Baret Biru

Baret Biru
56. Bismillah Berjuang


__ADS_3

Permintaan Amira semakin hari semakin keras Kirana dengar. Untuk menenangkan hati putrinya, dia bahkan sampai menitipkan Amira selama beberapa hari di rumah Bang Adnan dan Lucy. Kirana juga sudah beberapa kali mengajak Amira ke makam Papanya untuk setidaknya mengingatkan jika Amira sebenarnya juga punya papa yang memiliki kasih sayang tak terhingga untuknya.


Kirana mulai berat datang mengantar Amira les musik karena setiap dia ke sana mereka akan bertemu dengan Galih yang ternyata memiliki 2 kelas di hari yang sama dengan kelas Amira. Beberapa kali Kirana melihat Amira merengek meminta om baiknya itu saja yang menemaninya bermain membuat Teh Gina terpaksa mengiyakan dari pada anak itu merajuk.


“Maaf, Pak Galih boleh saya bicara berdua dengan anda?” tanya Kirana.


“Anda memanggil Gina dengan panggilan ‘teh’, kenapa memanggil saya ‘Pak’? Kalau anda mau anda bisa memanggil saya dengan panggilan yang lebih akrab, ‘aa’ misalnya,” katanya.


“Apakah diizinkan? Maaf saya hanya takut, terlalu banyak yang ada di dalam pikiran saya saat ini,” kata Kirana.


“Tidak perlu takut, neng Kirana saya belum punya pacar atau istri. Saya masih single, jadi kalau eneng mau memanggil saya dengan panggilan akrab tidak akan ada yang marah. Gina juga tidak akan marah toh dia bukan pacar saya, dia sepupu saya,” katanya.


“Ahh…, saya pikir teh Gina pacar anda. Makanya saya takut sekali, anak saya juga sering kelewatan memanggil anda,” kata Kirana.


“Masih ada waktu 15 menit sebelum kelas saya dimulai. Neng, mau ngobrol dengan saya di warung depan tidak? Yuk, aa yang traktir,” kata Galih.


“Tapi Amira…,”


“Amila sendilian ndak papa kok Ma, Amila kan sudah besal,” katanya.


Mau tidak mau Kirana mengiyakan. Dia memang harus meluruskan sesuatu dengan laki-laki ini.


Galih dan Kirana menuju ke warung depan. Duduk berhadapan di salah satu mejanya. Galih meminta izin pada Kirana untuk memesan sepiring nasi sayur karena dia memang belum sempat makan di kantor tadi. Kirana sih iya iya saja, dia tidak akan melarang toh dia kemari juga hanya diajak.


“Tidak kusangka neng Kirana ini adiknya Bang Adnan,” kata Galih sesaat setelah menyelesaikan makannya.


“Sudah selesai a? Cepet sekali makannya,” kata Kirana yang cukup kaget karena beberapa menit ini hanya Kirana habiskan untuk melamun sambil memainkan sedotan di gelas es teh pesanannya.


“Karena kalau aa makannya lama bakal disemprot sama Abangmu,” katanya lagi.

__ADS_1


Galih bercerita minggu lalu dia bertemu dengan Adnan yang menggantikan Kirana mengantar Amira kemari itulah kenapa Galih bisa tahu jika wanita cantik yang sedang duduk di hadapannya ini adalah adik dari seniornya di brimob.


“Maaf deh kalau Bang Adnan galak,” kata Kirana mencoba bahasa yang agak santai.


“Nggak papa, sudah kewajibannya. Abangmu kan kabid propam kalau tidak tegas dan disiplin mau jadi apa anak buahnya nanti. Justru aku salut sama kerja Abangmu,” kata Galih entah kenapa membuat Kirana malu padahal bukan dia yang sedang dipuji.


“Oh iya tadi neng bilang ada yang mau dibicarakan?” tanya Galih pada Kirana.


“Ah itu soal Amira putri saya, saya ingin meminta maaf karena dia selalu memanggil anda dengan cara yang salah. Saya sudah berkali-kali menegurnya tapi dia selalu mengulanginya lagi dan lagi. Maaf sekali, jika anda memang tidak nyaman anda boleh memarahi saya sekarang,” kata Kirana.


“Sebenarnya aku tidak mengoreksi panggilannya karena aku senang dipanggil begitu. Ya mungkin neng Kirana berpikir aku orang yang aneh, tapi aku ini sudah sering kali membayangkan ‘kalau nanti punya anak perempuan pasti lucu. Dia akan manggil Papa dan manja kepadaku’ itulah kenapa aku membiarkan putrimu menyebutku demikian. Sedikit mengobati ambisiku, bisa dibilang,” katanya.


“Maaf a, apa aa serius soal tidak punya pacar atau istri? Soalnya saya benar-benar tidak mau merusak hubungan orang,” tanya Kirana.


“Nggak ada neng. aa jomblo dari lahir. Seumur hidup belum pernah merasakan pacaran. kalau soal jatuh cinta pernah sih, ke seorang gadis yang waktu itu kerja di cafe yang aku kunjungi. Tapi itu juga cuma cinta monyet. Aku nggak kenal gadis itu namanya siapa, bagaimana kabarnya sekarang juga nggak tahu,” jelas Galih.


“Papanya Amira bernama Raihan. Polisi juga, meninggal karena sakit sebulan setelah Amira lahir. Dia tidak mengenal seperti apa Papanya itulah kenapa dia jarang menceritakannya. Andai dia menceritakan soal sosok Papa yang dia maksud adalah Bang Adnan karena semasa kecilnya dia sempat tinggal bersama Bang Adnan dan istrinya,” jawab Kirana yang memahami arah pertanyaan Galih.


“Oh, maaf soal suamimu. Turut berduka cita,” katanya.


“It’s okay, long gone,” kata Kirana.


“Neng Kirana…, balik yuk. Kelasku sudah mau dimulai. Amira juga nggak lama lagi kelasnya selesai kan?” ajak Galih.


Kirana mengangguk. Dia berjalan mendekati ibu pemilik warung untuk membayar es tehnya tapi kalah cepat oleh Galih yang langsung memberikan selembar uang 20 ribu pada si pemilik warung dan menarik tangan Kirana agar berhenti mengutak atik dompetnya.


“Monggo kembaliannya,” kata si ibu.


“Matur nuwun Bu,” kata Galih yang ternyata cukup fasih menggunakan bahasa jawa. Kirana pikir Galih ini kental sunda orangnya karena dia selalu menyebut Kirana dengan panggilan sunda, dia juga membahasakan dirinya aa.

__ADS_1


“Kupikir aa tidak bisa bahasa jawa,” kata Kirana.


“Ya karena lama di jogja dan kawan-kawan di kantor banyak yang pakai bahasa jawa makanya sedikit-sedikit belajar. Lagi pula mempelajari bahasa tempat kita tinggal itu suatu keharusan kan? Sebagai tanda kalau kita menghargai tempat dimana kita hidup. Tanah ini yang sudah menghidupiku. Kota istimewa ini berarti untukku walaupun kota kelahiranku tetap yang nomor satu. Tapi selama masih dalam NKRI kan sama saja tanahnya tanah kelahiranku juga,” katanya.


“Sekarang aku percaya aa seorang brimob,” kata Kirana yang sedikit mengenal karakter yang semacam ini.


Kirana dan Amira pamit undur diri. Karena sudah terlanjur hujan, Galih dengan senang hati membantu Kirana dan Amira naik ke atas mobilnya. Setelah menggendong Amira masuk ke dalam mobil, Galih mengantar Kirana dengan sebuah payung agar keduanya tidak kehujanan.


“Dah papa, Amila pulang dulu,” kata Amira.


“Dadah, hati-hati ya. Neng, lagi hujan jalanan licin, jangan ngebut ya,” kata Galih pada Kirana dan Amira.


“Pulang dulu a, assalamualaikum,” pamit Kirana.


“Waalaikumsalam,” jawab Galih dengan senyum ramah.


Gina melihatnya. Dia hanya tersenyum nakal begitu menyadari ada yang berbeda dari sorot mata sepupunya pada ibu dari salah satu muridnya. Gina terus mengikuti Galih yang tengah meletakkan payung di depan kelas.


“Ciee ada yang mau dapet pacar nih,” goda Gina.


“Belum tentu, tapi kalau iya ya alhamdulillah nggak akan nolak,” jawab Galih.


“Tapi setahuku dia janda a, aa yakin? Aa nggak mau nyari cewek yang masih perawan aja? Aa nih populer lho, banyak temen-temenku yang jauh lebih cantik dari dia mau sama aa,” kata Gina.


“Akunya yang nggak mau Gi. Lagian mau janda mau gadis dia tetap saja seorang perempuan. Derajatnya sama saja di mata Allah. Lagian aku sudah terlanjur baper dipanggil Papa. Aa nih sudah ngebet banget pengen jadi ayah. akhirnya ijabah juga kan doa sepertiga malamnya aa,” kata Galih pada Gina.


“Gi, dia baik, dia sholehah, dia juga wanita yang tangguh. Soal cantik itu bonus. insyaallah aa mau perjuangkan dia buat jadi pendamping, kamu bakal merestui kan?” tanya Galih.


“Aa ini yang akan menjalani, Gigi bisa apa?” kata Gina yang hanya bisa mengiyakan niat Galih. Lagi pula niatnya baik, jadi Gina tidak perlu khawatir akan kehilangan Amira sebagai anak didiknya. Harapannya sudah terlanjur besar pada anak itu.

__ADS_1


__ADS_2