Baret Biru

Baret Biru
106. Gelisah


__ADS_3

Sayangnya doa Galih tidak terjawab. Kedua orang tua Bang Raihan kembali datang keesokan harinya. Kali ini keduanya membawakan banyak sekali keperluan bayi untuk Tiar dan mainan untuk Amira juga beberapa makanan dan buah untuk Kirana. Mama Hasna bahkan memberikan sebuah kereta bayi yang menurut Galih masih terlalu dini untuk dipakai oleh Tiar.


Semua hadiah itu dibawa ke rumah sakit membuat Galih terpaksa untuk pulang ke rumah membawa pulang hadiah-hadiah itu. Galih sengaja memaksa Amira ikut bersamanya. Karena saat ini sikap protektif Galih sedang meluap-luap. Galih sengaja berlama-lama di rumah. Dia juga sengaja menitipkan Amira kepada Lucy dan Adnan.


“Kok kita malah ke rumah Papa Adnan sih Pa?” tanya Amira yang bingung.


“Iya kak, kakak di sini dulu ya. Soalnya nanti sore kan Papa harus bawa pulang Mama dan Adek, kalau kita pulang nanti kakak di rumah sendirian nggak ada temannya. Nanti sore Amira nyusul ke rumah sama Papa Adnan dan Mama Lucy ya. Kita ketemu nanti sore. Kakak sekarang sekolah dulu sama Mama Lucy,” kata Galih pada putrinya.


“Galih…, sikapmu agak aneh. Kayak orang lagi ketakutan. Ada apa?” tanya Lucy yang menyambut kedatangan Amira dan Ayahnya.


“Iya teh, ada yang sedang kupikirkan. Masalahnya aku belum siap untuk cerita. Biar aku sendiri dulu yang ngerasain. Intinya aku titip Amira, nanti sore tolong diantar ke rumahku. Kalau teteh mau tahu apa yang sedang kutakutkan teteh menginaplah malam ini,” kata Galih.


“Kuusahakan ya. Kalau Bang Adnan memperbolehkan aku dan Daffa akan menginap,” kata Lucy.


“Ok makasih teh, aku kembali dulu ke rumah sakit. Nggak tenang aku ninggal Kirana terlalu lama,” kata Galih.


“Sama siapa dia di rumah sakit? Sendiri?”


“Sama orang tuanya Bang Raihan,” kata Galih yang mulai berjalan keluar untuk segera menuju ke rumah sakit kembali.


Mendengar penuturan Galih tadi membuat Lucy sedikit banyak paham apa yang Galih takutkan. Kemungkinan dia takut jika anak istrinya akan diambil alih oleh kedua orang tua Bang Raihan karena jujur saja beberapa waktu lalu kedua orang tua Bang Raihan juga sempat datang ke rumah Lucy dan mengobrol banyak dengan Adnan yang terkenal sebagai sahabat Raihan sejak keduanya masih pendidikan di Akpol.


Ketika itu pula Lucy mendengar jika kedua orang tua Bang Raihan terus memaksa Adnan mengingat dan menceritakan semua kenangan lamanya dengan Raihan dulu. Walaupun sebenarnya Lucy sendiri memahami seterpukul apa kedua orang tua Bang Raihan kehilangan putra semata wayang kebanggaannya namun tetap saja hatinya berkata apa yang dilakukan oleh keduanya sudah tidak benar.


Lucy lebih dulu menutup pintu depan kemudian sembari membantu Daffa dan Amira bersiap-siap Lucy memberanikan diri bertanya pada Amira, “Mi, gimana Mama?” tanya Lucy.


“Mama tangannya ditusuk jarum Ma, terus kata Papa Mama napasnya lewat selang biar nggak capek, tapi Mama baik-baik aja karena Mama masih bisa senyum. Kemarin Amira bantu Mama bobokin adek lho Ma, adek lucu banget masih kecil banget. Tangan adek aja lebih kecil dari tangan Amira,” Amira dengan senyum yang merekah menceritakan pengalamannya bersama sang adik.


“Iya kak Ami? Daffa juga mau punya adik,” jawab Daffa.


Lucy tersenyum, “Adiknya Amira kan adiknya Bang Daffa juga. Ya nggak Mi?” tanya Lucy berharap gadis yang tengah memakai kaos kakinya itu mengiyakan.

__ADS_1


“Iyah. Percis kaya Amira kakaknya Daffa, Dek Tiar juga adiknya Daffa,” kata Amira.


“Terus kemarin Amira main sama siapa di sana?” tanya Lucy mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


“Oiya Mama, kok kemarin ada nenek sama kakeknya Papa Raihan. Nemanin Ami main sama Mama sama Dek Tiar juga,” kata Amira.


“Bukan kakek neneknya Papa Raihan tapi kakek neneknya Amira. Kakek Nandar dan Nenek Hasna, iya kan?”


“Oiya. Amira salah ya hehe. Habis Amira bingung keluarga Amira banyak banget,” keluhnya.


“Amira hafalkan satu-satu pelan-pelan ya,” kata Lucy.


“Iyah,” jawabnya.


...***...


Begitu Galih kembali ke rumah sakit, dia menemukan Kirana tengah mencoba untuk duduk setelah berjalan entah dari mana. Tiar ada di gendongan Mamanya Bang Raihan saat ini dan melihatnya membuat Galih semakin merasa ada yang ganjil.


“Hai Pa,” sapa Kirana yang sudah kembali duduk di bednya.


Galih sengaja menjawab cium tangan istrinya dengan kecupan di kening dan di pipi. Galih bahkan tidak melepaskan genggaman tangannya dari Kirana selama beberapa saat hingga dia mendengar si kecil kembali menangis. Galih berjalan mendekat dan meminta putranya dari gendongan Mamanya Bang Raihan. Awalnya Mama Bang Raihan menolak menyerahkan Tiar namun karena Kirana ikut bicara Mama akhirnya memberikan bayi mungil itu pada ayahnya.


Tiar mulai berhenti menangis beberapa waktu kemudian. Dengan sabar Galih menimangnya, setelah anak itu agak tenang, Galih menyerahkan Tiar pada ibunya. Kirana langsung membuka kancing bajunya dan menutupinya dengan sehelai kain sedangkan Galih membantu posisi Kirana agar mudah menyusui Tiar.


Sembari menemani Kirana menyusui Tiar, Galih meraih makan siang Kirana yang belum tersentuh sama sekali. Dia menyuapi Kirana sembari terus mengobrol menemaninya.


“Ma, dokter sudah meriksa kamu belum pagi ini?” tanya Galih.


“Sudah. Papa beresin administrasi dulu gih biar sore ini kita bisa pulang,” minta Kirana.


“Sudah Papa beresin kok. Kamu nggak usah mikir itu. Suamimu ini cekatan, belum kamu minta juga aa sudah lakukan. Semua administrasi sudah beres, aa juga sudah mengurus akta kelahiran Tiar sekaligus menambahkannya ke kartu keluarga kita,” kata Galih.

__ADS_1


Galih terkesan seperti sengaja mengatakan hal itu. Dia seperti ingin menegaskan pada siapapun yang mendengar penuturannya bahwa Kirana, Amira, dan Bachtiar adalah miliknya, mereka adalah harta paling berharganya. Anggota keluarga yang tidak akan tergantikan oleh apapun.


“Kita pulang sama siapa a? Berdua aja? Ayah sama Bunda jadi kesini kan?” tanya Kirana.


“Jadi kalau ayah nggak molor,” kata Galih.


“Aa…,”


“Habis Bapak tuh setelah pensiun kerjaannya tidur mulu perasaan,” kata Galih.


“Tapi a, Ayah memang kelihatan kaya sakit apa gitu. Ayah bener baik-baik aja kan nggak ada masalah? Kirana takut ih,” tanya Kirana.


“Sakitnya Bapak mah banyak, yang asam lambung lah yang kolesterol lah, darah rendah lah, keracunan micin aja pernah Bapak tuh. Bukan sakit kok Ma, Bapak cuma mager aja. Habis Bapak nggak ada kerjaan lain selain ikutin kegiatan Ibu yang udah tua malah makin sibuk. Kalau udah bilang nganter Ibu kan sambil nunggu paling sambil molor di mobil, kebawalah sampai rumah juga gitu. *****, nempel bantal langsung molor,” kata Galih yang secara lepas membuka aib ayah angkatnya.


“Aa nih orang Sunda apa orang Jawa? Tahu istilah ***** dari mana a?” tanya Kirana yang mulai tertawa.


“Dari Bundamu lah say, dari mana lagi. Kamu kan sudah sering dengar sendiri cerewetnya Ibu ke Bapak kayak apa.”


“Kaya kereta rusak rem,” jawab Kirana.


“Nah….”


“Yaudah a kalau gitu tanya gih Ayah jadi jemput nggak? Aa tadi ke sini jadinya ngojek kan nggak bawa mobil?”


“Iya Mama, ini udah aa tanyain cuma belum ada yang bales. Kalau Bapak nggak bisa ya telpon Aksara apa Bang Adnan lah, atau telpon Papa buat jemput,” kata Galih.


“Sama Mama aja yuk,” kata Mama Bang Raihan tiba-tiba.


Kirana baru akan menjawab tapi Galih sudah mendahului bicara, “Nggak usah Ma, makasih. Nanti ngerepotin Mama. Ini Ibu sudah balas kok. Bapak sama Ibu yang jemput nanti,” kata Galih.


“Kalau begitu Mama nanti main ke rumah ya, biar Mama tahu rumah kalian,” kata Mama.

__ADS_1


Galih mana bisa menolak. Dia dengan sangat sangat terpaksa mengiyakan. Sembari di dalam hati berharap kembali agar kedua orang tua Bang Raihan tidak akan datang setiap hari, atau Galih akan benar-benar mengungsikan Kirana, Amira, dan Tiar ke rumah Bapak atau ke rumah Papa Bagus.


__ADS_2