Baret Biru

Baret Biru
31. Pengakuan Adnan


__ADS_3

“Nggak papa kok Bang Kirana paham.”


Kata-kata Kirana itu menjadi bebannya selama seharian penuh. Saking bingungnya, dia sampai tidak sengaja mengetikkan kata-kata istrinya itu dalam laporan yang harus dia serahkan pada komandan. Untung Deden sahabatnya mengetahui itu dan langsung menyadarkan Raihan yang ngelantur di dalam laporannya.


"Oalah Han, kui laporan kanggo komandan dudu kanggo bojomu opo meneh morotuomu. Sadaro Han sadar,” kata Deden.


“Jenenge wong gek mumet,” kata Raihan.


"Mumet ngopo? Manten anyar kok mumet,” ledek Deden.


“Emangnya kamu nggak lihat ibu-ibu tadi. Pas dia teriak minta tanggung jawab itu posisi ada istriku. Lha dia bukannya marah malah senyum bilang ‘nggak papa kok Bang aku paham’. Piye aku ra mumet? Mending dia marah sekalian ketimbang kaya gini ngeri tahu nggak. Nikah rung genep selapan wis ana wae ujiane,” kata Raihan.


“Yaelah Han Raihan. Kasihan amat hidup lo,” kata Deden yang hanya bisa geleng-geleng sambil menertawakan sahabatnya itu. 


...***...


Sore harinya Raihan pulang ke rumah Mama. Dia pikir Kirana akan ada di depan rumah tapi nyatanya gadis itu bahkan tidak menyadari kepulangan suaminya. 


“Ma, Kirana mana?” tanya Raihan pada mama mertuanya.


“Masih mandi kayaknya. Coba dicek aja ke atas,” kata Mama.


Benar kata Mama. Kirana sedang mandi karena Raihan mendengar suara air dari kamar mandi yang letaknya ada di seberang pintu kamar Kirana dan Adnan. Raihan lebih dulu melepaskan jaket dan seragamnya lalu menggantungkannya di gantungan dekat lemari. Raihan langsung merebahkan diri di tempat tidur akibat lelah dan tidak kuasa menahan kantuk.


Raihan bahkan sampai tidak sadar kalau Kirana yang sudah selesai mandi menyelimutinya. Raihan menggulingkan tubuhnya mencari posisi yang ternyaman dan melanjutkan mimpinya yang entah menceritakan soal apa. Kirana duduk di pinggiran bed kemudian memandangi wajah Raihan yang terlihat begitu polos ketika sedang tertidur.


Kirana memberanikan diri untuk mengelus rambut Raihan. Rasa percaya di hatinya sudah semakin besar dan tubuh Kirana mulai terbiasa menerima kehadiran laki-laki ini di sampingnya. Kirana menggenggam tangannya dan memeluknya kemudian ikut merebahkan diri di samping Raihan. Raihan menjawabnya dengan membalas pelukan Kirana dan tidurlah mereka berdua sore itu.


Akibat tidur sore dalam posisi tubuh yang lelah, sekarang ganti Raihan yang masuk angin. Dia sedang dipijat oleh Kirana sambil menonton tv bersama Papa, sedang Bang Adnan membantu Mama mencuci piring di dapur.


"Udah enakan?” tanya Kirana.


"Lumayan, tapi pengen sampe bisa sendawa. Lagi Dek sebentar lagi,” akta Raihan lagi. Untung Kirana sudah biasa memijat Papa atau Bang Adnan. Dia juga kan tenaganya besar jadi lumayan keenakan juga Raihan dibuatnya.

__ADS_1


“Aneh-aneh saja kamu itu. Pulang-pulang malah masuk angin,” kata Papa.


“Bang Raihan kecapekan kali Pa, soalnya dua hari kemarin juga nemenin Kirana. Di sana tidur Bang Raihan juga nggak begitu nyenyak karena Kirana sakit,” kata Kirana.


“Nggak papa Dek, cuma masuk angin. Habis kamu pijitin juga sembuh,” kata Raihan.


“Kirana, diambilin obat itu di kotak P3K biar istirahat. Besok pagi kan sudah kerja lagi,” kata Mama.


“Iya Ma, bentar. Masih keenakan nih orangnya,” jawab Kirana.


“Udah berani sekarang si Adek. Udah nggak gemeter lagi kan tanganmu?” tanya Adnan yang kini menyusul duduk di sofa.


“Lumayan,” jawab Kirana.


“Keren kan aku dalam waktu singkat bisa bikin Kirana percaya,” kata Raihan membanggakan diri.


“Nggak usah membanggakan diri Bang. Itu ibu-ibu yang tadi udah minta tanggung jawab apa kabar?” ledek Kirana.


Raihan langsung berbalik arah duduk. Tadinya dia duduk di bawah sedang Kirana di atas sofa. Saat ini Raihan langsung bersimpuh di depan Kirana dan meminta maaf sekaligus juga meminta maaf pada Papa dan Mama yang baru bergabung di sana.


“Udah Abang malu ih, sini sini. Kan Kirana bilang nggak papa,” jawab Kirana menarik Raihan agar duduk di posisinya semula.


“Wahh bibit bucin. Harusnya yang barusan kurekam terus kukirim ke grup angkatan. Wuh bakal jadi headline news. Raihan Dhananjaya yang terkenal nggak doyan cewek bisa bucin juga,” kata Adnan meledek Raihan habis-habisan.


“Kampret,” kata Raihan sambil mencoba memukul perut Adnan.


“Emang Bang Raihan nggak kenal cewek tuh maksudnya apa Bang?” tanya Kirana pada Abangnya.


“Raihan ini dari jaman masih di akpol banyak banget yang naksir tapi dia selalu bilang nggak mau pacaran. Taunya sekali suka sama cewek langsung jadi bucin,” kata Adnan yang tanpa sengaja membuat Kirana tersipu.


Mama menyenggol Kirana, “cie~,” goda Mama.


“Apaan sih kok Mama jadi ikut-ikutan,” jawab Kirana.

__ADS_1


“Abang ayo tidur aja yuk Bang. Kirana ngantuk,” ajak Kirana.


"Uhuy tidur lho Dek nggak melek semalaman. Inget ya Abang mantau dari sebelah,” kata Adnan masih saja meledek adiknya.


“Bomat.”


“Ipar sableng,” bisik Raihan pada Adnan yang masih terpingkal setelah menggoda Raihan habis-habisan.


...***...


Selepas kepergian Raihan dan Kirana, Mama mendekati anak sulungnya dan bertanya. Barangkali Adnan tahu sudah sejauh apa Kirana percaya pada Raihan.


“Setahu Abang Kirana belum bisa disentuh. Mentok ya pegangan tangan. Pelukan itu baru sore ini Raihan nggak sengaja lihat mereka berdua tidurnya pelukan. Itupun nggak tahu mereka sadar apa nggak,” kata Adnan.


"Mama lama-lama nggak enak sama keluarganya Raihan. Mamanya Raihan itu pernah curhat sama Mama katanya sudah pengen banget gendong cucu. Raihan kan anak satu-satunya. Adnan, kamu bisa kan bantu adikmu sama suaminya biar lebih dekat lagi?” kata Mama.


“Mama juga tuh. Coba belajar percaya sama Raihan. Lagian Papa yakin Papa nggak salah milih menantu,” kata Papa.


"Terus Mama mau tanya tentang satu hal lagi,” kata Mama yang mulai berbisik, “Abang tahu kabarnya Keenan tidak?” tanya Mama pada sulungnya.


“Soal itu…,”


“Dia sekarang anggota brimob kan? Papa tahu,” jawab Papa.


“Papa kok bisa tahu?” tanya Mama.


“Mama masih ingat sama om Aji kan? Keenan satu angkatan sama Aksara anak om Aji. Bertiga sama satu lagi kawannya tahun ini dikirim ke brimob sebagai perwira baru,” jawab Papa.


“Nggak lho Mama masih bingung kok dia tiba-tiba bisa jadi polisi? Orang tuanya kan protek banget sama anak-anaknya.”


“Sebenarnya itu karena aku sih Ma, Pa,” kata Adnan yang akhirnya mengakui apa yang pernah dia lakukan.


“Alasan kenapa Kirana dan Keenan bisa putus hubungan juga aku. Aku yang ajak dia buat ikut SIPSS dan beruntungnya dia langsung diterima gitu aja. Tadinya kupikir dengan dia jadi perwira dia nggak akan kerja di sini tapi beberapa hari sebelum Kirana dan Raihan nyebar undangan Keenan datang melapor sebagai perwira muda di brimobda,” kata Adnan.

__ADS_1


Ketika Adnan menjelaskannya, ada sepasang telinga yang ikut mendengarkannya dengan jelas. Orang itu kemudian mengurungkan niatnya untuk turun dari lantai dua dan memilih untuk kembali ke kamar seakan tidak mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh Papa, Mama, dan Adnan.


__ADS_2