Baret Biru

Baret Biru
7. Impianku dan Impianmu


__ADS_3

Ketiga pemilik cafe kecil itu memutuskan untuk membuat tema yang berbeda setiap 3 bulan sekali. Mereka mengusung nuansa Eropa dengan photobooth kecil di pojok ruangan berupa kotak telepon merah dengan hiasan yang mengikuti musim yang sedang berjalan.


Di Indonesia hanya ada dua musim, jadi mereka menyesuaikan. Ketika sedang musim penghujan, mereka akan memasang dekorasi ala autumn dan winter dengan menu-menu rekomendasi yang bisa menghangatkan tubuh. Sedangkan di musim kemarau mereka menyiapkan dekorasi spring dan summer.


Biasanya mereka akan tutup setiap hari Senin jadi mereka memutuskan untuk mengganti dekorasi pada hari itu. Kirana dan Ningrum sedang berada di toko aksesoris mencari hiasan-hiasan yang mampu mendukung konsep mereka sedangkan Lucy berada di cafe bersama Dimas dan Keenan untuk memindahkan susunan meja dan kursi. Sebuah pohon sakura buatan diletakkan di dekat telephone booth sekalian dihias dengan beberapa hiasan lain di bawah pohonnya. Mereka juga membuat pohon harapan agar pelanggan bisa mengisinya dengan mimpi mereka.


“Sudah hampir setahun cafe kalian berjalan, skripsinya jangan lupa dikerjain juga,” kata Keenan pada Lucy.


“Ngeledek lu ya. Mentang-mentang udah mau sidang,” kata Lucy.


“Itu tandanya gue punya otak dipake,” kata Keenan.


“Terserah lo. Lagian gue nggak mau cepet-cepet lulus kaya elo. Ntar yang ada gue gabut lagi,” kata Lucy.


“Nyatanya gue nggak gabut,” jawab Keenan.


“Ya iyalah lo nggak gabut. Lo kan sibuk pacaran. Kapan lo mau ngelamar cewek lo beneran?” tanya Lucy.


“Nanti. Kalau ijazah sudah di tangan gue langsung datang ke rumah Kirana,” kata Keenan.


“Asik ya lo pacaran dari jaman masih kunyuk sampe sekarang kalian udah sama-sama gede gini. Awet-awet lo sama Kirana, kalau ada apa-apa sama dia gue lempar muka lo pake kursi,” kata Lucy.


“Gue doain lo sama Bang Adnan cepet jadian juga,” kata Keenan.


“Huh? Ma…, maksud…, maksud lo?!” tanya Lucy tergagap.


“Gue tau lo suka sama Bang Adnan. Jadi calon kakak ipar, semangat memperjuangkan cinta,” kata Keenan meledek Lucy.


“Selain lo siapa lagi yang tahu?” tanya Lucy.

__ADS_1


“Nggak tau. Kayaknya cuma gue deh, kecuali kalo Kirana peka.”


“Please Kee, jangan bilang siapa-siapa ya. Gue malu sumpah. Lagian orang tua gue belum tentu bolehin gue punya cowok polisi. Belum tentu juga Bang Adnan-nya mau sama gue. Dia terlalu fokus sama adeknya,” kata Lucy dengan raut wajah sedih.


“Asal lo yakin semua bisa terjadi Cy. Percaya deh sama gue. Gue kenal kakak beradik itu dengan baik. Bang Adnan nggak akan menolak kalau niat lo emang baik,” kata Keenan diangguki oleh Lucy.


Ningrum dan Kirana sudah kembali ke cafe dan mereka mulai mengerjakan semuanya. Mulai dari memasang aksesoris di meja dan jendela, di sekitar etalase, meja kasir, dan lain sebagainya. Mereka juga menghias jendela dengan beberapa bunga sakura yang dibuat dengan kertas. Mereka punya Ningrum yang hobi origami jadi dia membuat banyak hal. Sedangkan di atas mejanya diletakkan miniatur menara eiffel dan pernak pernik kecil khas musim semi.


Hari ini mereka akhiri dengan makan malam bersama sekaligus merapatkan sesuatu yang penting. Selain Kirana akan melaporkan perkara keuangan, gaji, bonus mingguan dan lain sebagainya, dia juga ingin mengajak mereka untuk membicarakan hal lainnya. Terutama tentang rekrutmen.


“Aku masih di sini Ki, buat apa kalian cari part timer,” kata Keenan.


“Kee, sebentar lagi kamu lulus. Apa kamu nggak mau ngejar impian kamu?” tanya Kirana.


“Tapi bisa bantu kalian di sini juga salah satu impianku. Dengan aku ikut sukses bareng-bareng sama kalian itu juga salah satu keinginanku,” kata Keenan mencoba meyakinkan Kirana.


Kirana menggeleng, "Cafe ini impianku Keenan, bukan kamu. Aku, Lucy, dan Ningrum yang mimpinya ada di sini, sedangkan kamu nggak. Aku tahu apa cita-citamu, aku paham semua planning-mu dan aku nggak mau karena kamu bantu aku di cafe ini semua mimpimu terhambat."


“Tapi gue ikhlas lagian kalian juga masih kasih persenan,” kata Keenan.


Di bawah meja, Kirana mencoba menggenggam tangan Keenan bermaksud untuk menenangkan isi kepala Keenan, “Keenan, aku makasih banget kamu mau bantu di sini. Kamu boleh kok bantu aku terus, tapi cepat atau lambat kamu akan berjalan meraih masa depanmu dan ketika kamu sedang berjalan ke arah sana kamu nggak akan bisa ada di sini. Jangan mencoba untuk duduk di dua kursi Kee, aku nggak mau kamu jatuh,” kata Kirana akhirnya bisa dimengerti oleh Keenan.


Mereka langsung memutuskan untuk mencari 2 orang karyawan. Keenan masih membantu mereka dengan menyebarkan informasinya. Dia juga yang membuatkan pamfletnya dan memasukkannya ke akun-akun media sosial para pencari lowongan pekerjaan.


Tidak butuh waktu lama untuk mereka akhirnya menemukan karyawan. Tidak sedikit yang menghubungi Keenan sebagai contact person bermaksud untuk mendaftar. Malam ini selepas cafe tutup mereka kembali merapatkan hal ini. Kirana mengeluarkan semua berkas pelamar dan menyeleksinya bersama Lucy, Ningrum, dan Keenan.


“Kirana, yang satu ini punya pengalaman kerja sebagai barista selama 3 tahun. Mau coba diwawancara nggak?” tanya Lucy.


“Siapa namanya?”

__ADS_1


“Seno.”


“Ok keep ya,” kata Kirana kemudian menuliskan namanya pada selembar kertas.


Dari 28 pelamar mereka menyeleksi 5 terbaik untuk mereka wawancarai dan mereka tes bagaimana cara kerjanya. Dari rekrutmen itu akhirnya mereka mendapatkan 2 karyawan tambahan bernama Silma dan Seno. Silma langsung diserahkan pada Dimas untuk dibimbing sedangkan Seno diberitahu oleh Kirana tentang apa saja yang harus dia lakukan.


“Saya tahu, saya sudah 3 tahun kerja jadi barista,” kata Seno.


“Sen, kamu mungkin lebih berpengalaman dariku tapi kamu perlu inget, aku ini tetap atasanmu. Saya akan menghormati pengalaman kamu tapi kamu sendiri harus bisa hargai saya juga. Paham?” kata Kirana karena merasa Seno hampir melewati batas.


“Iya paham, Mbak maaf,” kata Seno.


Kirana tidak biasanya akan tersinggung dengan hal-hal kecil semacam ini, tapi untuk kali ini dia akui dia sedang sensitif. Dia sedang tidak enak badan sejak kemarin dan beberapa pekerjaannya kacau. Untuk mendinginkan kepalanya, dia memenuhi gelas dengan es batu kemudian mencampurnya dengan air. Dia berniat menenggak air super dingin itu dengan segera dan Keenan yang melihatnya langsung menghentikan itu.


“Weits…,” kata Keenan merebut gelas itu.


“Balikin Kee,” kata Kirana.


“Jangan diminum, perutmu bisa tambah sakit nanti,” kata Keenan.


“Sakit apaan sih orang nggak sakit,” kata Kirana.


“Nggak. Kamu kan lagi bulanan, lagi dikasih sehat tuh dijaga. Alhamdulillah nggak sakit, biasanya aja bisa sampai guling-guling kamu,” kata Keenan.


Kirana menurut. Dia tidak lagi mencoba meraih gelas itu lagi. Dia menyerah dan memilih untuk duduk saja di meja kasir sambil coret-coret tidak jelas. Cafe juga sedang sepi karena memang masih jam kerja jadi Kirana tidak memiliki pekerjaan sekarang.


Keenan melihat Kirana tampak seperti orang badmood kemudian melangkah masuk ke dalam meja bar dan langsung membuka kulkas. Dia meraih coklat bar yang tadi dibelinya kemudian segera dia berikan pada Kirana.


“Nih, makan dulu. Kalau masih badmood juga bilang, nanti kubuatin boba milk tea,” kata Keenan sambil menyerahkan coklat itu pada Kirana.

__ADS_1


Kirana meraihnya dan memakan coklat itu tanpa protes sama sekali. Lagi-lagi Keenan memperlihatkan seberapa besar perhatiannya pada Kirana. Dia sudah tidak segan menyembunyikan hubungannya dengan Kirana sekarang. Dia bahkan beberapa kali tertangkap sengaja mengenakan pakaian yang senada dengan kekasihnya.


__ADS_2