
Setelah tadi Galih mendapatkan cerita dari Keenan, sekarang giliran Kirana yang dia tanyai. Dia meminta Kirana untuk menunggu sejenak karena Galih berniat menjemputnya dan mengajaknya mengobrol. Dia hanya ingin tahu apakah Kirana juga masih memiliki perasaan yang sama dengan Keenan atau tidak. Jikapun iya, Galih akan mencoba ikhlas melepaskan Kirana walaupun sebenarnya dia sendiri juga tidak bisa menerimanya.
Galih tidak sampai turun karena Kirana saat ini sudah berdiri di depan cafenya. Kirana baru akan berucap, dia baru akan meminta maaf tapi Galih sudah meminta dia untuk diam. Galih sengaja masuk ke ringroad dan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Dia merasakan cemburu, telinga masih terasa panas setelah mendapatkan pernyataan dari Keenan tadi.
“Aku tidak terganggu dengan kenyataan bahwa kamu dan Keenan pernah jadi sepasang kekasih. Aku cuma mau dengar kejujuranmu, apakah kamu masih mengharapkan dia kembali padamu?” tanya Galih.
Kirana terdiam begitupun dengan Galih. Kirana lebih dari sadar jika Galih saat ini terus berputar-putar. Jika untuk menuju ke rumahnya dia hanya perlu berbelok ke kiri, Galih sengaja berbelok ke kanan dan membuat rute yang mereka lalui jadi lebih jauh lagi.
“Waktumu hanya sejauh aku menuju ke rumahmu Kirana, tolong kamu jawab pertanyaanku. Aku akan menerimanya apapun itu,” kata Galih lagi.
“Aku pernah mengharapkannya a. Tapi tidak lagi setelah aku menikah dengan suamiku, dengan Bang Raihan,” kata Kirana.
“Apa yang membuatmu yakin untuk tidak mengharapkannya lagi Ki? Kalian saling menyayangi kan? Apakah dia membuat suatu kesalahan yang pada akhirnya kalian memutuskan untuk berpisah atau…,”
“Dia tidak berbuat salah. Dia hanya berkorban,” kata Kirana memotong kata-kata Galih.
“Maksudmu?”
“Kalau aa memang masih ingin mendengar ceritaku lebih baik aa hentikan dulu mobilnya. bahaya kalau aa tetap nyetir karena aku yakin aa akan kaget banget kalau tahu ceritanya,” kata Kirana. Galih mengiyakannya begitu saja. Dia sudah termakan rasa penasaran dan jika tidak menuntaskan semua ceritanya saat ini juga, dia tidak akan bisa melakukan apapun besok.
“Ceritakan, pelan-pelan. Aa tidak akan menyela, tidak akan menjawab, dan aa tidak akan marah. Aa hanya ingin dengar, agar aa tahu apakah aa masih bisa melanjutkan niat baik aa untuk meminangmu atau melepasmu kembali pada kekasih lamamu,” kata Galih.
“Keenan dan aku pacaran ketika kami masih SMA dan terus berlanjut saat kami berdua jadi mahasiswa. Benar kata aa tadi, aku dan Keenan memang saling menyayangi. Kami sudah sempat bertunangan ketika itu bahkan pembahasan tentang tanggal pernikahan sudah final dilakukan,” mendengar pernyataan itu membuat Galih hampir melempar dirinya ke tengah jalanan yang cukup ramai, tapi dia sudah terlanjur berjanji jika dia akan mendengarkan cerita Kirana dari awal hingga akhir.
__ADS_1
“Sayangnya, ada satu kondisi yang membuatnya memilih untuk meninggalkanku. Ini soal aibku, aib keluargaku. Selain Papa, Mama, Abang, Lucy, sahabatku Ningrum dan Keenan, tidak ada yang tahu soal ini,” Kirana sempat berhenti bicara untuk menyiapkan hatinya menyampaikan masa lalu kelamnya pada laki-laki yang sudah dia terima sebagai calon suaminya ini.
“Jangan ceritakan jika memang tidak perlu diceritakan. Itu aibmu, suamimu bahkan tidak perlu tahu,” kata Galih dengan suara yang pelan. Dia hanya tidak tega jika Kirana harus membuka sisi gelapnya hanya untuk meyakinkan dirinya.
“Nggak, aa harus tahu. Aku pernah diperkosa. Karena pemerkosaan itu tubuhku rusak, dan aku mengalami trauma batin yang cukup besar. Banyak hal yang membuatku takut, terutama karena ketidakhadiran Keenan yang ketika itu sangat aku butuhkan,” kata Kirana kini mulai meneteskan air mata. Untung di mobil Galih ada satu kotak tisu walau kecil tapi setidaknya dia bisa memberikannya untuk Kirana.
“Dia meninggalkanku, aku pernah memaksa Abang menceritakan semuanya padaku, dan Abang bilang Keenan pergi karena dia merasa tidak mampu melindungiku. Katanya dia melepaskanku hanya agar aku bisa mendapatkan yang terbaik. Aku berusaha sekuat tenaga mengembalikan kepercayaan diriku, aku hancur dan hampir tidak bertahan. Jika bukan karena Bang Raihan datang dan memelukku, menggandeng tanganku dan berjanji akan bersama denganku hingga nafas terakhir aku tidak akan bisa bertahan hingga detik ini,” kata Kirana.
“Karena itu pula kamu jadi begitu mencintai suamimu kan?”
Kirana mengangguk, “tapi nyatanya Bang Raihan juga mengingkari janjinya. Keenan mengorbankan perasaannya demi diriku, Bang Raihan juga mengorbankan nyawanya hanya untuk bisa bersamaku barang sebentar. Mereka bodoh menurutku a, mereka terlalu banyak mengumbar janji. Atas nama cinta mereka menyakiti dirinya sendiri,” kata Kirana lagi. Dia sudah tidak mampu melanjutkan ceritanya karena mulai terisak.
“Kalau aa bertanya kenapa aku memilih aa, jawabannya simpel. Karena aa adalah laki-laki pertama yang meminta kesempatan bukan memberikan janji. Aku bukan hanya nggak percaya cinta a, tapi aku juga nggak bisa percaya pada janji siapapun, bahkan janji yang diucapkan oleh papa dan abangku sendiri,” kata Kirana.
“Tidak ada laki-laki tulus di mata wanita yang trauma, maaf aku sudah memperlakukanmu seperti tadi,” kata Galih justru meminta maaf pada Kirana.
“Aa tidak perlu melanjutkan niat aa. Aa boleh pergi. Biar aku yang menjelaskan pada Amira, dia pasti mengerti.”
“Jangan katakan apapun dulu pada Amira. Beri aa waktu, aa akan memutuskan secepatnya,” kata Galih membuat Kirana mengangguk.
Galih memulangkan Kirana. Kecepatan mobilnya sudah tidak seperti sebelumnya. Dia bahkan berjalan cukup pelan, berada di lajur kiri dan beberapa kali mendapatkan klakson karena dianggap menghambat laju kendaraan lainnya.
Begitu sampai di kediaman Kirana, dia meminta Kirana untuk lebih dulu menghapus air matanya. Dia sudah menduga jika gadis kecilnya akan datang menyambut kedatangan Galih yang selama beberapa minggu ini rutin menjemput Kirana dari cafe.
__ADS_1
“Papa…,” panggil Amira begitu pintu gerbangnya terbuka.
“Hai anak manis, sudah nunggu ya. Amira sudah makan belum?” tanya Galih yang seperti biasa, menggendong Amira masuk ke dalam rumah.
“Sudah. Sekalang tinggal menunggu Papa bacakan celita. Bial Amila tidak mimpi buluk,” kata Amira.
“Ok, Papa bacakan cerita tentang si kancil dan serigala,” kata Galih.
“Memangnya ada celita sepelti itu?”
“Ada. Kan Papa yang buat,” kata Galih.
“Ok, kalau Papa yang buat Amila mau dengal.”
Galih masih melakukan apa yang biasanya dia lakukan pada Amira. Membantunya menggosok gigi, kemudian membacakan cerita pengantar tidur untuknya. Tapi untuk malam ini, sebelum dia membacakan cerita dia lebih dulu berpamitan pada Amira, “Amira…, besok Amira gosok gigi sama Mama ya, setelah itu tidur peluk Mama. Papa nggak bisa datang, karena Papa harus kerja,” kata Galih.
“Lagi?” tanya Amira dengan raut wajahnya yang sedih.
“Amira, kan Mama sudah bilang. Papa itu polisi, penjaga perdamaian. Kalau ada yang sedang bertengkar, Papa harus bantu,” kata Kirana.
“Tapi apa meleka tidak lelah beltengkal telus? Kasihan Papa jadi tidak bisa pulang,” kata Amira.
“Mereka tidak bertengkar terus kok, tapi Papa tetap harus memastikan kalau mereka tidak bertengkar lagi. Lagian Papa nggak capek, soalnya setiap kali Papa pulang Amira selalu menyambut Papa sambil tersenyum,” kata Galih.
__ADS_1
“Yaudah deh, tapi janji ya Papa segela pulang,” kata Amira lagi.
Kali ini Galih hanya mengangguk. Kirana bahkan melihat sendiri anggukannya begitu ragu dan penuh dengan ketidakpastian. Di dalam hati Kirana memasrahkan nasibnya. Dia hanya berpikir untuk segera menguatkan dirinya jika nanti Galih memilih pergi, agar dia bisa menguatkan Amira juga.