kirana yang menyadari kondisi nenek.


“Galih! Berani kamu ngusir om! Dasar anak durhaka!”


“Ok, aku yang pergi. Kirana, kemasi barang-barangmu,” kata Galih sedikit mendorong Kirana untuk segera mengemasi barang bawaannya. Kirana bingung kenapa tiba-tiba situasinya jadi mencekam begini. Dia hanya bisa diam dan mengemasi barangnya dibantu oleh Gina sedangkan Galih berpamitan dengan nenek.


“Nek, maaf aku balik ke Jogja. Nenek yang sehat ya, nanti kalau nenek sudah sehat akan kubawa nenek ke Jogja juga. Aku nggak mau nenek terus-terusan sama anak nenek yang satu ini,” kata Galih.


“Jangan nekat kamu,” cegah nenek.


“Aku nggak akan senekat itu nek. Aku memang sudah berencana pulang besok, tapi karena aku lihat istriku diinjak-injak aku nggak tahan nek. Janji sama aku nenek akan sehat. Nanti kalau aku sudah sampai di Jogja akan ku kabari,” kata Galih.


“Aa, teteh, hati-hati ya. Kabari bener lho kalau sudah sampai. Aku tunggu,” kata Gina.


“Maaf ya aku malah bikin perkara,” kata Kirana berpamitan pada Gina.

__ADS_1


“Oh sadar diri juga kamu. Seharusnya kamu memang nggak usah ke sini dan nggak usah kenal sama Galih sekalian,” kata Mama yang tidak lelahnya memaki Kirana.


“Pulang teh cepetan. Aku juga nggak kuat denger teteh digituin,” kata Gina.


Galih langsung menggandeng tangan Kirana. Setelah dia berpamitan dengan nenek Galih dan Kirana pergi. Selama di dalam lift Galih beberapa kali menghela nafasnya dan berusaha menenangkan diri. Dia meraih ransel yang dibawa Kirana dan dengan senang hati menggantikan dia membawa tas yang lumayan berat itu.


“Aa kita nggak bener-bener langsung kembali ke jogja kan?” tanya Kirana.


“Iya kita balik ke Jogja,” jawab Galih.


“Aa…,”


“Kirana, kamu boleh saja kuat tapi aku nggak. Aku paling nggak bisa dengar cacian, apalagi yang dicaci adalah kesayanganku. Apa yang tante lakukan terlalu mengingatkanku pada Papa. Pada luka terbesar yang sampai sekarang masih menganga lebar di hatiku, Ki. Apalagi tante bukan tipe orang yang main-main sama ucapannya. Aku takut tante akan benar-benar berusaha memisahkan kita. Kita baru saja bisa bersama,” kata Galih.


Kirana mendekati Galih kemudian mengelus punggungnya. Dia tidak berucap apa-apa dan hanya diam ketika Galih seperti kehilangan tenaganya hanya karena Kirana dicaci oleh ibu dari sepupunya sendiri.


“Aa, bahaya kalau aa nyetir dalam kondisi nggak tenang begitu,” kata Kirana memperingatkan Galih yang hampir membuka pintu kemudi.


“Aa sudah nggak kuat ada di sini Ki, pengap.”


“Biar Kirana yang bawa mobilnya. Aa arahkan Kirana harus kemana, ok?”


Galih mengangguk kemudian memberikan izin pada Kirana untuk duduk di kursi kemudi. Baru mereka akan melajukan mobil, Tia menghadang membuat Kirana langsung menginjak rem.


“Apa-apaan sih? Cari mati lo?!” bentak Galih.


“Please dengerin gue dulu. Gue nggak ada maksud buat merebut elo dari Kirana. Gue juga nggak suka sama perjodohan konyol itu. Gue ke sini berharap ketemu sama lo dan bisa ngajak lo buat sama-sama nolak, nggak lebih.”


“Yaudah. Lo udah lihat kan, mustahil gue bilang iya. Gue udah punya calon istri,” kata Galih yang kembali masuk ke dalam mobil.


“Kirana…, aku bilang ini biar kamu nggak salah paham. Andai suatu saat nanti Mama mengatasnamakan aku untuk memisahkan kamu dan Galih kamu boleh percaya kalau itu semua bohong. Sumpah aku nggak akan ngelakuin itu,” kata Tia.

__ADS_1


“Kirana udah denger. Sekarang lo minggir aja. Gue udah muak,” kata Galih. Begitu Tia menyingkir, Galih meminta Kirana segera menjalankan mobilnya dan keluar dari rumah sakit secepatnya. Galih memejamkan matanya saat ini sedangkan Kirana di kursi kemudi mulai bingung kemana dia harus berbelok dan akhirnya dia asal saja ke sana kemari. Ada teknologi bernama maps pikirnya makanya dia tenang-tenang saja.


__ADS_2