Baret Biru

Baret Biru
41. Seharusnya Bahagia


__ADS_3

“Hoekk!”


“Eh siapa itu yang muntah-muntah?” tanya Lucy.


“Raihan kayaknya,” jawab Adnan.


“Kecapekan apa Bang? Dari kemarin nggak istirahat gara-gara bantuin acaranya kita,” tanya Lucy.


“Mana kutahu,” jawab Adnan dengan nada cuek.


Raihan melangkah keluar dari kamar mandi sudah dalam kondisi yang lemas tidak bertenaga. Entah kenapa, sejak pagi tadi tenaganya hilang bagai tersapu angin. Padahal semalam dia masih baik-baik saja. dia bahkan masih kuat menggendong Kirana yang ketiduran di depan tv naik menuju ke kamar mereka di lantai 2.


“Eh, kamu kenapa kok muntah-muntah gitu? Kamu sakit?” tanya Mama yang khawatir.


“Nggak Ma, aku nggak papa kok.”


Tiba-tiba, Raihan dan Mama dikejutkan oleh Kirana yang berlari masuk ke dalam kamar mandi dan sama seperti Raihan tadi. Dia juga memuntahkan semua sarapan paginya. Raihan menguatkan diri dan melangkah kembali ke kamar mandi untuk melihat kondisi Kirana yang sama lemasnya.


“Kalian ini kenapa sih? Kompak bener satu sakit sakit semua,” kata Mama sambil meletakkan dua gelas teh hangat di meja dekat Raihan dan Kirana duduk.


“Halah nggak sakit itu Ma. Nyatanya masih bisa cengar cengir gitu,” kata Adnan.


“Julid banget sih Bang sama adeknya sendiri. Heran deh,” kata Lucy sambil mencubit pinggang Adnan yang kini telah berstatus sebagai suaminya.


“Nan, anterin itu Raihan sama Kirana periksa ke dokter,” kata Papa.


“Astaga kita nggak sakit Papa…,” kata Raihan menenangkan kedua mertuanya juga iparnya yang terlihat begitu khawatir.


“Nggak sakit gimana sih Kalian berdua sampai lemes gitu mukanya pucet banget juga,” kata Lucy.


“Cy. Aku nggak sakit kok serius.”


“Terus kamu kenapa?”


Raihan mendengus kemudian meraih handphonenya. Dia membuka galeri dan memperlihatkan sebuah foto ke semua yang ada di sana.

__ADS_1


“Kan apa kubilang,” gumam Adnan.


Foto itu adalah foto hasil testpack bergaris dua yang diambil Raihan dan Kirana beberapa hari lalu. Selain itu, Kirana juga menjelaskan apa yang terjadi padanya hingga dia yakin jika dia saat ini sedang tidak sendirian. Respon pertama semuanya terdiam, respon kedua semuanya tersenyum, kemudian tak lama setelahnya Mama memukuli Raihan. Tidak memukuli sungguhan, hanya saja Mama gemas. Mama hanya berusaha menyembunyikan air matanya setelah mendengar satu berita yang sangat diidam-idamkan sejak lama.


“Akung jadi males berangkat kerja nih,” kata Papa sambil tertawa.


“Kiranaa…!!!! Ah aku seneng banget serius deh…, demi apa aku bahagia banget. Selamat ya cantikku, sayangku, muahh,” kata Lucy sambil memeluk, mencium dan terus mencubiti pipi bulat Kirana dengan gemasnya.


“Woeyy, honey. Inget itu monyet punya nyawa, jangan kamu hajar dong,” kata Adnan.


“Ih kok jadi Abang yang sensi?” kata Kirana.


“Tau nih. Gue yang bapaknya aja santai,” tambah Raihan.


Kabarnya dengan cepat menyebar ke mana-mana. Ucapan selamat juga membanjiri keluarga Raihan dan Kirana. Raihan apalagi, dia sampai disiram air oleh rekan-rekannya saking mereka ikut senang mendengar jika ketua tim mereka ini akan segera menjadi seorang ayah.


Di mapolda hal serupa juga terjadi. Tidak sampai ada acara siram air sih, tapi ucapan selamat juga terus didengar oleh Papa Nandar dan Papa Bagus yang sebentar lagi akan resmi menjadi kakek. Siapa sih yang tidak senang mendengar berita kehadiran malaikat kecil dalam pernikahan? Apa lagi Papa Bagus. Baru beberapa hari lalu beliau mengantar putranya menikah dan sekarang sudah mendengar berita bahagia lagi dari putrinya.


Ucapan selamat bukan hanya datang dari tempat kerja mereka tapi juga dari markas brimob. Rekan-rekan Adnan juga ikut memberikan selamat pada rekan mereka yang sedang dicurahi kebahagiaan yang begitu besar. Semuanya ikut mengucapkan selamat, tak terkecuali Keenan. Dia datang mengucapkan selamat dengan wajah yang sumringah bak dia sendiri yang merasakan kebahagiaan itu.


“Bang. Lagi bahagia kok mukanya kusut gitu?”


“Nggak Bang, astaga. Nggak percayaan banget sih,” kata Keenan meyakinkan.


“Kalau gitu kenapa kamu nggak pernah mau nemui Kirana?”


“Kirana itu sakit hati karena aku tinggalin Bang. Beda dengan aku yang sengaja melepas, dia nggak. Dia terpaksa melepas. Mau dia sudah bahagia pun pasti akan ada sedikit luka di hatinya. Lagi pula aku sudah janji sama Bang Raihan kalau aku nggak akan lagi muncul di hadapan Kirana. Ditambah sekarang dia lagi hamil, pasti sensitif banget kan hatinya. Aku nggak mau dia kenapa-napa. Aku mungkin sudah nggak cinta sama dia, tapi aku masih peduli, karena apapun yang terjadi aku pernah menyayanginya. Nggak fair kalau aku memusuhinya padahal dia nggak pernah punya salah sama aku,” kata Keenan.


“Keenan…, kamu udah gede aja. Udah jadi laki-laki beneran kamu sekarang. Dewasa banget sih adiknya Abang,” kata Adnan sambil menggoyang-goyangkan kepala Keenan.


“Ya iyalah Bang, masa mau jadi kecil terus. Gimana sih Bang,” kata Keenan ikut tertawa bersama Adnan. Semua orang juga tahu jika Keenan ini adalah kesayangan Adnan. Walaupun tidak ada yang tahu pasti kenapa Keenan bisa menjadi kesayangannya.


...***...


Mama Cecil dan Mama Hasna pagi itu juga memaksa Kirana untuk pergi ke rumah sakit dan memeriksakan kandungannya. Kedua calon nenek itu kompak memproteksi Kirana dan membuat Kirana mulai merasa tidak nyaman. Dia bahkan tidak diizinkan pergi ke cafe padahal hari ini Ningrum dan Lucy sedang tidak berada di tempat.

__ADS_1


“Abang…,” rengek Kirana begitu telponnya diangkat oleh sang suami.


“Kenapa Dek?”


“Bang, bantu bujuk Mama dong. Masa aku nggak dikasih izin ke cafe sih. Terus kerjaanku gimana?”


“Astaga…, kamu nggak bilang Abang udah kasih izin ke kamu? Tadi pagi katanya kamu ke rumah sakit? Kamu sehat kan? Terus kenapa Mama masih maksa?”


“Ya mana kutahu. Ayolah Bang bantuin, kalau Abang yang bicara kan Mama akan dengerin,” kata Kirana lagi.


“Iya iya tapi jangan nangis dong sayang, kamu nih jadi cengeng banget. Kasihan yang diperut dong,” kata Raihan.


“Yang di perut masih sebesar biji duren Bang mana bisa ngerasain.”


“Ya Allah salah lagi. Iya ini Abang bujukin Mama dulu. Matiin gih telponnya,” kata Raihan.


Raihan adalah yang pertama kali menyadari jika Kirana saat ini berbeda. Dia jauh lebih manja, cengeng, dan sensitif. Kirana mudah marah dan moodnya berantakan. Kadang bisa tertawa, tapi semenit kemudian dia bisa menangis. Tapi mau bagaimana lagi, Raihan tidak bisa protes karena dia sendiri kan tidak tahu apa yang dirasakan Kirana saat ini. Raihan yang hanya merasakan mual-mual saja sudah ingin mengeluh setengah mati. Apalagi Kirana.


“Ma, jangan dikekang gitu dong kasihan Kirananya stres Mama gituin,” kata Raihan.


“Kamu nih gimana sih, istrimu itu masih sakit. Mual-mual, lemes kaya gitu kok kamu kasih izin kerja,” kata Mama.


“Mama…, Kirana itu tahu batasannya sendiri. Kalau dia capek dia akan istirahat. Kalau dia nggak kuat dia akan berhenti. Jangan over lah Ma.”


“Tapi Han…,”


“Mama….”


“Iya iya,” kata Mama yang akhirnya menyerah.


“Han. Lo kenapa sih? Bukannya seneng malah kusut gitu mukanya,” tanya Deden.


“Nggak papa. Lagi bingung aja ngadepin istri sensitif parah,” kata Raihan.


“Sabar Han sabar. Tahan aja, namanya juga ibu hamil.”

__ADS_1


“Hmm,” jawab Raihan setengah hati.


Bukannya dia mengeluhkan istrinya. Dia justru mengeluhkan Mama dan mertuanya yang jadi overprotektif pada Kirana dan membuat dia stres. Padahal untuk membujuk Kirana akan sangat sulit. Karena Kirana sedang ada di fase dimana kalau permintaannya tidak dituruti dia akan merajuk sampai dapat.


__ADS_2