Baret Biru

Baret Biru
24. Keinginan Yang Tertunda


__ADS_3

Sehari setelah seluruh prosesi pernikahan selesai, Raihan dan Kirana langsung mengemasi kopernya. Keduanya akan berangkat ke Bandung besok pagi. Tadinya Raihan ingin mengajak Kirana ke Bali, tapi gadis itu malah meminta mereka jalan-jalan saja di Bogor. Kirana juga bilang dia ingin berkeliling di kebun raya. Raihan hanya mengikuti apa mau Kirana. Namanya juga istri, kalau permintaannya tidak dituruti dia bisa merajuk dan akibat dari merajuknya seorang istri bisa berakibat fatal. Ya setidaknya itulah yang dikatakan oleh Papa padanya.


Selesai mengemasi kopernya dan Kirana, Raihan meletakkannya dekat dengan tembok. Raihan meraih bantalnya kemudian berjalan keluar dari kamar. Dia merebahkan dirinya di sofa lantai 2. Menutupi kakinya dengan selimut dan menopang lehernya dengan bantal. Dia asik bermain hp untuk mengusir kantuknya karena dia masih harus memastikan Kirana tidur dulu. Takutnya jika dia tidur lebih dulu dan Kirana butuh bantuannya, dia tidak akan berani membangunkan Raihan.


Seluruh keluarga Kirana dan Raihan tahu jika Raihan masih tidur terpisah dengan istrinya. Raihan sendiri yang meminta orang tuanya juga kedua mertuanya memahami keputusannya. Dia tidak ingin Kirana kaget dan memicu trauma itu kembali. Selain berpegangan tangan, Raihan bahkan belum berani memeluk Kirana karena dia masih merasakan tangan istrinya bergetar karena ketakutan.


Jika dilihat memang miris, tapi mau bagaimana lagi. Dia juga tidak mau memaksa Kirana. Dia tidak mau kesayangannya itu kesakitan dan ketakutan karena memaksakan lukanya sembuh.


“Raihan, kamu mending tidur sama Adnan di kamarnya. Kalau kamu tidur di sofa nanti badanmu sakit semua,” kata Mama.


“Bentar Ma, Raihan belum mau tidur kok. Soalnya Kirana juga belum selesai beres-beres,” jawabnya.


“Kirana sudah selesai kok Bang. Abang bisa tidur sekarang. Abang kemarin minta Kirana jangan kecapekan tapi Abang sendiri tidak memikirkan kesehatan Abang. Kan tidak adil namanya,” kata Kirana membuat Raihan tersenyum.


“Ya sudah gih masuk ke kamar. Besok pagi tolong bangunin Abang ya, kita sholat subuh bareng,” kata Raihan pada istrinya.


“Abang maafin Kirana,” kata Kirana.


“Shtt, udah minta maafnya besok lagi. Lagian kamu nggak bosen mnta maa terus? Sana masuk aja, mukamu sudah capek sudah ngantuk itu,” kata Raihan lagi.


Sejujurnya bukan hanya Raihan yang berjuang. Kirana sendiri selalu memperjuangkan agar trauma itu hilang, tapi selalu saja. Setiap kali dia dekat dengan seorang laki-laki siapapun itu ingatannya kembali pada hari kelam itu dan ketika dipaksakan dia bisa histeris ketakutan. Sudah untung suaminya tidak menuntut banyak hal. Kedua mertuanya juga begitu baik dan mengerti akan kondisinya.


Raihan menggelar kasur lipat di dalam kamar Adnan. Setelah meletakkan handphonenya di atas meja Raihan mulai melamun. Dia sebenarnya sudah lelah, tapi entah kenapa matanya masih enggan terpejam.


“Han…,” panggil Adnan yang ternyata juga belum tidur.


“Hmm?”


“Kenapa lo baik banget sih?” tanya Adnan.


“Soal apa?”


“Soal Kirana.”

__ADS_1


“Konsekuensi. Gue yang kepengen sama Kirana, ya artinya gue harus bisa terima apapun kondisinya,” kata Raihan dengan tatapan lurus ke langit-langit.


“Tapi lo kan udah nikah sama adek gue. Terus gimana caranya lo dan Kirana menjalankan hak dan kewajiban suami istri? Lo juga gimana caranya lo tahan buat nggak nyentuh adek gue?” tanya Adnan.


“Entahlah. Di pikiran gue cuma gimana caranya gue bisa menyembuhkan Kirana. Andai traumanya nggak bisa sembuh, tapi setidaknya dia nggak akan takut sama gue. Gue cuma mau ngobatin luka dia dengan kepastian. Kalau gue nggak nikahin dia, dia hanya akan menganggap gue main-main. Kalau gitu gimana dia bisa percaya sama gue?” kata Raihan.


“Bener juga sih, tapi pengorbanan lo bakal berat banget Han. Lo yakin lo sanggup?”


“Gue pasti sanggup. Kalau gue ingkar sama janji gue kan ada lo yang bakal ngingetin gue. Lo berhak marahin gue kalau sampai gue nyakitin Kirana. Lo kakaknya, lo lebih kenal Kirana dibanding gue,” kata Raihan.


Adnan terdiam. Raihan tahu jika dalam benak sahabatnya ini sedang berkecamuk begitu banyak pertanyaan dan hal-hal yang tidak pasti. Adnan juga sama ketakutannya dengan Kirana. Rasa bersalahnya karena merasa gagal melindungi sang adik juga sama beratnya dengan luka Kirana sendiri.


“Adek lo aman di gue. Jadi sekarang lo boleh melangkah buat jemput kebahagiaan lo sendiri. Kasihan Lucy kalau lo gantung kelamaan. Cewek mungkin udah biasa menunggu, tapi mereka tetep punya batas kesabaran Kalau lo terlalu lama melangkah, Lucy bisa aja pergi. Yang dicari cewek itu cuma satu Nan, kepastian,” kata Raihan.


“Anjir kenapa lo jadi ngomporin gue sih?”


“Lagian lo nggak malu apa? Udah berapa banyak orang yang nanyain kapan lo nyusul lo nggak terusik gitu? Aturannya kan harusnya yang nikah duluan elo Nan. Kebangetan lo sampe diselip adek lo sendiri,” kata Raihan.


“Bajigur loro ***,” keluh Raihan yang sakit karena bibirnya terkena manik mata si monyet.


“Han, jagain monyet kesayangan gue. Jangan pernah lo sakitin, senyumnya segalanya buat gue,” kata Adnan yang tiba-tiba menjadi serius.


“Tanpa lo minta juga bakal gue jagain kok. Karena mulai sekarang monyet kesayangan lo itu jadi hak milik gue seutuhnya. Lo tahu kan, seprotek apa gue sama kepunyaan gue?” tanya Raihan.


“Gue percaya sama lo.”


“Thanks Bro. Gue nggak akan menghianati kepercayaan lo,” kata Raihan.


Malam semakin larut. Raihan adalah yang pertama kali tertidur sambil tetap memeluk boneka monyet milik Adnan seakan-akan Kiranalah yang sedang dia peluk. Bohong kalau Raihan bilang dia tidak menginginkan lebih dari hanya sekedar berpegangan tangan, tapi dia juga tidak berani memaksakan kehendaknya.


Jika dia memaksa Kirana sekarang, dia bisa saja kehilangan lebih banyak lagi di masa depan. Itulah kenapa Raihan dengan keyakinan penuh mencoba menahan dirinya untuk menekan keinginan itu agar tidak semakin besar.


...***...

__ADS_1


Pagi berikutnya, selepas sholat subuh Raihan dan Adnan melakukan rutinitas paginya. Sudah beberapa hari ini mereka tidak lari pagi dan berolahraga jadi pagi ini keduanya bersama-sama lari mengelilingi komplek. Setelah 3 kali putaran, Adnan menyelesaikannya lebih dulu. Dia harus segera bersiap untuk berangkat sedangkan Raihan masih bertahan berlari beberapa putaran lagi.


Sekitar pukul 7 dia kembali ke rumahnya. Lebih dulu dia melemaskan otot kakinya dengan berjalan-jalan ringan. Begitu sampai di rumah, sudah ada Kirana yang menyambutnya dengan handuk dan air minum di tangan. Raihan tersenyum, tidak menduga jika gadis itu akan begitu perhatian padanya. Setelah dirasa kakinya sudah lebih baik, dia duduk di teras dan menerima air minum yang dibawakan oleh Kirana.


“Abang lari dapat berapa putaran? Sampai basah begini bajunya,” kata Kirana.


“Nggak tahu. Tadi sama abangmu dapat 3 putaran setelah itu Abang lari nggak tahu tambah berapa putaran,” kata Raihan.


“Bisa-bisanya,” kata Kirana.


“Kamu sudah mandi belum? Kita berangkat jam 8 kan?”


“Iya. Kirana sudah mandi kok Bang. Tinggal nunggu Abang,” kata Kirana.


“Kamu sudah makan kan?”


“Belum. Kan nunggu Abang,” kata Kirana.


“Masuk yuk. Kita makan dulu deh baru nanti Abang mandi,” kata Raihan kemudian mengajak Kirana untuk masuk ke dalam rumah.


Satu lagi keinginannya yang begitu menusuk. Raihan selalu membayangkan akan memeluk istrinya ketika dia tengah memasak. Raihan ingin merasakan memeluk istrinya dari belakang kemudian menyesap aroma tubuhnya yang bercampur dengan sabun. Kemudian nanti istrinya itu akan memberikan morning kiss padanya. Nyatanya semua ekspektasinya harus dia tunda. Semua hal yang ingin dia lakukan bersama istrinya harus dia tahan sampai setidaknya tangan Kirana tidak lagi bergetar ketika dia genggam.


Saat ini Raihan hanya mampu menatap Kirana yang sedang membuat dua gelas teh hangat di samping kompor. Raihan yang menatap punggung Kirana mulai kehilangan kesabarannya dan hampir saja dia lupa pada janjinya. Dengan secepat kilat Raihan menetralkan degup jantungnya. Di hadapannya ada sepiring tempe goreng yang menjadi pelampiasannya. Raihan meraihnya kemudian memasukkannya ke dalam mulut.


“Uhukk…!”


Kirana langsung menoleh ke belakang dan menemukan suaminya batuk-batuk karena tersedak. Untung teh buatannya sudah jadi. Jadi dia bisa langsung memberikannya pada sang suami.


“Hati-hati Bang masih panas,” kata Kirana ketika Raihan mencoba meminumnya begitu saja.


“Hmm…, makasih ya sayang,” kata Raihan yang melakukan percobaan kecil dengan mengganti panggilannya pada Kirana.


Raihan dapat melihat Kirana saat ini tersipu malu. Dia bahkan menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap matanya. Raihan tersenyum ketika melihat rona merah muda di kedua pipi istrinya. Dalam hati dia bersyukur. Setidaknya Kirana tidak menolaknya. Dia hanya belum mampu melawan ketakutannya.

__ADS_1


__ADS_2