Baret Biru

Baret Biru
61. Ayah Untuk Amira


__ADS_3

Keduanya bergeser ke alun-alun kidul yang terkenal sebagai surganya street food. Galih membeli beberapa macam jajanan. Mulai dari bakso tusuk, jagung bakar, batagor, bahkan dia juga membeli dimsum dan takoyaki. Sedangkan Kirana hanya membeli tempura dan segelas es teh berukuran besar.


“Makannya bareng ya, kalau aa sendirian nggak akan habis,” kata Galih membuat Kirana mendengus.


“Kalau tau nggak habis kenapa beli banyak?” tanya Kirana.


“Ya nggak papa kan pengen,” jawab Galih cuek. Dia mulai menggigit jagung bakarnya. Sebelumnya dia sudah memotong jagung itu menjadi dua dan memberikan bagian yang lebih besar pada Kirana.


Kirana tampak malu-malu, tapi mulutnya tetap tidak berhenti makan. Keduanya sedang duduk di atas rerumputan sambil menikmati berbagai macam jajanan yang mereka beli. Galih sempat tersedak dan tanpa sadar dia meraih es teh milik Kirana dan meminumnya dari sedotan yang sama dengan Kirana membuat Kirana semakin kikuk.


Kirana semakin tidak berani menatap mata Galih yang sedang fokus dengan makanannya. Kirana hanya berani melirik sesekali karena dia senang melihat Galih sedang makan. Lambat laun Kirana berani menatap Galih dan bahkan mengunci pandangannya.


“Gitu banget ngeliatinnya,” kata Galih.


“Aa kalau lagi makan bikin orang yang lihat ngiler. Kelihatan kayak enak banget gitu makanannya,” kata Kirana.


“Aa kan sejak kecil memang suka makan dan menurut aa cara terbaik menikmati makanan adalah ketika rasanya memenuhi mulut dan bumbunya bisa terasa dengan sempurna. Makanya aa kalau makan cepat, karena sekali suap harus memenuhi seluruh rongga mulut,” kata Galih.


“Setiap orang memang selalu punya caranya sendiri menikmati makanan, tapi melihat cara aa makan pasti membuat yang masak bahagia,” kata Kirana.


“Kapan-kapan masakin sesuatu buat aa ya neng. Aa pengen ngerasain masakanmu,” kata Galih.


“Insyaallah ya, atau besok gimana? Biasanya kan Bang Adnan bawa bekal, kalau aa mau aku buatin sesuatu terus aku titipin ke Abang,” kata Kirana.


“Hmm, bagaimana kalau kamu langsung yang mengantarnya Ki? Kalau kamu berkenan antarkan ke markas sebelum jam 6 pagi,” minta Galih.

__ADS_1


“Kenapa pagi sekali?”


“Aa akan berangkat ke mabes untuk mengikuti diklat selama 1 minggu lamanya,” pamit Galih.


“Oh…,” kata Kirana dengan raut agak sedih.


“Nanti setelah aa pulang kita ketemu lagi ya,” ajak Galih tapi Kirana tidak menjawab.


“Kenapa? Neng keberatan sama pekerjaan aa ya?” tanya Galih.


“Nggak a, aku cuma lagi nostalgia aja. Papa kan seorang brimob juga. Dulu, setiap kali Papa akan ditugaskan keluar, aku dan Bang Adnan pasti akan mengantar Papa sampai ke markas dan melambaikan tangan pada truk yang membawa Papa berangkat. Ketika itu Mama sering memasang wajah sedih, begitupun dengan Lucy setiap mengantar Bang Adnan bertugas. tidak menyangka saja, aku akan mendengar kalimat pamit lagi dan kali ini pamitnya ditujukan padaku,” kata Kirana.


“Itulah salah satu alasan kenapa aa takut mendekati perempuan. Karena pekerjaan aa tidak menguntungkan suatu hubungan apa lagi sampai ke jenjang yang serius. Menjelaskan pada pasangan sih mudah, tapi pada anak-anak pasti sulit setengah mati,” kata Galih.


“Pertama aku bukannya menyukai anak kecil, aku hanya simpatik pada pribadi kecil yang tidak tahu apa-apa tapi sering kali dipaksa memahami kondisi kedua orang tuanya. Aa terlahir di keluarga yang tidak baik-baik saja. Papa sebenarnya adalah seorang TNI, salah seorang ketua tim. Dalam sebuah tugas, Papa gagal menjalankan misi dan berakhirlah dengan gugurnya 5 dari 8 orang tim yang bertugas. Sejak kejadian itulah Papa memutuskan untuk melepaskan seragamnya.”


“Setelah Papa keluar dari kesatuan, Papaku berubah banyak. Sering berkata kasar, mengamuk, dan bahkan memukuli aku dan ibuku. Ketika itu belum banyak pemahamanku soal arti dari pengorbanan. Aku hanya tahu kalau Papa keterlaluan, brengsek, dan kejam tanpa melihat kenapa Papa bisa jadi seperti itu. Sering kali aku membujuk Ibu untuk meninggalkan Papa, tapi Ibu selalu saja menolaknya. Bahkan sampai nafas terakhirnya Ibu selalu menyebut nama Papa. Sejak itulah aku membenci cinta. Karena menurutku cinta hanya akan membuat orang menjadi bodoh.”


“Tapi aku tidak bisa memungkiri, aku simpatik pada anak-anak yang tidak pernah meminta dilahirkan tapi dengan semena-mena dijadikan alat ‘pemuas’ ambisi orang tuanya. Ada anak yang dipaksa untuk ikut dengan orang tuanya mengamen di jalanan, atau anak-anak yang tanpa tahu salahnya apa menjadi pelampiasan emosi orang tuanya yang tengah bertengkar. Anak-anak malang itu tidak pernah diberikan pilihan. Padahal aa pahami betul sebenarnya yang diinginkan hanyalah kasih sayang dari kedua orang tuanya. Cukup sebagai sandaran, memberikan pelukan, dan motivasi untuknya bisa kuat menjalani hidup. Itulah kenapa aku jadi menyukai anak-anak dan cenderung dekat dengan mereka karena melalui senyum di wajah polos itu aku merasa tenang. Rasanya sudah sama seperti aku yang dilimpahi kasih sayang,” kata Galih dengan raut yang sedih.


“Maaf, aku jadi menyakiti hatimu. Maaf, harusnya aku tidak bertanya,” kata Kirana menyesali pertanyaannya.


“Untuk alasan yang kedua, karena aku menyukaimu Kirana. Tidak salah kok, aku berusaha akrab dengan Amira memang memiliki niat tertentu. Kalau tidak salah kita pertama kali bertemu di supermarket kan? Tidak sengaja menggenggam apel yang sama kemudian aku membantumu membawakan belanjaan. Untung aku seorang polisi, jadi tidak aneh kalau aku membantumu. Toh memang begitulah tugas dasar seorang brigade, membantu sesama manusia. Kamu nggak tahu saja, ketika itu jantungku berdegup begitu kencangnya hanya karena melihat senyummu dan Amira yang tengah mengobrol,” kata Galih.


“Maksud aa?”

__ADS_1


“Aa suka sama neng Kirana. Tapi baru sebatas suka. Aa tidak mau sampai cinta. Karena aa tidak mau kita saling berkorban dan menyakiti diri sendiri hanya karena satu sama lain,” kata Galih.


“Aku juga sudah tidak percaya cinta kalau aa mau tahu. Sebenarnya sudah 2 kali hatiku berlabuh. Yang pertama memilih pergi, katanya dia tidak ingin aku berakhir dengan laki-laki brengsek sepertinya dan memintaku mencari penggantinya yang jauh lebih baik darinya. Sedangkan yang kedua, Papanya Amira. Bang Raihan juga pergi meninggalkanku. Menolak pengobatan hanya demi menjaga diriku yang koma. Dengan alasan cinta mereka berdua meninggalkanku, mengatakan alasan bodoh yang akhirnya menyakiti semua orang. Sejak saat itulah aku tidak percaya lagi sama cinta a,” jawab Kirana.


“Aa nggak akan mengajakmu main cinta-cintaan, itu mainannya ABG. Aa hanya ingin kita bisa berkenalan dan jadi lebih dekat sebelum bisa berbagi hidup satu sama lain. Aa belajar mengenal dirimu dan kamu belajar mengenal aa, itupun kalau neng Kirana mau,” kata Galih.


“Kirana sudah tidak berani bertaruh pada janji tanpa jaminan begini a, maaf.”


“Aa nggak akan mengumbar janji. Yang aa minta itu bukan hatimu apalagi masa depanmu, aa hanya minta kesempatan. Kesempatan untuk bisa mengenalmu lebih dalam, kesempatan untuk menjadi ayah bagi Amira dan jika mungkin aa mau minta kesempatan untuk bisa menjalani hidup bersamamu,” kata Galih.


“Aa, terlalu cepat aa bicara begitu. Iya kalau aa bisa berakhir sampai selesai, kalau aa juga pergi lalu bagaimana aku akan menjelaskan pada Amira? Dia itu sangat sensitif, selalu menggunakan perasaan dan hatinya setiap melakukan sesuatu. Dia rapuh dan mudah terluka, membayangkan Amira bersedih saja aku sudah tidak sanggup,” kata Kirana.


“Kalau begitu akan kuubah permintaanku. Selama aa mengenal dirimu dan Amira aa belum pernah mendengar gadis kecil itu menceritakan soal Papanya,” kata Galih.


“Dia membenci Papanya, menganggap Bang Raihan begitu tega meninggalkanku dan Amira sendirian,” potong Kirana dengan wajah yang sedih.


“Sekarang aa minta kesempatan padamu. Akan kubuat Amira menyayangi Papanya. Akan kubuat Amira bangga pada sosok yang memberinya kehidupan dan kebahagiaan. Nanti, setelah aa berhasil, baru aa akan datang lagi padamu untuk menagih jawaban,” kata Galih dengan begitu yakinnya.


“Dengan satu syarat…,” kata Kirana.


“Sebutkan.”


“Kalau sampai anakku terluka, tidak akan pernah ada kesempatan kedua,” jawab Kirana.


“Deal.”

__ADS_1


__ADS_2