
2 hari dia beristirahat total, Kirana akhirnya diperbolehkan untuk pulang. Pagi besok setelah pemeriksaan akhir Kirana akan kembali pulang ke rumah, sekalian menunggu Galih yang masih harus berjaga malam ini. Kirana saat ini ditemani oleh Mama dan Adnan sedangkan Papa mengantar Lucy, Amira, dan Daffa pulang setelah seharian bermain di sini.
“Ki, kalau sudah langsung tidur saja. Sisanya biar mama yang bereskan,” kata Mama melihat Kirana masih terus merapikan barangnya.
“Bentar Ma habis ini selesai kok,” jawabnya.
“Udah tidur aja, Nyet,” kata Adnan.
“Sebentar sih sabar,” protes Kirana yang entah kenapa berhasil membuat Adnan diam.
Kirana melipat pakaiannya sembari membayangkan akan tidur dalam pelukan suaminya malam besok. Entahlah, Kirana rasanya selalu merindu. Tidak pernah sembuh penyakitnya yang satu itu. Baru ini dia merasa ingin terus menempel pada Galih 24 jam penuh dalam seminggu. Padahal dulu ketika dia hamil Amira dia tidak begini, Kirana justru seperti ingin membuktikan jika dia adalah wanita yang kuat dan ibu yang baik makanya dia berusaha mandiri dan tidak merepotkan suami.
“Mama dulu waktu hamil Abang sama hamil aku beda nggak Ma rasanya?” tanya Kirana tiba-tiba.
“Beda, jauh sekali.”
“Bedanya apa Ma?”
“Dulu waktu hamil Abang Mama jadi baperan, mungkin wajar karena baru pertama kali. Tapi pas hamil kamu Mama malah nggak mau didekati Papa sama sekali. Bahkan nyium bau keringat Papa saja Mama bisa muntah,” kata Mama.
“Kayak Lucy waktu awal-awal. Serba salah aku, nggak mandi katanya bau kambing tapi kalau mandi dia bilang bau parfumku nggak enak padahal aku nggak pake parfum cuma handbody doang itupun dia yang beliin dia yang pilihin wanginya. Sabun juga dia yang beli dia yang milih. 3 bulan dia nggak mau tidur sama aku,” kata Adnan.
“Jiahh kasian nggak bisa deketin istri,” goda Kirana.
“Si monyet, kena lagi. Bisa nggak sih nggak ngatain sehari aja,” kata Adnan.
“Habis aku kangen sama Abang. Kangen ribut sama elo nyet,” kata Kirana.
__ADS_1
“Sok sibuk sih,” kata Adnan.
“Nggak sibuk ya, enak aja.”
“Waktumu udah habis buat ngurus Amira sama Galih sih makanya nggak ada waktu buat Abang. Kamu juga sejak hamil jadi jarang mampir ke rumah,” kata Adnan.
“Aku menjaga perasaan aa, Bang. Depan rumahmu itu ada rumahku. Pemberian Bang Raihan buat putrinya. Walaupun aa bilang nggak papa tapi kan aa pasti kepikiran. Awal nikah aja aa selalu banding-bandingin diri sama Bang Raihan,” kata Kirana.
“Wajar sih Dek, Galih juga pernah tanya-tanya sama Abang soal kamu dan Raihan. Galih paham, sesakit-sakitnya perpisahan adalah perpisahan karena kematian. Dia juga menyadari kalau kamu belum bisa melupakan Raihan makanya dia berusaha untuk mengisi kekosongan hatimu tanpa harus membuatmu lupa pada Papanya Amira,” kata Adnan.
“Padahal aku nggak pernah minta aa buat kaya gitu. Abang ya abang, aa ya aa, mereka sama-sama aku cinta tapi jelas di level yang berbeda. Kalau aa sampai mikir kayak gitu bukannya berarti aku yang salah ya, aku nggak adil sama mereka berdua,” kata Kirana.
“Nggak gitu konsepnya Kirana. Dia itu suamimu, dia kepala rumah tanggamu. Dia mengusahakan segala sesuatunya untukmu itu sudah hal yang wajar. Papa juga melakukan hal yang sama dulu, Ayah mertuamu juga Mama kenal pernah melakukan hal yang sama. Banyak kepala keluarga yang sudah sukses pasti memiliki titik perjuangannya sendiri. Kamu sebagai istri nurut saja. Biarkan suamimu mencoba dan berusaha tapi kamu juga harus bantu. Tugasmu itu bukan untuk mendebat suamimu tapi menemaninya berjuang,” kata Mama.
“Betul tuh. Sama kaya kamu yang beradaptasi dengan keluarganya dia, dia juga sama dia berusaha beradaptasi terhadap situasimu. Sudahlah dek, jangan dibiarkan meluap lagi pikiran-pikiran jelekmu dimasa lalu. Sakit Abang dengarnya,” kata Adnan.
Kirana menunduk, sembari menatap perut besarnya tangan kanannya terangkat untuk mengelusnya, “aku jadi kangen aa,” kata Kirana.
Adnan saat itu juga mendapatkan telepon. Karena melihat nama komandan sebagai orang yang menghubunginya Adnan berdiri dari sisi bed Kirana dan dengan nada tegas dia menjawab.
“Malam Ndan,” kata Adnan.
“Kondisi di pusat memanas, kita diminta untuk mengirim bantuan segera. Saya sudah memerintahkan Galih Arsa untuk berangkat dan kamu dampingi personil yang ke sana,” kata komandan membuat Adnan langsung mengarahkan pandangan pada Kirana yang bingung.
“Siap Ndan 86,” jawab Adnan sebelum sambungannya terputus.
“Kenapa Bang?” tanya Kirana.
__ADS_1
“Dek…, kayaknya rindumu harus ditahan dulu,” kata Adnan.
“Kenapa Bang? Ada apa?”
“Abang dan Galih diminta untuk memimpin pasukan dan berangkat ke mabes malam ini juga. Maaf ya Dek, sudah tugas. Kami tidak berani menolak,” kata Adnan.
“Kenapa Abang bicara begitu sih. Berangkatlah Bang. Aku titip salam buat aa ya,” kata Kirana.
“Salammu sudah tersampaikan,” kata Galih yang baru saja masuk ke dalam ruang inap Kirana.
“Aa…,”
“Maaf ya Neng, aku harus bertugas. Aku nggak bisa menolak tidak peduli seberapa inginku untuk tetap tinggal di sini. Sejak kemarin terjadi demo besar-besaran sehingga Mabes meminta bantuan dari Polda setempat untuk mengirimkan bantuan. Seperti yang kamu tahu, Keenan tengah cuti mempersiapkan pernikahannya sedangkan Aksara sudah tidak lagi bertugas di pelopor. Beberapa perwira lain juga masih memiliki tugas yang tidak kalah pentingnya di sini,” kata Galih.
“Aa…, aa itu kan komandan kompi. Kalau pasukanmu diberangkatkan mau tidak mau kamu harus maju memimpin kan. Mereka semua menunggu keputusanmu. Berangkatlah a, aku merestuimu dengan segenap hatiku. Akan kudoakan keselamatanmu dan juga pasukanmu,” kata Kirana.
“Tapi kamu bagaimana? Amira juga bagaimana?”
“Jangan jadikan aku dan Amira pemberat untuk langkahmu a, aku tidak suka. Justru aku ingin menjadi semangat dan motivasimu. Amankan Indonesia untukku, tanah ini adalah tempat untuk keluarga kecilmu tinggal dan sebagai kepala keluarga kamu wajib memberikan tempat terbaik dan teraman untuk kita,” kata Kirana.
“Kamu sungguh luar biasa Kirana. Maaf ya, aa harus segera kembali. Kamu istirahat saja di sini. Aa akan siapkan keperluan aa sendiri sekalian berpamitan pada Amira,” kata Galih.
“Aa, aku sudah siapkan beberapa perlengkapan mandi di rak paling bawah. Niatnya akan kukemas sebagai persiapan persalinan tapi karena aa sekarang lebih butuh silahkan aa bawa dulu. Pakaian bersihmu ambil saja yang ada di dalam lemari dan untuk seragam ada di gantungan. ranselnya kalau tidak salah masih ada di atas lemari, hati-hati ketika aa membuka plastiknya ya karena kuyakin debunya pasti banyak.”
“Makasih ya, aa berangkat,” pamit Galih.
Lebih dulu Galih mengelus perut Kirana kemudian berbisik di dekatnya, “Papa kerja dulu ya jagoan. Kamu bantu Papa jagain Mama sama Kakak di rumah,” kata Galih kemudian mencium perut Kirana.
__ADS_1
“Hati-hati a,” kata Kirana yang tengah mencium tangan Galih.
“Pasti,” jawab Galih yang mencium kening Kirana sebagai balasannya.