
Setelah mengantar Bu Ratna ke rumah anak laki-lakinya, Galih kembali ke markas. Dia langsung menuju ke mess dan tetap berada di sana sampai malam. Dia masih enggan bertemu dengan Keenan, jadi sebelum kawannya itu kembali ke kamar Galih lebih dulu pergi. Dia memilih untuk tidur di masjid, beralaskan sajadah dan berselimut sarung.
Pak Aji baru saja selesai sholat maghrib ketika menyadari keberadaan Galih yang meringkuk di pojok masjid. Pak Aji mendekati Galih dan dengan perlahan membangunkan Galih yang tertidur dengan keringat yang cukup banyak.
“Ealah kamu dari pada tidur di sini mending tidur di tempat Bapak yuk,” ajak Pak Aji.
Galih masih mencoba mengumpulkan kesadarannya tapi tiba-tiba dia berkata, “Pak, anterin ke stasiun dong.”
“Mau ke mana?”
“Mau ketemu Mama,” jawab Galih entah sadar atau tidak dia berkata begitu.
“Hus. Ngawur. Nggak. Kamu pulang sama Bapak aja. Cari gara-gara kamu malah mau balik Bandung segala. Nek ada apa-apa di jalan njuk Bapakmu ini bisa dihabisi sama Ibu, tahu.”
“Tapi aku kangen sama Mama, Pak,” kata Galih lagi.
“Ngene iki nek kamu maghrib-maghrib tidur. Ngelantur kan ngomongnya."
Keenan mendengar apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu. Dia baru mengambil wudhu dan baru akan menunaikan sholat ketika Keenan mendengar Pak Aji mencoba membujuk Galih untuk ikut pulang bersamanya.
Di markas ini siapa sih yang tidak tahu dekatnya Galih dengan salah satu petinggi itu. Bahkan sudah tidak asing lagi, jika Galih akan selalu meminta saran pada Pak Aji dan istri ketika dia menemui jalan buntu atau sedang merasakan sesuatu. Lagi pula Galih dan Aksara memang bersahabat dekat sejak keduanya masih di akademi.
Keenan hanya menghela nafasnya yang terasa begitu berat. Sudah dua malam ini Galih tidak kembali ke kamarnya dan dia bahkan hampir tidak menampakkan batang hidungnya. Aksara yang kebetulan baru menyelesaikan pekerjaannya menemukan Keenan duduk seorang diri di bawah pohon dekat markas gegana. Karena merasa sedikit tahu permasalahannya, dia berinisiatif mendekat.
“Lo ditinggal Galih udah kayak ditinggal pacar lo pergi jauh,” kata Aksara.
“Kok lo jam segini masih di sini Le? Bini lo gimana?”
__ADS_1
“Ada Bunda di rumah. Mamanya juga baru datang dari Jakarta. Lagian istri gue lebih seneng nggak ada gue di rumah. Katanya bau badan gue bikin dia mual,” kata Aksara.
“Namanya juga ibu hamil. Emang gitu nggak sih, banyak maunya.”
“Tepat.”
“Sa…,”
“Hmm?”
“Menurut lo gue mesti gimana?”
“Soal Galih atau soal Kirana?” tanya Aksara langsung pada intinya.
“Dua-duanya…,” kata Keenan.
“Sebenarnya Kee, lo udah nggak punya harapan buat bisa kembali sama Kirana. Nggak peduli sesayang apa lo sama dia, tapi lo pernah melepaskan tangannya. Lo udah pernah membuang dia. Setidaknya itu yang Kirana tahu. Hatinya sekarang sudah bukan buat elo lagi. Tapi buat suaminya, Bang Raihan. Terus sekarang datanglah satu sosok polos yang nggak ngerti apa-apa tentang cinta menyatakan perasaan ke dia. Kirana sudah memilih dan elo bahkan nggak ada dalam pilihan,” kata Aksara tanpa memfilter perkataannya.
“Tapi gue juga nggak berdaya. Padahal sudah bertahun-tahun gue ngerasain sakit hati lihat senyum Kirana yang tadinya punya gue jadi punya Bang Raihan dan sekarang punya Galih. Secara logika, gue harusnya benci sama dia. Tapi gue nggak bisa. Gue malah makin suka sama dia,” kata Keenan.
“Nggak ada yang salah sama perasaan. Tapi kalau rasa nggak dibarengi sama logika. Ya gini jadinya, lo tahu sendiri. Gue udah bilang Kee, pilihan lo cuma ada dua. Antara lo egois dengan meminta Kirana kembali ke elo tapi kehilangan senyumnya atau lo ikhlasin Kirana buat Galih tapi lo masih sanggup lihat dia bahagia. Mainin logika lo di sini. Kalau lo memang cinta gue yakin lo nggak akan milih pilihan pertama,” kata Aksara.
Keenan terdiam. Dia mulai merasa bersalah dan mulai merasa bertanggung jawab atas perkara yang tengah terjadi. Alhasil Keenan memutuskan untuk segera menemui Kirana untuk menuntaskan sesuatu.
Keenan datang ke cafe dan langsung bertemu tatap dengan Kirana yang terlihat sedih berdiri sambil menata gelas bersih di rak. Begitu melihat Keenan datang ke hadapannya, Kirana tanpa pikir panjang langsung menampar laki-laki itu dan air matanya langsung tumpah begitu saja.
“Mau apa lagi kamu ke sini?” tanya Kirana.
__ADS_1
“Ki aku…,”
“Belum cukup kamu menghancurkan hidupku? Dua kali Keenan. Dua kali kamu menghancurkan hidupku. Pertama, ketika aku sudah menaruh harapan besar padamu kau pergi begitu saja dengan alasan sekonyol itu dan sekarang setelah aku sudah bertemu dengan laki-laki yang kuterima seutuhnya sebagai suamiku kau datang kembali mengacaukan segalanya,” kata Kirana sudah tidak memfilter kata-katanya.
“Aku kesini ingin meminta maaf Kirana, aku ingin bertanggung jawab atas apa yang sudah kulakukan padamu,” kata Keenan.
“Bertanggung jawab? Dengan cara apa? Bisa kau kembalikan Bang Raihan di sini? Bisa kau kembalikan semua kebahagiaanku yang sudah kau renggut?”
“Tapi kalau aku tidak pergi kau juga tidak akan memiliki Amira. Kirana, maaf aku harus berkata seperti ini agar kau diam. Kumohon dengarkan aku. Aku tidak akan menuntut dirimu kembali padaku. Aku juga tidak akan ikut campur dalam hubunganmu dengan Galih. Aku masih mencintaimu Kirana, tapi aku tidak akan egois dan memintamu untuk menjadi milikku. Aku tahu kesalahanku terlalu fatal,” kata Keenan.
“Kirana, aku hanya ingin kamu tahu bahwa keputusan untuk meninggalkanmu tidak dengan mudah kuambil. Aku trauma, aku memiliki luka batin yang sama denganmu. Ketika itu bahkan aku tidak sanggup mendengar namamu apalagi wajahmu, itulah kenapa aku meninggalkanmu. Aku sengaja melakukan semua ini hanya agar kamu bisa melupakanku dan bisa hidup dengan lebih baik,” lanjutnya.
“Padahal sebelumnya kamu pernah berjanji akan melewati segalanya denganku apapun keadaannya. Itulah kenapa aku membencimu Keenan. Ketika itu aku juga sama jatuhnya, ketika itu aku benar-benar membutuhkanmu ada di sisiku. Bukankah sebenarnya jauh di dalam lubuk hatimu kamu juga ingin ada aku di sisimu? Bukankah kamu juga selalu mengharapkan aku baik-baik saja? Kamu tahu aku bisa melewati semuanya jika aku bersamamu tapi kamu malah memilih pergi. Maaf Kee, aku memang tidak bisa memaafkanmu,” kata Kirana.
“Tidak masalah. Kau tidak perlu memaafkanku. Tapi setidaknya aku ingin dengar kamu bahagia bersama Galih. Aku melihat seberapa hancurnya dia tanpa dirimu. Dia sama persis seperti kamu ketika itu. Hopeless, dia tidak memiliki tujuan. Aku akan menerima apapun hukuman yang kamu dan Galih berikan padaku. Andai kalian berdua meminta aku untuk pergi akan kulakukan, karena aku tidak ingin melihat ada satu orang lagi hancur karena kebodohanku,” kata Keenan.
“Kalau begitu hilangkan perasaanmu padaku,” kata Kirana.
“Untuk yang satu itu…,” Keenan terdiam. Dia tidak mampu menjawab iya karena dia sendiri merasa sulit melakukannya selama ini.
“Kamu pikir dengan kamu tetap menyimpan rasa padaku akan membuat Galih bisa bersamaku? Kamu sadar nggak sih Kee, selama ini kamu curhat tentang patah hatimu itu sama siapa? Sama seperti kamu yang nggak mau Galih jatuh, dia juga pasti berpikiran sama,” kata Kirana mulai meluapkan emosinya.
“Sudah kucoba Kirana, selama bertahun-tahun aku mencoba menghilangkan dirimu dari hatiku tapi aku tidak mampu.”
“Itu karena kamu tidak pernah mencoba membuka hatimu,” jawaban Kirana membuat Keenan tercengang. Dia tidak pernah menyangka jika Kirana akan menjawab demikian.
“Saran terakhir dariku, buka hatimu dan biarkan perempuan yang memang ditakdirkan untukmu masuk ke dalam hatimu. Aku yakin kamu nggak bodoh untuk sekedar menyadari Ningrum suka sama kamu,” lanjut Kirana.
__ADS_1
“Maksudmu kamu jodohin aku sama Ningrum?”
“Nggak. Aku cuma mau bilang, di luar sana banyak wanita yang jauh lebih baik dibandingkan aku dan jauh lebih cocok untukmu. Jika memang Ningrum adalah yang terbaik kejarlah dia, tapi jika bukan kamu setidaknya harus meminta maaf karena pernah membuat dia salah paham hingga jauh dari sahabat-sahabatnya. Aku merindukan Ningrum, dan hanya dengan bantuanmu aku bisa bertemu kembali dengannya,” kata Kirana membuat Keenan terdiam.