Baret Biru

Baret Biru
66. Kondisi Amira


__ADS_3

Pagi harinya Kirana kembali membujuk Amira sekeras yang dia bisa. Sejak tadi anak itu sudah duduk dengan wajah cemberut di sofa. Dia menolak makan bahkan mendorong jauh makanannya padahal Mama Lucy yang menyuapinya. Kirana mengambil alih mangkok dan sendoknya dari Lucy kemudian dia yang mencobanya sendiri.


“Amira maunya gimana? Mau disuapin siapa? Papa? Uti?”


“Amila nggak mau ke luma sakit,” protesnya.


“Kenapa? Amira marah sama dokter Hengki?”


“Amila nggak mau ketemu doktel Hengki. Amila nggak mau ke luma sakit,” katanya kali ini sambil menangis.


Adnan yang sedang manasi mobil di depan rumah mendengar teriakan Amira hanya bisa menghela nafas. Siapa sih yang suka ke rumah sakit? Sudah suasananya tidak enak, baunya menyengat, dan bagi si kecil dokter dan perawat di sana pasti sudah seperti sosok hantu yang menakutkan. Tidak peduli dokter pendampingnya begitu baik dan tidak segan mengajaknya bermain setiap jadwal check upnya datang, tapi Amira tetap saja tidak suka.


Barusan teriakan, sekarang dia mendengar Amira menangis. Kirana sedang menggendongnya keluar dari rumah untuk setidaknya membujuk putrinya agar tenang. Adnan mendekati Amira dan Kirana, baru Adnan akan menggendong Amira Galih datang. Dia tidak mengenakan seragamnya kali ini. Hanya bermodalkan kemeja denim dan celana berwarna hitam sudah cukup membuat penampilannya jauh berbeda. Kirana bahkan sempat terkesima melihat betapa tampannya Galih saat ini.


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam,” jawab Kirana dan Adnan bersamaan.


“Amira kenapa nangis cantik?” tanya Galih pada Amira yang masih sesenggukan di gendongan Kirana.


“Mama mau bawa Amila ke luma sakit tapi Amila nggak mau. Amila nggak mau disuntik,” adu Amira.


“Tapi kan Amira ke rumah sakit biar sehat. Kalau Amira nggak kerumah sakit terus sakit nanti Amira jadi nggak bisa main lagi, nggak bisa main petak umpet, makan juga pasti rasanya nggak enak,” kata Galih.


“Tapi Amila nggak suka ke luma sakit. Di sana olang-olangnya menakutkan, mukanya selem,” kata Amira.


“Papa temenin gimana? Amira ke rumah sakit sama Papa, nanti waktu ketemu dokter sama Papa juga. Mau ya? Habis itu kita makan siang bareng bertiga,” bujuk Galih.


“Aa, emangnya aa nggak ada kerjaan? Kok enteng banget bilang mau nemenin Amira. Dia check up bisa makan waktu seharian lho,” kata Kirana.


“Karena seharusnya aa sekarang masih di Jakarta. Jadwal kembalinya aa ke Jogja itu baru siang ini tapi berhubung Aksara nggak bisa pisah lama-lama dari istrinya dia ngajak balik kemarin,” kata Galih.

__ADS_1


“Owalah bolos to…,” kata Adnan sambil berkacak pinggang.


“Weits jangan emosi dulu ndan, acaranya beneran kelar kemarin kok tapi Widi salah pesen tiket yang harusnya kemarin jadi besok. Untungnya bisa di reschedule, cuma di surat tugas terlanjur sampai besok tanggalnya,” kata Galih.


“Bener-bener lo emang,” kata Adnan.


“Biarin sih Bang, Rejeki anak sholeh,” jawab Galih tanpa rasa takut.


“Papa benelan nggak kelja?” tanya Amira.


“Beneran kok. Papa hari ini nggak ada kerjaan jadi bisa nemenin Amira seharian,” jawab Galih.


“Kalo gitu Amila mau ke luma sakit tapi sama Papa ya Ma,” kata Amira.


“Yaudah deh, kita ke rumah sakit sama Papa. Tapi besok-besok jangan minta ditemenin Papa terus ya, kan kita nggak tahu Papa lagi sibuk atau lagi ada tugas,” kata Kirana.


“Iya Ma, sekali aja kok,” kata Amira diangguki oleh Kirana.


Kirana tampak murung ketika melangkah keluar dari ruang pemeriksaan begitupun dengan Amira yang tertidur karena kelelahan menangis. Dokternya mengatakan sementara ini dia harus dipantau dengan lebih serius dan jika tidak segera membaik dokter takut harus melakukan tindakan operasi pada si kecil.


Saat ini ketiganya sudah duduk di dalam mobil. Galih dengan perlahan menyerahkan Amira pada Kirana yang duduk di kursi sebelahnya. Keduanya hanya saling diam apalagi Kirana yang hanya bisa menatap putrinya dengan tatapan sendu.


"Kamu mau nangis? Nangis aja," kata Galih.


"Nggak kok, aku nggak mau nangis," jawab Kirana.


"Kirana aku nggak suka sama orang yang pura-pura baik padahal hatinya lagi terluka," kata Galih.


"Aku nggak mau nangis di depan Amira, a," kata Kirana membuat Galih memahami sesuatu.


"Ok kita pulangkan Amira dulu," jawab Galih yang langsung mengemudikan mobilnya menuju kediaman Kirana.

__ADS_1


Selepas memulangkan Amira yang sudah tertidur pulas setelah menangis ketakutan tadi, Galih dan Kirana pergi ke suatu tempat. Kirana tidak tahu akan dibawa kemana, dia hanya bisa pasrah saja berharap jika laki-laki ini tidak akan mengapa-apakan dirinya. Karena tidak peduli selama apa kejadian itu telah berlalu, Kirana masih saja mengingat detailnya dan setiap hal-hal kecil yang dilaluinya akan dihantui oleh ketakutannya yang tidak terkendali.


Galih juga begitu, dia saat ini tidak membuka mulutnya sama sekali. Pikirannya campur aduk sekarang. Walaupun dia baru mengenal Amira baru-baru ini tapi candaan dan senyum gadis kecil itu sudah mampu membentuk satu pelangi kecil dalam hatinya yang terus diterjang badai. Apalagi dengan keberadaan Kirana membuat Galih mulai bermimpi akan membentuk satu keluarga kecil yang bahagia dengan keduanya.


“Tempat ini sepi, kalau kamu mau menangis silahkan. Tidak ada yang akan lihat,” kata Galih.


Kirana melihat ke sekeliling. Yang dia lihat hanyalah hamparan pasir pantai yang bercampur dengan tanah dan bebatuan. Galih sudah keluar dari mobil dan berjalan untuk membukakan pintu di sisi Kirana. Galih mengajak Kirana untuk berjalan agak masuk ke dalam perbukitan. Tidak disangka-sangka, Kirana akan menemukan sebuah pantai yang kecil namun indah. Pemandangan laut lepas berpadu cantik dengan karang dan hijaunya pepohonan. Di kakinya dia juga bisa melihat kerang-kerang kecil yang bergerak malu-malu membuatnya berhati-hati untuk melangkah.


“Ini dimana a?” tanya Kirana.


“Entahlah, pantai ini agak jauh dari jalan utama kan? Pantainya kecil, tapi karena tidak sebagus pantai utama orang jadi tidak ada yang kemari. Aku menemukannya setahun lalu ketika berlibur bersama kawan-kawan brimob dan setiap kali kami ada waktu kami akan berkemah di atas situ,” tunjuknya pada dataran yang cukup hijau yang barusan mereka lalui.


“Tempatnya tenang banget a,” kata Kirana.


“Neng, aa bawa kamu ke sini kan biar pikiranmu tenang. Kalau aa ngajak liburan yang jelas nggak akan ke sini dong,” jawab Galih.


“Memangnya pikiranku nggak tenang kenapa?”


Galih menghela nafas, Kirana juga bisa melihat kedua bahu laki-laki itu agak turun. Galih yang sebelumnya berdiri agak jauh di depan mulai berjalan mendekati Kirana dan berdiri tepat di hadapan Kirana. Dia meraih tangan Kirana dan mengajaknya untuk duduk di atas salah satu karang yang ada di sana.


“Bohong kalau kamu bilang tidak tenang. Anakmu, hartamu satu-satunya sedang sakit parah. Kenapa kamu menyembunyikan kesedihanmu sih?”


“Aku tidak menyembunyikannya kok. Hanya tidak punya tempat untuk meluapkan saja,” kata Kirana mulai meneteskan air matanya.


“Nih bahu aa nganggur kalau kamu mau nangis,” kata Galih.


“Nggak a.”


“Kenapa? Apa karena aa bukan siapa-siapamu?”


“Itu aa tahu.”

__ADS_1


“Kalau begitu kamu mau menangis di bahu aa kalau aa jadi suamimu?” tanya Galih agak nekat.


__ADS_2