
Seminggu setelah pernikahan, Galih dan Kirana pindah. Mereka mulai menempati rumah baru yang sudah Galih siapkan untuk keluarga kecilnya. Rumah berukuran sedang dengan 3 kamar dan sebuah taman kecil di depan dan belakang rumah membuat suasananya begitu hangat dan tenang. Galih bahkan sengaja melebarkan bagian belakangnya dan mengganti tembok dapurnya dengan kaca yang kemudian dia hubungkan dengan taman tempat kolam ikan dan sebuah saung apung di atasnya.
“Waw, rumahnya…,” kata Kirana yang masih tidak percaya.
“Kenapa? Nggak sesuai sama seleramu ya?” tanya Galih.
“Nggak masalah itu a, ini rumah gede lho. Dua lantai pula,” kata Kirana.
“Rumah ini aa beli bentuknya sudah seperti ini, aa cuma renovasi sedikit di sana sini. Cicilannya belum kelar juga tinggal 1 tahun lagi, sebagian aa dapat dari jual rumah yang ada di Bandung dan sisanya aa hutang di bank. Aa memang sudah niat begini, karena aa mau kasih yang terbaik buat kamu sama anak-anak,” kata Galih.
“Yakin cuma karena itu?” tanya Kirana agak nakal.
“Nggak juga sih, karena rumah aa yang di Bandung termasuk yang diincar sama orang tuanya Gigi makanya aa jual saja terus aa belikan rumah ini. Aa beli rumah ini kalau tidak salah setahun setelah aa tugas. Pikir aa ketika itu cuma untuk melenyapkan aset yang ada di Bandung saja jadi mobil, dua unit rumah, tabungan bank, semuanya aa tarik dan aa uangkan,” kata Galih.
“Nekat banget si aa,” kata Kirana geleng-geleng.
“Nggak nekat sih, karena selama beberapa tahun kan rumah ini sempat aa kontrakkan. Yah lumayan bisa untuk tambah-tambah biaya renovasi,” kata Galih.
“Aa mau kubantu nggak nyicilnya?” tanya Kirana.
“Nggak perlu. Urusan kebutuhan rumah tangga itu tanggung jawab aa. Soal rumah yang Bang Raihan belikan untukmu juga itu sudah menjadi haknya Amira sebagai tanggung jawab Bapak pada anaknya. Kamu simpan saja uangnya untuk Amira, tapi aa akan tetap membiayai Amira seperti yang seharusnya. Terus gaji kamu selama di cafe, itu buat kamu saja,” kata Galih.
“Beneran a?”
“Bener.”
__ADS_1
Kirana kemudian memeluk Galih, “Alhamdulillah suamiku baik banget. Pengertian lagi,” kata Kirana.
Galih ikut membalas pelukan Kirana dan keduanya diam selama beberapa waktu sampai Amira yang tadinya entah berlari sampai kemana tiba-tiba berdiri di dekat mereka dan berkata, “papa Amira juga mau peluk,” sambil merentangkan kedua tangannya.
Galih mengangkat Amira kemudian dia mencium pipi kirinya sedangkan Kirana mencium pipi kanannya. Setelah itu Amira yang kegirangan minta turun dari gendongan Papanya dan mulai menyeret Mama untuk membantunya menata kamar barunya yang berwarna serba pink persis seperti keinginannya.
Galih meletakkan boneka beruang besar yang pernah dia belikan untuk Amira di sudut tempat tidurnya sedangkan gadis itu tengah fokus menata buku-bukunya yang tidak seberapa di dalam rak. Galih mengamati Kirana dan Amira yang terlihat fokus menata barang-barang dan pakaian sedangkan dia sendiri hanya duduk memeluk boneka.
“Kak nanti malam tidur sendiri berani ya?” tanya Galih.
“Berlani Pa, Amirla kan sudah besar. Sudah mau punya adek,” jawab Amira yang membuat Kirana tercengang.
“Pinter, anak Papa memang pinter,” puji Galih. Dia tidak peduli pada tatapan Kirana yang penuh dengan tanda tanya.
...***...
Malam ini, ketika Galih baru usai mandi entah kenapa laki-laki itu jadi begitu tampan. Apa lagi saat dia menggosok rambut basahnya dengan handuk. Rasa-rasanya Kirana seperti dihipnotis oleh pesonanya. Kirana saat ini sedang merebahkan diri di atas tempat tidur, bermain dengan handphonenya setelah selesai menidurkan Amira.
Kirana semakin merasakan jika wajahnya memerah bahkan tubuhnya mulai memanas tatkala Galih mengganti pakaian dihadapannya. Dia membuka kaosnya begitu saja kemudian menggantinya dengan yang masih bersih. Bahkan tidak berhenti hanya disitu, Kirana bahkan harus mendengar senandung Galih yang suaranya benar-benar memabukkan.
“Kenapa kamu lihatinnya gitu amat,” kata Galih yang sadar jika Kirana terus menatap ke arahnya.
“Ha? Oh…, nggak papa kok,” kata Kirana yang baru saja tertangkap basah.
“Mikir apa kamu tadi?” tanya Galih malah semakin menggoda Kirana.
__ADS_1
“Apa sih, nggak,” jawab Kirana.
“Kayaknya kamu lebih suka lihat aa nggak pake baju ya neng?” tanya Galih.
“Kata siapa? Lagian badan bulet kaya gitu,” kata Kirana. Diakui atau tidak Galih memang tidak sixpack. Tapi kalau soal tenaga dan adu lincah dia juga masih juara. Hanya perutnya saja yang tidak peduli mau dia olahraga sekeras apapun roti sobek idaman para wanita itu tidak mau terbentuk. Makanya dia dipanggil gembul.
“Eh enak saja, cuma bagian perut doang gede. Tapi kalau soal tenaga aa masih jagoan. Cuma main sama kamu semalaman juga kuat neng,” kata Galih.
Kirana semakin memerah. Sudah tahu Kirana itu paling tidak kuat sama beginian malah diprovokasi. Sudah begitu Galih sengaja membuka pakaiannya lagi sekarang. Untung tangan Kirana tidak kalah cepat jadi Kirana tidak perlu melihat tubuh Galih tanpa pakaian.
“A, please jangan dulu,” rengek Kirana.
“Kenapa neng? Bilang sama aa, kalau kamu memang takut aa nggak akan maksa,” jawab Galih.
“Bukan masalah itu a, aku cuma kepikiran soal yang Amira bilang tadi,” kata Kirana agak hati-hati.
“Soal anak ya,” Galih mengerti. Dia kemudian ikut merebahkan dirinya disamping Kirana dan dengan posisi bantal yang agak ditinggikan dia meminta Kirana masuk dalam pelukannya.
“Aku tahu aa pasti akan meminta. Setidaknya hanya itu yang bisa aku kasih ke aa kan, aku nggak punya apa-apa lagi untuk membalas semua kebaikan hati aa. Aku sudah memberikan Amira untuk Bang Raihan, aku juga ingin bertindak adil. Minta saja a, kalau aa memang kepengen,” kata Kirana.
“Aa memang pengen. Kamu kan masih sehat, Amira juga sudah cukup usia. Tapi kalau kamu belum mau aa tidak akan memaksa. Kan kamu yang merasakan kamu yang menjalani. Aa nggak janji lho bisa selalu ada sama kamu setiap saat. Kalau kamunya belum siap ya nanti saja. Kita nikmati waktu berdua dulu,” kata Galih.
“Kayaknya kalau soal siap nggak siap Kirana mungkin nggak akan siap. Lakukan saja semau aa, Kirana sudah milik aa seutuhnya,” kata Kirana.
Mendengar penuturan istrinya membuat Galih tidak hanya tersenyum. Ada satu ledakan kebahagiaan yang bahkan melebihi rasa bahagianya ketika keduanya berdiri dibawah hunusan pedang saat pedang pora dilangsungkan. Tanpa keraguan Galih mulai menghapuskan jarak yang ada antara dia dan istrinya.
__ADS_1
“Terima kasih sudah menerimaku sebagai suamimu, Kirana. Aku mencintaimu dan akan terus seperti itu hingga habis sang waktu,” bisik Galih tepat ditelinga Kirana yang sudah nyaman dalam dekap hangat suaminya ini.