
“Ciee~ yang sekarang udah nggak jomblo lagi,” goda Lucy dan Ningrum begitu Kirana kembali ke cafe setelah cuti lumayan lama karena sakit.
“Dijagain ini calon istri saya. Jangan dinakali ya,” kata Bang Raihan pada kedua sahabat Kirana.
“Ohoo~ calon istri katanya,” heboh Ningrum sambil memukul-mukul lengan Lucy.
“Udah deh please nggak usah heboh kalian tuh kebiasaan,” kata Kirana yang malu.
“Dek, Abang balik ke kantor dulu ya. Nanti Abang ke sini lagi habis isya,” kata Bang Raihan yang pamit.
Kirana kemudian melangkah ke dapur untuk membantu Lucy membuat kue. Ketika Lucy sibuk dengan rainbow cakenya, Kirana bertugas membuat donat. Beberapa bulan lalu mereka memutuskan untuk memperluas cafe dengan membeli kavling kosong di sebelah. Selain memperluas area duduk, mereka juga memperluas dapur dan menambah peralatan jadi pekerjaan mereka bisa lebih ringan.
Kirana hanya tinggal menggoreng donat-donat yang sudah dibuatnya sejak tadi. Sudah banyak menunya yang berganti, namun untuk menu andalan mereka rainbow crepes cake tidak pernah hilang dari daftar menu bahkan sejak pertama kali buka.
Sepanjang hari itu Kirana hanya sibuk saja di dapur. Hampir tidak pernah dia melangkah keluar dari dapur kalau bukan Dimas berkata ada yang mencarinya. Dia pikir siapa yang mencarinya ternyata Bang Raihan. Dia yang baru menyelesaikan pekerjaannya mampir ke cafe.
“Eh Abang ku kira tadi mau langsung pulang habis kerja,” kata Kirana.
“Hmm, sebenarnya Abang mau tanya sesuatu sama kamu.”
“Tanya apa Bang?”
“Kapan kamu bisa libur? Ada yang mau Abang bicarakan berdua denganmu,” kata Bang Raihan.
Kirana tertawa gemas, “Abang kenapa sih setiap ada yang mau diomongin selalu nunggu Kirana libur dulu. Nanti deh habis isya ya Kirana izin,” kata Kirana.
“Bener nggak papa?”
“Nggak papa Abang. Memangnya kenapa sih, Abang kok kayanya sungkan banget mau ngajak Kirana pergi. Katanya calon suami Kirana,” kata Kirana sukses mengukir senyum di wajah Raihan.
“Yasudah kalau begitu Abang pulang dulu ganti baju dan mandi terus jemput kamu,” kata Bang Raihan sebelum dia pamit.
...***...
Bang Raihan mengajak Kirana ngangkring sambil memandangi pemandangan malam jogja dengan view Malioboro yang penuh dengan hiruk pikuk pejalan kaki yang kebanyakan juga sedang menikmati hal yang sama dengan yang Kirana dan Bang Raihan lakukan saat ini. Bang Raihan membelikannya satu cup ice cream dengan topping coklat diatasnya.
__ADS_1
Bang Raihan tersenyum menatap Kirana yang sibuk dengan ice creamnya. Dia membantu Kirana menyelipkan rambutnya ke belakang telinga agar dia bisa melihat dengan jelas wajah cantik nan menggemaskan itu.
“Eh iya Abang jadinya mau bilang apa?” tanya Kirana.
“Dek, tanggal pernikahan kita kan sudah ditetapkan. Abang mau kamu mengajukan prasyarat pernikahan ke Abang. Biar adil Abang juga akan ajukan beberapa ke kamu,” kata Bang Raihan.
“Harus ya Bang?”
“Harus Dek. Abang yang minta,” kata Raihan.
“Kalau begitu kita bisa cari tempat yang lebih privat nggak? Ada sesuatu yang mau aku sampaikan tapi kalau ada yang dengar nggak enak,” kata Kirana begitu saja diangguki oleh Raihan. Kirana dan Raihan kemudian berjalan hingga ke pelataran Keraton dan duduk ngemper di dekat gerbangnya.
“Dah, sampaikan syaratmu Dek,” kata Bang Raihan.
“Nggak mau, Abang dulu yang bilang,” kata Kirana.
“Yasudah Abang dulu ya,” Kirana mengangguk.
“Abang mau setelah menikah nanti kamu yang atur semua keuangan. Gaji Abang setiap bulan akan utuh Abang transfer ke kamu dan Abang minta kamu yang tentukan dalam sebulan Abang boleh pegang uang berapa,” kata Raihan.
“Ih kok gitu sih Bang?”
“Terus Bang ada lagi nggak?” tanya Kirana lagi.
“Nggak ada.”
“Ih kok gitu? Nggak adil dong.” kata Kirana protes.
“Memangnya syarat yang mau kamu ajukan seberapa banyak sih Dek sampai jadi nggak adil? Sudah sekarang coba bilang dulu apa,” kata Bang Raihan.
“Bang…, maaf ya sebelumnya. maaf banget nih, Abang tahu kan Kirana pernah kenapa. Sebenernya Kirana sudah menerima Abang sepenuhnya, tapi untuk yang satu itu nggak tau kenapa Kirana ragu,” kata Kirana.
“Abang akan tunggu. Abang juga nggak mau membuat traumamu semakin membekas. Kalau nanti Abang sampai memaksa kamu, kamu boleh hukum Abang.”
“Tapi kalau begitu tujuan kita nikah apa dong Bang?”
__ADS_1
“Menikah itu bukan melulu tentang memuaskan hasrat manusia. Bukan juga hanya untuk meneruskan keturunan. Menikah itu juga tentang memahami satu sama lain dan berjalan beriringan menuju surganya Allah. Kalau kamu menjalani pernikahan dengan terpaksa, lalu buat apa Abang menikahi kamu? Abang nggak mau kamu tersiksa dengan pernikahanmu. Jadi Abang tidak akan memintamu berubah. Cukup jadi apa adanya kamu saja,” kata Bang Raihan.
“Tapi Mama pernah bilang, kalau sudah jadi istri itu kita harus bisa kasih yang terbaik buat suami. Rumah yang bersih, baju yang rapi, makanan yang enak, menyenangkan suami juga,” kata Kirana.
“Dek, masalah bersih-bersih, masak, dan lain sebagainya kan kita bisa pakai PRT. Justru Abang nggak mau lihat kamu ngurus kerjaan rumah. Kamu cukup fokus sama cafe dan Abang saja, jangan sama yang lain,” kata Bang Raihan.
“Ih Abang boros ah,” kata Kirana.
“Bukan boros Kirana, toh kan kamu kerja juga.”
“Abang nggak akan minta Kirana berhenti kerja? Kata Papa kalau Kirana sudah menikah Kirana harusnya berhenti kerja terus di rumah saja ngurus kerjaan rumah sama jaga anak-anak di rumah. Waktu Kirana sama Keenan tunangan juga….” Kirana tersentak karena tidak sengaja menyebut nama itu lagi.
“Ok Abang kasih syarat satu lagi ya. Abang nggak akan menyalahkan kamu kalau kamu masih punya rasa sama Keenan tapi Abang minta kamu simpan saja rapat-rapat. Jangan sampai Abang tahu. Nanti Abang akan usahakan kamu bisa lupa sama dia. Abang akan buat semua kenanganmu dengannya tergantikan dengan kenangan sama Abang,” kata Bang Raihan.
Kirana terdiam. Dia mengutuk dirinya sendiri. Kenapa sih dia harus selalu mengingat dia yang sudah pergi. Harus bagaimana caranya dia melupakan rasa yang sudah seharusnya dia buang ini.
“Abang…, bantuin Kirana dong,” kata Kirana dengan mata berkaca-kaca.
“Shtt…, kesayangan Abang nggak boleh nangisin cowok lain. Cup. Abang akan lakukan segalanya biar kamu bisa lupa sama dia, ok?”
“Orang bilang kita nggak boleh berhubungan sama orang yang belum selesai dengan masa lalunya, tapi kenapa Abang malah terus bertahan sama Kirana dan menyakiti diri Abang sendiri sih?” kata Kirana yang pada akhirnya menangis juga.
“Kirana, kamu kalau pusing obat apa yang kamu minum?”
“Paracetamol”
“Kalau kamu pusing terus minumnya multivitamin sembuh nggak?” tanya Raihan. Kirana yang bingung hanya menggeleng, “Mungkin sembuh tapi kan lama banget,” kata Kirana.
“Sama. Luka akibat cinta juga begitu. Kalau tidak diobati pakai obat yang tepat ya lama sembuhnya. Selama ini kamu sudah menerima multivitamin dari Abangmu, dari Papa dan Mama, dari Lucy, Ningrum, dan teman-temanmu yang lain. Tapi apakah luka itu akan sembuh? Nggak Kirana, luka itu harus diobati. Kamu harus minum paracetamol biar pusingnya hilang. Dibandingkan menunggu kamu sembuh, Abang lebih memilih untuk jadi obat yang akan menyembuhkan lukamu. Abang juga pengen lho bisa memberikan sesuatu buat calon istri Abang ini,” kata Raihan sambil mencubit hidung Kirana yang memerah karena menangis.
“Abang terlalu baik. Kirana jadi bingung ih harus gimana. Huaa…,” kata Kirana malah semakin menjadi dengan tangisannya.
“Ututututu kok malah tambah kenceng sih. Udah Dek, astaga ini Abang bisa dikira orang jahat lho nanti,” kata Bang Raihan yang menangkup kedua pipi Kirana kemudian mengelap air mata Kirana yang jatuh membasahi pipi.
“Kirana, Abang sayang sama kamu. Mana mungkin Abang tega membiarkan kamu berjuang sendirian?”
__ADS_1
“Abang…, makasih. Abang baik banget.”
“Sama-sama sayangnya Abang,” jawab Raihan sambil tersenyum. Iya, senyumnya manis sekali. Jika Bang Raihan tersenyum, matanya juga akan membentuk bulan sabit dan ikut tersenyum juga. Apalagi dengan satu tahi lalat kecil di dekat matanya menambah manis senyuman itu. Senyum itu terasa kontras dengan wajah Bang Raihan yang begitu tegas dan terkesan galak. Karena melihat senyuman itu Kirana bisa menghentikan tangisannya. Dia mulai berhenti sesenggukan dan ikut tersenyum juga membalasnya.