
Deden baru saja naik pangkat. Setelah mengabdikan dirinya selama 12 tahun lamanya, mereka kini diangkat menjadi Kapolres. Walaupun harus dimutasi ke tempat lain, namun dia tetap berbangga diri. Lagi pula bukan hanya dirinya tapi juga Odi sahabatnya ikut dimutasi dan menjadi ajudannya.
Deden yang baru saja diangkat jelas menjadi sibuk tiba-tiba. Apa lagi di tempat yang baru, walaupun sebenarnya tidak berjarak jauh dari tempat yang sebelumnya tapi dia tetap harus beradaptasi. Deden baru saja mencuci mukanya ketika Odi mendekatinya. Odi membawa sebuah stopmap berwarna biru kemudian berdiri diam menunggu Deden selesai dengan urusannya.
“Bang…,” katanya.
“Udah siap?”
“Sudah.”
Deden melangkah menyusuri lorong. Ketika dia berusaha untuk mengajak Odi bicara, laki-laki itu bukannya menjawab tapi malah semakin diam. Deden yang bingung kemudian menoleh kebelakang dan mulai menyadari raut sedih wajah rekan kerjanya.
“Sakit Di?” tanya Deden.
“Nggak Bang.”
“Terus murung gitu ngapain? Ada masalah sama istri?”
“Nggak juga Bang,” jawab Odi kali ini sambil menggeleng.
“Terus?”
“Hari ini pelaku yang pernah menyakiti istri mendiang Bang Raihan akan dibebaskan,” katanya dengan nada yang lebih sedih lagi.
“Maksud lo pelaku pemerkos**n itu?”
“Iya…,”
Deden menghela nafasnya. Dia sempat terdiam sebelum melanjutkan langkahnya sambil melamun, “mau bagaimana lagi, pelakunya punya backing yang kuat. Sudah mending dia sempat dihukum,” kata Deden yang terus menatap kedepan.
“Tapi nggak adil banget Bang, pelaku kan nggak hanya menyakiti Mbak Kirana saja. Dia juga menyakiti banyak perempuan lain sebelumnya,” kata Odi.
“Namanya hidup di dunia, Di. Tidak ada yang benar-benar adil di sini. Hukum rimba tetap berlaku. Kalau kamu mau bertahan satu-satunya jalan adalah menjadi kuat. Jangan sampai ada yang bisa menghancurkanmu. Sama seperti pelaku itu, dia berusaha menjadi kuat hingga hukum saja tidak mampu menghalanginya.”
...***...
“Aa bangun…,” panggil Kirana karena mendapati Galih dan putrinya malah kembali tidur setelah sholat subuh.
“Hmm.”
“Ami bangun kak,” kali ini Kirana memanggil Amira.
__ADS_1
“Hmm.”
Keduanya hanya bergerak sedikit kemudian kembali tidur. Amira tidur di tempat Kirana biasa tidur sedangkan Galih tidur dengan posisi meringkuk di sebelah putrinya. Kirana memegangi perutnya kemudian membungkuk sedikit untuk menyingkap selimut yang Galih pakai.
“Papa…, sudah jam 6 lho,” kata Kirana.
“Mama bohong ya,” jawab Galih.
“Astaga Papa, nggak mungkinlah aku bohong. Tuh lihat jamnya sudah jam 6 lebih,” kata Kirana lagi.
Dia kemudian duduk di sebelah Galih kemudian tangannya dia rentangkan untuk menepuk Amira yang masih nyaman dalam tidurnya.
“Sayang bangun ayo, kita sekolah.”
“Mama…, Amira boleh nggak sekolah nggak?” tanya Amira.
“Kenapa?”
“Kepala Amira pusing Mama,” katanya.
Galih langsung terbangun dan menempelkan tangannya ke dahi Amira. Disusul Kirana yang mendekati Amira. Dengan penuh pengertian Kirana duduk di sebelah Amira kemudian mengelus kepalanya, “Ami, kamu habis sholat terus tidur kan. Tadi Ami sholat jam berapa?”
“Jam 5”
“Tapi Ami tidak kuat Mama, pusing,” katanya lagi.
“Ya sudah tapi janji ya hari ini saja besok-besok tidak,” kata Kirana.
“Iya…,”
...***...
Seharian ini Kirana dan Lucy hanya duduk di cafe. Mereka sibuk mengevaluasi kerja pegawainya. Mulai dari evaluasi kinerja bulanan, laporan keuangan, hingga membahas tentang target bulan depan. Kirana melakukan pekerjaannya sambil terus ngemil. Rasanya dia selalu lapar saat ini. Terhitung sudah 2 kali dia memesan pesan antar dengan porsi yang tidak sedikit selama setengah hari ini.
“Waw, luar biasa kamu makannya Ki,” kata Lucy yang sedari tadi masih berusaha menghabiskan rice boxnya.
“Nggak tau rasanya laper terus. Ketika kupikir aku harus ngerem dokter malah mengatakan untuk makan yang banyak. Kemarin ketika check up berat badannya agak kurang sempat kecapekan juga akunya,” kata Kirana.
“Dijaga kesehatannya ya Ki, semoga lancar. Kuharap kamu bisa lahiran normal saja,” kata Lucy.
“Aamiin…,”
__ADS_1
“Eh Ki, rasanya gimana? Lukanya masih suka sakit nggak?”
“Lumayan. Kalau yang di perut nendang-nendang dan pas kena luka ya kerasa nyut-nyutannya. Tapi sakitnya kali ini nggak kerasa karena kalah sama kebahagiaan yang aku rasakan. Apalagi a Galih tuh perhatian banget Cy. Dia kalau mau tidur selalu meluk, kalau makan malam juga sering nyuapin. Sayang banget deh pokoknya,” kata Kirana dengan wajah yang berbinar-binar.
Lucy tersenyum menatap Kirana yang sedang menceritakan suaminya dengan penuh rasa bangga dan sayang. Kirana tampak begitu menyayangi suaminya. Kalau diingat-ingat lagi, Kirana belum pernah menceritakan kekasih hatinya dengan cara se-exited ini. Bahkan tentang Keenan sekalipun.
Lucy tersenyum ketika mendengarkan Kirana terus bercerita tanpa jeda. Lucy bersyukur Kirana akhirnya menemukan satu yang terbaik untuknya. Dia bersyukur Kirana saudara iparnya ini akhirnya menemukan kebahagiaan sejatinya. Lucy dalam hati mendoakan, semoga dengan Galih Kirana akan bahagia, semoga Galih akan menjadi cinta terakhirnya yang akan selalu ada bersamanya dan selalu menemaninya.
“Misi, Mbak?” panggil Dimas.
“Kenapa?”
“Boleh minta bantuan nggak di kasir? Lagi ramai nih,” katanya.
“Biar aku aja,” Kirana yang menjawab lebih dulu.
“Eh kamu istirahat aja Ki, masa kamu yang kerja keras aku diem. Bumil duduk anteng sini ya,” kata Lucy mencegah Kirana pergi.
“Nggak papa. Ini yang diperut minta diajak gerak soalnya. Nanti kalau aku capek kamu gantiin ya,” kata Kirana akhirnya diangguki oleh Lucy.
...***...
Adnan berjalan keluar dari gerbang markas menuju ke seberang jalan. Setelah berjalan sejauh beberapa puluh meter dia bertemu dengan sebuah ATM kemudian dia mulai melangkah masuk. Adnan terus bersenandung ketika tangan kirinya menyentuh gagang pintu ATM dan kakinya melangkah masuk.
Dia berada di dalam ATM tidak begitu lama dan kembali keluar untuk segera kembali ke markas. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan anak dan istrinya hari ini. Dalam hati Adnan berharap jika Lucy akan memberinya sesuatu hari ini. Biasanya istrinya itu bisa tiba-tiba manis kalau habis dapat transfer gaji dari suaminya. Jadi Adnan suka memanfaatkannya untuk mendapatkan apa yang dia mau.
Baru sempat Adnan berbelok akan menyusuri jalan, dia berpapasan dengan seorang laki-laki.
“Long time no see, Adnan Dzaki,” katanya.
Adnan otomatis berhenti dan menoleh ke arah laki-laki yang berpakaian cukup tertutup itu. Butuh waktu beberapa saat hingga Adnan akhirnya mengingat siapa laki-laki yang tampak familiar ini.
“Kau?!”
“Hmm, masih ingat kau rupanya,” katanya dengan seringai yang menakutkan.
“Mau apa kau datang lagi? Sudah rindu dengan bui kah? Mau kau kujebloskan lagi?” kata Adnan tidak kalah sarkas.
“Silahkan kalau kau bisa.”
“Kau sudah menghancurkan hidup keluargaku dan kau masih berani menantangku? Ingat! Tidak akan ada kata selamat untuk dirimu,” kata Adnan sebelum dia berjalan meninggalkan laki-laki itu begitu saja.
__ADS_1
“Aku tidak peduli apakah kau akan memenjarakanku atau membunuhku. Selama aku bisa menikmati apa yang belum sempat kunikmati malam itu. Well anggaplah ini sebagai permintaan terakhirku sebelum kau eksekusi tuan brimob yang terhormat,” katanya membuat Adnan semakin emosi.