Baret Biru

Baret Biru
63. Nikah


__ADS_3

Pagi harinya Kirana menepati janji yang dia buat pada Galih. Selepas sholat subuh Kirana dibantu Amira sudah asik berdua di dapur membuatkan nasi goreng seperti yang Galih minta. Kirana memotong-motong wortel dan mentimun sedangkan Amira asik mengupas bawang-bawangan.


Selesai mengupas bawang, Amira mendekati Mama dan naik ke atas kursi kecil yang ada di dekatnya demi melihat apa yang dilakukan Mama di depan kompor. Mulai dari menumis bumbu, memasukkan potongan ayam, sayuran dan terakhir nasi. Kirana memasaknya dengan begitu hati-hati. Dia juga menambahkan telur mata sapi di atasnya.


“Nih punya Amira, dihabisin ya Mama mau mandi dulu,” kata Kirana.


“Iya Ma….”


Kirana mandi, keramas, dan untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun dia memoles make up lagi di wajahnya. Menggunakan eyeliner dan eyeshadow berwarna coklat, menambahkan sedikit perona pipi dan lipstik yang warnanya tidak terlalu mencolok. Kirana juga memakai parfum yang biasanya hanya dia pakai di rumah jika sedang bersama suaminya.


Entah mendapat dorongan dari mana, tapi Kirana seperti orang yang akan pergi berkencan. Dia juga asik menata rambutnya dan memilih pakaian mana yang kira-kira cocok. Setelah selesai, dia tidak lupa mempercantik si kecil Amira. Dia memakaikan sebuah dress berwarna pink, bando sederhana berwarna senada dan sepatu hitam.


“Hmm…, cantiknya anak Mama,” kata Kirana.


“Mama juga cantik,” jawab Amira.


“Berangkat yuk. Kasihan kalau Papa nunggu kelamaan,” kata Kirana.


Kirana dan Amira berangkat ke markas setelah lebih dulu pamit pada Akung dan Uti di rumah. Tidak butuh waktu lama, keduanya sudah memarkir mobilnya di sebuah minimarket yang letaknya tidak jauh dari markas. Kirana sengaja memarkir mobilnya di minimarket yang masih tutup itu, karena dia tidak mau merepotkan banyak orang untuk memeriksa mobil dan seluruh barang bawaannya. Dia juga bingung harus menjawab apa kalau ditanya ada keperluan apa mencari Pak Galih. Namanya juga markas kepolisian daerah wajar saja kalau penjagaannya ketat.


“Papa…,” panggil Amira sambil melambaikan tangan pada Galih yang terlihat sedang berusaha menyeberang.


“Halo anak manis, cantiknya hari ini,” kata Galih menyapa balik Amira yang menyembulkan setengah badannya dari kaca mobil.


“Kan mau ketemu Papa,” kata Amira.


“Tapi maaf ya Papa belum bisa main sama Amira hari ini. Papa harus pergi kerja,” kata Galih.


“Nggak papa, Amila tunggu Papa pulang,” kata Amira.


“Pinternya….”


“Aa, ini yang aa minta. Semoga aa suka ya, nggak pedes kok nggak pakai cabe sama sekali,” kata Kirana.


“Makasih ya, maaf kotak makannya baru bisa aa balikin minggu depan,” kata Galih.


“Nggak papa kali a. Santai aja,” jawab Kirana.


“Ndan…,” panggil seseorang yang mulai mendekati Galih.


“Apa?”


“Anu…,”


“Anu anu kebiasaan sia teh. Ngomong yang jelas,” kata Galih yang berubah sedikit lebih tegas.

__ADS_1


“Itu…, mobil dinas yang rencananya mau saya pake buat ngantar komandan ternyata dipake sama Pak Chandra dan Pak Nanda ke mabes, terus yang satu kan masih di bengkel. Gimana ini ndan?” tanyanya.


“Ya terus saya harus ngesot gitu ke bandara? Ya cariin mobil apa gimana kek, kamu bawa mobil Pak Aksa juga bisa kan. Habis kamu pake nganter, kuncinya kasih ke Ndan Aji,” kata Galih.


“Nggak berani deket ke ndan Aji, soalnya semalem habis marah-marah sama anak-anak.”


“Ya itu karena kamu nggak becus kerjanya. Udah tahu hujan bendera nggak segera diturunin,” jawab Galih dengan nada malas.


“Aa…, aa nggak ada kendaraan untuk ngantar ke bandara? Berkenan Kirana antar? Yang akan berangkat berapa banyak a?” tanya Kirana perlahan.


“Cuma dua sih, aa sama ada satu rekan namanya Aksara,” jawab Galih.


“Kuantar saja ya a, nggak papa kok. Kebetulan aku sudah kenal sama Aksara. Anak sulungnya Pak Aji kan? Istrinya namanya Kaori,” kata Kirana.


“Kok bisa kenal?”


“Menurut aa?” kata Kirana membuat Galih ingat Kirana kan dari keluarga brimob juga. Wajar kalau dia kenal dengan Aksara dan keluarganya. Mereka pasti sering bertemu dalam berbagai kesempatan. Apalagi mereka kan seumuran. Bisa saja kan pernah satu sekolah atau apa. Lagi pula memang belum banyak yang Galih tahu soal masa lalu Kirana karena dia memang tidak suka bicara masa lalu.


“Boleh Bu?” tanya anak buah Galih dengan polosnya.


“Ya Allah. Cicing!” kata Galih.


“Siap. Diam ndan…,” katanya langsung dalam sikap sempurna dan diam.


“Iya a, nggak papa yuk, dengan senang hati Kirana antar,” jawab Kirana.


“Bener?”


“Bener.”


“Terpaksa deh. Yuk, mobilmu diparkir di dalam saja dulu. Aa dan Aksara harus lapor dulu soalnya,” kata Galih.


“Kamu masuk sana, cuci itu Ririn sama Jono. Selama saya nggak ada kamu yang wajib jaga mereka. Kalau sampai saya pulang mereka masih keadaan kotor dan belum service kamu yang saya mandiin,” kata Galih merujuk pada dua kendaraan taktis yang dimiliki oleh brimob.


“Siap. Laksanakan, ndan.”


“Aa, sebenarnya di brimob tuh di bagian apa sih? Kok ngurusin kendaraan?”


“Di bagian logistik. Jadi semua peralatan mulai dari yang gede-gede sampai yang sepele semua tanggung jawab aa,” kata Galih. Kirana hanya manggut-manggut sambil masuk ke dalam mobil.


Tadinya Kirana memaksa dia saja yang nyetir, tapi pada akhirnya malah Galih yang bawa mobilnya sedangkan di kursi samping dia minta Kirana yang duduk. Biar Amira bersama om Aksa di belakang. Aksara sudah mengenal Amira, walaupun Amira sendiri tidak ingat pernah bertemu kapan dan dimana. Tapi berkat cerewetnya Aksara keduanya mulai bisa mengobrol.


“Kalian berdua sejak kapan pacaran?” tanya Aksara pada Kirana dan Galih.


“Nggak pacaran kok,” jawab Kirana.

__ADS_1


“Idih. Bohong lo.”


“Emang nggak pacaran Le,” tegas Galih.


“Lha terus ngapain ini tuyul manggil elo ‘papa’ mbul? Lo nikahin Kirana? Kapan? Dimana? Kalian nggak nikah siri kan? Atau kawin lari?”


“Pala kau kawin lari,” jawab Galih sedikit emosi.


“Dek Amira, kenapa manggil om gembul itu papa? Memangnya om gembul udah nikah sama Mamamu?” tanya Aksa beralih pada Amira yang duduk sambil memakan coklat di sampingnya.


“Nikah itu apa om?” tanya Amira polos.


“Nikah itu…,”


“Nikah itu kaya Papa Adnan sama Mama Lucy. Jadi dua orang yang sudah besar jadi pasangan dan hidup bareng-bareng. Papa bantu Mama dan Mama bantu Papa,” jawab Kirana sebelum Aksara yang pasti ngawur menjawab.


“Kaya Papa Galih sama Mama Kilana dong,” kata Amira.


“Nggak gitu Ra, nikah itu janji seumur hidup. Nggak segampang itu diucapkan,” jawab Galih.


“Kalau gitu Papa sama Mama belum nikah? Telus Papa nggak bisa baleng-baleng sama Amila sama Mama dong. Padahal Amila mau dibacain dongeng sama Papa sebelum tidul,” kata Amira dengan raut sedih.


Kirana mulai menenangkan putrinya sedangkan Galih kini melayangkan tatapan mematikan dibarengi dengan gerakan memotong lehernya sendiri dengan jari sebagai ancaman untuk Aksara.


“Papa sama Mamamu nanti akan nikah kok. Tapi nanti nggak sekarang. Amira doakan aja Papa cepat dibukakan pintu hatinya,” kata Aksara mulai kikuk di sebelah Amira.


“Aksara…,” kata Kirana mengkode Aksara agar diam.


“Neng, ikhlas nggak temanmu kuturunin di sini?” tanya Galih pada Kirana.


“Ikhlas a, menuh-menuhin tempat juga lagian,” kata Kirana.


“Semprul, malah aku mau dibuang. Ya maaf to, belum berpengalaman ini lho,” jawab Aksara.


“Belajar bule. Istrimu itu udah isi. Kalau lo nggak cepet-cepet belajar yakin lo dibabat sama Kaori belum lagi dipelototin mertua,” kata Galih.


Sesampainya di bandara, Kirana dan Amira menemani Galih dan Aksara sampai waktu check in. Galih sedang membujuk gadis kecilnya agar tertawa kembali. Mau bagaimana lagi, terpaksa Galih iyakan pertanyaan Amira agar gadis kecil itu tidak merengek lagi.


“Janji ya Pa?”


“Papa nggak bisa janji sayang, kan Papa belum minta izin sama Papa Raihan. Besok ya Papa Galih pulang kita minta izin ke Papa Raihan dulu, Amira bantu Papa bujuk Papa Raihan ok?” kata Galih.


“Ok,” kata Amira pada akhirnya.


“Pinter anak Papa,” jawab Galih akhirnya membuat Amira tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2