
Hari ini cafe akan merayakan hari jadi yang ketiga. Lucy, Kirana, dan Ningrum memutuskan untuk membuka cafe lebih lama lagi kedepannya. Mereka akan mulai buka dari jam 11, melayani pelanggan yang datang untuk makan siang dan terus buka hingga malam. Tapi berhubung mereka bertiga ini adalah anak-anak gadis, tidak baik untuk mereka selalu pulang malam setiap harinya jadi mereka memutuskan untuk menambah pegawai dan membuat shift kerja.
Mereka membuka rekrutmen dan cukup banyak menerima karyawan. Karena mereka membuka cafe ini dari jaman mereka masih menjadi mahasiswa, jadi mereka lebih banyak menerima mahasiswa tingkat akhir yang kebanyakan akan merasa “gabut” ketika tengah mengerjakan tugas akhir mereka.
Kirana sudah mulai bisa kembali seperti semula, walau ada satu titik kesedihan di hatinya setiap kali dia datang ke cafe, tapi dia hanya menyimpannya dalam-dalam dan tidak memberi izin pada siapapun untuk mengetahuinya.
“Ok sekian rapat hari ini, ada pertanyaan?” tanya Kirana setelah selesai memberi arahan pada karyawan barunya.
“Mbak Kirana, maaf kalau ada sesuatu yang kita tidak paham dan Mbak bertiga tidak ada di tempat saya bisa tanya pada siapa ya?” tanya salah satu.
“Di sini kan ada Silma, Seno, dan Dimas yang lebih senior. Mereka akan mengajari kalian semua yang harus diajarkan. Terus untuk Saya, Mbak Lucy, dan Mbak ningrum akan selalu bergantian datang setiap harinya. Cuma harap maklum, buat yang cewek-cewek tidak akan saya beri izin pulang hingga malam. Saya juga tidak beri izin untuk cewek ambil shift malam,” kata Kirana.
Lucy dan Ningrum sudah menyetujui itu, Dimas, Seno, dan Silma juga paham. Memang benar berbahaya untuk anak gadis masih berada di luar rumahnya hingga malam tanpa ada yang melindunginya. Jadi mereka mengambil keputusan itu, demi melindungi karyawan-karyawan mereka dari kejamnya dunia malam.
“Mbak, kalau saya punya pacar yang sanggup jemput saya setiap malam apa boleh saya ambil shift malam? Saya kalau pagi sampai sore suka ada kegiatan Mbak di kampus,” kata satu yang perempuan.
“Menurutku asal dia tidak pulang sendiri nggak masalah,” gumam Lucy pada Ningrum dan Kirana.
“Bener juga. Selama dia ada yang jemput nggak masalah sih,” kata Ningrum menambahkan.
“Ok, boleh. Tapi yang cewek hanya boleh ambil shift malam maksimal 3 kali dalam seminggu. Dan setiap ada yang shift malam, yang cowok wajib memastikan rekan-rekan cewekmu ini sampai di rumah masing-masing dengan selamat, paham?” kata Kirana.
“Paham Mbak,” jawab mereka semua walau ada juga yang ingin protes tapi Silma menahan mereka agar tidak melakukannya.
Selama sebulan ini mereka akan di training dan diawasi langsung oleh Kirana, Lucy, dan Ningrum. Mumpung tiga orang gadis itu tidak sibuk. Paling-paling Lucy yang dipaksa ayahnya untuk melanjutkan S2, kalau Ningrum dan Kirana sih santai saja. Ningrum apa lagi. Dia adalah yang terkenal paling menyayangi cafe ini. Dia yang tidak pernah absen dan selalu datang ke cafe ini seperti cafe inilah satu-satunya hidupnya.
Kirana juga begitu, hanya di cafe inilah serpihan kenangannya dan Keenan masih utuh. Hanya di cafe ini pula dia masih sanggup mengingat laki-laki itu. Laki-laki yang memilih untuk meninggalkannya begitu saja dan pergi entah kemana. Ketika dia sedang duduk di meja kasir, pandangannya bisa tiba-tiba melayang seperti melihat Keenan yang selalu berdiri dekat dengannya. Dia selalu tersenyum padanya dan selalu memperhatikannya.
Jujur Kirana merindukan sosok itu. Tidak peduli sejahat apa laki-laki itu tega meninggalkannya, Kirana masih menyimpannya dalam hati. Bahkan cincin pertunangannya saja masih dia simpan dengan begitu rapi di dalam laci meja kerjanya di rumah. Dia hanya berharap jika suatu saat nanti dia akan mendengar lagi kabar tentangnya. Kabar tentang laki-laki yang sudah memenangkan dirinya.
“Tok…, tok…, tok…,” kata seseorang sambil mengetuk meja kasir tempat Kirana duduk sambil melamun.
__ADS_1
“Eh Bang Raihan. Maaf nggak ngeh Abang datang. Mau pesan apa Bang?” kata Kirana.
“Boba ice matcha ekstra boba ekstra ice,” katanya.
“Tumben Bang,” kata Kirana tapi tangannya tetap mencatat pesanan itu.
“Pengen aja,” kata Bang Raihan.
Kirana membuatkan pesanan sesuai dengan request. Matcha ice with ekstra boba. Setelah jadi, dia membawanya ke mesin penyegel kemudian memasukkannya ke dalam plastik.
“Eh nggak usah dimasukkan dalam plastik,” cegah Bang Raihan membuat Kirana urung melanjutkan pekerjaannya. Dia hanya menyerahkan boba ice itu kepada Bang Raihan termasuk dengan sedotannya.
“Makasih,” kata Bang Raihan.
“Terima kasih kembali,” kata Kirana dengan senyum cerahnya.
Raihan melangkah keluar, mengambil sesuatu dari motornya dan kembali masuk ke dalam membuat Kirana bingung dibuatnya. Bang Raihan menyerahkan bungkusan berwarna coklat pada Kirana sekaligus boba ice yang tadi dibuatnya, “ini buat kamu,” katanya.
“Maksudnya Bang?”
“Abang apaan sih, kan tadi abang yang pesan kok sekarang malah dikasih ke Kirana?” tanya Kirana bingung.
“Ya ampun neng lola banget sih. Ini buat kamu, hadiah dari Abang,” kata Bang Raihan.
“Hadiah? Hadiah apa sih Bang?”
“Hadiah ulang tahun. Selamat ulang tahun Kirana,” kata Bang Raihan.
Ningrum yang baru melangkah dari dapur jadi ikut menyadari jika hari ini Kirana memang berulang tahun. Tidak sih, lebih tepatnya mereka pura-pura lupa. Kan malam ini mereka akan memberikan surprise pada Kirana. Papa dan Mama bahkan sudah diam-diam menyiapkan pesta ulang tahun di rumah.
Kirana yang bingung akhirnya membuka hadiahnya. Sebuah boneka berbentuk segelas boba ice berwarna hijau, persis seperti pesanan Bang Raihan barusan.
__ADS_1
“Uwahh lucu banget Bang asli sih Abang pinter cari kadonya. Ini mirip banget sama Kirana,” kata Ningrum yang membandingkan wajah Kirana dengan boneka itu.
“Sekali lagi selamat ulang tahun ya, jangan lupa diminum bobanya. Abang pamit,” kata Bang Raihan. Sembari pamit dia mengusap ujung kepala Kirana. Tapi kali ini respon Kirana berbeda. Kali ini dia tersenyum sambil mengucapkan terima kasih padanya.
“Bang Raihan so sweet banget sama kamu Ki,” kata Ningrum.
“Dia pesan matcha ice ekstra boba ekstra ice cuma buat aku Ning, pantesan aku merasa aneh. Tuh orang bertahun-tahun jadi langganan sini mana pernah sih pesan yang non kopi, ini tiba-tiba aja pesen matcha. Dan dengan polosnya aku buatin pesanannya nggak taunya buat aku,” kata Kirana masih tidak percaya.
“Kayanya Bang Raihan beneran suka sama kamu deh Ki. Apa salahnya kamu mencoba untuk buka hatimu lagi?” kata Ningrum.
“Nggak segampang itu Ning,” gumam Kirana.
...***...
Malam harinya, pesta ualng tahun untuk Kirana tetap sukses dilaksanakan. Kirana bahkan sampai menangis menubruk Bang Adnan dan menyembunyikan tangisannya dalam pelukan kakak laki-lakinya itu. Walaupun hanya merayakannya bersama Papa, Mama, Abang, Lucy, dan Ningrum Kirana bahagia. Dia bersyukur masih memiliki keluarga dan sahabat yang begitu menyayanginya.
Pada kesempatan malam hari itu, ternyata bukan hanya keluarganya dan kedua sahabatnya yang datang, tapi keluarga sahabat ayah, Om Nandar juga datang. Om Nandar datang bersama tante Cecil dan putranya yang tak lain dan tak bukan adalah Bang Raihan. Beliau bertiga juga memberikan kado untuk Kirana berupa kalung yang sederhana tapi begitu cantik.
“Kamu yang pakein lah Bang masa Mama yang pakein,” kata tante Cecil pada putranya.
“Ya Allah Mama harus banget dipakein? Kirana udah gede kali bisa dia pake sendiri,” kata Bang Raihan berbisik pada Mamanya.
“Ngomong-ngomong Bang Raihan itu tadi siang udah so sweet banget lho kasih boneka boba ke Kirana, masa sekarang cuma suruh ngalungin kalungnya aja malu sih,” kompor Ningrum yang kemudian tos dengan Lucy.
“Kalungin aja, nih orangnya udah siap nungguin,” kata Bang Adnan sambil mendorong Kirana mendekati Bang Raihan.
“Abang apaan sih?!” bisik Kirana yang wajahnya sudah semerah tomat.
“Pakein Bang ayo ditungguin ini,” kata Lucy yang sudah siap dengan kamera yang menyala.
Raihan yang terpojok tidak memiliki banyak pilihan. Dia akhirnya membuka kotak kalungnya dan mengalungkannya pada Kirana. Dia juga sadar kalau Ningrum dan Lucy sudah heboh mengabadikan momen itu, Mama apalagi. Mama Cecil dan tante Hasna sudah girang seperti melihat ada orang jadian dihadapannya.
__ADS_1
“Udah nggak sabar aku jadi besanmu Nan,” bisik Om Bagus.
“Sama Gus,” bisik Papa.