
Galih malam itu kembali ke mess dalam kondisi yang cukup menyedihkan. Dia bahkan tidak tersenyum ketika petugas piket menyapanya. Galih berjalan masuk ke unitnya dengan gontai. Di dalam dia bisa melihat Keenan, teman satu kamarnya baru selesai mandi. Semenjak Aksara menikah, memang Galih yang meminta Keenan pindah.
Galih sejak kecil selalu seorang diri, menyembunyikan semua lukanya dalam kegelapan itulah kenapa Galih selalu takut sendirian. Sejak pindahnya Keenan ke kamar ini, buat Galih Keenan bukan lagi sekedar rekan kerja. Melainkan sahabat. Dia cukup baik sebagai pendengar, walaupun yang diceritakan oleh Galih lebih sering tidak bermutu. Tapi dia senang bisa akrab dengan laki-laki yang sering dia panggil mamot itu.
Sayangnya hari ini dia dipatahkan bukan hanya oleh kekasihnya, tapi juga oleh sahabatnya. Itulah kenapa Galih memilih diam tanpa bersuara. Setelah melepaskan sabuk, sepatu dan seragamnya, dia meraih handuk dan kaos bersih kemudian segera meninggalkan kamarnya begitu saja.
Galih menuju ke bilik mandi dan mengguyur kepalanya dengan air sebanyak yang dia bisa. Cukup lama dia berada di sana, dia tidak peduli badannya mulai kedinginan. Sayangnya dia tidak akan mungkin bisa di sana selamanya. Dia memilih untuk menghentikan kegiatan mandinya dan kembali ke kamar.
Ketika Galih membuka pintu kamar, dia kembali bertemu muka dengan Keenan yang terlihat seperti menunggu kedatangannya.
“Kalau lo nggak nyaman, gue bisa pergi,” kata Keenan.
“Gue yang pergi,” jawab Galih dengan singkat.
Dia meraih jaket dan kunci mobilnya kemudian kembali keluar dari kamar. Galih sempat berputar-putar hingga dia memutuskan untuk pergi ke rumah Pak Aji. Orang yang memiliki jasa besar dalam hidupnya. Karena untuk Galih beliau dan istri sudah seperti orang tua kedua.
“Ya Allah Galih, kamu kenapa nak? Kok mukamu pucat gitu?” tanya Bu Ratna, istri Pak Aji yang membukakan pintu untuknya.
“Ada siapa Nda?” tanya Pak Aji yang berjalan keluar dari rumah dengan mengenakan sarungnya.
“Anakmu,” kata bu Ratna. Dia meninggalkan suaminya dan Galih yang kini duduk di teras.
“Kamu kenapa? Lagi ada masalah atau bagaimana?” tanya Pak Aji, tapi hanya digelengi oleh Galih.
“Pak, aku mau ngerepoti Bapak sama Ibu. Aku malam ikut tidur di sini ya,” kata Galih.
“Yaudah ayo masuk. Mukamu sudah kayak mayat hidup gitu,” ajak Pak Aji untuk masuk. Beliau memutuskan untuk menuntun Galih yang berjalannya agak oleng. Tubuhnya juga terasa panas.
“Nda, ambilin kompres kek atau obat demam. Galih kayaknya sakit,” kata Pak Aji setelah membukakan kamar lama Aksara dan melihat Galih merebahkan diri.
Ketika Bu Ratna masuk ke dalam kamar, dia menemukan Galih sudah terlelap. Namun tidurnya tidak tenang. Nafasnya sedikit memburu dan mulai mengigau.
“Ayah, ambilkan termometer Bunda dong. Di laci bawah, samping lemari,” kata Bu Ratna.
__ADS_1
Bu Ratna malam itu merawat Galih sudah seperti merawat putranya sendiri. Bu Ratna ini bertemu dengan Galih pertama kali ketika dia pergi ke kediaman kerabatnya di Jakarta. Dia bertemu dengan seorang anak muda yang berjalan bertelanjang kaki dan menangis di depan sebuah emperan toko. Yang membuat Bu Ratna bingung, anak itu memakai pakaian yang bersih, tubuhnya juga cukup gempal. Dia tidak terlihat seperti anak-anak yang memang tinggal di jalanan.
Bu Ratna dan Pak Aji yang mengira Galih adalah anak yang tersesat dan tidak bisa pulang mendekatinya dan mengajaknya pulang serta membantunya untuk bisa mendapatkan kekuatannya kembali. Sejak saat itulah Galih tidak pernah melupakan kedua malaikat baiknya itu. Hingga ketika dia masuk ke akademi, dia tidak sengaja melihat Pak Aji datang menggunakan seragam lengkap bersama istri dan putranya.
Pasutri itu mengingat Galih yang kini berstatus sebagai kawan putra sulungnya dan sejak diangkatnya Galih di brimob, Pak Aji semakin memperlakukan dirinya layaknya beliau memperlakukan Aksara dan si kembar Nusantara. Bahkan Pak Aji dan Bu Ratna mengizinkan Galih untuk datang ke kediaman Aditama kapanpun dia membutuhkan dan setiap kali Galih sedang bingung memutuskan, dia akan selalu mencari Pak Aji.
“Galih kayaknya nggak cuma sakit fisiknya Yah,” kata Bu Ratna pada suaminya yang masih menunggu sang istri selesai merawat Galih.
“Maksud Bunda?”
“Tuh kan Ayah nih memang nggak peka. Tadi Bunda dengar Galih nyebut nama Kirana,” kata Bu Ratna.
“Nah kan, itu namanya bukan Ayah nggak peka. Ayah nggak dengar. Gimana sih Bunda nih,” protes Pak Aji.
“Ya pokoknya gitu lah, Ayah bantu Galih ya. Kasihan dia jadi begitu,” kata Ratna.
“Pasti. Sekarang dia biar tidur dulu, ayo Bunda juga tidur udah malem besok kamu banyak kegiatan jangan sampe kecapekan," ajak Pak Aji.
tok…, tok…, tok…,
Pak Aji mengetuk pintunya. Galih hanya bisa berusaha untuk duduk ketika melihat Pak Aji berjalan masuk ke dalam kamar yang dia pakai untuk tidur ini. Dia juga tidak menolak ketika Pak Aji meletakkan punggung tangannya di dahi Galih.
“Kamu nggak tidur?” tanya Pak Aji.
“Nggak bisa tidur Pak,” jawab Galih dengan pelan.
“Kuat ndak? Sholat tahajud yuk sama Bapak.”
Galih menatap Pak Aji yang meyakinkan dia dengan tersenyum. Galih mengangguk mengiyakan. Dia mengambil wudhu kemudian menyusul Bapak yang sudah lebih dulu sampai di ruangan khusus yang biasa dipakai untuk keluarga Aditama sholat berjamaah. Galih ikut menggelar sajadahnya dan dengan khusyuk berdoa.
Pak Aji mendengar isakan Galih. Bahkan setelah sholat mereka selesai, Galih masih bertahan di atas sajadahnya sambil menengadahkan tangan pun Pak Aji dengan setia menemani. Pak Aji paham betul betapa rapuhnya seorang anak yang harus bertahan hidup tanpa kehadiran ayahnya, apalagi tidak ada sosok ibu di sampingnya.
“Maaf Pak, Bapak jadi lihat saya nangis,” kata Galih sambil menyeka air matanya.
__ADS_1
“Tapi dengan menangis kamu jadi lebih lega kan?” tanya Pak Aji.
“Nangis itu nggak dosa kok. Jangan karena kamu laki-laki terus kamu takut buat nangis. Bapak ini jaman masih berjuang sama Ibu juga sering nangis kok. Kalau nggak salah ingat Ibumu juga pernah bilang ke kamu, ke Aksara juga kalau laki-laki itu juga manusia, bisa nangis bisa rapuh,” kata Pak Aji.
“Iya Pak, Ibu pernah bilang gitu. Itu waktu galau-galaunya Aksara mau nikahi Kaori,” jawab Galih membuat dia menyadari sesuatu.
“Nah itu. Timingnya sama kayak kamu sekarang.”
“Bapak nggak pinter kasih nasehat. Yang pinter Ibumu, tapi kalau kamu mau cerita sama Bapak boleh, Bapak dengerin,” kata Pak Aji.
“Nggak ada masalah sih sebenernya Pak, cuma lagi campur aduk aja rasanya. Bapak tahu Keenan nggak? Teman Aksara juga kok,” tanya Galih.
“Ya tahu,” jawab Pak Aji.
“Dia ternyata mantan kekasih Kirana Pak, dan dia masih berharap bisa kembali sama Kirana. Saya akhirnya tanya juga ke Kirana apa dia masih ada rasa sama Keenan atau nggak, eh dia malah menceritakan masa lalunya,” kata Galih.
“Soal kasusnya juga?”
“Bapak tahu?”
“Tahu. Ibu sempat mendampingi terapinya Kirana selama beberapa kali. Lagian Papanya Kirana itu junior Bapak. Keluarganya juga lumayan dekat dengan keluarga Bapak. Sedikit banyak Bapak tahu seperti apa perjuangan Kirana,”
“Galih, sudah 32 tahun Bapak nikah sama Ibumu dan Bapak memahami sesuatu. Perempuan itu mungkin terlihat kokoh dan kuat di luar, tapi sebenarnya rapuh sekali. Kamu kan pernah Bapak ajak latihan pakai cangkang telur to, itu sama. Cangkang telur itu ibarat hati perempuan, sekali kena hantam hancur dia dan nggak akan bisa kembali lagi. Nggak peduli mau kamu apakan dia akan tetap remuk.”
“Kirana juga sama. Keenan adalah laki-laki pertama yang meremukkan hatinya. Tidak akan ada lagi harapan buat Keenan kembali pada Kirana. Bapak tahu kamu nggak percaya sama cinta, tapi kamu harus pahami kalau perasaan dalam pernikahan itu bukan hanya sekedar cinta-cintaan. Dengan pasanganmu kamu hidup, dengan pasanganmu juga kamu akan ada di akhirat nanti. Kalau kamu belum apa-apa saja sudah ragu sama pasanganmu, bagaimana nanti kamu akan menghadapi gejolak rumah tanggamu?”
“Hidup berumah tangga tuh seberat apa sih Pak?”
“Seberat baret biru di kepalamu.”
“Maksudnya Pak?”
“Ringan. Tapi tanggung jawabnya bukan main.”
__ADS_1