
Sebulan terlewat begitu saja. Kondisi Amira sudah berangsur-angsur membaik dan anak itu bisa kembali ceria lagi sekarang. Walaupun Mamanya masih melarangnya melakukan banyak hal, tapi Amira tidak kesal atau sampai marah karena perhatiannya selalu teralihkan dengan keberadaan dek Daffa yang sementara waktu ada di rumah Akung Uti.
Kirana saat ini tengah duduk di cafe seorang diri. Sudah beberapa waktu Ningrum tidak kelihatan, sedangkan Lucy juga sibuk dengan putranya yang masih rentan. Terkadang pikiran Kirana akan melayang-layang, entah karena apa dia sendiri belum tahu penyebabnya tapi dia memiliki firasat yang tidak begitu baik saat ini. Apalagi dengan kepergian Ningrum yang tiba-tiba.
Terakhir kali Kirana bertemu dengan sahabatnya itu, dia tidak mau menatap matanya. Dia juga belum berani menanyakan kabar Ningrum pada Lucy karena saat ini Lucy sedang sensitif. Sedikit-sedikit marah, setelah itu bisa menangis. Tidurnya juga tidak pernah nyenyak karena Daffa sering terbangun di malam hari.
Kirana memahami beratnya Lucy saat ini. Dia pernah mengalaminya, seorang diri bertahan untuk putrinya. Bahkan hingga detik ini Kirana masih melakukannya dan akan terus melakukannya. Beruntungnya Lucy memiliki Bang Adnan, setidaknya dia tidak akan menjalaninya seorang diri. Akan ada yang selalu membantunya, itulah kenapa Kirana bisa ikut membentak Bang Adnan jika dia membuat kesalahan.
“Mbak Kirana, ini nota belanja kemarin. Gimana nih Bu, bahan-bahannya banyak yang naik. Kalau kita tetap mempertahankan harga dan kualitas kita lama-lama bakal rugi,” kata Silma.
“Makasih ya, kamu lanjut kerja dulu aja. Nanti malam selesai beres-beres kita bahas semuanya,” kata Kirana diangguki oleh Silma.
Kirana langsung meraih handphonenya dan mencoba menghubungi Ningrum. Mumpung dia punya alasan untuk menghubunginya. Karena jujur saja dia tiba-tiba merasakan kecanggungan dengan sahabatnya yang satu itu. Beberapa kali Kirana mencoba, dia tidak juga mendapatkan balasan. Nomornya masih aktif, dia masih bisa menghubungi Ningrum tapi dia tidak mengangkat teleponnya.
“Ning, kamu kenapa? Marah ya sama aku?” gumam Kirana yang akhirnya menyerah mencoba menghubungi Ningrum.
“Neng geulis…,” panggil Galih yang baru saja membuka pintu cafe.
“Eh yang lagi ulang tahun datang nih,” kata Kirana.
“Laper nih neng, pesan kayak biasanya dong 1,” kata Galih.
“Oke, siap.”
“Lo mau pesen apa? Sini atuh udah gue bilang gue yang traktir,” kata Galih pada rekannya.
Selesai mengentry pesanan Galih, Kirana kembali mendongakkan wajahnya bersiap menerima pesanan berikutnya. Dia bertanya dengan senyum manis, namun segera hilang begitu menyadari siapa yang saat ini berdiri tepat di samping Galih, kekasihnya. Kirana terdiam, tangannya bahkan mulai bergetar ketika mendapati Keenan ada di sini.
__ADS_1
Galih menyadarinya, ternyata benar ada sesuatu yang terjadi antara Kirana dan Keenan di masa lalu. Terjawab sudah satu dari sekian banyak pertanyaannya tentang si misterius Keenan Raditya Ghifari.
“Jangan dipandang lama-lama, calon istri gue ini,” kata Galih dengan nada bicara yang seakan tidak tahu apa-apa.
“E…, pesen sama kayak Galih aja,” kata Keenan kemudian berjalan menjauh mendahului Galih.
Kirana langsung masuk ke dalam ruang staff begitu menerima pesanan. Apalagi saat ini Silma, Dimas, dan Seno mulai menyadari jika yang datang adalah mantan pemilik cafe ini. Ketiga orang itu mulai menyapa Keenan dan ngobrol dengannya.
Galih menyusul Kirana, untung dia sudah diizinkan masuk jadi dia bisa dengan mudah menemukan Kirana yang kini tengah menangis di depan wastafel. Galih berjalan mendekat, kemudian memeluk Kirana dari belakang mencoba untuk menenangkan Kirana yang masih bertahan dengan tangisannya.
“Masih sanggup kerja?” tanya Galih.
“Masih,” jawab Kirana.
“Jangan dipaksa, kalau memang nggak kuat ya pulang. Kalau perlu kuantar,” kata Galih lagi.
“Nggak sekarang, timingnya nggak pas,” jawab Galih.
“Tapi a…,”
“Shtt…, ditahan dulu. Nanti malam saja ceritanya, ok?” kata Galih lagi.
“Maaf a,” kata Kirana.
Galih menggeleng pelan, “maafmu belum bisa kuterima. Aku belum tahu duduk perkaranya Ki.”
Galih kembali keluar dari ruang staff dan berpura-pura tidak ada masalah. Sungguh, dia akui dia cukup pintar juga berakting. Bukan hanya menuntut cerita dari Kirana, tapi Galih sudah berniat menuntut cerita dari Keenan juga.
__ADS_1
Selesai makan siang, Galih dan Keenan kembali ke kantor. Galih menahan tangan Keenan dan memintanya ikut bersamanya. Karena saat ini markas sedang ramai, alhasil keduanya pergi ke ruang interogasi dan duduk berhadapan. Galih duduk di hadapan Keenan. Dia duduk di kursi yang biasa dipakai oleh penyidik sedangkan Keenan duduk di seberang.
“Jangan coba-coba Kee, gue udah tahu semuanya,” kata Galih.
“Gue mantan pacar Kirana,” jawab Keenan dengan nada yang sedikit ragu.
“Sejak kapan?”
“Gue sama Kirana pacaran dari jaman SMA, lanjut sampai ke perguruan tinggi. Tapi begitu lulus gue mutusin Kirana dan memilih masuk kepolisian,” kata Keenan.
“Itukah alasan lo bilang jangan main-main sama Kirana? Lo jujur sama gue sekarang, lo masih suka sama Kirana kan?” tanya Galih langsung pada intinya.
Keenan sempat terdiam tapi Galih yang bangkit dari duduknya, meletakkan tangannya di atas meja sembari menatapnya dengan tajam membuat Keenan terpojok. Keenan lebih dari tahu jika Galih selalu mampu mengorek informasi apapun dari para pelaku kejahatan dan dia mulai tahu bagaimana rasanya ditekan hanya dengan sorot mata yang begitu tajam mematikan.
“Jawab,” kata Galih singkat, tanpa nada tinggi, tanpa suara keras, tapi sukses membuat Keenan ketakutan.
“Sorry, iya.”
Galih mundur. Dia begitu saja meninggalkan ruangan dan pergi. Keenan masih terdiam, menyadari jika dia sudah membuat situasinya menjadi begitu keruh. Selama bertahun-tahun dia sukses menutupi perasaannya, tapi akhirnya terbongkar oleh Galih Arsa Shiddiq yang tiba-tiba menjadi kekasih hati Kirana.
Keenan sebenarnya sudah berusaha sekuat yang dia bisa untuk segera menghilangkan perasaannya. Tapi mau bagaimana lagi, Kirana adalah cinta pertamanya. Dia ingat betul hanya tinggal selangkah menuju ke pelaminan, tapi dengan bodohnya dia melepaskan gadis itu dari genggamannya. Dengan alasan tidak pantas dia melepaskan Kirana dan memilih pergi hanya agar Kirana bahagia dengan Raihan.
Keenan pikir dengan melihat kenyataan bahwa Kirana sudah bahagia dengan Raihan maka dia akan melupakan gadis itu cepat atau lambat tapi rupanya dia bukannya melupakan tapi malah semakin merindu dari hari ke hari.
Di hari dimana dia tahu Raihan tutup usia, ketika itulah dia menginginkan Kirana kembali ke dalam dekapannya. Sayang, Keenan terlalu lemah melawan egonya. Dia terlalu takut akan penolakan hingga dia menyadari dia telah kalah telak begitu nama Kirana terlontar dari mulut rekan kerjanya.
Keenan kini hidup dalam penyesalan. Seharusnya dia segera mencari solusi untuk masalah hidupnya ini, tapi bukannya membuka jalan, dia malah menambah masalah baru. Ningrum yang tidak sengaja dia temui 2 minggu lalu dia ketahui pergi meninggalkan Kirana dan Lucy saat ini karena dengan polosnya Keenan menyebut jika dia ingin kembali pada Kirana. Dia tidak menyadari jika gadis itu menyimpan sesuatu terhadap dirinya dan Keenan berakhir dengan menyakiti lebih banyak hati lagi.
__ADS_1